Rahasia Pulau Ebuh dan Misi Sang Ksatria

Rahasia Pulau Ebuh dan Misi Sang Ksatria
Bab 4. Cowok Pasar Malam


__ADS_3

 


Ngomong-ngomong soal pacar, pertama kali Anna bertemu pacarnya, kejadiannya lucu juga sih. Gak lucu-lucu amat sih sebenarnya, tapi simak aaja lah.


 


Waktu itu seperti saat ini, malam yang hangat disebuah pasar malam yang diadakan untuk merayakan masa panen. Pasar yang diadakan 6 bulan sekali itu menyita perhatian seluruh penduduk kota Kelansa. Semua tumpah ruah ke dalam pasar yang diadakan di sepanjang jalan utama kota Kelansa. Sebagian datang untuk menjual, membeli, ataupun menukar hasil panen. Sedangkan sebagian lainya datang untuk menikmati suasana pasar malam, bermain di wahana permainan, atau sekedar jalan-jalan dan bermain kembang api. Pada malam terakhir akan ada festival untuk merayakan masa panen yang melimpah dengan menerbangkan lampion yang berisi harapan dan pesta kembang api. Saat itulah moment yang paling ditunggu semua penduduk kota Kelansa.


Begitu juga Anna yang ingin menyaksikan pesta kembang api bersama Rachel. Saking terpesonanya ia dengan kembang api yang menggelegar itu, ia terpisah dari Rachel. Sudah bisa diduga sebenarnya. Lagipula, ceroboh adalah nama bakatnya, ingat? Seandainya memungkinkan, Rachel akan mengikat tangannya ke tangan Anna supaya ia tak nyasar. Hanya saja akan aneh dan merepotkan. Bayangkan, jika ada orang yang lewat di tengah mereka. Pastilah mereka bakal dapat sejuta makian.


Anna mencoba menelusuri jalan di belakanganya guna mencari Rachel. Ia berusaha menyibak kerumunan. Tiba-tiba sebuah tangan halus lagi kuat mencengkeram pergelangan tangannya, menariknya ke tepi jalan agar terhindar dari hiruk pikuk yang menyesakkan. Sesaat ia ingin berteriak.. tolong, penculik.. tolong aku, tapi setelah melihat pemilik tangan yang menariknya, oh, ya culik aku,culik aku.. please.


“Kembalikan Hp-ku!” Suara cowok yang menarik Anna lembut.


“Huh?” Anna menatap cowok itu bingung, tak mengerti maksud ucapannya. Cowok yang menarik tangannya merupakan pemuda paling tampan yang pernah Anna lihat.


Sebenarnya, pemuda yang pernah ia lihat hanya teman sekolahnya karena dia tak pernah pergi ke mana-mana sekedar cuci mata, tak punya uang plus menjalankan perawatan murah( mendekam di kamar). Anna paling banter pergi ke pasar tradisional, dan di sana rata-rata bapak-bapak penjual ikan yang ada. Beberapa kali pergi ke pasar malam, ia hanya menemui pria-pria mabuk dan bapak-bapak penjual kaset DVD. Cowok lain yang tak sengaja papasan di jalan memang banyak yang meliriknya, tapi ia tak mau menanggapi karena kebanyakan dari mereka tengah menggandeng cewek. Anna tak mau buat masalah. Memangnya enak, lirik-lirikan dengan cowok tiba-tiba ceweknya nyempil di tengah kalian sambil melotot. Kalian bisa dicap Valakor.


Baru kali ini Anna benar-benar berhadapan dekat dengan cowok yang membuatnya deg-degan. Matanya berwarna coklat keemasan dengan sorot tajam tapi hangat, membuat semua orang pasti jatuh cinta bila menatapnya, rambutnya disibakkan kebelakang bewarna coklat seperti kayu mahoni yang dipernis mengkilat, badannya pas tak terlalu gemuk dan tak terlalu kurus sembunyi di balik kaus putih yang di pakainya. Ia memakai celana jeans panjang. Tangannya putih, bersih, dan halus tengah mencengkeram tangan Anna, bibirnya manis, membuat Anna ingin mencaploknya. Tapi itu tak sopan. Disamping dia bukan anjing, dia juga harus menjaga image-nya. Masak, baru bertemu langsung main caplok aja.


