
Sesampainya di halaman, Viola melihat beberapa mahasiswa sedang sibuk mengumpulkan kayu bakar. Mereka benar-benar akan membuat api unggun.
“Joe, lo pantes deh jadi tukang kayu bakar. Mending pulang dari sini lo jualan kayu bakar aja! Pasti laku,” ujar Jeffrey membuat yang lain tertawa kecuali Joe yang menjadi korban keusilan Jeffrey.
“Eh sini gue bantuin.” Tiba-tiba Nadia menghampiri Joe dan mengambil sebagian kayu di tangan Joe.
“Gak usah Nad, nanti tangan lo lecet kalo pegang-pegang kayu. Lagian berat juga,” ujar Joe yang sebenarnya tidak ada maksud untuk menggoda Nadia atau apa pun itu. Tapi, ucapannya justru membuat beberapa orang salah paham dan menjadikannya sebagai bahan guyonan.
“Cie Nadia diperhatiin sama Joe,” celetuk Sarah, sahabat Nadia.
“Ih apaan sih lo Sar?” ujar Nadia malu-malu.
“Si Joe diem-diem menghanyutkan juga nih,” ujar Martin
“Gas Joe, siapa tau jodoh, iya gak sih?” Jeffrey pun tidak mau kalah. Jika soal membully Joe dia pasti yang paling semangat.
“Bacot lo semua,” ujar Joe sambil melemparkan kayu yang dibawanya ke atas tumpukan kayu yang sudah terkumpul cukup banyak.
“Eh udah cukup nih. Langsung nyalain aja apa gimana?” tanya Gavin, orang yang punya ide untuk membuat api unggun.
“Langsung aja deh!” seru Juli.
“Gak ada upacara penyalaan api unggun dulu emang?” tanya Rina.
“Lo kira kita Pramuka?” tanya Gavin.
“Siram aja pake minyak tanah terus langsung bakar. Ribet banget sih!” seru Jeffrey.
“Ya udah deh, minyak mana minyak?” tanya Gavin sambil celingukan mencari minyak tanah.
“Tuh minyak.” Viola menunjuk minyak tanah yang sudah dituangkan ke atas kayu oleh Martin.
“Ya elah si tower, diem-diem aja. Gue nyariin juga.” Gavin malah mengomeli Martin, pria paling tinggi di sana yang kadang dipanggang tower oleh teman-temannya.
“Harusnya lo seneng gue punya inisiatif,” balas Martin.
“Udah deh, ngomong mulu. Nyalain cepetan!” seru Nadia tidak sabaran.
Joe pun menyalakan korek dan langsung menyulut kayu bakar itu, api unggun pun menyala di tengah halaman depan vila.
Setelah api menyala semuanya mulai ribut lagi, tapi akhirnya suara Martin menghentikan keributan tidak jelas itu.
“Eh perhatian semuanya. Gue punya ide bagus nih,” ujar Martin yang langsung menjadi pusat perhatian.
“Ide bagus apa? Jangan bilang lo mau bikin lomba manjat pohon kelapa,” celetuk Jeffrey.
“Itu mah lomba khusus buat lo kali. Lo kan masih kerabat sama yang suka manjat pohon kelapa,” ujar Viola.
“Maksud lo, gue sodaraan sama monyet?” tanya Jeffrey kesal.
“Gue gak bilang monyet kok,” jawab Viola.
“Tapi, kalo lo ngerasa sepupuan sama monyet sih gapapa,” ujar Rina.
__ADS_1
“Pada diem dudulu! Kenapa sih? gue mau ngomong nih!” seru Martin.
“Ya udah. Lo punya ide apa?” tanya Joe.
“Gimana kalo kita bikin acara ala-ala perkemahan gitu,” jawab Martin.
“Misalnya?” tanya Gavin.
“Mmm ... kreasi seni misalnya. Kalo yang punya bakat boleh ditunjukin.”
“Gue gue gue,” Juli langsung heboh sendiri. “Gue mau nyanyi sama Viola.”
“Lah, ko gue?” tanya Viola bingung.
“Eh gue setuju tuh, mereka beruda kan suaranya bagus, pasti asik kalo duet,” ujar Rina.
“Gue juga setuju. Ayo dong!”
“Gak ah males gue,” tolak Viola sambil mengibaskan tangannya.
“Ya elah melesan lo.”
“Ayo dong, temenin gue!” Juli mulai merengek pada Viola.
“Idih! Ya udah deh terserah lo.” Walaupun malas, tapi akhirnya Viola setuju.
“Mau main gitar sekalian?” tanya Daniel sambil menunjukkan gitarnya.
“Boleh deh.” Viola pun langsung mengambil gitar milik Daniel. Selain bisa bernyanyi Viola memang pintar bermain gitar juga.
“Orang kaya mah bebas,” sindir Gavin.
“Beneran lo Jef?” tanya Juli antusias.
“Ya bener lah, emang pernah gue bohong” balas Jeffrey.
“Tapi, kurang seru kalo gitu doang. Yang kalah harus makan mie super pedes, gimana?” Nadia memberikan saran.
“Oke setuju,” ujar Viola.
