Rahasia Pulau Ebuh dan Misi Sang Ksatria

Rahasia Pulau Ebuh dan Misi Sang Ksatria
Bab 5. Ganti Rugi Terenak


__ADS_3

 


Acara pensi dimulai dengan sambutan-sambutan dari para wali sekolah, lalu dilanjutkan tari-tarian dan nyanyian. Acara kemudian dilanjutkan dengan drama sekolah. Drama tentang pangeran yang jatuh cinta dengan seorang biasa mengingatkan Anna akan dirinya.


 


Sehari setelah kejadian di pasar malam itu, Anna ditelpon Nico.


“Halo.” Anna mengangkat telponnya.


Kau merusakan Hpku.Kau harus tanggung jawab, sore ini ku tunggu di depan sekolahmu, kata suara diseberang.


“Tapi, aku tak.. tuutt..tuut..” sambungan terputus, membuat Anna jengkel bukan main. Ia melemparkan Hpnya ke kasur dengan jengkel. Siapa yang menaruhnya disana? Sekarang rusak, siapa juga yang diminta tanggung jawab, itu bukan salahku, aku tak mau pergi, pikirnya. Namun, sore itu ia berdandan memakai baju yang bagus, mengoleskan lipglos, menyapukan bedak di wajahnya, dan yang paling mencengangkan, dia menyisir rambutnya. Ia mengutuki dirinya sendiri atas apa yang dilakukannya.


Modus babak ke-2. Pura-puralah barangmu rusak karena targetmu dan minta ia menemuimu untuk meminta tanggung jawab.


Pada sore hari, sekolah tampak sepi karena para murid pulang ke asrama mereka. Hanya beberapa yang tinggal untuk membaca ataupun mengerjakan tugas di perpustakaan. Sekolah Or berdiri di atas tanah seluas satu hektar lebih sedikit, berada di tengah perkampungan sederhana. Bangunannya sendiri terdiri dari tiga lantai dengan 24 ruang belajar, delapan toilet, 1 aula, dan lapangan olahraga. Di sekelilingnya berdiri tembok beton yang cukup tinggi untuk dilompati. Anna terpaksa melompatinya saat warung makan di depan sekolahnya memberi gratis makan pas jam sekolah. Di depan sekolah terdapat gerbang yang megah dan siap ditutup apabila waktu belajar dimulai dan dibuka kembali saat sekolah usai. Di depan gerbang terdapat jembatan yang menghubungkan sekolah dengan jalan raya.


Anna mengintip di balik gerbang.


20 meter darinya ada Nico yang berdiri menatap kearah sekolah dan mondar-mandir di samping motornya yang terpakir di tepi jembatan. Padahal jelas-jelas ada rambu yang mengatakan dilarang parkir. Namanya juga remaja. Harap dimaklumi.


Dalam hati, Anna senang bertemu lagi dengan Nico. Namun ia bingung, bagaimana Nico bisa tahu dimana ia bersekolah, secara hanya ada 3 sekolah di kota itu. Yang jelas Anna tidak anggun, dan dia juga tidak berotot jadi sudah pasti sangat sulit menebak sekolahnya. Apa aku terlalu sarkas?


Anna masih sembunyi-sembunyi memandang Nico dari kejauhan. Jarak 5 meter di sebelah Nico ada tiga orang cewek yang meliriknya sambil berbisik dan cekikikan, membuat Anna semakin enggan bertemu dengannya. Nico sangat tampan kendati hanya memakai baju biasa. Kaos hitam yang memperjelas warna kulitnya yang putih , dan celana jeans pendek yang pas di kakinya yang panjang, membuatnya tampak seperti aktor remaja difilm romance. Kali ini ia membiarkan rambutnya acak-acakan, tapi tetap saja enak dipandang. Bahkan setelah bangun tidur, liur masih membentuk jalur di pipinya, ia tetap tampan.


Cahaya matahari sore menambah keindahan siluet Nico. Bayangkan! siluetnya saja tampan.


Anna ingat pernah melihatnya disuatu tempat, sebelum kemarin, namun ia lupa dimana. Sebenarnya alasan ia enggan bertemu Nico salah satunya ialah ingin menyelamatkan uang nya. Jatah bulanannya menipis. Apalagi sekarang apa-apa harus bayar. Pipis saja bayar.


