
Seandainya waktu bisa diulang (bahkan pengendali waktu tak bisa mengulang waktu), Yashna tak akan membiarkan Anna pergi meninggalkan atap saat itu. Biarlah mereka cakar-cakaran sampai Nico kembali. Tapi semua sudah terjadi dan mau tak mau dia ikut bertanggung jawab atas perginya Anna ke dunia mistis.
“Kok bisa, Anna sampai ikut masuk portal? Dia bahkan tak ikut bimbingan kan?” Tanya Nico kepada Yashna. Yashna mau tak mau harus menjelaskan padanya.
Yashna sudah menganggap Leo seperti saudaranya karena Ayah Leo, Pak Baxter adalah penjaga sekaligus pengasuhnya. Saat Pak Umbara, ayah Yashna sibuk dengan urusan dewan, Pak Baxter lah yang menemaninya bermain. Dan biasanya, ia mengajak serta Leo bersamanya. Kini Leo menyebabkan pacar Nico, temannya yang adalah salah satu anak dewan tertinggi dalam bahaya. Ia tak mau membahayakan satu nyawa lagi.
Awalnya ia ingin menceritakan apa yang terjadi pada Anna kepada Nico, tanpa harus menyebut-nyebut Leo, namun ia tak bisa melakukannya. Nico akan tahu kalau Yashna menyembunyikan sesuatu, bahkan berbohong padanya. Ia memang tak pandai mengarang. Dan mengarang pada Nico malah membuat semuanya semakin rumit.
Yashna menceritakan apa yang telah Leo ceritakan padanya. Dengan hati-hati, Yashna mencoba meminimalisir kesalahan Leo, membuat Nico memahami sudut pandang Leo sebagai remaja dan hormonya.
“Inilah gunanya kursi itu diberi nama.” Nico mengehentakkan kakinya kesal, menaruh tangan satu dipinggang lalu meninju udara dengan kesal.
BLARR...BRUUKK... PRANG..., aula elite kacau balau.
Yashna memijat keningnya. Ia lalu duduk di kursi sebelahnya yang setengah hancur. Untungnya tak ada orang di sana selain mereka berdua. Semua guru sibuk mengantar murid-muridnya masuk ke dalam bus untuk pulang dari pesta dansa.
“Trus, kita harus bagaimana?” kata Yashna setelah Aula tenang. Ia khawatir satu kursi nyasar ke kepalanya.
“Ya lapor pada Dewan,” kata Nico.
“Jangan dong! Bisa habis Leo.” Yashna mencegah ide Nico.
“Trus, Anna gimana?” Nico memandang marah temannya itu.
“Kita cari jalan lain. Please, Nic. Ayo selamatkan mereka berdua.” Yashna merengek pada Nico sehingga membuatnya tak tega.
“Bagaiman caranya? Aku bahkan tak bisa masuk ke dalam portal.”
“Ayo kita ke rumah sakit jiwa?” kata Yashna yang tiba-tiba mendapat ide. Ide yang luar biasa menurutku.
“Kau gila?” Nico memandang kawannya yang malah cengar-cengir sendiri.
“Bukan! maksudku, kita kesana bertemu Clare, orang yang keluar dari dunia paralel tahun lalu. Kita bisa tanya dia, bagaimana dia bisa keluar. Lalu selamatkan Anna. Siapa tahu dia juga tahu rahasia masuk dunia paralel selain lewat portal,” jelas Yashna sambil cengar-cengir.
“Baiklah, ayo!” Nico buru-buru pergi. Yashna segera menyusul. Dalam hati sebenarnya ia ingin bilang, anu, Nic, apa tak sebaiknya kita perbaiki dulu aulanya. Dan ngomong-ngomong ini hampir jam dua belas malam, Clare pasti sudah tidur. Tapi ia terlalu takut untuk bersuara. Nico ganas saat ini. Senggol dikit, kelar hidupnya.
Mereka pergi ke rumah sakit jiwa satu-satunya di kota itu dengan mobil yang dikendarai oleh Yashna. Walaupun Yashna baru lulus ujian Sim A satu bulan yang lalu, ia bisa mengendarai mobilnya dengan mulus. Mereka sampai ke rumah sakit 20 menit kemudian.
Rumah sakit itu tampak bersih dan tenang. Tak ada yang lalu lalang, karena ini sudah malam. Hanya ada beberapa penjaga yang patroli di depan gerbang dan dua orang yang berdiri dibelakang meja informasi.
