
“Jika Breh Kidang penjaga gerbang dunia mistis maka Dewan Pahem Atmadeva adalah penjaga gerbang dunia manusia. Bangsawan dan ksatria adalah prajuritnya. Tugas mereka salah satunya mencegah monster dengan kekuatan besar keluar dan mengacau dunia di wilayah tenggara. Mereka mempunyai kekuatan khusus. Ada Pengendali Elemen, Pemanipulasi Ruang, Ahli Ilusi, Ahli Ramuan, Pengendali Waktu, Ahli Senjata, Pemanipulasi Pikiran, Regenerasi, Pertukaran Tubuh, Perubah Wujud, dan lain-lain. Tentu saja, mereka dilarang menggunakannya untuk manusia. Tapi tetap saja, diam-diam mereka menggunakannya.”
“Apa semua anak bangsawan juga mempunyai kekuatan itu?”
“Ya, makanya mereka di sekolah khusus.”
“Berarti Nico...”
“He’em, Nico anak Pengendali Elemen, pastilah dia mewarisi bakat dari ayahnya. Dia bisa telekinesis, Ia juga dapat merasakan kehadiran seseorang dalam satu kota. Ia tak pernah kesulitan mencari orang maupun benda apapun asal ia berkonsentrasi sedikit.Jadi aku yakin ia tahu kamu disini.Ia juga bisa menciptakan badai, membanting orang tanpa menyentuhnya. Itulah kekuatan pengendali elemen. Namun Nico masih remaja jadi aku tak tahu seberapa kuat ia. Lagipula, signal Hp bisa menyebabkan serangan monster, gangguan hantu, dan gagal hidup.”
Ega melirik Anna yang terbengong-bengong.
Anna menunggu seseorang berkata, April mop! Lalu ia akan keluar dan mendapati Nico dan kawan-kawannya berada di luar semak. Tapi tak ada, sunyi, sepi. Lagipula ia sadar kalau ini bukan bulan april.
“Kau pasti tak percaya, tapi memang itu lah yang sebenarnya. Para bangsawan dan ksatria menyembunyikan ini karena tak mau terjadi kegemparan. Keberadan pulau kita pun rahasia. Tak ada yang boleh tahu karena bisa mengacaukan dunia. Itulah alasannya kenapa pulau kita dirahasiakan,” kata Ega kemudian.
“Jadi inilah rahasia yang dimaksud Hera?”
“Hera bilang apa?” tanya Ega, dan Anna menceritakan kejadian saat Hera mengintimidasinya tadi malam.
Ega lantas tertawa lalu berkata, “Hera anak dari Pemanipulasi pikiran, dia bisa mengedit, memaju mundurkan, bahkan menghapus ingatan orang. Malam kemarin, setelah kita masuk portal, ia akan memanipulasi ingatan semua orang tentang kita, seolah kita pergi ke luar pulau. Jadi, keluarga atau teman kita tak akan tahu tentang dunia mistis ini. Ngomong-ngomong, bagaimana bisa mantranya tak bekerja padamu?”
“Entah, niatnya jelek sih,” jawab Anna yang membuat Ega semakin tertawa.
“Nah, siapa lagi yang kau ingin tahu?” Tanya Ega.
“Oni, Koki Cafe?”
“Oh, Oni ahli ramuan. Ayahnya, Mr. Herb, tahu kan pemilik rumah sakit besar di Kelansa.”
“Kalau Yash?”
“Yashna mewarisi Pengendali Ruang, ia bisa teleportasi, menciptakan medan pertempuran sesuka hatinya. Seharusnya dia bisa menciptakan pion-pion dalam ruangannya, bahkan mempengaruhi musuhnya untuk menyerah tanpa melawan saat memasuki ruang yang ia ciptakan, tapi dia sangat payah.” Ega memberi tahu Anna sambil terkikik geli mengingat sahabatnya, Yash yang payah.
“Dan kau sendiri?”
“Oh, aku bukan bangsawan, aku Ksatria.”
“Tapi tadi kau bisa membuat senjata.”
“Itu kontrak dengan senjata, semua Ksatria bisa melakukannya. Saat dilantik menjadi Ksatria, saat itulah Ahli senjata memberi kami kontrak. Kontrak terhadap senjata-senjata mereka, sehingga mereka dapat kami panggil dan gunakan. Tentu dengan perjanjian-perjanjian tertentu,” terang Ega.
