
“Rachel, cepetan dong!” ujar Anna pada kawannya. Suaranya halus namun aksennya tegas. Anna merupakan gadis yang cantik, namun kecantikannya tak serta merta ia dapatkan sedari kecil.
Waktu kecil dulu memang imut, namun penampilannya, aduhai jelek sekali. Dia selalu lupa mengelap ingusnya. Bajunya selalu penuh lumpur dan sobek dimana-mana, persis seperti gelandangan. Entah kenapa orang yang berpapasan dengannya selalu iba padanya. Bahkan beberapa orang kadang memberinya sesuatu, seperti nasi bungkus atau uang receh. Anna tak pernah menolak. Padahal pihak panti selalu memberinya pakaian yang layak. Oh iya, masa kecil Anna dihabiskan di panti asuhan.
Besar di panti asuhan membuat Anna tangguh. Setiap hari ia habiskan untuk menyelinap keliling kota tanpa sepengetahuan para pengasuhnya. Dan tentunya menyelinap juga perlu ketrampilan khusus. Dia selalu mengganggap dirinya agen FBI. Maklum, saat itu adalah saat penuh imajinasi. Tapi tolong, yang punya anak harap diawasi tontonan mereka.
Anna sangat suka mengamati kehidupan tempat tinggalnya. Ia sering menyapa beberapa preman pasar, berkelahi dengan anak-anak lain, keluar masuk hutan, membantu orang tua membawakan barang lalu diberi satu potong kue atau roti dengan keju. Ia akan pulang ke panti asuhan jika salah satu pengasuhnya mencegatnya di ujung gang. Yakin deh, jika sabar bisa dijadikan uang, maka pengasunya pastilah jadi milyader. Tidak heran bahwa tak ada yang mau berteman dengannya. Dia dianggap biang masalah.
Kendatipun tinggal di panti asuhan, bukan berarti ia tak punya orang tua maupun uang. Orangtuanya tidak dapat mengasuhnya, sehingga terpaksa ia dititipkan di panti asuhan untuk sementara, karena mereka bekerja di luar pulau dan mereka tak punya kerabat yang bisa dititipi. Bukannya tak sayang, tapi mereka tak bisa membawanya pergi. Salah satu peraturan di kerajaan ini ialah anak kecil dilarang meninggalkan pulau.
Maka dari itu, ia berharap segera dewasa supaya bisa menyusul orang tuanya.
Salah satu misteri yang belum terpecahkan ialah semakin waktu ditunggu semakin terasa lambat.
Orang tuanya selalu bekerja bukan berarti mereka miskin, hingga mati-matian bekerja, tapi entah mengapa mereka tak bisa meninggalkan pekerjaannya. Sesungguhnya mereka mempunyai simpanan uang yang cukup banyak di Bank. Namun, dengan bijak mereka titipkan di lembaga keuangan agar memberikan uang untuk jatah Anna setiap bulannya, dengan nominal tertentu, sebelum mencapai umur 19 tahun, umur yang dirasa cukup dewasa bagi seorang wanita untuk menentukan jalan hidupnya. Padahal umur 19 tahun bagiku adalah saat-saat menghabiskan uang.
Sejak umur 4 tahun, ia ditinggal orang tuanya. Sampai saat ini, ia tak pernah lagi melihat ayah dan ibunya. Ia hanya menyimpan satu lembar foto yang sudah usang, dengan ayah dan ibu yang menggendongnya saat bayi. Kadang hatinya iri melihat anak yang digandeng ibunya saat jalan-jalan. Namun Anna harus menelan kekecewaan karena tak dapat menghubungi orang tuanya. Ia hanya punya beberapa surat lusuh, menandakan betapa seringnya dibaca untuk mengobati kerinduannya. Betapa sedihnya ketika yang lain ditemani orang tua mereka ketika pertunjukan bakat di sekolahnya, sedang dia tidak. Tapi tak apa, masih ada perawat panti yang selalu bisa menghiburnya (baca : dikerjainya). Sejenak ia lupa kesedihannya.
Saat usianya mencapai 12 tahun, itulah saatnya ia masuk asrama sekolah. Meski merepotkan, para pengasuh panti merasa sangat kehilangan. Anna bersumpah ia melihat mereka menangis semalaman. Atau terharu karena akhirnya mereka bebas darinya. Taruhan, yang kedua lah yang benar.
Waktu mulai masuk asrama sekolah, ia merasa inilah waktunya mempelajari kehidupan. Ia juga memasuki masa yang paling jelek bagi wanita. Masa ingusannya sudah selesai. Sayangnya, setelah ingusan, ia memasuki masa puber. Masa dimana segala bulu mulai tumbuh, jerawat menampakan dirinya, belum lagi kulit kusam berminyak ditambah tingkahnya yang liar bak singa di madagaskar.
