
Saat itu malam hari di Kota Kelansa, ibukota kerajaan Kelansa---benar-benar kurang kreatif—diadakan sebuah pesta dansa sekolah. Pesta ini sendiri diadakan saat para murid berada di kelas 11(2 SMA). Padahal masih 1 tahun lagi mereka mengecap pendidikan.
Alasan para guru mengadakan pesta dansa ketika kelas 11 adalah supaya anak-anak bisa konsentrasi untuk ujian kelulusan tanpa menghawatirkan gaun pormnight. Hm.. cukup masuk akal, tentu saja mereka khawatir seandainya ada soal matematika, berapa nilai x dari persamaan linier 7x+23\=4x-1? Dan anak-anak menjawab 1 jika x memakai gaun yang sama dengan linier, tapi 7 kalau x mau sedikit memakai lipstik dan eyeliner. Hahaha! Yang benar saja.
Itu belum seberapa dibanding dengan tamu yang hadir dalam pesta ini. Pesta ini dihadiri oleh siswa dan siswi kelas 11(2 SMA) diseluruh Kerajaan Kelansa. Bayangkan betapa sesaknya aula gedung itu. Tapi tidak, gedung tempat diadakannya pesta pelepasan ini terbilang gedung yang paling besar, paling mewah, dan paling we-o-we di Kerajaan Kelansa.
Gedung ini sendiri berada di tengah lingkungan kaum bangsawan. Kapan lagi para kasta sipil bisa memasuki kawasan bangsawan. Luasnya sungguh luas(aku sangat diskriptif). Gedung utamanya memiliki tiga lantai. Di lantai dasar merupakan aula dengan lampu besar di tengah, dikelilingi dengan jendela besar yang diatasnya melengkung. Dindingnya dihiasi lampu kecil dengan warna orange yang indah. Di atas pintu terdapat MMT bertuliskan: SELAMAT DATANG PARA SISWA DAN SISWI KELAS 11 SEANTERO KELANSA. DILARANG MEMBAWA SENJATA APAPUN ( Aku bertanya-tanya, sebenarnya ini pesta dansa atau tawuran sih?).
Di lantai kedua berpendar cahaya berwarna emas. Dan di lantai paling atas merupakan atap beton terbuka dengan lampu kelap-kelip.
__ADS_1
Di samping gedung utama terdapat paviliun untuk berdansa, beratap melengkung dengan dinding terbuka dan lantai dansa yang keren. Musik band senantiasa memainkan musik yang dangdut sampai rock.
Paviliun itu sendiri sangat luas. Lalu di belakang gedung terdapat panggung untuk pentas seni dengan kursi-kursi yang tertata rapi, kertas yang bertuliskan nama dan asal sekolah para murid tertempel di sandarannya. Lebih jauh ke belakang terdapat lapangan golf dengan danau kecil di tengah. Di sebelahnya terdapat bukit kecil dan di atasnya berdiri rumah salah satu anggota Pahem Atmadeva. Tak ada yang berani mengintip kedalamnya, walaupun kedengarannya asik.
Ada tiga Sekolah di kerajaan Kelansa. Dan kesemuanya berada di Ibukota. Untuk murid yang berasal dari luar kota ataupun dari desa, mereka bisa tinggal dalam asrama. Tapi sebenarnya semua murid, entah itu dari dalam atau luar kota, diwajibkan untuk tinggal di dalam asrama meski rumahnya satu RT dengan sekolah. Tak masuk akal memang, tapi mau bagaimana lagi, namanya juga kerajaan. Hukum di sana mutlak.
Sekolah yang pertama ialah SUN SCHOOL. Kenapa namanya Sun School, mungkin karena catnya berwarna kuning. Sekolah inilah yang berada di kawasan elite para bangsawan. Dan coba tebak siapa muridnya, yang pasti bukan kasta sipil. Ujian untuk masuk sekolah ini cukup rumit. Dan hanya anak bangsawan yang lulus. We-o-we, WOW.
Sekolah yang kedua yaitu SKY SCHOOL. Apa letaknya di langit? Bukan, letaknya di atas bukit yang jauh dari perkampungan, di perbatasan kota Kelansa dengan Desa Kaditula, Desa tempat penempa dan pembuat senjata. Desa tersebut tepat di bawah deretan pegunungan Awindya. Murid dari Sky School merupakan murid pilihan karena nantinya mereka akan menjadi kasta Ksatria. Dengar-dengar ujian untuk masuk sekolah ini salah satunya ialah bertarung melawan makhluk liar yang menghuni pegunungan Awindya dengan tangan kosong. Ku ulangi lagi, DENGAN TANGAN KOSONG. We-o-we lagi.
__ADS_1
Jadi jangan kaget jika murid-muridnya punya badan kekar dan kuat.
Dan yang ketiga.. pasti earth school.. yap jawaban anda salah. Karena yang ketiga barnama OR School. Kenapa namanya Or School? Mana ku tahu. Tanya sendiri saja sama kepala sekolahnya.
Tentu kalian bisa menebak siapa murid Or School. Tak usah disebut lagi karena tebakan kalian pasti benar. Untuk masuk sekolah ini sangat sulit. Jika kalian bukan seorang anak bangsawan dan kalian cukup pengecut untuk melawan makhluk ganas pegunungan Awindya, maka kalian langsung diterima di sekolah ini. Astaga... sulit sekali.
Dan salah satu penghuni asrama Or School adalah Prajana Shima Nawangsih atau biasa dipanggil Anna, yang malam ini tampak cantik menunggu temannya untuk datang ke pesta dansa sekolah bersama-sama.
Anna, gadis berkulit sewarna madu, berumur 16 tahun, memakai gaun pendek lembayung yang memamerkan lekuk tubuhnya yang mulai merekah diusia remajanya. Rambut pirang coklatnya di gelung rapi kebelakang, menyisakan sedikit helai yang menjuntai kedepan, seolah memberontak dari gelungan. Mata kelabunya menatap jam tangan kecil murahan yang dibelinya dari pasar.
__ADS_1
***