
Ini seperti saat kau mengambil barang di atas lemari dan tak sengaja menyenggol bola bowling yang disimpan diatasnya lalu menggelinding jatuh dan mengenai laptop temanmu yang tengah mengerjakan scripsinya sehingga menyebabkan ia tak lulus pada waktunya. Bingung? Sama. Seperti itu pula perasaan Leo. Ia menyesali apa yang telah diperbuatnya, tapi tidak tahu apa yang harus diperbuatnya untuk bertanggung jawab. Ia merasa telah membunuh Anna karena keegoisannya. Awalnya, Anna lah yang memikat hatinya, namun Anna menolaknya dan kini ia telah membunuhnya. Mengirimnya ke dunia Mistis, dunia penuh monster dan keputuasaan tanpa pengetahuan sama sekali, itu sama saja membunuhnya. Orang yang dilatih selama 5 tahun saja belum tentu selamat dari dunia itu, apalagi Anna yang tak tahu apa-apa. Ini seperti--siapa suruh menolakku sekarang rasakan ku kirim kau ke neraka-- tapi lima detik kemudian--aku kangen kamu, kembalilah,asal lihat kamu bahagia udah cukup bagiku.. please, aku nyesel(sambil nangis guling-guling).
Kereta kursi kini berhenti ketempat semula di halaman gedung graha. Namun tak ada yang menyadari hilangnya baris terakhir kecuali penjaga dan bangsawan serta murid Sky. Leo menatap Rachel yang tertawa senang dengan pertunjukan kereta kursi itu.Andai ia tahu temannya satu-satunya tengah menuju kematian, ia pasti akan membunuh Leo. Kini pertunjukan terakhir akan ditampilkan Hera, murid Sun School. Hera Hemachandra merupakan anak bangsawan, dan ia memiliki kekuatan berupa manipulasi pikiran. Menjadi tugasnya lah memanipulasi semua ingatan tentang adanya baris kursi terakhir beserta yang mendudukinya, dan jika itu terjadi, sudah terlambat untuk menyelamatkan Anna. Leo harus berpikir cepat. Leo masih menatap Rachel yang tertawa di sampingnya dan munculah jawabannya “Yashna” Kok bisa? Mereka kan tidak mirip. Yah, cara berfikirnya memang beda.
Leo menggandeng tangan Rachel dan mengajaknya berdiri keluar baris kursi menuju graha.
“Tunggu, pertunjukan belum selesai,” protes Rachel.
“Ini lebih penting dari itu, ayo!” ajak Leo.
“Lebih penting? Entahlah, Leo. Kita kan baru kenal,” elak Rachel salah paham. Dia mengira bakal diajak menyepi. Menyepi yang ku maksud adalah berdua-duaan, atau bermesraan, atau yah.. begitulah.
“Ini tentang Anna, ia dalam bahaya!” terang Leo.
“Anna? Tadi baik-baik saja,” kata Rachel.Masak pacaran ngajak orang. Bukannya kasihan,nanti malah jadi pengusir nyamuk.
“Akan kujelaskan nanti, ku mohon ikutlah denganku sebentar!” ratap Leo frustrasi.
“Oke.” Meski sedikit bingung, Rachel mengikuti Leo.
Baru setengah jalan menuju aula graha, mereka dicegat oleh seorang penjaga yang berbadan besar dan membawa pisau lipat di sabuknya.
“Pertunjukan belum berakhir Bung, kalian tak boleh pergi!” perintah penjaga. Kalau sekilas terlihat seolah pak polisi menghentikan preman yang menculik gadis cilik.
“Ini penting, Aku harus bertemu Yashna, Yashna Umbara,” jelas Leo.
“Kau boleh keluar, tapi dia tidak,” tunjuk penjaga kearah Rachel.” Kau tahu kan dia harus dimodifikasi.”
“Tapi dia saksiku, ” ratap Leo.”Begini,...”
“Apa yang saksi Leo?”Seseorang memotong kalimat Leo. Rupanya Pak Baxter, Ayah Leo.
“Ayah!” Leo tak pernah sebersyukur ini bertemu ayahnya. Ayah Leo bertampang kebapakan. Mata dan rambutnya mirip Leo,badannya besar dan berotot, membawa tongkat panjang seperti lembing namun tanpa mata tombak. Mungkin sekeluarga suka memelihara rambut.