__ADS_1
Seperti gadis pada umumnya, dia berusaha menolak takdir pubertas yang menyesakkan jiwa. Dia ingin cantik, pandai, anggun, dan mengenyahkan jerawatnya, tapi sayangnya :
Cantik : Ia tak punya cukup uang untuk membeli kosmetik. Jatah bulanannya bisa habis untuk membeli masker herbal penghilang minyak berlebih. Percuma cantik kalau mati kelaparan.
Pandai : Semua pelajaran hanya lewat dalam otaknya, tak ada yang tinggal, bahkan sekedar singgah sementara. Padahal uang sewa persinggahan otaknya sudah diskon habis-habisan.
Anggun : Nama bakatnya ialah ceroboh, dan ceroboh musuhnya anggun, jadi bye..bye anggun.
Jerawat hilang : Kembali ke poin no 1. Masker penghilang jerawat sama mahalnya dengan masker penghilang minyak.
Jadi, dia hanya melakukan perawatan yang paling murah yaitu, mendekam dikamarnya biar tidak tersengat matahari. Pilihan yang bijak menurutku, tapi tentu saja semua pilihan ada resikonya. Dia jadi kurang uptodate.
Anna ingin sebisa mungkin menjauhi masalah dan tidak menarik perhatian. Rencananya berjalan lancar ditahun-tahun pertama sekolah namun ditahun-tahun berikutnya masalah-lah yang datang padanya. Hore.
Usahanya menjadi cantik bersinar cetar membahana petir menyambar-nyambar dengan cara sederhana mulai menunjukan hasil setelah dua tahun menunggu dengan alami (baca pasrah). Ia semakin menunjukan kecantikan yang membuat iri teman wanita dan membuat kagum teman laki-lakinya. Minyaknya mulai hilang, jerawatnya sudah bosan menghinggapinya, kulitnya mulai terang dan bekas-bekas perkelahiannya dengan anjing tetangga mulai pudar.
Seperti umumnya gadis cantik, ia selalu diganggu. Awalnya ia tak peduli dengan gangguan-gangguan itu, tapi lama kelamaan mengganggu juga karena gangguan-gangguan yang mengganggu itu sangat mengganggunya. We-o-we, aku sangat pandai berkata-kata.
Lalu pacar kalian mengira,”Say? Sayton? Kurang ajar kau!”
Kemudian bug..bug..bug.. pacar kalian memukul. Seganteng apapun dia, Anna tidak akan mau. Hidup Cuma sekali Bung!
Dengan manis Anna tersenyum dan berkata, “luv, aku terpaksa menolakmu, soalnya kita punya ayah yang sama!" Anna mengusapkan tangannya ke pipi pemuda tersebut, berackting semenderita mungkin.
“Kau bohong!” Kata pemuda itu, matanya sudah mulai memerah, layaknya banteng yang melihat matador.
“Mau bagaimana lagi. Tapi jangan sampai ibumu tahu,“ ratapnya. Pemuda itu pergi dengan hati tak keruan bersama geng-nya. Tanpa sadar, Anna telah memulai perang dunia ketiga dikeluarga pemuda itu. Mulai saat itu, Anna berhati-hati dengan pemuda yang mendekatinya. Ia selalu mengecek, keluarganya lengkap atau tidak.
Belum lagi dengan teman wanitanya di sekolah, jika Anna bersuara maka akan mereka anggap ia cari perhatian, jika diam, mereka akan bilang sok kecantikan. Coba bayangkan, ia harus bagaimana. Memang aneh gadis-gadis itu.
__ADS_1
Contohnya, pada perayaan olahraga, sekolah mereka menang juara basket dan semua bersorak serta mengucapkan selamat pada tim basket mereka. Jarang sekali mereka menang. Secara, lawan mereka murid Sky dan Sun. Hampir mustahil, semustahil pergi ke mars, tapi nyatanya bisa juga sih.
Sorenya Anna dikunci di toilet lantai dua bersama para pemandu sorak. Mereka bilang bahwa Anna sok kecantikan dan menggoda kapten tim basket mereka. Padahal ketua basketnya yang mana, ia tidak tahu. Tapi tak ada gunanya ia menyangkal. Kalau hati sudah dipenuhi iri, maka mata dan telinga tak akan berfungsi dengan baik, otak pun kehilangan lekukannya.
