Putus Tapi Menikah

Putus Tapi Menikah
Sembilan


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa Joe dan Jeffrey sedang berada di kantin. Joe sedang sarapan, sementara Jeffrey hanya menemani sahabatnya itu.


“Kemaren lo ke mana? Kok gak ikut kelas?” tanya Jeffrey dengan mata yang masih sibuk ke layar handphone.


“Pergi ke makam ibu gue,” jawab Joe.


“Sama siapa?”


“Viola.”


“Viola? Lo ada apa-apa lagi ya sama dia?” tanya Jeffrey curiga


“Apa-apa gimana? Orang cuma dateng ke makam doang.”


“Bagus lo, pagi-pagi udah makan mie instan.”


Joe dan Jeffrey menoleh saat Viola tiba-tiba datang dan menaruh sebuah kotak bekal di depan Joe.


“Gue bilang makan nasi! Jangan makan kek ginian!” seru Viola sambil merampas ramen itu dari Joe.


“Eh, lo Vi. Kok tumben bawain Joe bekel lagi?” tanya Jeffrey.


“Lo tuh, punya temen dibiarin aja makan makanan gitu tiap hari, nanti dia cepat mati kalo makan mie mulu,” omel Viola pada Jeffrey.


“Lo kalo ngomong suka enak ya,” ujar Joe kesal.


“Lo mau gak? Kalo gak mau gue kasih Jeffrey nih,” ujar Viola sambil menunjuk kotak bekalnya.


“Gak bisa gitu. Lo kan bikin buat gue bukan buat Jeffrey,” Joe segera mengambil kotak bekal itu.


“Flashdisk gue mana?” tanya Viola.


“Duh, gue lupa Vi, belum gue pindahin filenya, masih di rumah.”


“Lo gimana sih?”


“Nanti pulang kuliah lo mampir dulu deh ke rumah gue! Takutnya gue lupa lagi.”


“Hadeh, terserah deh!”


.


.


.


Sejak pagi itu, sejak Viola kembali membawakan bekal sarapan untuk Joe, mereka mulai dekat lagi. Ini seperti dulu saat mereka baru saling mengenal. Mereka berteman, saling menyukai namun tidak mengungkapkan perasaan satu sama lain. Tapi, ada sesuatu yang berbeda yang Viola rasakan, dia yakin ini bukan hanya perasaannya, Joe sudah mulai berubah. Pria itu jadi lebih perhatian dan tidak sedingin dulu, walaupun tidak menunjukkannya secara terang-terangan, tapi jelas Viola bisa melihat perubahannya. Hubungan mereka sudah semakin membaik, dan harapan Joe untuk bisa kembali bersama Viola semakin dekat, tapi semuanya tetap tidak semulus yang dibayangkan.


Kesehatan Viola kembali menurun dan sudah seminggu lebih dia tidak masuk kuliah. Itu membuat Joe sulit untuk menemuinya. Jadwal kuliahnya cukup padat, dan akan terasa aneh juga jika dia tiba-tiba datang ke rumah Viola untuk menemui gadis itu. Ditambah lagi dokter yang merawat Viola ternyata Robbie, pria yang tidak lain adalah mantan pacar Viola, fakta itu membuat Joe semakin kesal.


“Loh, kamu mau ke mana, Vi?” tanya Pak Galih saat dia melihat Viola menuruni tangga dengan penampilan yang sudah rapi.

__ADS_1


“Ke kampus Pah,” jawab Viola.


“Kamu kan masih sakit, gak usah maksain!” seru Pak Galih.


“Iya Vi, lagian nanti siang kamu harus ke rumah sakit buat check up,” ujar Bu Anna.


“Viola cuma mau minta izin sama dosen aja Mah, Pah. Viola mau cuti semester,” balas Viola.


“Jadi kamu udah mutusin buat Cuti? Ya udah deh, lagian kamu harus banyak istriahat biar bisa bener-bener pulih.”


“Iya Mah.”


“Kalo gitu Papa Anter. Kebetulan Papa mau ketemu sama temen yang rumahnya deket sama kampus kamu.”


“Ya udah deh, Viola tungguin di mobil ya.”


.


.


.


Joe baru saja keluar dari perpustakaan, tapi tiba-tiba dia mendengar suara ribut dari depan kampus, seperti ada wanita yang sedang bertengkar. Karena penasaran Joe pun memutuskan untuk melihatnya dan dia terkejut saat tahu siapa wanita itu.


Nadia, teman sejurusan Joe itu tampak sedang bertengkar dengan wanita paruh baya yang mungkin ibunya.


“Mama kan udah bilang, kamu gak usah kuliah lagi!” Bentak wanita itu pada Nadia.


“Terus kamu mau apa? Mau jadi pengacara? Emangnya kamu bakal laku kalo jadi pengacara? Turutin aja kata Mama!”


“Nggak!”


“Ayo pulang!” Wanita itu menarik tangan Nadia dengan kasar.


“Gak mau, Mah!”


“Ayo!”


Nadia terus memberontak walaupun ibunya terus memaksanya untuk pulang.


Plak


Sebuah tamparan mendarat di pipi Nadia dan membuat gadis itu langsung memegangi pipinya. Bukan hanya sakit, tapi Nadia juga malu, banyak orang yang melihatnya.


“Mama jahat,” ujar Nadia sambil menatap ibunya tajam dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


“Kalo gak mau Mama kasar kamunya harus nurut dong!” Ibu Nadia masih saja membentak putrinya tanpa rasa bersalah.


