Rahasia Pulau Ebuh dan Misi Sang Ksatria

Rahasia Pulau Ebuh dan Misi Sang Ksatria
Bab 14. Kabut Ganti Nama


__ADS_3

Pantai utara tujuan mereka bukanlah pantai biasa. Orang-orang cukup pandai untuk tak dekat-dekat dengan area ini. Di sepanjang jalan terdapat papan peringatan yang berisi kalimat ancaman lengkap dengan berita bahayanya pantai daerah utara itu. Seperti, seorang pemuda mati di pantai utara karena nekat ingin menulis, X pernah di sini. Tolong jika kau orang waras, jangan diikuti.


Tapi ya ampun, aku tak mengatakan mereka tak waras, hanya tak normal. Jadi mereka mengindahkan larangan itu. Bukan untuk menulis x pernah disini, tapi mereka ingin mencari Sang kabut. Mereka lantas menyusuri pantai dan akhirnya sampai ke tebing di tepi laut. Ombak sangat tinggi dan menakutkan. Mereka naik dan Yashna jelas tak mau menengok ke bawah. Mereka mencari sebuah papan petunjuk yang bertuliskan, Rumah Sang kabut 100 meter ke kanan. Tentu saja tidak ada. Bayangkan jika dengan mudah Sang kabut ditemui. Pasti banyak yang berbondong-bondong untuk foto selfi dengannya, mengunggah fotonya dengan caption, lihat, aku bersama makhluk abadi. Pasti bakal viral. Padahal Kabut cuma ingin ketenangan.


Dari atas, mereka menelusuri, melihat daerah sekitar dengan jelas. Ada satu daerah yang mereka sungguh tak mau ke sana. Berada di sebuah lembah yang suram. Tanpa sinar matahari. Mendung seolah selalu menutupi nya. Dan di situlah tujuan mereka. Rumah Sang Kabut. Mau tak mau mereka melangkahkan kakinya ke sana.


Nico dapat melihat rumah yang terbuat dari kayu jati berdiri tegak didepannya. Rumah bergaya kuno itu tampak suram dengan pintu terbuka lebar. Nico mencoba melihat lebih teliti kedalam rumah namun tak ada siapa-siapa.


Tiba-tiba ada kabut yang bergerak membentuk tangan dan mencekik leher Nico. Nico berusaha melepaskan tangan kabut itu namun sia-sia, ia tak bisa memegangnya. Dari ekor matanya, Nico melihat Yashna melakukan hal yang sama. Ia tampak megap-megap kesulitan bernafas. Nico berkonsentrasi penuh mencoba mengendalikan udara di sekitarnya untuk membuyarkan tangan kabut yang mencekiknya. Dan berhasil. Tangan kabut itu hilang disapu angin kencang. Dia menggerakkan tangannya mengendalikan Air laut di belakangnya dan angin secara bersamaan menjadi hujan lokal dan kabut sedikit demi sedikit berkurang. Saat itu ada yang keluar dari rumah. Seorang remaja berkulit dan berambut putih.


Untunglah bukan hantu meski tampak seperti transparant. Tubuhnya pendek dan ceking seperti kurang gizi. Jika dilihat dari jauh seperti anak umur 12 tahun.


 


“Siapa itu? Berani-beraninya melawanku,” ucap remaja itu.


“Maaf dik, apa Sang Kabut ada? Kami...” Belum selesai bicara, kalimat Yashna sudah dipotong Remaja itu,


“Dik gundulmu! Aku tak punya kakak macam kau.”


“Maaf, maksudku..., “ ucap Yashna mencoba menjelaskan Namun lagi lagi di potong.


“Siapa yang menciptakan badai itu di rumahku?” ucap remaja itu kesal.


“Sungguh terlalu.”


“Rumahmu?” Tanya Nico sedikit heran.


“Aku Sang Kabut,” ucap remaja itu mendongak sombong.


“Kau bercanda.“ Aku tak akan mengucapkan itu kalau jadi Yashna, karena segera saja kabut membentuk pedang dan siap menghujam ke jantungnya. Nico kembali mengirim angin untuk membelokkan pedang kabut.


“Maaf, maafkan aku. Oke, aku tahu kau abadi, tapi tak kukira kau tampak seperti remaja tampan, yang unyu-unyu dan imutnya minta ampun, gemesin pokoknya.” Yashna tersenyum gugup.


Pipi Sang Kabut tampak merona mendengar pujian Yashna, “Oh, baiklah. Mari masuk.”