“Selamat malam, bisa saya bantu Tuan?” sapa seorang suster berseragam putih dengan rambut digelung.
“Selamat malam, Kami ingin bertemu dengan Clare Prajamukti,”kata Nico mendekati meja informasi.
“Jam besuk sudah usai tuan, mohon kembalilah besok pagi!” terang suster itu.
“Bisakah kami bertemu sekarang? Ini sangat mendesak,” pinta Nico tapi ditolak oleh Suster itu.
“Kalaupun saya mengijinkan, itu tetap tak bisa karena ini sudah malam dan Tuan Prajamukti sudah tidur. Kami tak bisa mengambil resiko membangunkannya. Jadi mohon kembalilah besok pagi!” kata suster menegaskan.
Nico tahu betul ia tak boleh memaksa suster itu membangunkan Clare. Dia bisa mengamuk dan Nico tak dapat informasi apa-apa pada orang yang sedang mengamuk. Bayangkan kau sedang enak-enak tidur lalu ada yang membangunkanmu dan bertanya, dimana toiletnya? Niscaya kau tak akan suka, kecuali kau kebelet juga. Jadi, mereka harus menunggu.
Mereka pergi kesebuah ruangan untuk menunggu. Diruang itu hanya terdapat kursi yang berjejer rapi dalam lima baris.
“Ayolah, kita pulang dulu dan kembali besok, ini sudah malam.” Yashna berharap temannya tak membacoknya tiba-tiba.
“Menurutmu Anna bisa menunggu? Bisakah ia bertahan? Tanpa perbekalan? Tanpa pengetahuan?” ucap Nico memandang Yashna, hatinya masih kesal. Yashna hanya diam saja. Dalam hatinya ia ingin berkata, tapi percuma juga di sini. Tapi ia sadar jika dia bersuara lagi, tamat riwayatnya.
Mau tak mau, ia ikut duduk di samping Nico. Bye, kasur empuk nan hangat.
Mereka menunggu malam berganti dalam diam.
“Maafkan aku!” ucap Nico tiba-tiba.
“Huh?” Yashna menengok kanan kiri, mencari sumber suara. Ia baru setengah tertidur, dan terbangun kaget karena suara Nico yang tiba-tiba itu.
“Aku bertingkah menyebalkan padamu, aku minta maaf, Yashna,” lanjut Nico tanpa memandang Yashna.
__ADS_1
“Oh, ah, ya gapapa. Aku paham kok!” syukurlah Nico kembali ke dirinya, Yashna aman, tak jadi perkedel di tangan Nico. Mungkin inilah yang namanya pengaruh cinta. Yashna mengenal Nico dari kecil. Mereka sahabat erat. Berbagi suka, duka, dan kekonyolan bersama. Sebenarnya Nico pribadi yang santai, menyenangkan, lagi ramah,dan tidak egois. Setelah kejadian hari ini, Yashna mengambil sebuah pelajaran yang sangat berharga, jangan pernah jatuh cinta, kau bisa menjadi menyebalkan karenanya. Yashna memang panarik kesimpulan yang hebat. Apa aku bilang hebat? Maksudku payah.
Yashna memandang Nico. Dia tak menemukan kata penghiburan yang tepat. Dia hanya menepukkan tanggannya ke bahu Nico. Ia hampir lupa kalau salahnya juga Anna masuk ke portal. Seandainya ia membiarkannya perang dengan Hera, paling banter Anna hanya akan menderita cakaran, rambut rontok, dan sedikit hilang ingatan. Tapi tunggu, Ia yakin Hera melancarkan kekuatan manipulasinya pada Anna, tapi anehnya Anna bahkan tak terpengaruh sama sekali. Sungguh aneh. Kalau dipikir-pikir, semua aneh hari ini. Bahkan ia merasa aneh dengan kakinya saat ini. Ia menengok kakinya. Ajaib, kakinya memakai sepatu yang berlainan. Masih mending kalau hanya berlainan warna. Nah, ini kaki kiri sepatu, kaki kanan sandal. Pantas saja tak ada yang mau berdansa dengannya tadi. Kasihan sekali dia.
“Eh Nic, aku pergi ke toko 24 jam dulu ya,” katanya kemudian pada Nico. Toko 24 jam adalah toko yang buka selama 24 jam alias tak pernah tutup apapun yang terjadi. Meski perang sekalipun, toko tetap buka, padahal orangnya pergi berlindung.
