
Ilustrasi by canva dan alakadarnya.
***
Ini adalah kisah yang akan membuatmu berkata, ah masak sih? Tapi percayalah bahwa kisah ini nyata. Tentang Pulau yang tersembunyi dari mata orang-orang yang berpikiran sempit. Ah masak sih? Tentu saja, hanya orang dengan pikiran luas yang bisa membuktikannya. Tapi jangan coba-coba untuk membuktikannya kalau tak mau mati mengenaskan. Sebenarnya, selain dunia tempat kita tinggali ini terdapat dunia lain yang bersebrangan namun sangat dekat dengan kita. Dunia maya? Aduh, bukan. Dunia alam gaib yang berisi.. yah, kalian tahulah.. makhluk yang menawan. Ini bukan kisah horor, tapi tetap saja jangan membacanya sendirian.
Mungkin kalian bertanya-tanya siapa aku dan bagaimana aku bisa mengetahui kisah ini dengan gamblang, bahkan sampai sedetil-detilnya. Apa aku salah satu dari makhluk menawan itu? Bisa jadi sih, tapi bukan. Aku akan mengungkapkan jati diriku nanti, setelah pariwara berikut ini.
Jadi, pada zaman dahulu, lahirlah seorang makhluk menawan. Tunggu dulu! Apa hantu melahirkan? Oke,skip! Sebenarnya bukan zaman dahulu-dulu, kisah ini dimulai dari beberapa tahun yang lalu saja. Saat facebook sedang digandrungi. Saat manusia gahul berubah haluan dari friendster ke facebook dan android menjadi primadona. Tren itu sampai juga pada penduduk kota Kelansa yang tak mau ketinggalan jaman. Oh, tak usah search Google untuk tahu dimana itu kota Kelansa. Kalian tak akan menemukannya. Masak sih?, coba ah.. sungguh kalian benar-benar tak ada kerjaan.
Kota Kelansa berada di pulau Ebuh. Ah, google mana google... kakek google kalian tak akan bisa melihatnya dari satelit miliknya. Pulau ini terletak di selatan pulau Jawa, Indonesia. Ah, masak sih?...terlalu banyak bilang masak sih dapat meningkatkan resiko jantung koroner, gangguan pada kehamilan dan kematian jika diucapkan sambil merokok.
__ADS_1
Kalian yang masih tidak percaya bahwa ada pulau tertutup kabut bahkan pada siang hari--di selatan Pulau Jawa, please, percayalah! dan jangan coba-coba memastikannya karena pulau ini berbahaya.
Lagipula, bagaimana juga kalian akan memastikannya? Kalian akan berlayar ke pulau itu? Oh, tidak bisa. Pulau itu di kelilingi kabut dan fungsi kabut itu sebagai pelindung dari makhluk-makhluk asing yang tidak diinginkan kehadirannya. Niscaya kapal kalian akan membelok dan menuju entah kemana. Sama halnya dengan pesawat jet pribadi, atau helikopter, atau kapal selam, pokoknya tidak bisa. Luasnya dua kali pulau Bali. Sedang jumlah penduduknya tercatat ...wah, aku bukan pejabat jadi kuperkirakan...600 ribuan orang.
Di pulau ini terbagi menjadi dua blok yaitu blok barat dan blok timur. Kabarnya, mereka saling perang dingin...bukan perang es, tentunya.
Blok barat dikuasai Kerajaan Bharta dan blok timur oleh Kerajaan Kelansa. Di tengah pulau terdapat pegunungan Awindya yang membelah pulau sebagai batas kekuasaan. Tepat di bawah gunung paling tengah, Gunung Kailash, ada terowongan yang menghubungkan Kerajaan Kelansa dengan Bharta.
Mereka yang nekat pergi ke terowongan untuk sekedar uji nyali atau cuma foto selfi, niscaya foto mereka tak akan pernah terunggah ke facebook karena yang empunya foto terlanjur hilang entah kemana sebelum sempat meng-klik unggah.
Kerajaan Kelansa membawahi beberapa kota, namun yang paling ramai penduduknya ialah kota Kelansa karena di sanalah ibukotanya. Tidak ada pak kota tetapi ada anak kota. Tak usah heran. Mungkin dia anak adopsi. Jadi yang ngaku-ngaku anak kota, jangan bangga dulu, kalian mungkin anak adopsi.
