
Hari sudah siang saat Viola dan Joe sampai di pemakaman. Joe langsung duduk di samping makam lalu menaruh bunga yang dibawanya di dekat batu nisan. Sementara Viola hanya berdiri di belakang Joe sambil menatap punggung pria itu.
Viola tahu, sekarang Joe sangat sedih. Satu tahun menjalani hidup tanpa ibunya pasti berat, apa lagi ayahnya selalu sibuk dengan pekerjaan dan senang bermain wanita. Jika Viola jadi Joe, dia pasti tidak akan kuat.
Cukup lama Joe duduk sambil diam di depan makam dan Viola pun masih berdiri di belakangnya.
“Maaf ya Mah, aku jarang dateng ke sini,” akhirnya Joe mulai bersuara. “Viola juga ke sini buat liat Mama,” lanjutnya sambil menoleh pada Viola.
Viola yang sejak tadi berdiri pun kini duduk di samping Joe. Saat masih hidup, ibu Joe memang sangat senang ketika melihat Viola. Dia tidak punya anak perempuan, jadi dia sangat menyayangi Viola.
“Iya Tante, ini Viola. Tante di sana tenang aja, Joe baik-baik aja kok. Dia udah dewasa dan gak nakal lagi, kalo dia nakal Tante boleh pinjem tangan Viola buat ngejewer kupingnya.”
Joe malah terkekeh mendengar ucapan Viola, bisa-bisa Viola bicara seperti itu.
“Vi, pulang yuk. Nanti keburu sore, kalo kakak lo nyariin gimana?” Ajak Joe.
“Eh iya, udah setengah tiga nih,” balas Viola sambil melihat jam tangan Joe.
“Mah, kita pulang dulu ya,” pamit Joe, setelah itu dia dan Viola langsung meninggalkan makam.
Viola kembali diam saat dia dan Joe berada di perjalanan. Sebenarnya dia lapar, ini sudah lewat jam makan siang dan ingin segera pulang.
“Lo laper gak?” Tiba-tiba Joe bertanya karena dia juga merasakan apa yang Viola rasakan.
“Dikit,” jawab Viola.
“Gue laper banget nih, belom makan dari pagi. Makan dulu yuk. Tapi, kalo lo mau langsung pulang sih gapapa, takutnya kakak lo nyariin kalo lo pulangnya kesorean,” ujar Joe.
“Hah? Lo belum makan dari pagi? Lo gimana sih? Gue tau di rumah lo gak ada yang masak, lo belajar masak sendiri dong! Kalo tiap hari kayak gini lo bisa sakit. Kalo lo sakit gimana?” Tiba-tiba Viola mengomeli Joe, dan pria itu hanya bengong mendapat omelan dari mantan pacarnya.
“Eh sorry.” Namun, Viola sadar dia sudah berlebihan. Joe bukan lagi pacarnya, jadi untuk apa mengomelinya.
“Ya udah, kita langsung pulang aja,” ujar Joe.
“Nggak, lo harus makan dulu. Perjalanan kita masih lumayan jauh. Kalo lo kenapa-napa terus kecelakaan, gue gimana?”
“Gak usah ngomong aneh-aneh! Eh lo mau makan ramen gak?” tanya Joe saat dia melihat kedai ramen di depan.
“lo harus makan nasi, bukan ramen,” lagi-lagi Viola mengomel.
“Ya udah deh.”
Joe pun pasrah dengan Omelan Viola, kemudian dia mencari restoran yang menjual nasi.
Setelah lima belas menit mencari, akhirnya Joe dan Viola menemukan sebuah kedai kecil, tapi cukup ramai. Joe memarkirkan mobilnya dan mereka berdua langsung turun lalu masuk ke dalam kedai.
Mereka memesan makanan lalu duduk di salah satu meja sambil menunggu pesanan datang.
“Maafin gue,” tiba-tiba Joe berujar dan membuat Viola bingung.
“Buat?” tanya Viola.
“Kali aja gue ada salah sama lo,” jawab Joe.
“Emang lo ngerasa punya salah?”
__ADS_1
“Mungkin.”
Sebenernya Joe sudah tahu alasan Viola memutuskannya. Selama seminggu dia terus mencari tahu dan bertanya kepada teman-temannya. Tapi, semuanya mengatakan hal yang sama. Joe terlalu cuek dan kurang perhatian, setelah dipikir-pikir, Joe memang merasa sikapnya selama ini seperti itu pada Viola. Tapi, itu bukan berarti Joe tidak peduli, dia hanya tidak terbiasa bersikap manis dan penuh perhatian.
“Ya udahlah, gue anggep lo gak ada salah,” ujar Viola.
“Eh Vi. Cowok yang waktu itu siapa sih?” Tiba-tiba Joe bertanya.
“Cowok yang mana?”
