Putus Tapi Menikah

Putus Tapi Menikah
Dua


__ADS_3

Kelas sedang berlangsung tapi Viola tidak fokus memerhatikan dosen yang sedang menjelaskan, dia malah sibuk menatap punggung Joe yang duduk tak jauh di depannya. Rasanya Viola masih belum terbiasa duduk jauh dari Joe, selama ini biasanya mereka akan duduk bersebelahan. Tapi, sekarang beberapa gadis sepertinya berebut ingin mengambil alih tempatnya duduk yang biasanya ditempati oleh Viola.


Dengan helaan napas berat Viola kembali mengingat kejadian kemarin. Rasanya dia masih berat menerima kenyataan jika hubungannya dengan Joe telah berakhir. Dua tahun perjuangannya terasa sia-sia, tapi tampaknya Joe baik-baik saja.


".... jadi minggu ini kita akan pergi ke Bandung buat belajar sistem hukum dan melihat persidangan di sana. Ini tugas kelompok, saya sendiri yang akan membagi kelompoknya, nanti saya kasih tau lewat grup chat," jelas Pak Herman, dosen yang sedang mengajar itu.


Tugas kelompok lagi, Viola berharap kali ini dia tidak satu kelompok dengan Joe. Semoga saja, karena hampir di semua tugas kelompok Viola selalu saja satu tim dengan Joe. Selama ini memang tidak masalah, malah Viola senang. Tapi, sekarang? Viola tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia satu tim dengan mantan pacar sendiri, pasti akan sangat canggung.


"Pelajaran hari ini cukup sampai di sini, sampai ketemu hari Rabu."


Kelas pun berakhir dan sekarang waktunya makan siang. Semua mahasiswa dan mahasiswi keluar dari kelas itu, sebagian pergi ke kantin dan sebagian lagi pergi ke tempat lain seperti perpustakaan atau gedung olahraga.


"Vi, makan siang bareng gue yuk," ajak Juli sambil menghampiri Viola yang masih sibuk memasukkan bukunya ke dalam tas.


"Eh, iya ayo," balas Viola lalu berdiri. "Emang Cindy ke mana?"


"Dia gak masuk, sakit."


"Oh, pantesan dari tadi gak keliatan."


"Iya, ya udah yuk! Keburu penuh kantinnya."


Viola dan Juli pun pergi menuju kantin, namun Viola tidak sadar jika Joe dan Jeffrey berjalan di belakang mereka.


Joe hanya menatap punggung Viola yang sedang sibuk bicara dengan Juli. Gadis itu tampak normal seperti biasa, syukurlah jika dia baik-baik saja. Tapi, sebenarnya Joe masih belum mengerti alasan Viola memutuskannya, seharusnya kemarin dia bertanya dan tidak langsung pergi begitu saja.


"Ngelamun aja lo. Doi udah bukan punya lo, gak usah diliatin terus!" seru Jeffrey sambil menepuk pundak Joe.


"Apa sih lo?" tanya Joe kesal.


Mendengar suara Jeffrey yang tidak bisa dibilang pelan, Viola dan Juli langsung menoleh ke belakang. Seketika Viola menjadi canggung menyadari Joe yang sedang melihatnya.


"Eh Joe, Viola-nya Ggue pinjem dulu ya," ujar Juli sambil merangkul lengan Viola.


"Dibawa pulang juga boleh Jul," balas Jeffrey.


"Ih gue gak ngomong sama lo kali," Juli menatap Jeffrey malas.


Joe tidak mengatakan apa pun, dia hanya berjalan melewati Viola dan Juli.


"Eh tungguin, Joe!" teriak Jeffrey saat melihat sahabatnya itu pergi begitu saja. "Duluan ya," pamitnya lalu menyusul Joe.


"Cowok lo emang gitu ya Vi, gak sweet banget sih kalian," ujar Juli.


"Bukan cowok gue," balas Viola yang membuat Juli langsung menghentikan langkahnya.


"Hah? Maksudnya kalian putus, gitu?" tanya Juli terkejut.


"Ya gitu deh."


"Waaaah serius lo? Gila, cewek-cewek centil itu pasti pada berantem rebutan Joe lagi. Tapi, kenapa kalian putus? Sayang banget ih."


