
“Udah deh gak usah pada berantem!” seru Jeffrey.
“Lo sih makan gak hati-hati, jadi keselek kan,” ujar Martin pada Viola.
“Kalian sih liatin gue. Kan gue gerogi,” celetuk Viola yang masih terbatuk-batuk.
“Ya elah, siapa juga sih yang liatin lo? Kepedean banget,” ujar Sarah.
Viola sudah membaik dan keadaan pun sudah terkendali lagi, tapi sejak tadi ada satu orang yang sepertinya tidak peduli dengan keadaan sekitar. Joe, dia hanya diam bahkan tidak bereaksi saat Viola kesakitan karena tersedak mie pedas.
Sebenarnya Joe bukan tidak peduli, dia hanya tidak tahu harus melakukan apa.
“Nih gue balikin gitar lo,” ujar Viola sambil menyerahkan gitar di tangannya pada Daniel.
“Nyanyi lagi dong Vi, masa udahan,” ujar Daniel.
“Gak ah. Gue mau balik ke kamar, gak enak badan nih,” balas Viola sambil berdiri.
“Lo sakit? gue temenin ya,” ujar Juli cemas.
“Nggak kok, gue gapapa. lo semua lanjutin aja, gue duluan ya,” pamit Viola dan langsung pergi meninggalkan teman-temannya.
Setelah Viola pergi, mereka kembali melanjutkan acara, tapi hanya berselang tiga puluh menit Pak Herman datang membubarkan semuanya dan menyuruh mereka segera masuk.
“Udah jam sepuluh, cepetan masuk!” seru Pak Herman.
“Yah Bapak, setengah jam lagi dong, lagi seru nih,” ujar Juli.
“Gak bisa. Cepetan masuk!” Pak Herman tidak bisa dibantah.
“Iya deh Pak, kita masuk.”
Anak-anak itu pasrah dan langsung masuk ke dalam vila sesuai perintah Pak Herman, kemudian mereka pergi menuju kamar masing-masing.
“Eh Joe, lo pinjem HP gue ya?” tanya Jeffrey pada Joe saat mereka berada di perjalanan menuju kamar.
“Nggak lah, ngapain pinjem HP lo?” Jawab Joe.
“Terus ke mana dong HP gue? Kok gak ada?” tanya Jeffrey lagi sambil meraba-raba saku celananya.
“Ya mana gue tau,” balas Joe singkat sambil memutar kenop pintu, namun tiba-tiba dia berhenti saat mendengar suara ribut dari lantai dua. Bukan hanya Joe, tapi Jeffrey dan para pria pun sama-sama terkejut mendengar keributan itu.
“Ada apa sih tuh cewek-cewek?” tanya Martin yang baru saja masuk ke dalam kamarnya tapi sekarang keluar lagi.
“Ada kecoak atau tikus kali, makannya ribut,” jawab Jeffrey.
“Gak penting banget sih, dasar cewek. Gak bisa tenang dikit aja,” cibir Gavin yang tidak peduli dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
Mereka pun tidak menghiraukan keributan itu dan menganggapnya sebagai hal tidak penting. Mungkin memang benar gadis-gadis di lantai atas menemukan serangga atau tikus. Tapi, keadaan semakin janggal saat terlihat Rina yang berlari menuruni tangga sambil memanggil-manggil Pak Herman.
“Pak! Bapak!” teriak Rina yang tampak panik.
“Eh Rina kenapa tuh?” tanya Daniel.
“Gak tau,” jawab Joe.
“Ada apa sih? Kan saya udah suruh kalian buat masuk kamar masing-masing, kenapa malah ribut?” tanya Pak Herman kesal.
“Itu pak, Viola pingsan,” jawab Rina.
“Hah, Viola pingsan? Kenapa?” tanya Jeffrey kaget.
“Kok bisa?” tanya Pak Herman lagi.
“Gak tau pak, tadi pas kita naik dia udah pingsan di depan pintu kamarnya.”
“Astaga.” Pak Herman bergegas menuju lantai dua untuk melihat keadaan Viola, begitu pun dengan pria-pria yang penasaran, mereka mengikuti pak Herman.
Mendengar jika Viola pingsan, Joe juga segera pergi ke lantai dua bersama yang lain. Dia jadi sangat khawatir, setahunya Viola bukan orang yang mudah pingsan, bahkan nyaris tidak pernah pingsan walaupun sedang sakit.
Sesampainya di lantai dua, Joe melihat gadis-gadis yang berkerumun di depan pintu sebuah kamar yang mungkin kamar Viola.