Persaingan pun dimulai, tapi Viola dan Juli tetap berduet seperti rencana awal. Hanya saja yang lain akan memilih suara siapa yang lebih mereka suka.
Viola mulai memetik senar gitar dan menciptakan alunan nada yang cukup santai. Juli mulai bernyanyi terlebih dahulu lalu dilanjutkan oleh Viola. Suara yang kuat milik Juli dipadukan dengan suara Viola yang manis menciptakan sebuah perpaduan yang sempurna dan membuat semua orang terdiam hanyut dalam lagu mereka. Tidak terkecuali Joe, yang bukan hanya hanyut dalam lagunya, tapi juga hanyut dalam pesona Viola. Malam ini Viola tampak lebih cantik dan Joe merindukan gadis itu.
Viola dengan gitar itu punya cerita tersendiri bagi Joe. Pertama kalinya Joe tertarik pada Viola, adalah saat dia tidak sengaja melihat Viola bermain gitar di ruang seni. Saat itu Joe hanya berpikir jika gadis dengan gitar itu cantik, tapi kemudian dia mulai punya perasaan yang lebih pada Viola.
Karena terlalu fokus pada lagunya, semua orang baru sadar jika lagu itu sudah selesai, mereka semua puas dengan penampilan duet Viola dan Juli.
“Kan gue bilang apa, lo berdua itu bakal keren kalo duet,” ujar Rina.
“Lagi dong!” seru Jeffrey.
“Enak aja lagi, lo kan gak bayar,” ujar Juli pada Jeffrey.
__ADS_1
“Eh waktunya vote nih. gue kasih waktu lima detik ya. 5, 4, 3, 2, 1. Waktunya habis sekarang siapa yang pilih Juli? Angkat tangan!” seru Martin.
Sebagian orang mengangkat tangan dan setelah Martin hitung jumlahnya ada delapan orang.
“Oke yang pilih Viola?”
Martin menghitung lagi dan jumlahnya delapan orang juga. Dia mulai bingung, ada dua puluh orang di sana, dikurangi Viola dan Juli harusnya ada delapan belas orang yang memberi vote, tapi kenapa hanya ada enam belas.
“Ah! Lo gak milih ya? Pantesan kurang.” Martin baru sadar Jika Joe sejak tadi tidak mengangkat tangan.
“Lo juga gak milih,” balas Joe sambil menatap Martin datar.
“Eh. gue lupa hehehe.” Martin malah cengengesan dan membuat yang lain memutar mata.
“Ya uda, kalian berdua mau milih siapa?” tanya Juli.
“Gue Juli,” ujar Martin.
“Gue juga Juli.” Joe memilih Juli juga. Sebenarnya dia lebih suka Viola, tapi jika dia memilih Viola, semua orang bisa salah paham.
Viola cemberut kesal, sementara Juli langsung bersorak senang sambil bertepuk tangan sendiri. “Lo udah janji loh Jef. Traktir gue selama seminggu!” ujar Juli pada Jeffrey.
“Yah. Padahal gue ngaerpnya lo kalah,” celetuk Jeffrey.
“Tapi, gue menang, wlek!” Juli menjulurkan lidahnya pada Jeffrey.
“Sesuai perjanjian. lo Jef, harus traktir Juli selama seminggu dan Viola harus makan mie super pedes yang udah disiapin sama Nadia,” jelas Martin.
“Ih ini pedes banget ya?” tanya Viola sambil menghirup aroma menyengat dari mie yang sudah ada di tangannya.
“Kalo lo gak kuat lo bisa ganti hukuman,” ujar Gavin yang merasa sedikit khawatir.
“Gue kuat kok, lo kira gue bocah yang gak kuat pedes?” balas Viola percaya diri. Entah kenapa Viola merasa Nadia sengaja ingin membuatnya memakan mie pedas itu, sejak dulu mereka berdua memang tidak akur karena Joe.
“Ya udah makan dong kalo kuat, jangan diliatin aja!” seru Nadia.
“Ini juga mau makan kok,” ujar Viola sinis.
Viola pun mulai menyuapkan mie itu ke dalam mulutnya dan semua orang penasaran menunggu reaksinya. Dia mengunyah mie itu, seketika rasa pedas dan panas langsung menyerang lidahnya.
Wajah Viola memerah menahan rasa pedas yang semakin menjadi, tapi dia tetap menahannya dan meneruskan dengan suapan kedua. Tapi, tiba-tiba Viola tersedak, tenggorokannya sakit dan air matanya mulai keluar. Sebenarnya dia ingin tertawa karena ulahnya sendiri, tapi dia juga merasakan rasa sakit dan panas yang tidak main-main.
“Eh? Minum cepetan minum!” Gavin langsung memberikan minuman pada Viola dan Viola pun meminumnya tanpa berpikir dua kali.
“Udah gak usah diterusin, nanti Viola kenapa-napa lagi,” ujar Juli.
“Lo sih ngasih idenya gila banget,” Rina malah mengomeli Nadia.
“Kok gue? Kan dia yang mau sendiri, emang gue maksa? Nggak kan?” Balas Nadia kesal.
.
.
__ADS_1
.
To be continued