Akhirnya Anna berbalik pulang. Baru beberapa langkah ia beranjak, suara Rachel mengagetkannya,“Hei, ngapain kamu?”


“Aku.. cuma.. aku.. aku.. aku mau pulang,” jawabnya gagu. Dengan ekor matanya, ia melihat Nico berlari ke arahnya. Cepat-cepat Anna berbalik kearah sekolah dan meninggalkan Rachel yang terheran-heran melihat tingkah Anna.


“Bukannya asrama di sana?“ Rachel mengoreksi arah yang dituju Anna.


“Oh, iya lupa..” Anna berbalik salah tingkah.


“Anna!” Teriak Nico yang kini menuju kearahnya. Rachel menoleh dan terganga menyadari situasi yang ganjil itu. Awalnya ia heran melihat sahabatnya itu. Seumur hidup ia tak pernah melihat sahabatya itu berdandan yang pantas. Baju yang ia gunakan sehari-hari tak bisa disebut pantas, kaos yang kegedean, celana yang kombor, lubang yang dijahit. Namun sekarang, ia melihat temannya itu memakai sesuatu yang dianggapnya tak mungkin dipakai Anna. Rachel pernah membelikannya baju setelan dengan rok tahun lalu pada Anna sebagai hadiah ulang tahunnya. Alih-alih senang, malah menuduh Rachel mengoloknya. Namun baju itu akhirnya dipakai juga setelah berbulan-bulan hanya disimpan di lemarinya. Rachel yakin hanya baju itu lah satu-satunya baju yang bagus di lemari Anna.


“Oh, Hei!” sapa Anna salah tingkah.


“Nico? Nico Estu Brawijaya? Nico yang kau maksud kemarin itu dia? Nico anak dewan Pahem Atmadeva?” seru Rachel tak percaya. Anna merasa pernah mendengar nama itu, ia mengingat-ingat.. astaga..Brawijaya .. salah satu dewan tertinggi di kota Kelansa, ia anak seorang bangsawan. Pantas saja gantengnya kebagetan, pikir Anna tak percaya bahwa ia bertemu dengan pemuda idaman masyarakat kota Kelansa. Surat kabar menyebutkan bahwa walau masih remaja, ia mampu mengelola bisnis yang sukses. Seorang calon mantu idaman, begitu kata majalah gosip.


“Kenalkan, ini temanku, Rachel--Rachel ini Nico pasar malam,” kata Anna kemudian.


“Oh, hai. Senang berkenalan denganmu.” Nico menjabat tangan Rachel yang sedang melongo sambil ngiler menatapnya.


“Sebaiknya kita pergi ketempat yang nyaman, disini sedikit terbuka,” usul Nico pada Anna. Sebenarnya ia sedikit takut dengan cewek yang trans tiba-tiba, apalagi sambil ngiler.


“Baiklah. Kau ikut kan, Rachel?” Kata Anna berharap agar Rachel menutup mulutnya yang menganga sebelum ada lalat yang masuk dan juga mengelap ilernya.


Akhirnya Dengan penuh pengertian dan kesadaran, Rachel menolak, “maaf, aku harus ke perpus, Pak Prabu menunggu tugasku besok. Bye!“ Rachel pergi meninggalkan sahabatnya tanpa melap ilernya. Kurasa ia tak sadar kalau ada iler di dagunya.


“Ayo!” Ajak Nico berbalik. Dengan terpaksa, Anna mengikutinya. kalem, ini bukan kencan, ia mau menuntut ganti rugi... ganti rugi, pikirnya menenangkan. Tapi lihatlah dia tadi berdandan. Jelas ia berharap ini kencan.


Mereka berjalan keluar gerbang menuju tempat Nico memarkir motor Ninja-nya. Nico lalu menaiki motornya, memakai jaket kulit hitam dan helm serta menyodorkan satu helm lagi untuk Anna.


“Naiklah!” perintah Nico pada Anna. Namun Anna hanya diam saja menatap boncengan di depannya. Nico memutar badannya kebelakang, heran menatap Anna yang tak kunjung naik. Lalu dengan penuh pengertian, ia melepaskan jaketnya dan memberikannya pada Anna untuk menutupi pahanya. Ia tersenyum pada Anna. Senyum yang diartikan Anna sebagai senyum mengejek. Muka Anna merah padam menahan marah serta malu.


