
“Ehem, permisi!” Hera mengganggu kemesraan mereka.
”Kau di panggil Pak Prabu, tuh,” tambahnya menatap Nico. Anna kesal bukan main pada cewek satu ini.
“Kenapa?” tanya Nico enggan melepas Anna.
“Mana ku tahu!” Jawab Hera sengit.
Nico menaruh kedua tangannya di bahu Anna, menatapnya lembut, “Tunggu aku sebentar, jangan kemana-mana. Oke!“ lalu mengecup dahi Anna dan pergi meninggalkannya dengan Hera.
Setelah Nico pergi, ia berharap Hera juga pergi meninggalkannya sendiri. Tapi nyatanya, Hera masih disana, menatap sinis Anna dengan matanya yang ungu. Anna yakin, Hera pasti akan mengintimidasinya.
“Kau nekat atau gila sih?” kata Hera memulai aksinya.
Anna sudah membayangkan hal ini berkali-kali sejak ia menerima hati Nico. Ia yakin, ia siap bila saatnya tiba. Namun menghadapi situasinya langsung membuatnya sedikit gemetar.
“Menurutmu?” Tanyanya menantang.
“Kamu bebal ya? Koran, tv, majalah, seluruh kota mengatakan aku lah yang cocok untuk Nico. Mereka mengharapkan kami bersama. Mereka menjodohkan kami, tapi siapa kau berani menggodanya? Kau tak lebih dari selingan baginya, sadarlah!” Hera mengintimidasi.
“Masa?"
“Kamu tak tahu apa-apa tentang kami. Menurutmu apa bangsawan hanya status? Tidak, kami memiliki rahasia yang kalian orang biasa tak pernah bayangkan.” Hera melipat tangannya di dada, mengangkat dagunya tinggi-tinggi, memandang rendah Anna. Anna merasa muak.
“Kenapa memang? Masalah?” Anna tak kalah sinis.
“Masalah? Kau bahkan tak tahu kan? Kenapa? Nico tak memberi tahumu? Kau tak cukup berharga hingga ia tak menceritakannya padamu? Kasihan.” Nada bicaranya semakin menantang, membuat Anna geram bukan kepalang. Anna ingin menampol habis mulutnya yang kasar, tapi ia masih punya otak. Ia pasti kalah seandainya Hera membawanya ke Dewan Hakim untuk menuntutnya. Jadi ia mengatur napasnya yang memburu, menenangkan syaraf dan pikirannya supaya lebih dingin.
“Entahlah, mungkin ia akan menceritakannya padaku malam ini, setelah aku bertemu Ibunya. Kau tahu, ia mengundangku bertemu Ibunya malam ini.” Anna puas melihat expresi Hera seperti ulat kepanasan. Jangan tanya aku bagaimana rupa ulat kepanasan. Lihat saja sendiri.
“Bohong,“ ucap Hera tak percaya.
“Terserah.” Anna bersikap angkuh.
“Tatap mataku!” Perintah Hera melotot pada Anna. Anna mengernyit heran dengan tingkahnya.
“Memang kenapa matamu? Belekan?“ ejek Anna yang membuat Hera semakin melotot padanya. Anna membalas memelototinya. Keduanya saling melotot beberapa saat.
“Kau tahu siapa aku?” Tanya Hera kemudian yang membuat Anna heran bukan main.
“Kau gila?“ Anna mengernyit menatap Hera. Pertanyaan Hera yang tiba-tiba konyol, membuat Anna bertanya-tanya, apa Hera sedikit abnormal?
“KATAKAN, SIAPA NAMAKU JIKA KAU TAHU!” teriak Hera yang masih melotot pada Anna. Ia yakin Hera tak normal.
“Kau sebaiknya memeriksakan jiwamu kepsikiater Hera, aku serius.” Anna beranjak pergi meninggalkan keanehan Hera.
“Tidak mungkin! Kenapa tak bekerja padamu,” rutuk Hera yang kini menarik Anna kuat-kuat. Ia mencegah Anna pergi, membuat Anna sekarang benar-benar takut menghadapi kegilaannya.