Anna dengan sopan melepaskan tangannya dari cowok ganteng itu lalu mundur sedikit. Sedikit saja.


“Kembalikan Hp-ku!” Ulang cowok itu membungkukan badan kearah Anna. Ia memastikan lawan bicaranya mendengar. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Anna. Suaranya terdengar manis sekali. Anna setinggi dagunya, jadi dia harus mendongak agar mellihat jelas lawan bicaranya. Tapi boro-boro mendongak, melirik saja tak kuat, dia bisa pingsan.


“Apa?” Anna mundur menjaga jarak. Apa katanya tadi? Mana bisa ia konsen dengan ucapan cowok itu, sementara wajahnya membuat indranya lumpuh.


"Kembalikan Hp-ku!" ulang pemuda itu.


"Apa!" tapi apa yang ini beda dengan yang tadi. Kalau tadi ia benar tak tahu. Nah, yang ini ia kaget. Ganteng-ganteng kok minta Hp, belum juga kenal. Apa jangan-jangan dia perampok. Sesaat ia tergoda lagi untuk berteriak ...tolong ada perampok,tolong aku... tapi saat melihat wajahnya... ya sudah rampok saja aku, rampok bang(sambil menggoyang-goyangkan badan).


“Hp-ku, kau membawa Hp-ku,” kata cowok itu. Entah apa yang dipikirkanya, mungkin ia heran melihat Anna, cantik-cantik kok budek. Seketika Anna seperti diguyur air es. Kesadaran menghinggapinya. Betapa bodohnya pemuda mempesona ini, ia telah salah mengira Anna mencuri Hp-nya.


“Kau salah, bukan aku pencurinya,” Kata Anna tertawa. Lucu sekali cowok itu, memang tampangnya tampang pencuri? Sesaat Anna ingin mencubit pipinya, tapi ia langsung teringat untuk menjaga image.


“Sebenarnya memang bukan kau pencurinya, tapi tetap saja, kau membawa Hp-ku.” Terang pemuda itu yang membuat Anna menatapnya bingung.


“Kamsud loh?”


“Jadi begini, tadi temanku mau pinjam Hp-ku. Tapi saat itu tangannya penuh membawa barang. Jadi, dia minta menyelipkannya ke dalam kantong jeansnya. Karena tadi kembang apinya seru, jadi aku tanpa sadar nyelipin Hp-ku ke celana Jeans-mu.” Dia menerangkan dengan senyum minta maafnya yang mampu meluluh lantakkan menara Eiffel. Sorry, Aku terlalu diskriptif.


Anna memicingkan matanya, menilai cowok di depannya ini, mencari tanda-tanda ketidak normalannya. Ah, jangan-jangan dia cowok mesum. Sesaat ia ingin teriak... Tolong ada cowok mesum..., lalu setelah melihat wajahnya, ah sudah, jangan diteruskan.


“Halah, kau cowok mesum kan? Modus aja bilang ada barang di kantungku padahal cuma pingin - aja,” tuduhnya kemudian.


Seperti ditonjok kotoran kerbau (ini hanya ungkapan, aku tak tahu rasanya ditonjok dengan kotoran kerbau, sungguh!), wajah pemuda itu melongo mendengar tuduhan Anna.

__ADS_1


“Apa? Aku cowok mesum?” dia meletakkan tangannya di pinggang dan mendecakkan lidahnya.


“Apa tampangku ini tampang cowok mesum?” Tambahnya mendekatkan wajahnya ke wajah Anna.


Sesaat Anna ingin menangkap wajahnya lalu mencium bibirnya yang merah mempesona itu. Tunggu dulu, kalau begitu Anna lah yang mesum. Omaigot! Masak mesum teriak mesum.


Dia menggeleng kuat-kuat untuk menyadarkan otaknya supaya tidak jalan-jalan. Tapi ditanggapi lain oleh cowok itu. “Nah, enggak kan?” katanya percaya diri.