“Dokter waktu di Bandung itu.” ujar Joe
“Oh. Mantan gue,” jawab Viola, dia sengaja mengatakan itu karena ingin tahu reaksi Joe. Tapi, apa yang dia harapkan, Joe tidak beraksi apa-apa.
“Oh, mantan lo,” hanya itu yang Joe katakan dengan ekspresi biasa.
.
.
.
“Makasih ya Joe,” ujar Viola sambil turun dari dalam mobil Joe. Sekarang sudah sore dan Viola baru saja sampai di depan rumah setelah diantar pulang oleh Joe.
“Gue yang makasih. Mama pasti seneng lo dateng.”
“Sama-sama Joe. Eh, file-nya jangan lupa ya biar besok bisa langsung gue kerjain!”
“Oke.”
“Viola!” Joe memanggil Viola.
“Kenapa?”
“Gak jadi. Masuk aja!” seru Joe.
“Dih gak jelas,” ujar Viola lalu melanjutkan langkahnya. Sementara Joe juga menginjak pedal gas dan pergi.
Sebenernya Joe berniat mengajak Viola balikan, terlepas Viola mau menerimanya lagi atau tidak. Yang jelas Joe ingin mencobanya. Tapi, sepertinya sekarang bukan saat yang tepat. Mengajak Viola balikan, artinya Joe harus siap mengubah dan memperbaiki sikapnya.
“Itu kan mobil Joe,” ujar Alice saat Viola masuk ke dalam rumah. Rupanya Alice mengintip dari balik jendela.
“Ngagetin aja lo,” ujar Viola kesal karena Alice muncul dengan tiba-tiba dari balik pintu.
“Joe nganterin lo pulang?” tanya Alice penasaran.
“Emang kenapa? Gak boleh?” Balas Viola.
“Kayaknya ada yang bakal balikan nih.” Alice tersenyum jahil dan mulai menggoda Viola.
“Apa sih nggak juga,” bantah Viola.
“Terus ngapain dianterin pulang segala?”
“Kita habis dari makan ibunya Joe. Hari ini peringatan kematian ibunya, gak enak kan gue kalo gak dateng,” jelas Viola sambil berjalan menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
__ADS_1
“Oooohhhh.” Alice mengangguk-anggukan kepalanya. “Tapi, Vi. Gimana kalo seandainya Jie ngajak balikan, bakal lo terima gak?”
“Ngapain sih nanya kayak gitu? Gak mungkin juga dia ngajak balikan.”
“Ya seandainya dia beneran ngajak balikan?”
“Ya gue sih tergantung dia mau berubah apa nggak. Kalo masih sama buat apa?”
“Berarti lo masih ada perasaan dong sama Joe?” lagi-lagi Alice menggoda Viola.
“Mama sama Papa kapan pulang?” Viola mengalihkan pembicaraan, dia menanyakan orang tuanya yang sedang pergi ke Bali untuk perjalanan bisnis.
“Besok kayaknya. Gak tau juga sih,” jawab Alice sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur Viola. “Eh, Vi.”
“Apa?”
“Rio ngajak gue nikah.”
“Hah serius? Beneran lo Kak? Gak bohong kan?” Viola langsung heboh sendiri saat mendengar Alice diajak nikah oleh pacarnya.
“Ya bener lah. Tapi, gue bingung, Rio gak ngizinin gue kerja lagi kalo kita udah nikah.”
“Ya bagus lah. Ngapain capek-capek kerja kalo udah nikah?ininrus rumah sama anak aja udah!” seru Viola enteng.
“Yee ... lo ngomong gampang. Jadi pengacara itu impian gue sejak kecil, masa baru beberapa tahun udah berhenti.”
“Ya terus? lo gak mau nikah sama Kak Rio?”
“Ya bukan gitu.”
Alice bingung sendiri dengan masa depannya, menikah itu bukan urusan gampang.
“Vi ....” Alice memanggil Viola lagi, tapi adiknya itu tidak menyahut. “Viola?” ulangnya. “Ya ampun Vi, lo kenapa?” Alice langsung kaget saat melihat Viola duduk di kursi belajar sambil memegangi dadanya.
“Dada gue sakit lagi, Kak,” jawab Viola sambil meringis memegangi dadanya yang sakit.
“Lo kenapa? Obatnya udah lo minum?” tanya Alice panik.
“Tadi ketinggalan di rumah, jadi gue gak minum.”
“Astaga Vi. lo gimana sih? Cepetan minum obat sekarang!” seru Alice yang langsung mengambil obat dari atas meja rias Viola.
Setelah minum obat, Viola mulai membaik. Namun Alice tetap khawatir.
“Vi, mending lo gak usah kuliah dulu deh, lo harus istirahat yang cukup! Kalo perlu lo cuti aja dulu buat semester ini!”
“Tapi, Kak?”
“Please Vi, jangan bikin gue, Mama sama Papa khawatir!”
.
.
.
__ADS_1
To be continued