“Ayah, sesuatu terjadi dan aku butuh bertemu Yashna. Bisakah ayah menelongku?” Pinta Leo ragu.
Layaknya seorang Ksatria sejati, Ayah Leo sangat disiplin. Dia tak akan ragu untuk menghukum anaknya jika anaknya berbuat kesalahan. Dia juga sangat taat dengan peraturan dan tata krama.
“Kau tak bisa bertemu bagsawan sesuka hatimu Leo,” hardik Ayahnya.
“Tapi ini darurat Ayah, seseorang bisa mati!” Leo hampir menangis frustasi.
“Tunggulah di aula,akan kukabari Yashna, tapi siapa dia?” Pak Baxter menunjuk ke arah Rachel. Rachel tersenyum malu di depan ayah Leo. Mungkin dikiranya mau lamaran.
“Dia..dia...” Leo ragu untuk melaporkan kebodohannya pada orang yang paling taat seantero Kelansa. Dia bisa digantung ayahnya. Dia memutuskan untuk konsultasi dulu dengan Yashna, kawannya. Siapa tahu Yashna mau membantunya.
“Apakah dia kerabat dari baris terakhir?” Pak Baxter meneliti Rachel yang tengah malu-malu di depannya.
“Iya. Eh, tidak. Ayah, aku benar-benar harus bertemu Yashna.” Leo bingung.
“Baiklah, tunggu di aula!” Ayah Leo membawa mereka menuju aula bawah dan menyuruh mereka menunggu di dekat tangga sementara ia menaiki tangga menuju aula elite untuk bertemu Yashna. Beberapa saat kemudian ia memanggil mereka ke atas untuk bertemu Yashna di aula elite.
Rachel tampak melongo melihat aula elit di depannya, tapi Leo tak peduli, dia terlalu tegang untuk melaporkan kebodohannya kepada Yashna dan mengira-ngira solusi hebat apa yang akan ia dapatkan. Ia berharap Yashna lebih bijak dari dirinya.
Ayah Leo meninggalkan mereka dimeja sudut aula elite tempat Yashna menunggu. Sekarang Leo bingung harus mulai dari mana, tapi ia harus bertanggung jawab. Walau sesaat dirinya tergoda untuk diam saja, lagipula tidak ada yang sadarbahwa Anna menghilang. Tapi dia seorang ksatria. Pengecut namanya kalau dia lari begitu saja dari tanggung jawab.
Kelelahan masih terpancar dari diri Yashna. Setelah Anna pergi, ia membawa Hera menemui para guru yang ada di sana untuk menenangkannya dan untunglah Hera tertolong. Namun harus tetap dalam pengawasan para guru. Belum pernah ia menemui situasi seperti tadi. Belum sempat ia istirahat,ia sudah dicegat Nico yang menanyakan keberadaan Anna. Tanpa menyebut-nyebut perang dingin antara pacar sahabatnya dengan temannya, Yashna menceritakan kepergian Anna,dan meminta Nico untuk mencarinya sendiri pacarnya itu. Sekarang datang lagi masalah. Benar-benar hari yang sempurna.
”Ada apa Leo?” tanya Yashna sambil meng-upload foto di facebook-nya. Sosial media adalah salah satu cara Yashna menenangkan syarafnya. Ia memang sedikit nyentrik.
“Aku membunuh Anna!” kata Leo langsung to the point. Ponsel Yashna terpeleset dari tangannya dan jatuh ke meja. Untung tidak pecah. Harganya lumayan juga sih.
“Apa?” seru Yashna dan Rachel bersamaan.
__ADS_1
“Siapa dia?” Yashna menunjuk Rachel dan meminta penjelasan kepada Leo.
“Apa maksudmu, kamu membunuh Anna?” Rachel mengabaikan Yashna.
“Yah,tidak secara langsung membunuh dengan menikam atau mencekiknya,tapi mungkin lebih buruk, gara-gara Aku, Anna..”
“TUNGGU DULU! Tolong ceritakan dari awal, dan kau, bisakah kau tak tanya apapun selagi dia menjelaskannya padaku?” suara Yashna sedikit tinggi. Tapi anehnya Rachel langsung menurut dan diam, bisa dikatakan ia mematung menatap Yashna. Mungkin ia sedang mengeluarkan ‘kekuatanya’,pikir Leo dan Leo sangat berterima kasih.
