Putus Tapi Menikah

Putus Tapi Menikah
Tiga


__ADS_3

“Mau ke mana Joe?”


Joe yang baru saja keluar dari kamarnya langsung menoleh pada seseorang yang bicara padanya.


“Pantai,” jawab Joe pada Nadia, gadis yang entah sejak kapan berdiri di depan kamar Joe.


“Sama dong, pergi bareng yuk!” ajak Nadia.


“Terserah,” balas Joe sambil berjalan melewati Nadia.


“Eh tungguin!” Nadia langsung menyusul Joe. Dia memang salah satu gadis yang menyukai Joe, jadi wajar jika dia selalu berusaha mencari kesempatan untuk dekat dengan Joe.


Joe tidak memedulikan Nadia, dia hanya berjalan dan membiarkan Nadia mengikutinya.


Vila tempat mereka menginap memang sangat dekat dengan pantai, cukup berjalan sepuluh menit saja bisa langsung sampai.


“Rame juga ya. Eh liat deh! Anak-anak yang lain juga pada main di pantai ternyata,” ujar Nadia saat dia dan Joe sampai di pantai.


Lagi-lagi Joe tidak menghiraukan ucapan Nadia, dia hanya menerawang ke seluruh penjuru pantai dan menemukan teman-temannya yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sampai akhirnya pandangan Joe berhenti saat melihat Viola yang sedang bermain bersama Juli. Entah apa yang sedang kedua gadis itu lakukan sampai lari-lari seperti itu. Tapi, yang jelas Viola tampak senang dan menikmati apa yang dia lakukan.


“Anjir!” Martin yang sedang duduk langsung mengumpat saat Juli tidak sengaja menginjak kakinya.


“Eh sorry gak sengaja Martin. Lo sih pake duduk di situ,” ujar Juli.


“Lo berdua bisa diem gak sih? Kayakk bocah SD aja,” omel Martin.


“Sirik aja lo,” balas Viola.


“Siapa juga yang sirik. Udah ah gue mau balik ke vila aja. Inget ya besok kita mau ke kantor kejaksaan, jadi jangan pulang malem-malem!” seru Martin sambil berdiri.


“Siap pak ketua. Lo tenang aja deh!” ujar Juli.


Martin pun pergi, sementara Viola dan Juli kembali sibuk dengan permainan mereka yang tidak jelas.


Dari tempatnya, Joe masih diam memerhatikan Viola. Awalnya Joe merasa biasa saja saat putus dengan Viola, dia memang kaget, tapi itu tidak sampai membuatnya sedih berlarut-larut sampai tidak bisa tidur atau makan. Ya hanya sekedar merasa ada sesuatu yang hilang saja. Tapi, sekarang Joe mulai merindukan Viola, hal-hal kecil yang selalu mereka lakukan, entah kenapa Joe sangat ingin melakukannya lagi.


“Gue denger lo sama Viola putus ya?” tanya Nadia yang sejak tadi masih berdiri di samping Joe.


“Emang kenapa?”


“Kok bisa sih Viola mutusin lo? Kalo gue jadi Viola pasti gue bakal jaga hubungan kita baik-baik,” celoteh Nadia.


“Sayangnya lo bukan Viola,” balas Joe sambil melangkah pergi meninggalkan Nadia.


“Eh malah pergi. Jangan tinggalin gue dong, Joe!” seru Nadia yang mulai menyusul Joe.


Sementara Itu Viola dan Juli yang sejak tadi tidak bisa diam sekarang sudah duduk di atas pasir sambil menikmati pemandangan sunset di depan mereka. Memang tidak ada yang lebih baik selain melihat matahari terbenam di pantai.


“Kok diem? Batrenya abis nih?”


Viola dan Juli langsung mendongak saat mendengar seseorang bicara di belakang mereka.


“Eh, Kak Robbie?” Viola menunjuk pria yang berdiri di belakangnya. Sebinernya pria itu sejak tadi memang berdiri tidak jauh dari Viola dan Juli, terus memerhatikan Viola, tapi yang diperhatikan justru tidak sadar.


“Iya ini gue. Apa kabar, Vi?” tanya pria bernama Robbie itu.


“Baik Kak, lo gimana?”


“Baik juga.”