“Mau kemana kita?” tanya Anna setelah naik membonceng Nico. Tangannya perpegangan pada besi belakang jok motor.


“Pegangan!” Perintah Nico.

__ADS_1


“Sudah kok!” Jawab Anna dengan suara sedikit kesal. Nico menoleh kebelakang sekilas. Ia lantas melajukan motornya dan mengerem tiba-tiba, membuat Anna kehilangan keseimbangan dan reflek maju membentur Nico.


Ia lalu mencengkeram kedua tangan Anna dan menaruhnya di depan tubuhnya, saling mengaitkannya, sehingga Anna memeluk tubuh Nico dari belakang. Harum tubuh Nico membuat jantungnya pandai memainkan drum. Anna sedikit mundur agar Nico tak bisa mendengar degup jantungnya yang berisik, tapi ditarik kembali oleh Nico.


“Pegang yang erat karena aku tak bisa pelan,” ucap Nico. Anna menyerah dan memeluk Nico erat. Ia sering menonton berita kecelakaan yang diakibatkan motor dengan kecepatan tinggi. Anna tak mau mengalaminya, ditambah pula Anna belum pernah naik motor. Maklum, ia telah menolak anak geng motor.


Nico melajukan motornya menuju ke jalan raya. Mereka melewati pusat kota, menuju ke barat, mencari kitab suci. Ah, salah! Itu kera sakti.


Mereka menuju kearah pegunungan Awindya, melewati kampung, terus keatas bukit. Perjalanan sekitar 25 menit. Mereka sampai di atas sebuah bukit dengan beberapa rumah dan sebuah cafe. Nico memarkirkan motornya di depan cafe.


“Dimana ini?” Tanya Anna tak pernah tahu tempat itu. Maklum lagi, ia tak pernah nongkrong di cafe, Anna harus ngirit uang bulanannya.


“Ini cafe temanku, baru buka beberapa bulan lalu, Ayo!” ajak Nico memasuki cafe. Nico menyapa beberapa orang yang ia kenal dan Anna mengikutinya dengan diam.


Interior cafe sangat unik dan antik. Mengusung tema tempoe duoeloe. Lampu-lampu gantung dengan nyala temaram menambah kesan lama. Barang-barang antik dipajang disebuah etalase seperti:kamera jadul, radio dari kayu jati, televisi hitam putih, miniatur vespa, miniatur sepeda kebo, serta foto-foto hitam putih. Jam-jam antik tertata rapi di dinding. Meja dan kursi klasik yang sering kita temui difilm-film jaman perang dunia berderet siap menampung pelaggan cafe. Alunan musik yang mengalun merupakan lagu yang dihasilkan dari sebuah piringan hitam. Selain itu juga terdapat beberapa menu tempo dulu seperti Botterstaaf, cake onbitjkoek, dll. Tapi selain menu tadi, cafe ini juga menjual makanan dan minuman massa kini seperti sandwich, cappucino, dll.


“Mau pesan apa?” Tanya Nico setelah duduk di salah satu tempat yang disediakan cafe itu.


“Ice Cappucino.“


Nico memesan dua Ice Cappocino dan beberapa makanan ringan kepada salah satu pelayan.


“Oh ya, mana tagihan yang harus ku bayar?” Tanya Anna sadar tujuan pertemuan mereka.


“Sabar.” Nico tersenyum sambil memandangi jam tangannya.


“Nunggu apa sih?” Tanya Anna heran.


“Huh? itu dia datang,” kata Nico menunjuk seorang cowok berkaus gambar Avril Lavigne dan bercelana jeans sobek-sobek, kontras dengan suasana cafe. Ia turun dari sebuah tangga.


“Hei Bro!” Cowok itu datang dan menjabat tangan Nico dengan salam khas anak muda.


“Hai..” sapanya pada Anna dan menjabat tangannya dengan sopan.


“Dimana Yashna?” tanya Nico padanya.


“Kalau lagi kencan, sebaiknya jangan cari dia. Bisa habis kau nanti.” Dia melirik Anna dengan tatapan penuh arti, membuat Nico sedikit memerah.


“Oh ya, Ini temanku Oni, dia..em.. koki di sini, dan ini Anna..” Nico memperkenalkan mereka satu sama lain.