Rupanya tampan, unyu-unyu, dan imut gemesin adalah kata sandi untuk ramah tamah Sang Kabut karena ia gila pujian. Coba kalau Kabut penggila perdamaian, mungkin akan disuruh menyebutkan nama-nama pemimpin negara anggota PBB beserta jajarannya.


Rumah Kabut tampak seperti museum. Terdapat hiasan keris dan pedang dari jaman dulu di lemari kaca. Di depannya berjejer kursi rotan berlengan dengan meja ukir dari kayu jati. Pintu yang menuju ke dalam hanya berupa korden biru bergaris-garis.


“Teh?” Sang Kabut menawari mereka setelah mempersillakan duduk.


“Boleh, terima kasih.” Yashna menerima tawaran Sang Kabut karena perutnya sudah terkuras habis.


“Ella!” Seorang peri rumah datang tergopoh-gopoh membawakan teh dan biskuit lalu menaruhnya di meja. Ia berbadan gemuk dan tinggi, memakai baju yang sedikit kekecilan, rambutnya keriting acak-acakan, bibirnya yang merah tersenyum sembari meletakkan cangkir di depan tamu tuannya dengan tangannya yang kasar. Mata biru cerahnya yang besar berkedip saat memandang Nico. Dia tipe-tipe peri yang suka bergosip dengan tetangganya. Tapi sejauh memandang, tak ada tetangga di sekitar sini. Sebenarnya aku belum tahu bagaimana cara kerja peri. Mungkin nanti bisa kubuatkan buku dengan narasumber peri.


“Anda mau yang lain, Tuan?” Ella masih tersenyum ke arah Nico. Rupanya matanya berfungsi dengan baik.


“Dasar peri bodoh, Tuanmu itu Aku!” hardik Sang Kabut.


“Oh, apa tak bisa dapat Tuan yang sedikit tampan,” gumam Ella sembari pergi kedalam rumah. Dia juga suka cowok tampan rupanya.


“Hei, aku dengar!” kata Sang Kabut kesal. “Jadi apa yang membawa kalian kesini?”

__ADS_1


“Sebenarnya kami kesini untuk meminjam bola kabut-mu agar bisa memasuki kabut ke dunia paralel tanpa tersesat,” kata Nico mengutarakan maksudnya.


“Minta Sang Kabut untuk bola kabut agar menembus kabut..but..but..but.. lucu ya,” ucap sang kabut tertawa. Nico dan Yashna ikut tertawa, tapi dengan setengah hati karena ga lucu-lucu amat sebenarnya.


“Iya, hehe..lucu,” kata Yashna jelas berbohong. Memang sedari awal dia berbohong.


“Biasanya, orangyang kesini suka memberiku nama. Nah, kalian juga harus memberiku nama. Nama Sang Kabut membuatku bosan setengah mati. Kalau nama dari kalian bagus, aku akan membantu kalian,” kata Sang Kabut. Aku paham apa yang dirasakan Sang Kabut. Menjadi abadi memang tidak asik. Apalagi dengan nama yang sama selama berabad-abad.


“Wah, aku suka sekali kasih nama. Bagaimana kalau Fo..” kata Yashna, namun segera saja di potong Nico sebelum ia memberikan nama yang konyolnya minta ampun, “ Apa ini teka-teki?”


“Ah, pandai. Tapi ini bukan teka-teki. Kasih saja aku sebuah nama. Cukup nama panggilan saja. Dan kasih aku alasannya. Jika aku suka, aku akan memberikan Bola Kabut ku. Mudah kan?” Sang Kabut menerangkan.


“Aku ahlinya memberi nama, dan sudah kupikirkan nama yang cocok Fo..,” kata Yashna namun lagi-lagi dipotong oleh Nico.


“Beri kami waktu,” katanya.


“Aku udah dapet tahu!”


“Harus dipikirkan baik-baik, YA KAN?” Nico menekankan kata terakhir agar Yashna diam.


“Oke, silakan berdiskusi. Aku mau minta dibuatkan Pizza Ella, kalian mau?” Sang Kabut pergi ke dalam rumah.


“Mau sekali. Tambah keju lebih enak!” Seru Yashna semangat.


“Oh, ayolah, aku mau kasih nama Fogly?” Kata Yashna setelah mereka sendiri.


“Sudah ku duga.”


“itu konyol.”


“Sekonyol apa ketimbang Sang Kabut?”


“Aduh, pokoknya pikirkan yang lain.”


“Cloudy?”


“Tidak.”


“Mysty?”


“Kabuty saja sekalian.” Protes Nico.