“Perjanjian apa?” Tanya Anna. Kuharap bukan perjanjian pranikah.
“Banyak, salah satunya kami tak boleh menggunakannya untuk melawan manusia.”
“Bagaimana jika dilanggar?”
“Senjata-senjata itu bakal berbalik menyerangku.” Nick menatap Anna serius. Anna tak bisa membayangkan ribuan senjata mengejarnya sambil mengacungkan senjata lain. Apa kalian bisa membayangkannya?
“Trus kenapa kita disini?” Tanyanya kemudian.
“Kami punya misi.”
“Misi apa?” Tanya Anna. Ega menatap Anna lama, seolah menimbang kata-kata, lalu dengan hati-hati ia berkata, “ Menemui Asleen.”
“Maksudmu Asleen Dursilawati, anak dari Raja sebelumnya?”
“Ya. Raden Kidang, kakak dari Asleen. Semenjak perang saudara, Asleen di tawan Raden Kidang yang sekarang menjadi Breh, dan bangsawan berjanji membebaskannya. Tapi Breh tak membolehkannya. Jadi ia menutup portal supaya tak ada manusia yang datang ke sini. Tapi kekuatan portal melemah pada waktu tertentu. Walau tetap saja bangsawan tak bisa melewatinya. Jadi, Ksatria dan manusia pilihan di kirim kesini untuk membebaskan Asleen.”
“Manusia pilihan, siapa maksudmu?”
__ADS_1
“Kasta sipil yang terpilih. Di sekolahmu pasti ada tiga siswa terpilih untuk bimbingan kenaikan tingkat. Nah, mereka ini dilatih untuk misi ini.”
“Kenapa mau?” Tanya Anna heran dengan pemikiran Mess, temannya.
Tentu saja kalau itu dia, sudah ditolak mentah-mentah. Kemudian ia sadar kalau dengan sendirinya, ia ikut masuk menjalankan misi. Bodoh benar ia.
“Karena imbalannya juga besar. Lagi pula mana bisa melawan bangsawan,” Kata Ega mendesah pasrah.
“Kau juga ga bisa nolak? Kau kan Ksatria.”
“Justru karena aku Ksatria, aku tak bisa membiarkan warga terluka. Jadi aku kesini untuk mengawal mereka menyelesaikan misi.” Untuk sesaat mereka terdiam. Hanya suara pohon yg bergerak di tiup angin.
“Kontrak itu, bisakah aku juga melakukannya? Aku tak bisa bergantung terus para benda ini.” Anna menunjukan belati kecilnya pada Ega.
“Entahlah. Saat terpilih, kasta sipil menjalani serangkaian ujian dari bangsawan. Tapi karena kau bukan pilihan, jadi..” Ega tak tega melanjutkannya.
“Luar biasa,” potong Anna. Semangatnya turun. Yaiyalah. Secara, seseorang berkata padamu, eh, kau bukan siapa-siapa jadi enyahlah, walau dengan cara halus.
“Bagaimana cara menentukan kasta kita?” tanya Anna.
“Waktu lahir kita semua di tes, darah siapa yang mengalir ke tubuh kita.”
“ Bagaimana caranya?”
“Entah, aku juga ga tahu. Tapi waktu masuk ke sekolah Sky aku mengikuti tes lagi. Kami dikumpulkan di aula dewan, lalu kami melakukan tiga tes, satu persatu dalam tiga ruangan. Tes pertama adalah tes kelayakan. Mereka menusuk jariku lalu meneteskan darahku ke sebuah wadah yang berisi tanah. Jika darah itu terserap maka lulus, jika darah itu menggumpal maka gagal. Lalu tes kedua, aku di beri suatu minuman. Aku tak bisa menjelaskan minuman apa itu dan untuk apa, karena setelah minum itu, terus terang aku pingsan. Lalu yang terakhir, aku diberi sebuah kontrak yang berisi perjanjian di selembar kertas, lalu menandatanganinya dan selesai.Mereka mengucapkan selamat dan esoknya dilatih memanggil senjata. Itu tes Ksatria, kalau tes untuk yang terpilih aku tak tahu.”
“Apa ada anak dari kasta Ksatria yang gagal?”
“Tentu saja ada.”
“Trus apa yang terjadi dengan mereka?”
“Huh?“ Anna terperanjat kaget.
“Mereka memanipulasi ingatan dan menjadikannya warga sipil.”