Leo menceritakan kepada Yashna bagaimana ia kenal Anna dan Rachel,jatuh cinta dengan Anna kemudian ganti Rachel,berdansa, duduk di kursi,lalu bertukar duduk dengan Anna,meminta Anna tetap bertukar kursi sampai melihat Anna duduk dikursi terakhir yang bukan kursinya,dan berteriak frustasi menyuruh Anna melompat dari kursi. Setelah selesai, Leo menatap Yashna pasrah. Ia sungguh siap diteriaki, dibodoh-bodohkan, dan dihukum dengan berat. Namun Yashna malah menanyakan hal yang aneh, “Bagaimana tampang Anna?”.
Leo tak menyangka akan apa yang telah di dengarnya. Dari sekian pertanyaan, Yashna malah menanyakan betapa cantiknya Anna. Leo mengira bahwa Yashna menganggap ini sebagai prank.
“Aku tidak bohong, Aku serius. Aku melihatnya di baris kursi terakhir bersama Ega. Aku yakin, Yash. Gadis ini yang akan menonfirmasinya.” Kemarah menguasai Leo.
“Tenanglah, Leo. Aku percaya padamu. Apa Anna dari sekolah Or School?”
“Iya, Anna dari Or dan dia bukan siswa pilihan. Kita harus cepat, sebelum terlambat.” Tapi Leo yakin sudah terlambat. Anna pasti sudah masuk dunia paralel.
Oke, Yashna tahu ada banyak yang bernama Anna. Ia sungguh berharap Anna yang ini bukan Anna yang baru saja diperkenalkan sahabatnya tadi. Jikalau benar, Leo bisa digantung. Kalaupun Leo bisa meloloskan diri dari Dewan Hakim,tapi dia tak akan lolos dari amukan Nico. Salahnya juga menyuruh Anna pergi dan tak menunggu Nico tadi, sehingga membuatnya duduk di kursi yang membawanya ke dunia monster. Akh, sungguh rumit masalah ini. ingin pecah rasanya kepala Yash. Kemarin, Ega yang menghajarnya habis-habisan, belum sembuh benar, gantian Hera yang mencakarnya, dan sekarang Nico yang akan membunuhnya.
“Mari kita pikirkan baik-baik, Leo.” Yashna mencoba mencari solusi yang terbaik, namun nihil. Yang terbaik tetaplah jujur kepada dewan, dan akan berdampak dengan kematian Leo yang ceroboh. Leo merupakan sahabatnya, dan dia tak mau sahabatnya mati.Tapi ia juga tak mau orang yang bernama Anna mati. Dia sungguh berharap setidaknya bukan Anna itu yang akan mati, karena kalau sampai Anna yang itu, maka dia juga akan mati. Dalam keputusasaannya, dia melihat Lusila.
“Lusila! Ke sini, bantu aku!” Pinta Yashna pada Lusila yang sedang lewat.
Lusila adalah kawan yang pengertian. Tanpa diberi tahu dia sudah paham. Namun sayangnya dia bukan teman yang suka menolong. Jadi Yashna menimbang untuk maraung dan gulung-gulung sambil meratap, memohon bantuan darinya. Untung saja sebelum Yashna memulai aksinya, mood Lusila sedang bagus.
“Ada apa? Kenapa kau nangis begitu?” Tanya Lusila heran menatap sudut mata Yashna yang basah. Biasanya ia tak peduli.
“Oh, aku mencintaimu!” katanya berbohong. Dia perlu merayu Lusila agar mau membantunya. Sayangnya, Yashna payah dalam merayu.
“Masa?” Lusila menyentuh pundak Yashna.
“Iya.”
“Bohong, pikiranmu bilang ga tuh.”
“Bagus kalau kekuatanmu berfungsi saat ini. Nah, sekarang tolong konfirmasi cewek ini. Apa betul ada Anna yang kita kenal?” kata Yashna. Lusila kusuma adalah anak bangsawan dan ia mempunyai kemampuan khusus untuk membaca pikiran orang yang di sentuhnya. Ia juga dapat bertelepati, dan juga mengirim bisikan-bisikan ke dalam otak musuh yang bisa membuatnya gila.