“Ide bagus,” kata Yashna.


“Bisa ga, lebih kreatif,” kata Nico melirik Yashna.


“Coba lihat, sekreatif apa dirimu.” Yashna kesal.


“Kabut identik dengan mysteri.. em.. mysterio, tapi masak mysterio.”


“ Ah, aku ada ide, bagaimana kalau rio aja, Rio de jeneRio,”


“ Rio aja. Dia bilang satu kata kan,” usul Nico.

__ADS_1


“Ah, Rio jelek tahu,” kata Yashna.


“Aduh, kok kita kayak mo kasih nama bayi kita aja ya? Ribet,” kata Nico.


“Aku ayahnya dan kamu ibunya,” canda Yashna yang langsung mendapat pelototan dari Nico.


“Jadi bagaimana? Sudah dapat ide?” Tanya Sang kabut yang tiba-tiba datang membawa cuilan Pizza di tanggannya.


“Oh, aku berecana memberi nama Fogly tapi temanku ini lebih suka memberimu nama Rio. Jadi, mana yang lebih kau suka? Ngomong-ngomong, boleh minta secuil?” kata Yashna sambil ngiler menatap Pizza Sang Kabut.


“Fogly? Kau bercanda?” Sang Kabut menjauhkan Pizza-nya dari Yashna. kasihan sekali ia.


“Kau suka?” tanya Yashna masih melirik Pizza.


“Tentu saja tidak.”


“Bagaimana dengan Rio?” ujar Nico penuh harap.


“Rio kedengarannya lumayan. Kenapa kau kasih nama Rio?” Tanya Sang Kabut pada Nico. Sesaat Nico ingin bilang kalau Rio dari kata mysterio, tapi ia urung. Akhirnya ia hanya berkata,” Yah, aku suka Rio.”


“Rio lumayan. Oke, aku putuskan aku pilih Rio, jadi kau kalah.” Kata Rio menunjuk Yashna.


“Tapi Rio dari...Akh..” kaki Yashna diinjak Nico supaya tak berkata apa-apa lagi. Lagipula ini bukan kompetisi.


“Jadi, sekarang kau mau meminjami kami bola Kabut kan?” kata Nico.


“Bola Kabut tak ada padaku,” kata Rio sembari duduk mencaplok sisa Pizza di tangannya.


“Tapi katamu tadi...” Nico merasakan amarahnya kembali menyerang.


“Tenang, dulu aku memberikannya keseorang wanita, namanya Wulan. Dia mencari selendangnya dari Dunia Mistis. Aku kasihan, jadi ku berikan saja padanya.”


“Apa?” Nico merasa seperti di permainkan.


“Tenang dulu. Waktu perang, Dia memberikan bola itu kepada seorang peri untuk dikembalikan padaku. Tapi aku sudah move on. Jadi aku tak mau lagi melihat bola itu. Nah, bola itu ada pada peri itu sekarang,” Jelasnya.


“Dimana peri itu tinggal?” kata Nico yang kesal bukan main.


“Di hutan belakang sana. Kalian lurus saja, nanti juga tahu,” jelas Rio menunjuk belakang rumahnya.


“Terus, kenapa kami harus susah-susah mikir nama buatmu segala sih,” gerutu Yashna yang membuat Rio tertawa. Mereka lantas pergi mencari rumah seorang peri hutan.


Sesaat Nico mengirimkan hujan badai di sekitar rumah Rio saking kesalnya. Yashna menambahkan dengan menciptakan ruang di sekeliling rumahnya yang membuat hujan badai Nico tambah awet. Mantap sekali balas dendam mereka.


Belakang rumah Rio ternyata bukanlah hutan yang seperti dikatakannya. Terdapat bukit yang cukup terjal. Mereka mendaki dengan susah payah. Jika salah langkah mereka akan terpeleset dan jatuh. Setelah mencapai atas, mereka menganga tak percaya akan apa yang ada di balik bukit itu.


Bak dua sisi berlainan dengan jalan yang mereka lewati. Hutan di balik bukit merupakan hutan rimba dengan pohon yang rimbun dan terkesan angker. Sinar matahari seolah tak bisa menembus lebatnya pohon. Bagai tak berujung karena hutan itu cukup luas sampai ke kaki sebuah gunung.


“Astaga, apa yang menghuni hutan ini?” Yashna menelan ludahnya. Ia sangat pengecut jika berhadapan dengan angker.


“Yang jelas bukan manusia, Ayo!”


***

__ADS_1


__ADS_2