Mereka terdiam kurang lebih lima menit.
“Bagaimana kau melakukannya? Maksudku, menciptakan senjata di tanganmu?” Anna berharap ia bisa melakukan keajaiban.
“Setelah kami melakukan kontrak itu, para guru Sky mengajarkan bahwa senjata itu telah menjadi bagian dari kami, seperti tangan dan kaki.Namun bedanya kami bisa mencopotnya dan memakainya lagi hanya dengan pikiran kami.”
“Maksudmu saat ini kamu mencopotnya, nanti kamu pakai lagi, begitu? Tapi kok ga kelihatan?” Anna memeriksa tubuh Ega.
“Bukan begitu. Ah, susah dijelaskan.” Ega frustasi. Ia teringat saat sang ahli senjata melatihnya untuk pertama kali. Seblo-on ini lah dia saat itu.
“Jelaskan pelan-pelan kalau begitu!” pinta Anna.
“Begini...”Ega mengerutkan keningnya, mencoba mencari kata yang sederhana agar Anna mengerti,” senjata itu bermacam-macam. Banyak bentuk dan bahan serta kegunaan masing-masing. Semua itu adalah milikku, tapi aku tak bisa membawanya sekaligus karena banyak sekali. Bayangkan, aku harus menenteng lemari penuh senjata, itu tak mungkin, jadi aku menyimpannya dalam gudang. Yah anggap saja gudang ajaib. Ketika aku butuh senjata itu aku memanggil gudang itu lalu memilih senjata apa yang akan ku gunakan dan gudang itu memberikannya padaku. Nah, ajaibnya gudang itu tak terlihat. Paham?”
“Sedikit, tapi aku bisa membayangkan. Lalu bagaimana kamu bisa memilih senjata tanpa melihat gudangnya?”
“Pada dasarnya ini gampang, kamu hanya perlu berkonsentrasi sungguh-sungguh menganggap senjata adalah bagian tubuhmu. Lalu memanggil mereka agar mewujud ditangan dan rasakan dirimu menggenggamnya. Gambarkan dengan jelas senjata apa yang kau genggam. Kamu harus konsentrasi pada jenisnya,bahannya, bentuknya secara terperinci, seperti ini!” Ega menunjukannya,kini ia memegang sebilah pedang panjang berbahan perunggu nan tajam.
“Dan begini.” Ega menghentakkan tangannya dan pedang itu seketika berubah menjadi tombak panjang bermata tajam di kedua arah. Lalu dia menghentakkan tangannya lagi dan senjata itu hilang, tangannya kosong.
Wah, macam sulap saja. Keren sekali dia.
Anna mencoba berkonsentrasi membayangkan pedang seperti yang di bawa Ega tadi ditangannya. Ia menutup matanya agar konsentrasinya tak terganggu. Ia merasakan sesuatu digenggamannya, dengan perasaan membuncah ia membuka matanya, ternyata ia hanya membayangkannya. Tangannya tetap kosong dan mengepal tanpa memegang apa-apa. Anna manyun tampak kecewa.
“Mungkin memang harus melakukan kontrak dulu baru bisa melakukannya,” kata Ega menghibur Anna.
__ADS_1
“Apa bisa memanggil Bom?” tanya Anna.
“Bisa saja, tapi susah karena harus merakitnya dulu. Pernah ada murid yang memanggil granat. Tapi dia lupa memanggil pematiknya. Jadi ya gitu, meledak pas di tangan.” Ega bercerita seolah itu kejadian yang lucu.
“Mati dong?” Anna ngeri.
“Oh, enggak. Sekolah Sky di bangun khusus dengan sihir regenerasi. Jadi Ksatria yang dilatih di sana tak kan mati bila terjadi kecelakaan saat latihan.”
“Wah, asik dong.”
“Sun juga begitu. Tapi tetap saja, saat mereka di luar trus kena serangan, ya sudah end.”
“ Ada berapa orang yang masuk portal?” tanya Anna.
“Tiga orang sipil yang terlatih dan tiga orang Ksatria,” jawab Ega.”Kami ditugaskan mengawal dan menjaga sipil terlatih menyelesaikan misinya disini dan mengantar mereka pulang dengan selamat.”
“Kemana mereka?” tanya Anna.
“Aku tak tahu. Sepertimu, aku juga terpelanting dari kursi dan berjalan tak tentu arah sampai aku bertemu denganmu.”