”Tatap mataku! Tatap betul-betul!” Hera mencengkram lengan Anna kuat-kuat, memaksanya menatap matanya.
__ADS_1
“Apa-apaan kau ini, dasar sinting!” Anna menepis cengkraman tangan Hera yang kini menggila, berteriak-teriak tak terkendali dan menyerang Anna. Anna mundur dan mengelak dari serangan cakar Hera.
“HENTIKAN! HERA, HENTIKAN!” Suara Yash yang berat berkumandang di atap gedung. Namun, Hera tak juga berhenti menyerang Anna. Ia hampir kewalahan menghindari serangan Hera. Yash lari dan menangkap tangan Hera, memeganginya dan berusaha menenangkannya. Ia mencegahnya menyerang Anna.
“Ada apa dengannya?” tanya Anna mengusap lengannya yang sakit dicakar Hera.
“Hilang kendali,” jawab Yash yang dengan sekuat tenaga menahan Hera yang menggila.
“Apa dia Gila?" Tanya Anna yang sekarang iba pada Hera.
“Sebenarnya tidak. Mungkin ia terkena mantranya sendiri,” kata Yash ngos-ngosan.
“Mantra apa?” Anna tak paham maksud Yash.
“Bodohnya Yashna,” gumam Yash. ”Anna, maafkan aku. Bisakah kau pergi. Aku akan mengatakan pada Nico kalau kau sudah turun.”
“Oke, tapi maafkan aku. Aku tak bermaksud membuatnya ... gila.” Anna menatap Hera sedikit prihatin.
“Ya.. ya.. aku melihat semuanya, jangan khawatir. Pergilah. Please,” ratap Yash yang kini kewalahan menahan Hera yang meraung-raung seperti kerasukan setan.
Anna masih kesal terhadap tingkah Hera. Namun ia juga merasa kasihan padanya. Anna kembali kederetan kursi di depan panggung. Kini pertunjukan drama akan segera selesai. Acara trrakhir adalah pertunjukan sulap dari Sun School. Anna melihat Leo masih ditempat duduknya. Ia mengamit tangan Rachel, sedangkan Rachel menyandarkan kepalanya di bahu Leo. Leo menatap Anna, please! sebentar lagi.
Anna mau tak mau beranjak dari situ dan mencari kursi kosong lain. “Hei, cantik!” seseorang mengagetkannya dari belakang.
“Ega!” Anna menoleh dan mendapati Ega berdiri di belakangnya.
“Oh ya? Sebenarnya aku kehilangan kursiku,” ucap Anna sambil mencari kursi dengan nama Leo.
“Mau ku bantu? Kursiku di sana, di deretan terakhir. Paling pojok, jadi mudah ditemukan.” Ega menunjuk baris terakhir dan Anna mengikuti arah pandangnya. Anna melihat di deretan terakhir ada kursi kosong dengan huruf LE dan sebuah tas ransel besar menutupi huruf belakangnya.
“Ah, tak usah, aku sudah menemukannya,” kata Anna tersenyum pada Ega.
“Baiklah, sampai jumpa!” Ega berlari menuju kursinya.
Anna duduk di kursi deret terakhir dan memindahkan tas ransel besar itu ke kakinya. Aneh benar Leo membawa tas besar ke pesta dansa sekolah. Sungguh konyol.
Anna menonton drama yang tinggal penutupan tersebut. Mereka bertepuk tangan kepada para aktor dadakan itu.
“Anna? Aku tak tahu kalau kamu akan masuk?” Anna menoleh, itu adalah Mess, murid terpintar di sekolah Anna. Sudah enam bulan ia tak melihat Mess karena Mess terpilih ikut program bimbingan kenaikan tingkat. Ia pindah ke sekolah Sky School.
“Masuk?”Anna bingung.
“Aku ga lihat kamu ikut bimbingan.”
“Memang aku ga ikut. Trus kenapa?” Anna merasa diremehkan. Mood-nya jelek gegara Hera.
“Oh gitu, mana ranselmu? Nah, itu di kakimu. Cepat kenakan dan pasang sabuk pengamanmu!” Perintah Mess.