“Viola kenapa?” Pak Herman langsung menerobos kerumunan dan melihat Viola terkapar di atas pangkuan Juli.
“Gak tau Pak, dia udah gini pas kita dateng,” jelas Juli.
“Badannya panas terus denyut nadinya lemah banget, Pak,” ujar Sarah.
Melihat kondisi Viola, Joe menjadi semakin khawatir. Sebenarnya apa yang terjadi pada Viola? Padahal sejak tadi siang gadis itu terlihat sehat-sehat saja.
__ADS_1
“Kok kayak reaksi alergi ya? Soalnya sepupu gue punya alergi terus suka pingsan kalo alerginya kambuh,” ujar Martin.
“Alergi? Emang Dia punya alergi?” tanya Gavin.
“Alergi?” Joe bergumam pelan, “jangan-jangan ....”
“Minggir!” seru Joe sambil menerobos melewati Rina dan Sarah yang duduk di depan Juli. Dia berjongkok lalu menyentuh kening Viola dan memeriksa denyut nadinya. Benar kata Sarah, badan Viola panas dan denyut nadinya lemah.
“Jul, lo seharian sama Viola kan?” tanya Joe pada Juli.
“Iya, emang kenapa?”
“Lo Liat dia minum kopi gak?”
“Nggak kok, Viola gak minum kopi. Emang dia alergi kopi?” tanya Juli.
“Iya.” Joe mengangguk.
“Eh, tadi waktu Viola keselek, bukannya lo ngasihin es kopi punya gue sama dia ya?” tanya Mina sambil menunjuk Gavin yang berdiri di sampingnya.
“Emang itu es kopi? gue gak tau,” jawab Gavin.
Joe langsung menoleh dan menatap Gavin dengan tatapan tajam “Jadi lo? Lo tau gak apa yang udah lo lakuin? Viola bisa mati gara-gara alerginya,” bentak Joe sambil menarik kerah baju Gavin.
“Kan gue gak tau,” balas Gavin kesal.
“Udah Joe, si Gavin kan gak sengaja!” Martin mencoba menenangkan Joe.
“Kalo Viola sampe kenapa-napa gimana?” Joe tidak memedulikan Martin dan tetap membentak Gavin.
“Lo juga gak peduli waktu dia kesakitan karena keselek, kenapa sekarang lo sok peduli?” tanya Gavin yang muak dengan sikap Joe.
“Udah! Kalian jangan berantem, cepetan telpon ambulans!” seru Pak Herman tegas.
.
.
.
Hari sudah hampir pagi, namun Joe dan Martin masih terjaga sementara Juli sudah ketiduran selagi duduk di ruang tunggu. Semalam Viola ditemukan pingsan dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Karena mereka bertiga teman satu kelompok Viola, jadi hanya mereka dan Pak Herman yang mengantar Viola ke rumah sakit. Sebenarnya yang lain juga sangat khawatir pada Viola, tapi Pak Herman tidak mengizinkan semuanya untuk ikut, selain merepotkan, mereka juga harus istirahat untuk memulai kegiatan nanti siang.
“Dokter bilang Viola punya alergi yang langka dan berbahaya, sampe sekarang dia masih belum sadar,” jelas Pak Herman.
“Terus gimana dong Pak, orang tuanya udah di kasih tau?” tanya Martin lagi.
“Nanti pagi saya telpon ibunya, kalo sekarang takut ganggu.”
“Jadwal kita hari ini gimana? Viola kan gak mungkin ikut kegiatan walaupun dia nanti sadar,” ujar Joe.
“Gini aja, buat kegiatan hari ini kelompok kalian berdua aja yang ikut, salah satu dari kalian jagain Viola di sini! Saya juga gak bisa di sini terus, anak-anak harus diawasi.”
“Ya udah, saya gak keberatan kok Pak,” ujar Martin.
“Jadi siapa yang mau tetep di sini?” tanya Pak Herman.
“Saya aja, Pak,” Joe menawarkan diri.
“Ya udah kalo gitu. Bangunin Juli, suruh lanjut tidur di vila aja!” seru Pak Herman.
“Iya Pak, Bapak duluan aja, nanti Saya sama Juli nyusul.”
Pak Herman pun pergi dari rumah sakit dan Martin langsung membangunkan Juli.
“Jul, bangun Jul!” Martin menepuk pundak Juli pelan dan langsung membuat gadis itu menggeliat.
“Apa sih Martin? Ngantuk gue,” gumam Juli yang masih memejamkan matanya.