“Apaan? aku belum jawab!” seru Anna.


“Tadi geleng-geleng.”


“Ada nyamuk!.. Eh, tak usah ditampar.” Anna meletakkan tangan di kedua pipinya. Niatnya sih supaya imut gitu, tapi jadinya aneh. Cuma difilm komedi yang ditampar karena ada nyamuk di pipi. Lagipula, cowok itu juga tidak berniat menamparnya.Tapi nyatanya, cowok itu tertawa juga. Mareka memang aneh. Yang menceritakanpun ikut aneh. Yang membaca, apalagi. Hehe, bercanda kok!


“Ya sudah, balikin Hpku,” katanya. Sesaat Anna tergoda untuk bilang, ambil saja sendiri nih..nih..sambil menyodorkan bokongnya. Konyol sekali.


“BODO AMAT!" Ia pura-pura tak peduli. Ia juga pura-pura berbalik pergi. Namun sebelum melangkah, tangannya kembali ditarik, membuat Anna sedikit limbung lalu jatuh ke belakang yang dengan otomatis ditangkap cowok itu. Asyik. Jarak antara mereka semakin dekat, sehingga Anna mencium wangi cologne pemuda itu, wanginya segar seperti saat musim semi.


“Tuh kan, tuh kan, kesempatan kan, dasar cowok mesum!” Kata Anna tanpa berusaha melepaskan diri.


Kata ‘cowok mesum’ membuat muka cowok itu merah karena marah, lalu ia mendorong tubuh Anna.


“Aku bukan cowok mesum, dan aku bisa buktikan kalau kau memang membawa Hp-Ku!” Ucap cowok ganteng itu marah. Ia mencengkeram bahu Anna sehingga saling berhadapan, lalu menatap mata Anna lekat-lekat. Ditatap seperti itu oleh cowok paling tampan membuat jantungnya menari tap dance. Anna melepaskan diri dan mundur selangkah untuk mengatur napasnya dan menenangkan jantungnya yang debarannya seperti suasana dibelakang nya, meriah.


“Buktikan!” tantangnya. Tangannya bersedekap, dagunya didongakkan keatas.


“HEI! Ngapain sih?” Teriak Anna.


Pemuda itu tersenyum yang diartikan Anna sebagai senyum mengejek. Lalu ia memamerkan barang yang dipegangnya, Hp Anna dan Hp yang ringtonenya berbunyi. Seketika Anna sadar bahwa cowok itu benar. Tahu begitu ia lari saja, lumayan dapat Hp mahal.


“Sudah kan?” Anna cemberut lalu berbalik untuk cepat-cepat pergi, tak tahan malunya sudah sampai ubun-ubun. Namun sebelum melangkah, lagi-lagi lengannya ditarik cowok itu. Tapi kali ini ia tak jatuh. Ia sebenarnya ingin pura-pura jatuh, tapi terlambat. Nanti jadinya malah aneh.


“Tunggu dulu! Hp-mu? Dan siapa namamu?” pemuda itu mengulurkan Hp Anna. Catatan untuk para jomblo : modus babak 1 menyelipkan hp ke saku celana target. Dengan asumsi targetmu tak kan kabur setelah tahu ada Hp mahal di sakunya.


“Anna. Kenapa tanya-tanya? Mau nuntut aku?” Katanya kesal campur malu. Aneh ya manusia itu, sudah tau dirinya salah, bukannya minta maaf tapi malah lebih galakan yang salah daripada korban.


Alih-alih menjawab pertanyaan Anna, cowok itu malah berkata, “Aku Nico, itu nomorku, pasar malam agar kau tak lupa jika ku telpon nanti. Bye!” Nico berbalik meninggalkan Anna yang kebingungan. Ia melambai sambil memamerkan senyumnya yang menawan, membuat Anna melongo tak percaya. “Dasar cowok gila.”


Oh,Telpon aku..telpon cepat.


Anna tersenyum-senyum sendiri teringat saat itu. Salah satu alasan ia dikenal dengan julukan MadAnna ( Si gila Anna) adalah ini, suka tertawa-tawa sendiri . Tapi saat ini, di pesta dansa sekolah, ia masih juga tertawa-tawa sendiri.


