Rahasia Pulau Ebuh dan Misi Sang Ksatria

Rahasia Pulau Ebuh dan Misi Sang Ksatria
Bab 28. Kenangan Yang dilupakan


__ADS_3

Asleen.. asleen.. asleen suara ibunya terdengar di telinga Anna menyebut nama Asleen 12 tahun yang lalu. Di tempat yang sama dan diruangan yang sama namun berbeda suasana. Saat itu tak ada kurungan, hanya ada kasur kecil dan meja panjang berisi tabung kaca serta kuali yang mengepul. Itu terjadi dulu saat Anna masih kecil. Setelah Asleen menculiknya dari rumah Rosmae.


“Asleen buka pintunya, aku tahu kau bersama Anna, lepaskan ia!” teriak ibunya menggedor-gedor pintu sekuat tenaga.


“Mama..” Anna kecil berlari ke arah tempat asal suara ibunya namun ditarik oleh Asleen. “Diam!” Asleen menutup mulut Anna dengan tangannya.


“Asleen kumohon, lepaskan Anna!” Ibunya mencoba mendobrak pintu itu. Anna ketakukan. Ia berusaha lari dari cengkraman Asleen. Ia berlari ke arah pintu, tapi lagi-lagi tertangkap oleh Asleen.


“Mama..” teriaknya takut. Asleen menampar Anna dan berseru, “ Diam. Anak bodoh.” Membuat Anna ketakutan. Ia menangis menahan sakit.


“Anna tak tahu apa-apa. Ia masih kecil. Nangan sakiti dia. Kumohon Asleen!” Ratap Ibunya masih mencoba mendobrak pintu.


“Aku membencimu, sejak kau menggoda kakakku, kau merubah kakakku! Salahmulah aku kehilangan kekuatanku!” Teriaknya pada wanita diseberang pintu.


“Kalau begitu sakiti saja aku, jangan anakku!” Pinta wanita itu.


“Ingatlah ini, saat kau tak berdaya menyelamatkan anakmu dari ku!” Asleen menyambar tabung kaca dimeja dan memecahkannya sehinga menjadi potongan kaca yang tajam. Ia mengarahkannya ke Anna kecil yang meringkuk menangis ketakutan.


BRAKK..


Suara pintu terdorong terbuka diterjang oleh wanita berambut hitam dengan gaun kotor dan acak-acakan. Matanya basah penuh air mata. Ia merenggut Anna dari cengkraman Asleen, mendekapnya, melindunginya dari Asleen. “Lepaskan dia!” Mata kelabunya melotot kearah Asleen.


“Bukan salah kami bila Ayahmu mengambil kekuatanmu! Kau sendirilah penyebabnya!“ Teriak Ibu Anna pada Asleen yang mengacungkan tabung kaca runcing ke arah mereka.


“Ayahku sudah mangkat dan ia mengambil kekuatanku bersamanya. Sekarang, kakakku si pencuri itu yang menjadi Breh, itu pasti rencana kalian. Kalian suami istri bersengkongkol melakukan ini padaku!” Tuduh Asleen.


“Tidak! Sebelum Ayahmu mangkat, Beliau mewariskan tahtanya pada kakakmu. Dan ia mengambil kekuatanmu karena kau salah menggunakannya, kau mempermainkan manusia, menjadikan mereka kelici percobaanmu. Itulah alasan Beliau murka padamu,” Jelas Ibu Anna kepada Asleen namun tak ditanggapi Asleen.

__ADS_1


“Kau membela manusia karena kau sekarang adalah manusia. Kau bodoh dan mereka bodoh, mereka harusnya senang menjadi kelinci percobaanku. Mereka harusnya berterima kasih padaku.” Asleen ngotot memandang rendah manusia.


“Tidak! kau salah, Manusia tak mau menjadi kelincimu. Dan aku akan memastikan kau berhenti menyiksa mereka!” Tantang Ibu Anna.


“Aku akan membunuhmu lebih dulu. Camkan ini, aku akan mengumpulkan pengikutku dan akan menyerang kaummu malam ini.”


“Aku tak akan membiarkanmu!”


