
Berhati-hatilah dalam menilai seseorang, kadang yang terlihat tak seperti faktanya
_Q. DP_
________________________________________________
Setelah usai jam sekolah, Ana dkk menuju salah satu mansion Ana karena sudah saatnya Ana membuka identitasnya kepada sahabatnya.
Ia sudah siap sekarang akan semua keputusan dari sahabatnya apalagi mereka sudah sering menanyakan alasan perubahan Ana.
Setelah tiba mereka kagum akan masion Ana soalnya itu terlihat mewah dan indah.
“Buset ini udah kayak istana, gede bener” kagum Misha
“Ho’o”Vani membenarkan
Setelah masuk lagi-lagi mereka terkagum akan nuansa mansion Ana yang indah. Sudahlah yah, membuat jiwa meronta-ronta aja. Singkat cerita Ana mulai menjelaskan kronologi yang menimpa keluarganya.
Skip, flashback…
Saat itu keluarga harmonis dan bahagia sedang menikmati kebersamaan mereka, mengunjungi tempat-tempat indah dan di hiasi canda tawa. Sungguh keluarga idaman, kaya, harmonis, baik, ramah dan wajah yang rupawan.
__ADS_1
Ah, pokoknya kalian pasti akan merasa iri dengan mereka. Beberapa waktu berlalu saat mereka (Ros, Aditia dan Ana dan Nana) sedang santai di ruang tamu sambil menunggu sang suami/deddy kembali dari kantor. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekati mereka.
“Deddy pulang, liat apa yang deddy bawa” ucap sang Deddy
“Yeh ice cream dan mainan” seru 3 orang anak yang langsung mengambil ice cream dan mainannya. Sedangkan sang Mommy hanya tersenyum melihatnya.
Namun tak berselang lama ada seorang wanita yang seusia Ros yang juga masuk bersama seorang pelayan. Cukup cantik jika di lihat tapi entahlah dengan hatinya.
“Permisi Bu, Pak” ucapnya cukup sopan. Tapi tak di pungkiri dalam hati ia berniat busuk semenjak pertama kali menginjakkan kaki di mansion itu.
(Hem, semua ini harus menjadi miliku kekayaan dan kedudukan. Tunggu saja aku akan merebut semuannya) piciknya
“Maaf Bu, saya Dita. Tadi saya disuruh kesini oleh Pak Hendra” jawabnya.
“Oh, kamu sudah datang. Mom dia Dita, dia tadi yang membantu Deddy saat hampir ketabrak mobil. Karena buru-buru Daddy belum sempat mengucapkan terima kasih kepadanya makanya Deddy kasi alamat kita. Sekalian aja makan malam bersama sebagai ucapan terima kasih” terang Hendra.
“Kamu tinggal diamana?” tanya Ros. Sedangkan Dita pun mengambil kesempatan itu untu memulai aksinya.
“Saya tinggal di rumah kardus di area pembuangan Bu. Saya sudah mencari pekerjaan yang lebih baik untuk memperbaiki hidup saya tapi belum mendapatkannya. Padahal anak saya lagi sakit di rumah” jawabnya bohong dengan raut muka sedih.
“Suami kamu, kerja apa?” tanya Ros lagi.
__ADS_1
“Suami saya sudah meninggal Bu karena sakit beberapa tahun lalu” jawabnya kembali berbohong.
(Suaminya meninggal karena ia bunuh yah guys soalnya bikin susah aja katanya, sebab dia penyakitn)
Ros yang memang baik pun merasa ibah dan menawarkan pekerjaan di rumah itu sebagai art.
“Bagaimana kalau kamu jadi atr di sini kebetulan art disini kurang. Jika kamu setuju kamu mulai kerja saja besok. Deddy setuju kan?” tawar Ros.
“Iya Mom” Hendra menyetujui.
“Benarkah Bu, terima kasih Bu. Tapi, apakah boleh saya membawa anak saya?, saya tidak mungkin meninggalkannya sendiri di rumah” tutur Dita. Dalam hati ia tertawa bahagia karena langkah awalnya di mulai.
“Boleh, Ana, Nana dan Aditia bisa menjadi temannya” Ros menyetujui.
Singkat cerita beberapa waktu berlalu…
Dita sudah jadi art dan Rika sudah menjadi teman dari anak-anak Ros mereka juga sudah dekat. Namun, Rika yang terbuai semua kemewahan yang ada membuatnya iri akan apa yang anak-anak Ros Miliki. Ia ingin menjadikan apa yang mereka miliki jadi miliknya.
#Panggil Ibu karena belum kerja yah, nanti kalau dah kerja pakai Tuan & Nyonya. Nastasia/Tasya/Nana disini bebas aja yah panggil apa sesuai suasana hati ajalah.
Dukung terus karya author yah, dan mohon saran dan kritiknya.
__ADS_1