Setelah tak ada lagi cowok yang berani mengajaknya dansa, karena mereka takut melihatnya tertawa sendirian, Leo dan Rachel datang kembali dari dansanya.


“Temanmu, Luar biasa.” Leo mengacungkan kedua jempol kepada Anna untuk memuji Rachel. Anna membalas dengan cengiran.

__ADS_1


“Aduh, panasnya.” Rachel mengipas-ngipaskan tangannya ke muka.


“Akan ku ambilkan minuman dingin untukmu,” kata Leo segera menuju ke meja prasmanan.


Anna menatap Rachel penuh arti. Rachel mengibaskan tangannya seolah berkata, itu tak seberapa.


 


“Kau tak dansa? Sebaiknya lupakan cowokmu, malam ini kita bukan milik siapa-siapa,” goda Rachel duduk di seberang Anna.


“Oh, kau punya cowok? pantas saja acuh padaku,” kata Leo yang telah kembali sambil membawa dua gelas minuman dingin.“Memang siapa pacarmu?”


“Cowok pasar malam,” kata Rachel skeptis. Ia lalu mengambil Brosur acara dan mengamatinya.


“Kerja di pasar malam?“ Leo mengernyit bingung.


“Dia cuma bercanda. Eh iya, memang di lantai atas ada apa?” tanya Anna mengalihkan pokok pembicaraan.


 


“Di lantai atas tempat para murid Sun,” jelas Leo.


“Murid Sky ga boleh kesana juga?” tanya Anna.


“Boleh, kalau dapat ijin, atau mereka memanggil kita.”


“Kenapa kami ga boleh kesana?” Tanya Anna.


“Ga boleh, bisa bahaya.”


“Kenapa bahaya? Kita ga bakal bakar mereka kok! Meski kepingin sih,” kata Anna kesal, Leo malah tertawa.


“Eh, lihat deh. Ada acara pensi (pentas seni).” Rachel menunjuk daftar acara yang tertulis di brosurnya.


“Iya, nanti kalau sudah waktunya mulai, akan ada...” Belum selesai Leo bicara, sebuah suara mengumumkan lewat pengeras suara ke seluruh sudut gedung, “BAGI MURID KELAS SEBELAS SEKOLAH SKY DAN OR, DIWAJIBKAN SEGERA DATANG KE BELAKANG GEDUNG GRAHA UNTUK MENIKMATI ACARA PENTAS SENI SEKOLAH. DUDUKLAH SESUAI NAMA YANG TERTERA DI KURSI. PETUGAS DIHARAP MEMBANTU. TERIMAKASIH.” Pengumuman itu diulang sampai tiga kali.


“Ayo!” Ajak Leo menggandeng tangan Rachel yang kemudian disusul Anna. Mereka lalu menuju belakang gedung utama dan menempati kursi yang ditata di depan panggung besar untuk pentas seni. Anna melihat ke sekeliling dan mendapati beberapa orang sedang berdebat dengan bodyguard yang berbadan besar.


“Mereka para Ksatria yang ditempatkan khusus untuk acara ini. Mereka akan memastikan semua murid menempati kursi mereka,” terang Leo melihat arah tatapan Anna.


“Kenapa murid Sun tidak bergabung dengan kita?” tanya Anna.


“Mereka di sana!” Leo menunjuk lantai dua gedung yang berupa balkon luas yang cukup menampung anak bangsawan untuk menonton pertunjukan tanpa terhalang orang lain.


“Wah, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Kerajaan Kelansa,” gumam Anna sarkastik.

__ADS_1


Anna mencari namanya di kursi dan menuju kesana sebelum digiring para penjaga. Kursinya berada di barisan ke-15 dari depan di tiga terkanan. Di sebelah kanannya, Rachel yang sedang menggerutu atas penempatan nama di kursi, sehingga ia terpisah dari Leo. Di sebelah kirinya, seorang cewek yang tak dikenalinya, mungkin ia dari Sky School karena lengannya berotot.


***


__ADS_2