“Kau bisa apa? Sekarang kau bukan lagi Dewi, Kau hanya manusia lemah!” Asleen menyerang Ibu Anna namun ditangkis olehnya, menyebabkan tabung kaca itu terlempar dan pecah di lantai. Anna memeluk ibunya erat, takut dengan kegilaan bibinya. Dengan cepat Asleen menyambar salah satu tabung ramuan berisi racun yang tergelertak di meja.


“Dee!” Seru ibu Anna. Dee, peri kecil dengan senyum mengembang muncul menggenggam tangan Anna dan Ibunya, lalu menghilang sebelum racun yang dilemparkan Asleen mengenai mereka.


Mereka muncul di sebuah pesta ulang tahun seorang peri.


“Dee, kumohon bawa Anna keluar dari dunia ini. Sembunyikan dia!” Ibu Anna memohon pada Dee. Dan Dee mengangguk. Dee masih anak-anak saat itu. Sekarangpun bisa dikatakan masih anak-anak. Tolong, jangan pernah menitipkan anak pada anak lain. Berbahaya. Tapi Ibu Anna tak ada pilihan waktu itu.


“Mama mau kemana?” Tanya Anna kecil menangis, tak mau melepaskan tangan ibunya.


“Mama harus pergi... bekerja,” Katanya menenangkan. Anna kecil sangat pandai. Karena Ibu Anna juga manusia, maka ia memiliki kehidupan ganda. Di dunia manusia maupun di dunia legenda. Saat di dunia manusia, ia adalah Wulan, kasta sipil.


Demi menyembunyikan dunia ini dari manusia, ia rela bolak-balik dari dunianya ke dunia paralel. Jadi, jika ia pamit kepada Anna, anaknya dari dunia paralel, ia mengatakan bahwa ia bekerja, dan Anna yang pintar tak akan menangisi Ibunya.


“Kemana Mama akan bekerja?” Tanya Anna kecil.


“Ketempat yang jauh,” kata ibunya mengusap air mata putrinya itu.


“Apa keluar pulau? “ tanya Anna.

__ADS_1


“Ya,” Ibunya tak kuasa menahan tangisnya.


“Begitu Mama selesai, mama akan menjemputmu,” janji Ibunya.


“Apa Ayah akan ikut?” Tanyanya lagi.


“Ya, tentu sayang,” kata Ibunya memeluknya erat sambil menangis.


“Anna anak yang pintar, baik-baik bersama Dee ya.” Pesannya dan Anna mengangguk.


”Tolong jaga Anna,“ Pintanya pada Dee. Dan Dee menanggapinya dengan mengangguk. Masih tersenyum.


Dan sebelum pergi, Wulan memberikan tas yang berisi dompet dan buku tabungan serta surat-surat dari kehidupan dunia manusianya pada Anna. Tak lupa, Bola kabut pada Dee. Lalu Dee meniupkan kabut dan menarik Anna menyusuri terowongan menuju dunia manusia.


Terowongan itu berakhir di sebuah pasar. Rupanya kebiasaan Anna terpisah dari rombongan dimulai waktu kecil. Ia terpisah dari Dee. Dua anak kecil di pasar sendirian. Dan mereka terpisah. Anna ditemukan seorang Ksatria yang mengantarkannya ke panti asuhan setelah membaca surat-surat yang ada di tasnya. Sedangkan Dee, berakhir di hutan dengan sayapnya yang di ambil paksa oleh kakak Rania untuk bahan ramuan ajaibnya.


---\=---\=---


Kini setelah duabelas tahun, Anna mengingat semuanya, mengingat kenangan yang paling ditakutinya. Kenangan yang dibuang dalam memorynya. Kenangan yang ditutupinya dengan kenangan yang diinginkannya. Namun kini ia Kembali ke tempat terburuknya, ke orang yang telah memisahkan dirinya dengan keluarganya. Kenangan masa kecilnya yang menyenangkan dan berakhir dengan tragedi. Ia menatap bibinya, ternganga tak percaya.


“Wah, sebuah kejutan yang menyenangkan,” ucap Asleen menatap Anna.


“Bibi...” bisiknya.


“Halo, keponakanku tersayang.”


***

__ADS_1


__ADS_2