“O-ow. I see.” Oni menggoda Nico.


“Yuk, pindah!” ajak Nico agar Anna mengikutinya.


“Aku bilangin Yashna nih!” Goda Oni.


“Apaan sih, memang Yashna apaku?”


Oni terus menggoda Nico. Anna berjalan di belakang mereka. Sebenarnya ia sedikit kesal karena sepertinya Yashna sangat akrab dengan Nico. Ia mengira Nico sudah punya gebetan. Ia sedikit cemburu.


Mereka lantas menuju keatas tangga. Ruangan di atas tangga merupakan sebuah aula, namun masih kosong, dan dikelilingi pintu kaca. Mereka keluar melalui pintu kaca menuju tangga lebar dan pendek turun ke arena outdoor yang dilengkapi dengan panggung untuk musik band di sebuah gazebo. Tapi belum ada pemainnya. Meja dan kursi bundar dengan payung besar di atasnya diletakkan acak memenuhi area tersebut. Di sekeliling area dibatasi pagar besi setinggi pinggang. Mereka menuju salah satu meja paling pinggir, sehingga terlihat bahwa sebenarnya mereka berada di atas sebuah tebing. Tidak ada orang lain selain mereka bertiga.


“Sebenarnya ini belum sepenuhnya jadi sih, baru tahap penyempurnaan.” Oni menjelaskan pada Anna.


“Tapi aman, kan?” Tanya Anna menatap jurang di bawahnya.


“Oh tentu, Nico sedikit membantu dengan ke..Aw..” Oni kesakitan diijak kakinya oleh Nico.


“Sorry-sorry, bukannya kau mau makan?” Nico mendorong halus Oni, memberi sinyal untuk meninggalkan mereka. Imut sekali dia.


“Oke-oke. Have fun!” Oni meninggalkan mereka setelah melotot ke arah Nico.


“Kok sepi, sih?” tanya Anna.

__ADS_1


“Sebenarnya ini dibuka nanti malam. Kita terlalu awal.” Nico nyengir.


Selang beberapa menit pesanan mereka datang.


“Ini cafe milik temanku Yashna, kami satu sekolah.... .” dan begitulah awalnya. Mereka mengobrol, banyak cerita, lelucon dan rahasia kecil yang mereka obrolkan. Anna menilai bahwa Nico adalah orang yang sangat humble, percaya diri dan menyenangkan, semakin ia mengenal Nico, semakin ia tak dapat menolak pesonanya.


Pemandangan waktu senja semakin mempesona. Pengunjung semakin banyak, dan musik Band telah memainkan pertunjukannya, tapi Anna terlalu larut dalam obrolannya bersama Nico. Mereka makan malam dengan ditemani iringan lagu romantis. Tanpa sadar mereka mengobrol hingga malam. Lampu kota di bawah mereka berkerlap-kelip seperti bintang yang bersinar diatas mereka. Anna terpesona dengan pemandangan yang ditawarkan cafe tersebut. Angin menerpa mereka membuat rambut Nico berterbangan acak-acakan, menambah ketampanan pemuda itu. Bibirnya yang merah mempesona melontarkan kata demi kata. Suaranya lembut nan merdu. Tatapannya hangat.


Anna lupa tujuan pertemuannya dengan Nico. Ia sungguh tak mau hari ini berakhir.


“Ternyata sudah jam 8 malam. Aku harus memulangkanmu atau aku harus memesankanmu hotel,” kata Nico tersenyum menggoda ke arah Anna.


“Tapi, tagihan Hp-mu?” Tanya Anna yang sebenarnya enggan berpisah dengan Nico. Mungkin dia tak keberatan dipesankan hotel. Tapi mengingat uang yang harus dikeluarkannya untuk hotel, lebih baik asrama saja.


“Anggap saja sudah bayar,” kata Nico menatap Anna, jarinya mengepal menyangga dagunya. Bak lukisan dewa yunani.


“Mana boleh begitu?” tanya Anna bingung.


“Kamu kan udah meluangkan waktumu untukku. Waktu adalah uang,” terang Nico membuat Anna tertawa. Dari semua gombalan, dia memilih waktu adalah uang. Astaga, kuno sekali dia. Anna yakin, Nico hanya mengada-ada tentang Hp-nya. Mungkin untuk menemuinya, tapi ia tak mau terlalu percaya diri. Ia berpikir bahwa Nico seorang playboy. Meskipun demikian, ia playboy paling tampan bagi Anna.


