Rahasia Pulau Ebuh dan Misi Sang Ksatria

Rahasia Pulau Ebuh dan Misi Sang Ksatria
Bab 3. Pesta Dansa Sekolah


__ADS_3

Setelah sampai di depan Graha, Anna kembali melongo menatap murid lain yang kekar dan tinggi. Dibanding dengan teman sekolahnya, mereka lebih besar. Anna dan teman-temanya terlihat seperti kumpulan kurcaci.


“Nah, anak-anak! Kalian membaca brosur acaranya, kan? Di sana juga ada peta Graha lengkap dengan peraturan yang boleh dan tidak boleh dimasuki. Jangan sampai ada yang hilang ya. Selamat bersenang-senang,” kataa Pak Prabu meninggalkan rombongan di tengah lapangan di depan gedung Graha.


“Siapa yang repot-repot membaca brosur tata cara manikmati pesta pelepasan sekolah?” hardik Anna.


“Aku,” jawab Rachel sedikit tersinggung. Rachel memang suka membaca. Semua dibacanya, bahkan seandainya terjadi perang, ia akan membaca petunjuk dalam memakai senjata sebelum menusukkannya pada lawan.


Mereka lantas memasuki pintu aula. “Besar sekali, Ayo kita jelajahi!” Ajak Anna menggandeng tangan Rachel.


“Senyum!” Suara juru foto mencegat mereka di belakang pintu masuk yang dihiasi beberapa tanaman dan bunga yang cantik. Suara cekrek dan blitz yang menyala membuat mereka mengernyit dan memejamkan matanya karena silau. Mereka protes karena foto tiba-tiba itu. Macam seleb saja.


“Hei Bung! Aku belum siap. Ulangi lagi!” Seru Rachel kesal. Rachel menarik Anna mendekat dan berpose dengan kedua jarinya dibentuk simbol damai sembari tersenyum. Dan Anna mengimbanginya dengan berusaha tersenyum semanis mungkin ke arah kamera.


“1..2..3.. Oke!” aba-aba fotografer yang lalu memperlihatkan hasilnya pada mereka supaya puas.


“Kalian luar biasa,” komentarnya. Tapi dalam hatinya, sudah cepat pergi sana, masih ada 150 murid lagi yang harus difoto. Aduh, capeknya.


Meja panjang tempat makan dan minum prasmanan ditata di sebelah kiri. Banyak makanan Prancis, Italia, Arab, Cina dan negara lainnya. Tak perlulah keliling dunia untuk mencicipi makanannya, semua tersedia di sini. Ada pula kue yang warna-warni, lalu minuman dengan gelas ditata piramida dan air mengucur di atasnya, membentuk air terjun. Di sekitar meja prasmanan terdapat beberapa meja bundar dan kursi yang mengelilinginya.


Suara riuh ramai percakapan yang dilatar belakangi lagu berjudul sebuah kisah klasih untuk masa depan mewarnai aula tersebut. Di belakang aula terdapat tangga yang menuju ke lantai dua dan di bawahnya ada tulisan toilet dengan gambar panah ke arah kanan.


“Ayo kita lihat ke atas!” Ajak Anna.


“Tak boleh, di atas untuk murid Sun School. Dan kita dilarang kesana.” Tunjuk Rachel pada kertas brosur yang dibawanya.


“Huh!” Anna kesal. Diskriminasi sudah biasa disebuah Kerajaan, tapi tetap saja membuatnya kesal. Apa lagi motto-nya keadilan sosial bagi seluruh rakyat kerajaan Kelansa. Apanya yang adil?


 


“Kita ambil makanan saja. Aku lapar.” Usul Rachel yang tak di tolak Anna.


 


Mereka lantas menuju meja prasmanan. Anna sejenak mengamati makanan yang tertata di atas meja. Masing-masing diberi tulisan di depannya sehingga terbaca isi yang ada di dalamnya. Piring tertata meninggi paling awal, lalu nasi, dan macam-macam makanan dengan nama yang sulit dilafalkan lidahnya, seperti tom yam goong, makanan berkuah berisi seafood. Lalu ada Linguine Alle Vongole, spageti dengan saus kerang. Ada pula Ratatouille(Ssttt... Anna menduga kokinya seorang tikus, konyol sekali!) dan masih banyak makanan lainnya yang membuat lidah kesleo.

__ADS_1


Akhirnya, ia hanya mengambil Nasi dengan Rendang, makanan kesukaannya. Ditambah kerupuk, nikmatnya tak terkira. Lalu tergoda mengambil Gellato sebagai hidangan pencuci mulut. Ia menengok isi piring Rachel yang penuh dengan hampir semua jenis makanan yang dapat ditampung dalam piringnya. Anna yakin, Rachel mengambil semua jenis makanan masing-masing satu sendok. Norak sekali dia.


 


Setelah selesai mengambil makanan, mereka duduk di meja bundar dekat dengan jendela. Dari jauh terlihat paviliun tempat berdansa. Anna tak pernah berdansa. Meski selama satu bulan, di sekolahnya memberi mata pelajaran wajib dansa, Anna tak pernah mengikutinya sungguh\-sungguh. Apalagi pasangan berlatihnya adalah seorang remaja yang kalau bicara ludahnya menyembur keluar. Aduh, jijik banget.