Memang benar jika kita ngobrol, apalagi dengan topik yang menarik, kita bakal lupa waktu. Dan semua tentang yang horor dan tragis pasti selalu menarik. Tanpa sadar, sesuatu yang berbeda telah terjadi. Apa waktu di dunia ini terlalu cepat? Baru beberapa jam mereka melihat matahari tepat diatas, sekarang seolah sudah seperti malam. Ada kabut yang merayap di sekeliling mereka. Ega menatap Anna dan menaruh telunjuk jarinya ke mulutnya membentuk isyarat agar Anna diam. Anna mengangguk. Bukanlah waktu yang terlalu cepat, tapi kabutlah yang menyebabkan sinar matahari terhalang.
Perlahan-lahan Ega mengintip keluar semak dan melihat seekor monster merayap tiga meter dari tempat persembunyian mereka.Monster itu berwarna coklat kehitaman, pinggang kebawah seperti kelabang, mempunyai banyak kaki berwarna merah kecoklatan sedangkan pinggang keatas seperti manusia, dengan sepasang tangan yang memiliki cakar yang panjang. Wajahnya seperti manusia namun tak memiliki rambut dan rata serta anehnya, ia memakai kacamata. Bibirnya merah, entah dia memakai darah sebagai lipstik atau baru saja menyantap manusia. Yang pertama lebih masuk akal.
Monster itu merayap dengan kakinya yang banyak, melewati tempat mereka bersembunyi. Di belakangnya tampak seorang laki-laki dengan kaos hijau dan celana jeans melayang pingsan dengan posisi setengah berlutut dan tangannya terentang ke belakang. Ega memperkirakan manusia itu adalah salah satu sipil yang masuk portal bersama Anna. Anna mencengkeram tangan Ega.
“Aku kenal dia. Dia Mess, temanku,” bisik Anna setelah monster itu pergi melewati mereka.
“Menurutmu, apakah ia masih hidup?” tanya Anna cemas.
“Kukira ia masih hidup. Monster tak akan membawa orang mati,” jawab Ega dengan sedikit keyakinan.
“Kemana dia akan membawanya?” tanya Anna.
“Aku tak tahu, tapi itu monster milik penyihir,” jawab Ega yang kali ini keyakinannya bertambah satu sendok teh.
“Kita harus menyelamatkannya!” ajak Anna.
Anna merasa berhutang nyawa kepada Mess. Ia yang memaksa Anna membawa ransel dan mengikatkan sabuk pengamannya ke kursinya. Tanpa itu semua Anna pasti sudah mati.
“Ayo!Kita ikuti dia kalau begitu!” ajak Ega. “Kau tetap di dekatku, Anna!”
Mereka mengikuti monster itu diam-diam. Percayalah, mengikuti monster di tengah kabut itu tidak bagus. Tapi mereka melakukannya juga. Kabut mengurangi jarak pandang mereka. Jadi mereka harus sedikit lebih mendekat namun tak terlalu dekat agar kehadiran mereka tak diketahui sang monster. Sangat sulit.
Mereka melihat monster itu menuju persimpangan. Jalan itu bercabang dua. Monster itu berhenti sejenak. Kabut semakin tebal dan menghalangi pandangan. Mereka mendekat ke arah persimpangan agar dapat melihat monster itu pergi ke arah mana. Namun seperti tukang sulap, monster itu menghilang bersama tawanannya. Anna dan Ega panik, berlari ke persimpangan. Monster itu tak ada disana.
“Kemana mereka pergi?” Anna bertanya kepada Ega.
“Aku tak tahu, pandanganku terhalang kabut tadi,” jawab Ega yang sama butanya dengan Anna.
Anna mempertimbangkan kemana arah monster itu membawa Mess. Ia mencoba mencari petunjuk berupajejak kaki, potongan baju atau apapun yang bisa menjadi pentujuk monster itu,tapi nihil. Ia benar-benar tak tahu kemana monster itu pergi.
Sementara kabut semakin pekat, Anna merasa bulu kuduknya berdiri, sesuatu mendekat kearahnya dari belakang. Ia menatap Ega dan menduga ia juga merasakan hal yang sama dengannya. Ega menggenggam tangan Anna dan bersama-sama mereka menoleh kebelakang.
“Kejutan!" monster itu menyeringai dibelakang mereka. Jelek sekali.
***
__ADS_1