“Oh, pulang saja sana! Aku tak apa sendiri,” saut Nico masih merasa bersalah.
“Nggak! Aku mau menemani kamu kok. Lagipula kalau pulang sekarang, ayahku takkan membukakan pintu.”
“Kamu yakin?”
“Hu-uh, tapi aku ke toko dulu mo beli...” Yashna menunduk, memperlihatkan alas kakinya yang berlainan. Nico sebenarnya mau ketawa, tapi kok ya tidak pas pada waktunya. Masak habis ganas trus ngakak. Kan aneh! Jadi ia hanya berkata,“ Oh, sebenernya aku mau ngomong tadi, tapi ada Anna, aku ga enak, nanti kamu malu.”
Yashna pergi dengan merengut.
Nico tak sadar kalau dirinya tertidur. Ia bermimpi melihat Anna yang tengah tidur disebuah barak kecil di hutan, berselimut daun dan berbantal tas ransel. Sesuatu mendekat ke arahnya. Nico mencoba melihat lebih jelas. Monster ular berbadan manusia dengan membawa keranjang mendekat ke arah Anna. Nico mencoba berteriak membangunkan Anna dan menyuruhnya untuk lari. Namun suaranya tak keluar, mulutnya seperti terkunci. Monster itu semakin mendekat. Nico berteriak memanggil Anna, namun masih juga tak terdengar suaranya. Kini Monster itu berjarak 5 meter dari Anna. Nico berdiri diantara mereka. Ia berteriak mencegah monster itu bergerak lebih dekat dengan Anna.
“STOP!” Nico tersentak bangun dari tidurnya. Seorang perawat diam tak bergerak di depan Nico dengan tangannya yang masih terulur ingin menyentuhnya.
BLUG..
Yashna jatuh ke lantai karena kaget. Setelah pergi membeli sandal, ia kembali dan mendapati sahabatnya tertidur di kursi dengan posisi duduk. Sebagai sahabat yang perhatian, seharusnya dia membaringkan Nico pelan-pelan supaya tidurnya enak dan punggungnya tak sakit. Tapi malam itu ia hanya membiarkannya begitu saja karena masih kesal. Hasilnya, kini Yashna bangun dengan tubuh jatuh ke lantai dan kepalanya terbentur sudut kursi di depannya. Yes, karma dibayar lunas.
“Ya?” Ucap Nico kepada perawat yang kini tampak agak linglung.
“Jika anda ingin bertemu Tuan Prajamukti, Anda harus bertemu dokternya dulu, Tuan,” ucap perawat itu kembali fokus.
Mereka mengikuti perawat itu untuk menemui dokter yang menangani Clare. Mereka diantar ke sebuah kantor kecil nyaman dengan sebuah kursi besar empuk didepan meja dokter.
“Mohon tunggu sebentar!” Perawat itu keluar untuk memanggil dokter.
Seorang dokter dengan baju putih panjang masuk dan duduk di belakang meja. Ia menarik bolpoint, kertas, dan alat perekam.
”Selamat pagi,” ucapnya seraya menatap kedua laki-laki didepannya. Tubuhnya sama gempalnya dengan anaknya. Wajahnya kebapakan dengan senyum ramah. Kacamata bundar bertengger dihidungnya yang bengkok. Rambutnya putih pendek.
“Pak Charlie!” pekik Nico dan Yashna bersamaan.
“Selamat pagi, Nak Brawijaya dan Nak Umbara, hari yang indah untuk pemeriksaan,bukan?”
“Apa kau sulit tidur, atau sering bermimpi buruk?” tebak Dokter Charlie.
“Tidak!”sanggah Nico dan Yashna bersamaan.
“Kami ingin bertemu Clare, tapi perawat itu menyuruh kami menemui dokternya dahulu,” jelas Nico.
“Ya, aku dokternya,” kata Pak Charlie ringan.
“Oh, ku kira Bu Kendra,” kata Yashna.
“Dia untuk luka yang bisa dilihat. Sedang aku untuk luka yang sakitnya tuh di sini.” Dr. Charlie menunjuk dadanya.
“Oh, begitu. Jadi, tujuan kami ke sini untuk...”
“Clare sedang tak sehat hari ini. Aku harus menambah dosis ramuannya untuk menenangkannya. Kurasa tak baik menemuinya saat ini,” potong Dr. Charlie.
“Tapi kami harus menemuinya. Ini mendesak.”
“Dia bisa ngamuk hanya kau mengatakan ‘mistis’,” terang Dr. Charlie.