“Siapa Vi?” tanya Juli penasaran dengan sosok pria yang bicara dengan Viola itu.


“Ini Kak Robbie, senior gue waktu SMA. Kenalin ini Juli, temen kuliah gue.” Viola memperkenalkan keduanya.


“Oh seniornya, kirain mantan pacar,” celetuk Juli yang langsung mendapat pelototan dari Viola.


“Emang mantan pacar kok,” ujar Robbie yang membuat Juli berdecak bangga dengan dirinya sendiri. Ternyata dia punya bakat untuk menebak masa lalu.

__ADS_1


“Yang bener? Iya Viola?” Juli bertanya lagi pada Viola untuk memastikan.


“Hehe ....” Viola hanya tersenyum kikuk. Robbie memang mantan pacar Viola, tapi itu sudah lama saat Viola masih SMA dan Robbie masih kuliah.


“Eh, masih jomblo? Kapan nikah?” tanya Robbie tiba-tiba.


“Hah?” Viola terkejut dengan pertanyaan Robbie. Dia jadi bingung harus menjawab apa.


“Dia jomblo Kak, baru putus,” celetuk Juli.


“Eh?”


“Oh. Kok putus sih?”


“Nggak kok Kak, dia gak usah didengerin, anak ini emang error,” ujar Viola. “Eh kita harus balik ke vila Jul, nanti dicariin sama Pak Herman.”


“Dicariin apanya? Ini kan masih sore.”


Viola jengkel sendiri, kenapa Juli tidak bisa diajak kompromi sedikit saja? Anak itu benar-benar membuatnya kesal.


“Ih, kita kan harus siap-siap buat besok,” ujar Viola sambil menatap Juli, berharap temannya itu akan mengerti.


‘Please Jul, iyain aja kenapa sih!’ Batin Viola.


“Ah, bener juga sih. Ya udah yuk balik,” ujar Juli akhirnya.


“Udah mau balik aja nih? Kita baru aja ketemu,” ujar Robbie.


“Hehe, maaf ya Kak, kita gak lagi liburan soalnya, harus ngerjain tugas kuliah,” balas Viola kikuk.


“Oh, ya udah deh.”


“Kita pergi dulu,” pamit Viola sambil menarik tangan Juli.


Kedua gadis itu pun pergi, dan Robbie hanya menatap kepergian mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Siapa yang godain?” tanya Robbie kesal.


“Nah yang barusan itu bukan godain namanya? Oke lah ya, cogan mah bebas,” cibir Jimmy lagi.


“Yang barusan itu Viola,” ujar Robbie.


“Eh? Viola mantan lo waktu masih kuliah bukan?” tanya Jimmy.


“Viola yang mana lagi?”


“Gimana rasanya ketemu lagi sama dia? Udah minta maaf?”


“Menurut lo ini waktu yang tepat buat minta maaf?”


“Mau kapan lagi? Mungkin aja lo gak ketemu lagi habis ini.”


Robbie hanya menghela napas menanggapi ucapan Jimin. Hubungannya dengan Viola memang sudah berakhir sangat lama, tapi dia merasa punya kesalahan yang belum sempat diselesaikan. Saat itu dia terlalu jahat pada Viola yang hanya seorang gadis polos.


“Kenapa sih mantan lo ganteng-ganteng? Heran gue,” cerocos Juli saat dia dan Viola berada di perjalanan menuju vila.


“Yang ganteng belum tentu baik Jul. Lagian lo malu-maluin banget tau gak, masa bilang gue baru putus di depan Kak Robbie,” Viola malah mengomeli sang sahabat.


“Gue kan ngomong fakta.”


“Tapi, gak harus di depan dia juga kali, Juli!”


“Ya elah ngambekan lo.”


“Ah udahlah! Gak mau tau pokonya gue mau mandi duluan.”


“Lah apa hubungannya?”

__ADS_1


.


.


.


Jam sembilan malam, memang masih terlalu siang untuk pergi tidur. Jadi, para mahasiswa dan mahasiswi itu masih sibuk menghabiskan waktu di halaman vila tempat mereka menginap. Ada yang bermain game, ada yang asyik selfie, ada yang bergosip, ada yang bermain gitar sambil bernyanyi, ada juga yang hanya duduk santai memerhatikan yang lain.