Jarak status mereka juga terlalu lebar. Anna yakin kalau ia hanya sebagai Snack bagi Nico. Setelah pulang nanti, ia yakin Nico sudah menyebutnya Hani, atau Mawar, atau bahkan hanya Nona. Meski mati-matian menolak, tapi pesona Nico terlalu kuat, sangat menyilaukan. Jadi ya sudah, menyerah saja. Nikmati saja, asal jangan sampai menjadi bodoh. Menyerahkan segenap jiwa raga padanya. Cukup setengah saja. Eh, seperempat.


Mereka sampai di depan asrama Anna tepat jam sembilan kurang seperempat karena gerbang asrama tertutup pada jam sembilan malam. Pak Satpam kurang berjiwa muda.


Suasana depan gerbang asrama sepi saat itu.


“Thanks, aku masuk dulu!” Pamit Anna pada Nico. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan tanda perpisahan meskipun dalam hati ia ingin menggenggam tangan Nico sekali lagi sebelum hari itu berakhir. Sebelum Nico melupakan namanya. Sebelum ia hanya menjadi contact pemenuh di Hp Nico .


Nico menyambut uluran tangan Anna yang otomatis membuatnya senang. Ia bertekad akan mengenang ini seumur hidup. Nico lah pemuda partama yang membuatnya berdebar. Ia merasakan jatuh cinta, cinta pertama dan ia maklum seandainya ini cinta monyet(Nico cintanya dan Anna monyetnya).


Ia tak mengharapkan lebih. Tak mau berangan-angan, Anna akan menutup hari itu sebagai sebuah mimpi indah.


“Bye..” Nico tersenyum mengawasi Anna masuk ke asramanya. Untunglah tak terjadi percakapan :


A : Pergi dulu aja.


N : kau masuk dulu.


A : ah, kau dulu yang pergi.


N : Ah.. kau dulu. (Sambil menggoyang-goyang kan badan.)


A : Tidak ah, kau dulu yang pergi.(Sambil merengut manja.)


Me : Gitu aja terus sampai kiamat. Bah!!


Setelah di asrama, Anna masuk ke kamarnya dengan senyum yang mengembang, hatinya berbunga-bunga.


“Ehem.” Rachel mencegatnya di depan pintu. “Gimana itu si ‘pasar malam’ dan apa itu di pinggangmu?,”


Rachel menunjuk jaket kulit hitam yang terikat di pinggang Anna, menutupi pahanya.


Anna sadar, jaket Nico belum dikembalikannya. Ia lantas berlari keluar kamar, menuju ke balkon lantai tiga untuk melihat apakah Nico sudah pulang atau belum. Ternyata Nico masih di tempat yang ia tinggalkan tadi. Nico menatap kearahnya dan mengangkat tangannya ketelinga, mengisyaratkan ‘telepon’. Anna mengambil Hpnya dan mengangkat telpon dari Nico.


“Maaf, jaketmu kebawa, aku turun...,” katanya menatap Nico dari jauh.


“Aku ambil lain waktu, kalau kamu kangen aku, kamu boleh memakainya.” Nico tersenyum mematikan Hpnya sebelum Anna sempat menjawab, lalu melambaikan tangan kearahnya dan melajukan motornya pergi.


Modus babak ke-3.Tinggalkan barangmu untuk kemudian kau ambil supaya bisa ketemu targetmu. Dengan catatan targetmu tak menjualnya.


Anna takkan memakai jaket Nico, tapi menciuminya. Apalagi di situ ada parfum Nico. Taruhan, dia tak akan mencucinya. Dia akan menjaganya seolah itu harta berharga. Kalau bisa akan dilaminating supaya awet.


Ia yakin, pemiliknya tak akan ingat padanya lagi. Tapi salah, nyatanya keesokan harinya Nico menelpon Anna, memintanya untuk bertanggung jawab karena ia tidak bisa BAB setelah makan bersamanya. Dan begitu seterusnya. Ada saja alasan Nico untuk bertemu Anna.

__ADS_1


***


__ADS_2