“Sabuk apa?”
__ADS_1
“Sabuk pengaman, dikursimu. Sini!” terang Mess.
Sudah cukup Anna dipandang remeh Hera, sekarang siswa terpintar mengajarinya pakai sabuk pengaman kursi. Memangnya ia bayi. Dengan perasaan kesal, Anna tak mau memakai sabuk pengaman di kursi itu. Anna merasa aneh, dia toh bukan bayi yang akan jatuh bila tak pakai sabuk pengaman kursi.
“Memangnya aku bayi pakai sabuk pengaman?” geram Anna.
“Anna, ini penting agar kamu gak cedera. Ini pelajaran dasar. Guru Chena bilang, ini tak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang akan kita hadapi nanti di dalam portal. Jangan merengek dan bawa ranselmu baik-baik, disitu ada perlengkapan yang dibutuhkan untuk sampai ke portal kembali,” cerocos Mess sembari memasangkan ransel dan sabuk kepada Anna.
“Kamu ngoceh apa....” Anna belum selesai bicara. Ia dipotong teriakan khalayak yang meneriakan YA dengan serempak dan semagat. Rupanya di atas panggung ada seorang murid dari Sun School yang memulai aksi sulapnya.
“APA KALIAN SUKA MAGIC?” Teriak pesulap itu.
“YAAAA...,” jawab penonton serempak.
“APA KALIAN MAU BERKELILING KAWASAN BANGSAWAN?” Teriak pesulap itu lagi. Tapi kali ini penonton berkhasak-khusuk bingung.
“DENGAN ROLLER COASTER KURSI?” teriak pesulap itu lagi.
“YAAAAAA,” jawab penonton heboh.
“PASANG SABUK PENGAMAN KALIAAAAN!” Serunya kemudian. Ia menyapukan tongkat sulap kearah penonton. Dengan ajaib, sebuah rel muncul dari tanah di bawah kursi-kursi tempat duduk penonton. Rel muncul membentuk jalur di sekeliling panggung kemudian menuju lapangan golf menyambung hingga kembali ke baris kursi yang paling belakang.
Pesulap itu menyapukan lagi tongkatnya sehingga kursi-kursi berputar ke samping kanan dan kiri, saling menempel di atas rel yang berbentuk seperti ular.
“KALIAN SIAP?” seru pesulap itu.
Satu lambaian tongkat sang pesulap telah menggerakan kursi-kursi layaknya kereta. Dimulai dari barisan depan menyusul ke nomor dua sampai seterusnya ke barisan terakhir tempat Mess dan Anna berada dan paling bontot, Ega. Mula-mula membentuk spiral seperti ular, lalu meluncur mengelilingi lapangan golf.
Kereta kursi terus meluncur mengelilingi komplek kawasan elite dengan kecepatan 70 km/jam. Seperti roller coaster, naik turun bukit. Lalu deret kursi membentuk sepiral lagi ke atas bukit, tepat di depan terowongn penghubung Kerajaan Kelansa dan Kerajaan Bartha.
Anna bisa melihat teman-temannya menjerit kesenangan. Dan kemudian ia melihat Leo.
“Anna, apa yang kamu lakukan di situ?” kata Leo kaget melihat Anna.
“Duduk di kursimu!” Jelas Anna.
“Itu deret terakhir dan kursiku bukan di situ.”
“Ga papa kan, ga ada beda!” Jawab Anna acuh.
“Kau akan masuk portal. TURUN DARI KURSI ITU!” Leo menjerit panik.
Anna menganggap Leo gila karena menyuruhnya turun dari kursi saat kursi itu melaju dengan kecepatan 70 km/jam. Kereta kursi itu turun kembali dari bukit dan membelok ke timur, kembali ke gedung graha. Namun kereta kursi pada baris terakhir terpisah ke arah barat, kesebuah terowongan di bawah gunung kailash yang berkabut tebal.
“Hei, kita salah arah!” Anna berbicara pada Mess yang ada di belakangnya. Mess malah berkata, “Memang seharusnya salah, kita menuju portal dunia mistis.” –
***
illustrasi
__ADS_1