Anna menikmati makan malamnya bersama Rachel.


 


“Lihat kearah jam tiga, dia melirik kemari terus.” Rachel memberi tahunya.


“Mana?” Anna menoleh kekiri.


“Bukan kiri, tapi kanan. Payah!” Hardik Rachel kesal.


“Oh.” Anna menengok ke kanan dan melihat seorang remaja laki-laki tinggi. Kulitnya sawo matang, berambut gondrong hitam dikuncir kebelakang. Dia tersenyum memamerkan gigi putihnya pada Anna. Jas hitamnya tak mampu menutupi otot kekar di dalamnya. Entah karena jasnya kekecilan atau ototnya yang kebesaran. Ia duduk bersama teman-temannya dari sekolah Sky, tiga meja dari tempat Anna.


“Wah, dia kemari. Tampan ya?” Tanya Rachel yang dijawab “Huh?” oleh Anna. Ia maklum, kawannya itu memang tak biasa. Tampan versinya ialah preman. Dia paling suka dengan tipe-tipe penggertak.


 


“Entahlah," jawan Anna memandang laki-laki di sampingnya itu yang langsung duduk di sela-sela ia dan Rachel. Diam-diam Anna membayangkan jika mereka berjalan bersama, seperti preman yang menculik gadis cilik.


“Tentu,” saut Rachel mempersilakan.


“Boleh kenalan? Aku Leo Baxter dari sekolah Sky.” Laki-laki itu memperkenalkan diri. Mata hitamnya menatap Anna lekat-lekat. Masih sambil tersenyum, ia mengulurkan tangannya. Anna ragu untuk menyambutnya. Memang kata-katanya cukup sopan, tapi kalau yang mengucapkannya seorang seperti Leo, tetap saja membuat keder.


“Anna, Or.” Akhirnya dia menjabat tangan Leo secara singkat.


“Rachel kim, Or.” Rachel menjabat tangan Leo sedikit lebih lama.


“Apa kau suka musik romantis?” Tanya Leo pada Anna.


“Aku suka Purgatory,” jawab Anna.

__ADS_1


“Ah, sama. Apalagi dengan suaranya yang mendayu-dayu,” saut Leo tanpa pikir panjang.


“Oh, aku baru tahu kalau *Sandman* menyanyi dengan suara yang mendayu-dayu,” ujar Rachel takjub.


“Semua penyanyi romantik pasti bisa bernyanyi dengan suara mendayu-dayu.” Leo melirik Rachel tak acuh.


“Tapi Sandman, vokalis Purgatory. Dan itu band Death metal,“ terang Rachel yang membuat Leo mengkeret karena malu akan ke-Sok tahu-an nya. Nah loh apa kubilang, jangan sok tahu di depan cewek pintar.


“Apa itu manis?” Kata Leo buru-buru menunjuk gellato yang kini dimakan Anna. Ia ingin mengalihkan topik sesegera mungkin. Padahal topik tak mau digusur. Oh, beda. Yang itu topik, nama tetanggaku.


“Namanya es krim tentu saja manis.” Rachel menyaut. Anna menahan tawanya.


“Siapa tahu rasanya asam,” Kata Leo mengernyit tak suka pada Rachel.


“Lucu juga kau. Mau dansa denganku?” ajak Rachel. Sejenak Leo melongo menatap Rachel. Ia tak percaya ada manusia seperti Rachel. Sudah tahu Anna yang diincarnya, dan sudah pasti ia tahu bahwa Leo tak suka padanya tapi tetap saja mengajaknya berdansa. Jarang seorang gadis berani mengajak pria berdansa duluan. Oh, itu dulu, 5 tahun lagi anda akan melihat cewek lebih brutal dari cowok. Mereka sanggup memakan temannya.


“Oke lah.” Leo bangkit dari kursi dan disusul Rachel yang girang. Tak seperti badannya, ternyata Leo mudah menyerah.


“Hati-hati.” Anna mengacungkan telunjuknya dan mendelik pada Rachel, tapi malah mendapat cengiran sebagai balasan. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju paviliun dansa, meninggalkan Anna sendirian. Betul kan, seperti preman yang menculik gadis cilik.


 


Anna mengamati sekitar. Di depan mejanya, beberapa teman sekolahnya sedang tertawa-tawa dengan murid Sky. Dan di belakangnya, ada dua wanita murid Sky yang berkasak-kusuk sambil terkikik geli, bermain mata dengan cowok teman sekolahnya. Kali ini ia tidak mau membayangkan jadi seperti apa mereka jika bersama.


Selang beberapa menit kemudian, beberapa laki-laki menghampiri dan berusaha mengajaknya berdansa, tapi ia menolaknya secara halus. Mulai dari pura-pura sakit kepala sampai pura-pura kesurupan. Dia memang ahlinya.


Bukannya sombong sih, Anna sebenarnya punya pacar. Tapi Rahasia, karena pacarnya bukan cowok sembarangan. Dia menetapkan standar cowok yang boleh membawanya ke lantai dansa haruslah lebih dari pacarnya. Dan tak ada yang bisa menandingi pacarnya.(Tentu saja, namanya juga pacarnya, kecuali kalau supirnya akan lain jadinya.)Tapi dia tak melihat pacarnya malam ini.


***


Ilustrasi



aula pesta

__ADS_1


__ADS_2