“Sudah,berikan tanganmu padanya,” kata Yashna kepada Rachel.
“Sebentar, tak sakit kok.” Lusila memegang tangan Rachel. Sekilas ingatan-ingatan Rachel tentang Anna berkelebat di benaknya.
“Iya benar, ia temannya satu sekolah. Sahabat yang erat. Kenapa memang?” Tanya Lusila pada Yashna. Wajah Yashna begitu shock menduga Anna yang dimaksud Leo, Anna yang masuk ke dunia monster adalah pacar Nico, sahabatnya.
“Mati aku.” Yashna bergumam, ia mulai mondar-mandir gelisah.
“Oke, sebelum kau mati, maukah kau memberi tahuku apa yang terjadi?” Lusila mengulurkan tangan padanya.
“Kau akan tahu setelah memegang tangannya,” kata Yashna menunjuk Leo. Tanpa disuruh, Leo mengulurkan tanganya, menyambut uluran tangan Lusila. Semua yang baru diceritakan Leo pada Yashna muncul seperti potongan film di kepala Lusila. Ia lantas menganga terkejut.
“Katakan, Anna yang ini bukan Anna yang baru kita kenal kan?” Meski Yashna bisa menebak jawabannya, tapi tetap saja Yashna berharap tebakkannya salah. Meski kemungkinannya 0,01%.
“Sayangnya iya,” jawab Lusila. “Dan dia pergi ke...Ya ampun!”
Kaki Yashna seperti kehilangan tulangnya. Tanpa tedeng aling-aling, ia langsung menyeretnya mencari Nico.
“Sebenarnya tak masalah dengan Anna, tapi yang bermasalah adalah pacarnya. Kali ini habis kau.” Lusila memberi tahu Leo, lalu meninggalkannya.
“Sebenarnya ada apa sih?” Tanya Rachel bingung.
“Rachel, kau tau siapa pacar Anna?” Leo menelan ludah, berharap pacar Anna adalah orang biasa. Paling banter Ksatria. Tapi Rachel menjawab,“Nico. Kenapa kau tanya itu?”
“Nico? Maksudmu Nico Estu Brawijaya?” Jantung Leo serasa mau copot.
“He-em, kenapa?” jawab Rachel polos . “Oh kebetulan sekali. Itu dia NICO!”
Seorang remaja berambut coklat, menoleh kearah Rachel heran dan mendekat. Jantung Leo serasa meledak, perutnya seperti diilit ular Boa.
__ADS_1
Matanya melotot tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia ingin pingsan seandainya ia bisa pingsan. Remaja itu mendekat kearah Rachel dan Leo tahu itu Nico. Nico didepannya ini ialah Nico Estu Brawijaya, anak dari salah satu dewan Pahem Atmadeva, penguasa elemen, yang adalah pacar Anna. Dan Leo secara tak langsung membunuh Anna.
“Mati aku!” gumamnya.
***
Nico tak pernah sebingung ini. Biasanya ia dapat menemukan apapun disekitarnya meskipun tersembunyi diruang tertutup sekalipun,karena itu memang salah satu keahlian penguasa elemen. Namun ia tak bisa merasakan dimana Anna berada, bahkan sejak pertama bertemu. Anna seolah-olah bukan bagian dari elemen yang adalah kekuasaanya. Ditambah Anna cantik dan menawan.Dia bersyukur Hp-nya nyangkut di saku Anna. Bertemu dengannya apalagi mendapatkan nomornya suatu berkah yang tak terduga-duga.Biasanya juga gampang ia mencari orang,tapi Anna sulit. Ia satu-satunya orang yang tak terdaftar di GPS ajaibnya. Dia seperti karbohidrat baginya, dan makan tanpa karbohidrat tidak lengkap rasanya.
Nico gemas sekali pingin mengatakan semua rahasianya pada Anna.
Termasuk kekuatan yang disembunyikannya. Mungkin Anna akan bilang wow dengan mata berbinarnya. Berharap dia bakal semakin cinta padanya. Namanya juga cowok, pasti kepingin terlihat kuat apalagi di depan ceweknya. Dia bisa saja memberitahu Anna kapan saja dia mau, tapi nantinya dia harus menerima resikonya. Selain dihukum oleh dewan, bisa jadi Anna malah takut padanya.