“Lah, kok tahu?” Nico heran.
“Oh, aku hanya menebak,“ kata Dr. Charlie. “Aku bertemu Leo dipesta, dia menceritakan segalanya padaku. Dia sangat depresi. Lalu pagi ini aku melihatmu di sini, ingin menemui Clare. Jadi bisa disimpulkan kalau kau akan menanyakan cara untuk masuk ke dunia mistis. Sayangnya, Clare sedang payah untuk diajak ngobrol sekarang.”
“Tapi, Anda tak akan bilang anggota dewan lainnya kan?” Tanya Yashna khawatir.
“Sepertinya tidak. Untuk sementara, aku simpan saja sendiri. Jadi..”
“Jadi hilanglah sudah, semua harapanku.” Nico merana.
“Harapan untuk bertemu Clare saat ini, Ya. tapi tidak untuk tahu cara masuk dari dunia mistis.”
“Jadi siapa yang dapat memberi tahu kami?” tanya Nico kembali bersemangat.
“Aku.” Dr. Charlie nyengir.
__ADS_1
Nico dan Yashna saling berpandangan tak percaya. Mereka akan senang mendengar salah satu Ksatria terkuat, atau Ahli senjata, atau siapa saja yang tahu cara bertarung daripada ahli ramuan yang setiap hari dihabiskan dalam ruangan untuk menciptakan ramuan ajaib dan mengobati penyakit galau merana, serta berurusan dengan pemuda patah hati,memberitahu cara masuk ke dunia monster.
“Oh, Ayolah!” Dr. Charlie merajuk.
“Apa ada ramuan untuk menembus kabut?” tanya Yashna ragu.
“Apa? Bukan, tapi itu ide yang brilliant. Aku harus menciptakannya lain waktu.”
“Jadi?” timpal Nico tak sabar.
“Bukan ramuan sih, tapi lebih ke bola.”
“Bola? Bola untuk menembus kabut?”
“Bola ajaib. Dulu ada seorang manusia yang pergi ke dunia paralel. Oh, itu dongeng terkenal di kelansa. Masak kalian tak tahu?” Kini giliran Dr. Charlie yang merana.
“Maksudmu bola kabut? Tapi seperti kata Anda tadi, itu cuma dongeng,” kata Nico
“Oh, bukan Anak-anak. Itu bukan dongeng biasa, dan Aku tahu di mana benda itu berada.”
“Tunggu! Apa cuma aku yang ga ngerti kemana arah percakapan kita?” Tanya Yashna polos yang mendapat tatapan sebal dari Nico.
“Makanya, kalau di sekolah jangan molor trus,” hardik Nico yang mendapat cengiran Yashna.
“Pantas saja Pak Umbara selalu minta obat sakit kepala padaku.” Dr. Charlie menatap Yashna seolah ia adalah anak kecil yang suka memecahkan vas bunga sekedar untuk meramaikan suasana.
“Kalian tahu kan dongeng ‘Kabut Cinta'?” jelas Dr. Charlie. “Dulu, ada seorang manusia yang mampu menembus kabut. Ia seorang wanita yang cantik, namun buta. Sang Kabut kagum padanya, hingga membuatnya jatuh cinta. Diam-diam Sang Kabut selalu membantunya. Singkat cerita, suatu saat Sang wanita meminta Sang Kabut menyerahkan satu matanya, sehingga Sang wanita bisa melihat wajah tampan Sang Kabut. Saat itu belum ada transplantasi mata. Jadi, Sang Kabut tak menyanggupinya, ditambah karena matanya bukanlah mata biasa.
Namanya wanita, pasti ngeyelnya minta ampun. Jadi, dia terus merayu Sang Kabut. Sampai akhirnya Sang Kabut menyerah, dan memberikan satu matanya pada wanita itu. Sang Kabut sudah memperingatkan bahwa mata yang ia berikan tak bisa dikembalikan, tapi Wanita itu tak peduli,ia ingin melihat dunia. Seharusnya dia mendengarkan Kabut. Awalnya memang senang bahwa ia bisa melihat, tapi lama-kelamaan wanita itu mulai melihat hal-hal di dunia mistis.
Makhluk-makhluk keji mulai menakutinya hingga ia ingin Sang Kabut mengambil kembali matanya. Tapi tak mungkin, karena mata yang sudah dia berikan tak bisa diambil kembali dan akhirnya wanita itu tak kuat melihat kengerian yang dilihatnya. Ia bunuh diri dan Sang Kabut sangat sedih. Ia mengubah wanita itu menjadi bola kabut yang dapat menuntun melewati kabut, melewati pegunungan Awindya.”