"Kepo aja lo. Udah ah nanti kantinnya keburu penuh." Viola tidak mau membahas Joe dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Eh bener, ayo cepetan!"


Kedua gadis itu pun melanjutkan perjalanan mereka menuju kantin, tapi tiba-tiba handphone mereka berbunyi.


"Eh, kelompoknya udah dibagi nih," ujar Juli yang lebih dulu melihat handphone-nya.


"Masa?" Viola langsung membuka pesan dari grup juga.


"Kita satu kelompok Vi!" Juli malah kegirangan gara-gara satu kelompok dengan Viola. Viola itu pintar dan rajin, jadi sebuah keuntungan tersendiri jika menjadi teman satu kelompoknya.


"Mampus Ju, gue pengen pindah kelompok aja," ujar Viola yang masih menatap layar handphone-nya.


"Lah?" Juli bingung, apa yang membuat Viola seperti itu? Tapi, kemudian dia sadar jika ada nama Joe dalam kelompok mereka.


"Siap-siap gagal move on aja Vi!"


"Ju! Gimana dong?"


"Hahaha, gak tau."


.


.


.

__ADS_1


"Kamu di sana berapa hari? Jaga kesehatan, jangan lupa makan!" seru Bu Anna pada Viola yang sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.


"Seminggu Mah, Mama tenang aja Viola udah gede kok, bisa jaga diri," ujar Viola.


"Ah kamu, udah gede juga tetep aja kelakuannya kayak bocah."


"Ih Mama apaan sih, nggak juga."


"Emang iya sih Mah, masa Segede gitu masih nonton Shinchan," ujar Alice yang tiba-tiba sudah ada di belakang Viola.


"Apa sih lo, nimbrung aja?" tanya Viola kesal.


"Eh, sama Kakak gak boleh kasar!" seru Bu Anna.


"Kakaknya sih."


"Apa? Kakak kan gak ngapa-ngapain," Alice membela diri.


"Udah ah jangan berantem! Udah siang nih, cepetan berangkat! Nanti telat lagi." Bu Anna mengingatkan Viola untuk segera berangkat ke stasiun. Kalau sampai telat bahaya, bisa ketinggalan kereta.


"Iya ini juga udah. Tinggal pake sepatu," ujar Viola.


"Al, Mama nganterin Viola dulu ya. Kamu jaga rumah!"


"Siap Mah. Jangan lupa oleh-olehnya ya Vi!"


"Kakak gak dapet jatah oleh-oleh, wlek ...." Viola menjulurkan lidahnya dan segera pergi ke luar sebelum Alice mengomelinya.


.


.


.


Viola duduk di kursi penumpang sementara ibunya menyetir. Selama di perjalanan menuju stasiun Viola hanya diam dan tidak banyak bicara, itu membuat Bu Anna heran.


"Vi, kok Mama liat akhir-akhir ini kamu sering diem sih? Lagi ada masalah?" tanya Bu Anna.


"Ng-nggak kok."


"Tapi, kamu gak biasanya diem gini."


"Viola ini ada-ada aja deh. Kalo udah nyampe jangan lupa kasih tau Mama ya!"


"Iya Mah beres."


Bu Anna menghentikan mobilnya saat sudah berada di depan stasiun dan Viola pun langsung turun.


"Hati-hati ya sayang!"


"Iya. Dadah Mama."


Viola segera masuk ke dalam stasiun, dia memang sedikit telat dan teman-temannya sudah menunggu.


"Dateng juga ni anak. Dari mana dulu sih, Viola?" tanya Martin, ketua kelompok Viola.


"Hehehe, sorry ya. Macet di jalan," ujar Viola.


"Semuanya udah dateng kan?" tanya Pak Herman.


"Udah pak, lengkap."


"Kalo gitu kita naik sekarang, nanti keretanya keburu berangkat!"


"Oke pak."


Semuanya pun langsung naik ke dalam gerbong dengan bimbingan Pak Herman.


"Ingat ya, duduknya sesuai nomor tiket kalian, itu udah diatur per kelompok, jadi jangan ada yang pindah-pindah tempat duduk! Ngerti?"


"Iya Pak ngerti kok."


Semua mahasiswa dan mahasiswi pun mulai duduk di kursi mereka masing-masing, tapi Viola malah bingung sendiri gara-gara harus duduk bersebelahan dengan Joe.