Melihat pemandangan itu Joe tidak bisa hanya tinggal diam. Walaupun Nadia kadang menyebalkan, tapi dia tetap temannya.


“Maaf Tante, ini tempat umum gak seharusnya Tante ngelakuin itu sama Nadia,” ujar Joe pada ibu Nadia.

__ADS_1


“Kamu siapa? Gak usah ikut campur!” seru Ibu Nadia.


“Ini pacar aku. aku Cuma sayang sama dia, jadi aku gak mau nikah sama Ben,” ujar Nadia yang tiba-tiba memeluk tangan Joe.


Joe terkejut dengan perbuatan dan perkataan Nadia, tapi dia hanya diam dan tidak berani melepaskan tangan Nadia dari tangannya. Suasananya bisa semakin buruk dan Nadia akan semakin malu jika Joe mengatakan yang sebenarnya.


“Kamu ngapain pacaran sama anak saya?” Ibu Nadia membentak Joe juga.


“Maaf Tante. Kita masuk aja Nad!” ajak Joe lalu membawa Nadia masuk ke dalam gedung universitas.


Namun, tanpa Joe sadari, sejak tadi Viola melihat kejadian itu, dia mendengar semuanya dari depan gerbang. Entah kenapa hatinya sakit mendengar itu, jadi Joe dengan Nadia? Jujur saja sejak kembali dekat dengan Joe, Viola jadi kembali berharap pada pria itu. Tapi, sekarang Viola sadar jika itu sebuah kesalahan. Seharusnya dia mengerti, sejak memutuskan untuk pergi dari Joe, dia tidak boleh berharap untuk kembali. Joe punya banyak gadis yang menyukainya, jadi berharap padanya adalah hal yang bodoh.


Dengan perasaan campur aduk, Viola berjalan memasuki gedung universitas. Dia harus menemui dosen pembimbingnya untuk meminta izin dan harus mengambil barang-barangnya yang tertinggal di dalam loker.


“Joe sama Nadia emang cocok sih, ganteng sama cantik,” itu kata yang Viola dengar saat dia masuk ke kelas Bu Tina. Tadinya Viola hanya ingin mencari dosennya itu karena beliau tidak ada di kantor, tapi dia malah mendengar sesuatu yang tidak mengenakan. Hal itu membuat Viola semakin percaya jika Joe dan Nadia memang pacaran.


“Eh Viola? Lo udah sembuh?” tanya Gavin saat dia menyadari kehadiran Viola.


“Kak Viola udah sehat, Kak?” tanya Cindy yang kebetulan ada di kelas itu juga.


Viola hanya tersenyum menanggapi pertanyaan teman-temannya itu. “Gue mau pamit soalnya semester ini mau cuti,” ujar Viola.


“Cuti? Seriusan lo?” tanya Jeffrey.


“Ya serius lah Jef. Gue mau istirahat dulu. Oh ya, ada yang liat Bu Tina gak?”


“Nyari saya?” Tiba-tiba Bu Tina muncul dan berdiri di belakang Viola.


“Eh Ibu. Iya Bu, Saya mau bilang soal yang kemaren kita bahas di telpon,” ujar Viola.


“Oh iya. Saya udah bilang ke bagian admin, semuanya udah diurus. Kamu tinggal ke sana buat konfirmasi!”


“Bener Bu? Aduh, makasih ya Bu. Kalo gitu saya pamit. Semuanya, gue pergi dulu ya,” pamit Viola pada Bu Tina dan juga teman-temannya.


Viola pun keluar dari kelas dan segera menuju ruang administrasi untuk mengurus izin cutinya yang bisa dibilang sangat dadakan itu. Untungnya permintaan Viola tidak dipersulit karena dia sakit dan butuh istirahat.


Tidak memakan waktu lama, akhirnya Viola selesai mengurus semuanya dan sekarang tinggal pulang. Tapi, sebelum pulang Viola tiba-tiba ingin ke kantin, dia ingin memakan jajanan kantin untuk yang terakhir kalinya sebelum dia cuti. Namun, saat tiba di kantin, dia kembali disuguhi pemandangan yang tidak menyenangkan. Di salah satu meja kantin, tampak Nadia yang sedang menangis dan Joe yang sedang bersusah menenangkannya.


Ini hari terakhir Viola datang ke kampus, tadinya dia berencana untuk pamit juga pada Joe. Tapi, sepertinya tidak perlu, dia hanya akan mengganggu. Viola membatalkan niatnya untuk membeli makanan dan dia langsung pergi meninggalkan kampus.


“Udah dong Mar, lo jangan nangis terus!” seru Joe pada Nadia.


“Sorry ya Joe, tadi gue bilang gitu di depan Mama, abisnya gue gak mau dijodohin,” ujar Nadia sambil menyeka air matanya dengan lengan baju.


“Udahlah gak usah dipikirin! Bentar lagi kita latihan nih, kalo lo nangis terus gimana kita mau latihan?” Joe mengingatkan Nadia. Hari ini mereka harus latihan drama musikal untuk dipentaskan saat festival akhir musim panas nanti. Kebetulan Joe dan Nadia harus berperan sebagai pangeran dan Snow White, jadi banyak orang mulai bergosip tentang mereka. Apa lagi Nadia memang sudah lama menyukai Joe.


.


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2