Kota Kelansa tepat di sisi gunung Kailash. Karena masih kerajaan, jadi penduduknya menganut sistem kasta. Kasta yang pertama dan tertinggi ialah Kasta Bangsawan. Para Bangsawan ialah mereka yang mengendalikan pemerintahan. Namanya kerajaan pastilah ada Raja dan Ratu, tapi tidak berlaku di Kelansa. Mereka memimpin pemerintahan dengan bangsawan yang dikepalai sembilan dewan tertinggi yang disebut Pahem Atmadeva. Tidak ada Istana, namun rumah kesembilan dewan bak istana dan ada di lingkungan yang sama pula.
__ADS_1
Di lingkungan itu terdapat beberapa fasilitas elite misalnya: sekolah elite, gedung pertemuan elite, kantor elite, mall elite, lapangan golf elite dan semua yang elite-elite. Dan mereka selalu menyerukan keadilan sosial bagi seluruh rakyat kerajaan Kelansa. Mereka sangat perhatian, bukan?
Yang kedua Kasta Ksatria yaitu kasta Para Prajurit, atau lebih tepatnya para penjaga seperti Polisi atau Tentara. Jika ada kebakaran, perampokan, pembunuhan(yang jarang sekali ada),ular masuk rumah, atau sekedar tanya gosip, mereka akan menelpon Ksatria yang bertugas untuk mengatasi masalah mereka. Para Ksatria siap sedia di mana-mana layaknya mesin minuman otomatis di Jepang. Tapi jika butuh mereka, kalian tidak boleh memencetnya, bisa-bisa didakwa pelecehan dan dibawa kehadapan Dewan hakim. Dan percayalah, jika kalian sampai dihadapkan dengan Dewan hakim, rasanya lebih menyakitkan dibanding dipukuli preman.
Lalu yang ketiga ialah Kasta Sipil, berisi orang-orang sipil dan warga biasa. Mereka bisa berprofesi apa saja. Pedagang, petani, nelayan, youtuber dan semua hidup dengan damai. Asyik deh.
Penduduk kota Kelansa merupakan penduduk yang cukup makmur dan modern. Wifi gratis disediakan di setiap sudut kota, jadi para remaja dan ibu rumah tangga bebas streaming drama-drama india yang ceritanya sangat ruwet, atau F4 yang ganteng-ganteng bak peri musim panas. Kebanyakan mereka yang berbakat pergi merintis karir ke luar negeri. (Mereka bisa keluar pulau? Tentu saja bisa. Untuk penduduk asli pulau Ebuh bebas bisa keluar masuk pulau, asal tahu passwordnya saja).
Hanya beberapa artis yang sudah tua dan dianggap mati oleh dunia, atau yang sudah dilupakan saja yang sudi kembali ke sini dan menjadi pengisi acara televisi. Entah kenapa artis yang terkenal tak ada yang sudi mengakui mereka dari Kerajaan Kelansa. Mungkin Kerajaan ini terlalu tak keren. Biasanya mereka mengaku dari Australia atau Eropa.
Terdapat beberapa cafe, bioskop, mall-mall yang megah, serta hutan-hutan dan bukit. Di sini sangat jarang ada orang asing. Hanya beberapa saja tamu dari para bangsawan, dan mereka selalu dijemput jika ingin mencapai pulau dengan selamat, alasannya sudah kuutarakan di atas. Bukan di atas kepalamu, tapi di atas kalimat ini.
Pernahkah kalian bertanya, masak tidak ada yang bisa kesana sama sekali? Tentu ada kejadian khusus seperti seorang nelayan yang tersesat, dengan tidak sengaja mencapai pulau. Biasanya mereka akan menetap dan menjadi warga kota karena terpesona dengan gadis elok berambut merah—maksudku terpesona dengan keindahan kerajaan Kelansa. Meski ada yang ingin kembali, biasanya mereka menganggap bahwa mereka telah memasuki alam gaib, atau mengalami mati suri, atau bahkan diculik wewe gombal.
Banyak warga yang pergi merantau lalu kembali setelah beberapa tahun untuk berkeluarga, ada pula yang meninggalkan kota ini dan hidup di luar sana, lalu dengan ajaib, mereka tak pernah kembali, bahkan tak pernah mengungkit-ungkit asal mereka.
Meskipun demikian, ada peraturan yang mengharuskan setidaknya satu anak menetap dan meneruskan warisan orang tuanya, biasanya anak sulung.
Entah siapa yang membuat peraturan itu, tapi ku rasa dia anak tunggal yang takut sendirian jika ada hujan petir. Ah, para dewan melotot padaku. Bukannya apa-apa, aku curiga sebenarnya para dewan takut kehilangan rakyatnya. Yang artinya, mereka kehilangan juga upetinya. Ya ampun, mereka mengacungkan pentungan kepadaku. Sebaiknya aku kembali ke kisah ini sebelum kepalaku dikepruk.
***
__ADS_1