Anna mengangkat ketua pemandu sorak itu dan menjungkir balikannya ke luar jendela dengan kepala dibawah, "Pergi ga? Atau ketua kalian aku lempar." Anna mengancam anggota cheer.
"Gila lu, ya!" kata ketua cheer yang tengah ketakutan."Kalian semua, cepat pergi. Gue takut ketinggian."
Ini cuma saran, lain kali kalo mau membulli jangan di lantai dua. Tapi sebaiknya kalian jangan membuli. Belum tentu orang yang kalian buli lebih buruk. Kebanyakan, mereka nantinya lebih sukses dari kalian. Kan ga lucu kalau dulu kalian membulinya tapi pas lulus dia jadi boss kalian.
Dan itu terakhir kalinya Anna dikatakan sok cantik, dan awal mula julukan barunya yaitu MadAnna, si gila Anna. Itulah sebabnya tak ada yang berani menjadi temannya. Satu-satunya orang yang cukup berani ialah Rachel Kim.
Mereka bisa dikatakan pasangan yang cocok karena Rachel sama gilanya dengan Anna, hanya saja dengan alasan yang berbeda. Rachel tak secantik Anna sehingga membuat dirinya dibenci, kulitnya putih pucat dengan mata hitam yang tajam, rambutnya hitam dan lurus. Rachel merupakan anak kedua dari pasangan Kim(salah satu nelayan yang terdampar di pulau Ebuh. Mereka berasal dari Asia). Kakaknya seorang pramugari di Maskapai Penerbangan Internasional. Setiap pulang kembali ia selalu membawa oleh-oleh dari Luar Negeri untuk Rachel berupa baju-baju mahal dan kosmetik-kosmetik. Tapi Rachel tak menginginkannya. Disamping ia ingin kakaknya pulang selamat, ia hanya ingin dibawakan buku-buku dari berbagai dunia. Begitulah caranya melihat dunia. Buku jendela dunia yang artinya Rachel melihat dunia lewat jendela.
Ia memang suka membaca, tapi ia bukanlah seorang kutu buku yang duduk di pojok sendirian. Alasan mereka tak mau berteman dengannya adalah kata-katanya yang ceplas-ceplos. Kadang ia berkomentar terlalu jujur dan mengena serta ditempat yang tak seharusnya, juga terlalu pandai. Percayalah, cowok-cowok tak suka jika cewek mereka terlalu pandai. Coba saja minta dia menjadi pacarmu, dia akan menilai dari rapormu lalu sudah bisa ditebak jawabanya adalah 9,8 Kg/s2. Aduh, mikir dong! Masak aku terus yang harus memaparkan maksudnya.
Apa yang membuatnya tidak disukai oleh orang lain malah membuat Anna menyukainya. Terutama saat ujian. Anehnya, di sekolah Rachel bukan peringkat pertama, tapi selalu peringkat ke-8. Saat ditanya, ia menjawab dengan entengnya, “Aku suka angka 8.”
Nomor handphonenya berakhiran 8888, kaosnya bertuliskan 8 dan jumlahnya 8 buah, nomor kamarnya 35. Pasti kalian menebak 8. Yah, mau bagaimana lagi, nomor 8 sudah diisi orang lain dan orang itu tak mau pindah. Lagipula, nomor 35 di depan 34 yang diisi sahabatnya, Anna.
“Yuk, lets go!” Rachel keluar dari kamar dan menggandeng lengan Anna menuju bus yang akan membawa mereka ke gedung Graha, tempat dimana pesta dansa dilaksanakan. Rachel memakai gaun warna hitam yang membuat kulitnya tampak semakin putih. Sepatu highheels nya sama persis dengan punya Anna. Hanya lain warna. Tentu saja, bertali membentuk angka 8 di punggung kakinya.
Setelah Pak Prabu, guru pembimbing di sekolah Or bergabung, akhirnya bus berangkat juga. Lima belas menit kemudian mereka sampai di kawasan elite bangsawan.
Anna terpesona dengan rumah yang berjejer indah nan mewah di sepanjang jalan kawasan elite. Jarak antara satu rumah ke rumah lain lumayan jauh karena besarnya halaman rumah mereka. Dari pintu gerbang hingga ke gedung graha, hanya terdapat tiga rumah bangsawan karena saking luasnya. Satu rumah bergaya eropa, satu lagi bergaya modern dan satu lagi lebih seperti joglo klasik, dan semuanya elok. Tapi tak ada yang berani mencuri disana padahal sangat menjanjikan. Anna melirik temannya, Rachel, yang sama-sama melongo menatap keluar jendela. Hanya saja Rachel sedikit ngiler.
__ADS_1
***