“Hikmah dari kisah ini adalah, jangan pernah jatuh cinta,” kesimpulan Yashna setelah mendengar kisah kabut cinta.
“Bukan, tapi bersyukurlah,” timpal Dr. Charlie.
“Enggak dong, Sang Kabut kalo ga jatuh cinta, ga bakal ngasih matanya, ga akan gila, dan ga akan bunuh diri,” elak Yashna.
“Tapi kalau seandainya Sang wanita bisa lebih bersyukur, mereka bisa hidup bahagia.” Dr. Charlie tak mau kalah.
“Guys, bisa ga ngomongin hikmahnya lain kali? Lagipula Si Hikmah lagi ga di sini sekarang.” Dan semua menoleh pada Nico. Karena sudah mendapat semua perhatian, ia lalu berkata,” Jadi, bagaimaana caranya aku bisa masuk ke dunia Monster?”
“Temui Sang Kabut dan mintalah bolanya, jelas kan,” kata Dr. Charlie kemudian.
“Sang kabut? Itu bukannya dongeng yang udah berpuluh-puluh generasi? Mungkin sekarang Kabut sudah meninggal, itu pun kalo ada yang namanya Kabut. Apa dia nikah lagi trus punya waris?” cerocos Nico.
“Sang Kabut itu nyata, dan dia untungnya belum mati.”
“Tapi kan dongengnya udah berabad-abad lalu,” kata Nico.
“Memang, tapi Kabut abadi. Selama belum kiamat. Dia masih tetap ada,” jelas Dr. Charlie yang membuat Nico dan Yashna menganga tak percaya.
“Aduh, kasihan deh namanya Kabut, jelek betul.” Yashna berkomentar.
“Hush, Dia orang tua. Kuwalat kamu nanti dan jangan bilang dia jelek meski itu benar. Dia tak suka,” Dr. Charlie memperingatkan. “ Dia suka dibilang tampan, ingat itu.”
“ Tapi, kok kita ga pernah tahu,” Timpal Nico.
“Tentu saja tidak, Kabut tak mau diganggu. Mungkin dia masih meratapi kekasihnya. Bayangkan seandainya kau sedang menangis tersedu-sedu setelah kehilangan pacarmu, lagi asyik-asyiknya menagis lalu disela, 'permisi, bisa tolong kasih kabut di sebelah sini sebentar', atau 'sebelah sana kabut mulai tipis, tolong tiup lagi’, atau ‘apa kau bisa geser sedikit'. Percayalah, rasanya ga asik.” Dr. Charlie mengibaskan satu tangannya acuh.
“Sekian abad? Meratap?” Tanya Yashna yang mendapat anggukan dari Dr.Charlie. “Oke fix, aku tak akan jatuh cinta.”
“Dimana Kabut berada?” Tanya Nico.
“Di pantai utara, dia harus menjaga kabut tetap menyelimuti pulau.”
“Kabut menjaga kabut. Aneh sekali,” gumam Yashna.
“Kalau begitu, kami akan segera ke sana. Trimakasih Dr. Charlie,” pamit Nico yang secepat kilat melesat keluar dari kantor Dr. Charlie.
\=\=\=
Kalau ada yang namanya pembalap di kota Kelansa, itu pasti bukan Yashna Umbara. Laju mobilnya tidak lebih dari 40 km/jam. Sangat taat pada rambu lalu lintas. Bahkan ia berhenti saat ada bebek lewat menyebrang. Benar-benar pengemudi idaman. Tapi dia lupa sedang bersama pengendali elemen saat ini. Dan Sang Pengandali kebelet sampai tujuan dengan cepat. Alhasil, mobil Yashna bergerak sendiri dengan kecepatan kilat sambil melenggak-lenggok layaknya penari di jalanan kota.
Setelah sampai tujuan, hal pertama yang dilakukan Yashna adalah keluar dari mobil dan mengeluarkan mie instan yang telah dimakannya di toko 24 jam tadi malam. Salah satu hikmah yang dipetik dari kisah Yashna ialah, karma selalu dibayar lunas. Kenapa? Karena sebagai teman yang baik, dia harusnya berbagi mie instan bersama temannya, namun lagi-lagi dia memakannya sendiri, dan sekarang dia dipaksa mengeluarkannya.
__ADS_1
****