"Duduk Vi, keretanya udah mau jalan nih!" seru Juli yang duduk berhadapan dengan Viola.


"Ju, tukeran dong sama Gue!" ujar Viola.


"Lo mau dimarahin Pak Herman?" tanya Juli.

__ADS_1


"Udah lah, lo tinggal duduk apa susahnya sih?" tanya Martin.


"Iya gue duduk," ujar Viola kesal dan langsung duduk. Sementara itu Joe hanya diam tidak mengatakan apa pun.


.


.


.


Perjalanan dari Jakarta ke Bandung memang tidak dekat, setidaknya membutuhkan waktu dua setengah jam dan sebagian besar orang mulai tertidur.


Tak berbeda dengan yang lain, Juli dan Martin juga sudah tertidur sejak tadi, menyisakan Viola dan Joe yang masih terjaga dan mulai merasa canggung satu sama lain.


‘Si Juli pake tidur segala lagi,' dalam hati Viola mengomel sambil menendang pelan kaki Juli, berharap temannya itu akan bangun. Tapi, Juli tidak bergerak sedikit pun.


Karena gugup Viola jadi haus, dia mengambil botol air mineral yang masih baru dari dalam tasnya, tapi dia mulai kesulitan saat ingin membuka tutup botol yang masih disegel itu. Susah payah Viola mencoba membukanya, tapi tetap tidak bisa. Akhirnya Viola mencoba untuk menggigitnya, tapi Joe sudah lebih dulu mengambil botol itu dan membukakannya untuk Viola.


"Payah banget sih lo jadi cewek," ujar Joe sambil mengembalikan botol itu pada Viola.


"Botolnya aja susah dibuka," ujar Viola sewot lalu minum dari botol itu.


"Bilang makasih kek!"


"Makasih."


"Lo yang mutusin gue, tapi kok lo yang sewot sih sama gue?"


Viola menoleh pada Joe, maksudnya apa mengatakan itu?


"Jangan dibahas!" seru Viola malas.


"Ya udah."


Viola pun memejamkan matanya dan pura-pura tidur agar tidak terlihat gugup di depan Joe. Ini pertama kalinya mereka saling bicara lagi setelah putus. Jika dipikir-pikir ada benarnya juga, kenapa pula Viola bersikap dingin pada Joe, padahal pria itu tidak salah apa-apa.


.


.


.


Hari sudah hampir sore saat semua mahasiswa itu sampai di penginapan. Mereka tidak menginap di hotel, tapi menyewa sebuah vila yang mempunyai banyak kamar di dalamnya. Lagi pula jumlah mereka hanya dua puluh orang, jadi sepuluh kamar sudah cukup untuk mereka.


Pak Herman menjelaskan jika mahasiswa putra akan tidur di kamar lantai satu dan mahasiswa putri di kamar lantai dua. Selain itu para mahasiswa putri harus sudah berada di kamar masing-masing sebelum jam sepuluh malam.


"Oke, udah ngerti kan? Sekarang kalian boleh pilih kamar masing-masing, tiap kamar isinya dua orang. Besok siang kita ada kunjungan ke kantor kejaksaan, jadi buat hari ini kalian bebas mau ngapain aja," jelas Pak Herman.


"Pak, main ke pantai boleh gak?" tanya Jeffrey.


"Main ke mana aja boleh, tapi jam sepuluh malem harus udah pulang!"


"Siap Pak."


"Vi, sekamar sama gue ya," ajak Juli sambil merangkul lengan Viola.


"Perasaan lo nempel terus sama Viola Ju," ujar Martin.


"Ya terserah gue dong, masalah buat Anda?" balas Juli sambil memutar mata.


"Padahal gue cuma ngomong."


"Udahlah Tin, lo gak bakal menang kalo ngelawan cewek," ujar Jeffrey pada pria tinggi itu.


"Iya sih. Ya udah lah. Eh Joe, lo mau sekamar sama siapa? Gue apa Jeffrey?" tanya Martin pada Joe.


"Terserah," jawab Joe singkat.


"Sama gue aja Joe," ujar Jeffrey.


"Udah yuk Vi, kita naik ke atas aja!" ajak Juli pada Viola.


"Ayo."


.


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2