“Bangun! Kita harus balik ke vila.”
“Hah, terus Viola gimana?” Juli akhirnya membuka mata.
“Viola sama gue. Lo sama Martin balik aja terus siap-siap buat acara nanti siang!” seru Joe.
“Oh. Ya udah deh, berarti gue sama Martin doang nih yang ikut kunjungan ke kantor kejaksaan?” tanya Juli.
“Iya, kata Pak Herman gitu. Udah ah, kita harus cepetan balik, gue juga harus tidur dulu,” ujar Martin.
“Ya udah lo berdua pergi gih!”
__ADS_1
“Mmm oke lah. Kita pergi dulu kalo gitu. Lo jagain Viola ya, jangan diapa-apain!” seru Juli sambil berdiri.
“Duluan ya, Joe.”
“Oke.”
Juli dan Martin pun pergi meninggalkan Joe yang masih duduk di ruang tunggu. Namun, tidak lama setelah itu seorang perawat datang menghampiri Joe.
“Permisi, keluarga Viola belum datang ya?” tanya perawat itu pada Joe.
“Belum, buat sementara saya walinya, kalo ada apa-apa bilang aja sama saya!” seru Joe.
“Oh, baik kalo gitu. Saya cuma mau ngasih tau kalo Viola baru aja bangun.”
“Viola udah bangun? Beneran?” tanya Joe.
“Iya.” Perawat itu mengangguk.
Tanpa pikir panjang, Joe pun langsung menuju ruang rawat untuk menemui Viola. Syukurlah jika Viola sudah bangun.
“Vi?” Joe memanggil Viola yang masih berbaring di atas ranjang.
Saat mendengar suara Joe, Viola langsung menoleh.“Eh lo?”
“Gimana, udah baikan?” tanya Joe lalu berdiri di samping ranjang, dia terlihat kaku dan tidak tahu harus melakukan apa.
“Udah,” jawab Viola singkat.
“Lo kok bisa ....”
“Ya mana gue tau kalo itu kopi.”
Joe menatap Viola heran, dia bahkan belum selesai bertanya, tapi Viola sudah menjawabnya.
“Ya udah deh. Tapi, lo gapapa kan? Mending lo istirahat aja, gue mau keluar dulu,” ujar Joe. Sebenernya dia masih ingin melihat dan menemani Viola, tapi entah kenapa suasananya menjadi canggung dan membuatnya tidak nyaman.
“Em, iya,” bukan hanya Joe yang merasa canggung dan kaku, tapi Viola juga merasakan hal yang sama. Karena beberapa hal Viola merasa bersalah pada Joe dan membuatnya menjadi kikuk saat berada di dekat Joe.
“Eh Joe?” Viola memamggil Joe dan membuat pria itu langsung menghentikan langkahnya lalu menoleh.
“Kenapa? Lo butuh sesuatu?” tanya Joe.
“Nggak sih. Lo sejak kapan di sini? Yang lain mana?”
“Sejak semalem, yang lain udah balik ke vila, Martin sama Juli harus ngerjain tugas kelompok kita,” jelas Joe.
“Terus lo gimana? Gak ikut sama mereka?” tanya Viola.
“Terus siapa yang nemenin lo di sini kalo gue pergi?”
Viola tidak langsung membalas ucapan Joe, dia diam untuk beberapa saat. Sampai akhirnya dia menyadari wajah Joe yang terlihat lelah.
“Kalo gitu lo tidur aja! gue tau lo belum tidur,” ujar Viola.
“Kata siapa? gue udah tidur kok.”
“Bohong lo, cepetan tidur di sana!” seru Viola sambil menunjuk sofa yang ada di ruangan itu.
“Tapi ....”
“Gue suruh tidur ya tidur! Tidur doang apa susahnya sih?” omel Viola.
“Eh?” Joe menatap Viola bingung, sudah lama sejak terakhir kali Viola mengomelinya seperti itu.
“Lo gak mau tidur di sana. Ya udah, tidur di sini aja, gue yang tidur di sofa.” Tiba-tiba Viola bangun lalu turun dari atas ranjang.
“Eh? Jangan!” Joe langsung menghampiri Viola dan menahan gadis itu untuk melangkah. “Iya gue tidur, cepetan naik lagi! Jangan macem-macem!” seru Joe sambil memaksa Viola untuk kembali berbaring.
“Ck! lo itu ya, apa-apa harus diancam dulu.”
“Lo juga dikit-dikit ngancem.”
“Tau ah.”
.
.
.
__ADS_1
To be continued