Setelah ia berhasil membujuk salah satu dewan agar bisa memberi tahu Anna siapa dirinya, Anna malah menghilang. Anna pergi dari tempat dimana Nico menyuruhnya menunggu.
Beberapa kali ia bertanya kepada teman-temannya dimana Anna, teman-temannya malah menganggapnya bercanda. Bayangkan betapa menjengkelkannya saat kau bertanya pada temanmu, “hei kau lihat kacamataku?” dan mereka menjawab, ”kau bercanda?” Tanpa memberitahu bahwa kacamatanya telah kaupakai. Kesal sekali bukan?
Setelah beberapa waktu mencari Anna, ia malah bertemu Rachel di Aula elite dan ditemani Leo, putra Ksatria.
“Hai Rachel, Kau tahu dimana Anna?Aku mencarinya dari tadi.” Hanya Rachel yang mnanggapinya serius karena seperti Anna, Rachel tak tahu apa-apa tentang rahasianya. Dan hanya dia harapannya.
“Aku melihat dia di kereta kursi tadi, kau tahu, kursi yang bergerak. Trick sulap dari sekolahmu,tapi kurasa kau tak ikut, tadi asyik sekali,” cerocos Rachel sambil melonjak seperti anak kecil. Meskipun mereka baru bertemu beberapa kali, tapi mereka cukup merasa akrab karena dihubungkan dengan satu orang, yaitu Anna.
“Anu.. tu..tu..” Leo mencoba berbicara. Dan tiba-tiba secara ajaib, ia menjadi gagu.
“Nico, akhirnya aku menemukanmu.” Yashna berlari kearah mereka ngos-ngosan. Seandainya tahu Nico akan kesitu, ia tak kan muter-muter sambil teriak ke semua orang yang ditemuinya, dimana Nico, ada berita gawat! Sungguh sia-sia napas yang ia keluarkan.
“Kenapa mencariku?” Nico menoleh ke arah Yashna.
“ Apa kau tak merasakannya?” Tanya Yashna.
“Merasakan apa?”
“Keberadaan Anna.”
“Tidak, kau sudah tahu aku tak bisa merasakan keberadaan Anna dari dulu. Kenapa kau tanya ini?”
“Pantas saja,” kata Yashna mengamati seputar aula, tak ada yang rusak. Anehnya, tadi sebelum bertemu Nico, ia ingin segera memberi tahu berita gawat, tapi setelah bertemu, ia jadi susah untuk bilang, Anna masuk portal. Nyalinya menciut.
“Bukankah kau harus membawa gadis ini ke para Guru?” Yashna berkata pada Leo akhirnya.
“Tapi, aku.. a..” Leo tergagap.
“Sekarang, Leo pergilah!” Kata Yashna tegas. Tanpa protes, Leo pergi menggandeng Rachel menuju ruang khusus di belakang aula untuk menemui keluarga Hemachandra. Mereka akan memodifikasi ingatan Rachel. Dengan begitu, Rachel tak akan pernah tahu bahwa Anna menghilang.
“Bye..” Rachel melambai pada Nico dan dibalas hal serupa. Nico melangkah pergi namun dicegat oleh Yashna.
“Aku tahu dimana Anna,” kata Yash mengumpulkan tekadnya yang sedari tadi tercerai berai.
“Oh ya?, Dimana?”
“Du... du..plak..nia lain.” Ia menampar diriya supaya tak gagap. Entah kenapa penyakit itu selalu menyerangnya saat gugup atau takut.
“Du.. Apa?”
“Du.. du.. plak..nia lain.” Ulangnya.
“Apa sih?”
“DUNIA LAIN! JANGAN SURUH ULANG LAGI DODOL, SAKIT PIPIKU!”
“Salah sendiri. Jadi Anna pergi ke dunia lain? Dunia maya?“ Nico menganggapnya lelucon.
“Bukan! Dunia mistis, pulau ebuh satunya, kerajaan Bartha. Tahu kan maksudku?” Yashna menjelaskan dengan segamblang mungkin.
“ Kok bisa?”
__ADS_1
***