Sementara semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, Viola menjadi satu-satunya yang tidak turun ke halaman dan hanya berdiri di balkon kamarnya sambil bicara dengan ibunya lewat telepon.


“... ya baik lah Mah, baru juga tadi siang Viola pergi,” ujar Viola pada Bu Anna.


“Jangan telat makan Vi, jaga kesehatan terus jangan tidur kemalaman!”


“Iya Mama.”


“Sekarang kamu lagi ngapain? Sama siapa aja? Besok kegiatannya apa? Oh iya, tadi Mama sama Kak Alice pergi ke supermarket, eh ada yang jual cake kesukaan kamu, tadinya mau beli tapi kamu kan pulangnya masih lama, takutnya gak kemakan ....”


Bu Anna terus mengoceh di seberang panggilan, tapi Viola tidak mendengarkan gara-gara matanya menangkap sosok Joe yang sedang berkumpul dengan teman-teman prianya di bawah sebuah pohon yang ada di halaman vila.


Biasanya Viola selalu menemani Joe saat Joe berkumpul dengan teman-temannya, bahkan tidak jarang Viola malah terlihat lebih akrab dengan teman-teman Joe dari pada Joe sendiri. Viola merindukan saat-saat seperti itu, tapi sekarang sudah tidak ada alasan untuk Viola berada di antara mereka.


Viola senang melihat Joe baik-baik saja dan tampak menikmati waktunya, setidaknya dia tidak perlu merasa bersalah pada mantan pacarnya itu. Tapi, jauh di dalam hatinya, Viola merasa sedikit kesal, Joe tampak terlalu baik-baik saja untuk ukuran orang yang baru beberapa hari putus. Apa dia melupakan Viola secepat itu? Atau memang sejak awal Viola tidak pernah dianggap penting oleh Joe?


Padahal sampai sekarang Viola diam-diam masih sering menangis karena terlalu merindukan Joe. Dua tahun bukan waktu yang sebentar dan berada di samping Joe sudah menjadi kebiasaan untuk Viola. Tapi, sekarang dia harus mengubah total kebiasaannya dan itu benar-benar tidak mudah.


“Vi? Viola? Viola? Kok kamu diam aja sih? Ada apa?”


Viola mengerjap kaget, dia baru ingat jika dia sedang mengobrol dengan ibunya. Dia malah melamun gara-gara melihat Joe.


“Eh, anu Mah ... suaranya putus-putus, sinyalnya jelek.”


“Oh gitu.”


“Mah, Viola mau tidur dulu ya.”


“Ya udah sayang, hati-hati ya!”


“Iya Mah tenang aja. Dadah Mama.”


Viola pun mengakhiri panggilannya dan memasukkan handphone-nya ke dalam saku jaket. Setelah itu dia malah kembali memerhatikan Joe yang sedang tertawa lepas, entah menertawakan apa. Joe memang orang yang jarang tertawa dan jika bisa sampai tertawa seperti itu artinya dia sedang dalam suasana hati yang baik.


Tanpa sadar kedua sudut bibir Viola tertarik ke atas. Dia ikut senang jika Joe senang. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain berusaha melupakan Joe dan berharap yang terbaik untuk pria itu. Mungkin mereka memang tidak berjodoh, tapi Viola berharap dia mendapatkan pria yang baik dan semoga Joe juga bertemu gadis baik yang bisa mengubah sikap cueknya menjadi perhatian.


“Woy, ngelamun aja lo!” Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Viola dan membuatnya terlonjak kaget.


“Anjir lo ....” Viola langsung mengumpat dan menatap Juli dengan tatapan kesal.


“Lo ngapain sih? Dicariin ternyata ada di sini. Ayo gabung, anak-anak mau bikin Api unggun,” ujar Juli.


“Api unggun? Emang kita lagi kemah ya?” tanya Viola.


“Iya kan biar berasa kayak lagi kemah musim panas gitu.”


“Ngaco aja.”


“Mau ikutan gak? Udah ikut aja, ngapain juga di sini? Gak takut lo sendirian di dalem vila? Nanti diculik jin loh.”


“Ih amit-amit deh, lo aja kali yang diculik.”


“Ya udah makanya ikut aja. Ayo!” Juli langsung menarik tangan Viola dan membawanya untuk menghampiri anak-anak yang lain.


.


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2