
Ana: “Aaaaaaaaa” (Ana menjerit ketika Ia melihat empat lelaki itu berlari untuk mengeroyok Ana. Ia meninggalkan Dian dan berlari ke mobil mereka yang cukup jauh)
Dian: “Jangan lari An, jangan kabur lu. Abis kenak lo” (ucap Dian yang ikut lari mengejar Ana)
Ana: “Uda-uda gays, capek. Uda makin gelap, anterin gue pulang dong. Ntar dicariin bibi” (pinta Ana yang ngosngosan ketika teman-temannya hampir mendapatkannya)
Raja: “Ah ngeles lo, pinter banget ngelak. Haaaahh, huuhh, capek. Yauda yuk, cabut. Ntar sekampung nyariin Ana lagi” (ajak Raja yang posisinya sedang rukuk untuk mengatur nafas)
Yang lain pun setuju dengan ajakan Raja, mereka berenam beranjak ke mobil dengan saling merangkuh pundak, dan merekapun pergi. Ketika sudah sampai kerumah Ana, kelima lelaki itu berpamitan untuk melanjutkan perjalanan pulang.
Ana: “Daaa, hati-hati lo semua. Ja yang bener nyetirnya” (teriak Ana sambil melambaikan tangan) “Hmmm, terimaksih Tuhan, terimakasih Raja, terimakasih semesta” (batin Ana sambil tersenyum memandangi langit. Setelah itu Ana masuk kerumah membersihkan diri dan istirahat).
__ADS_1
****
Hari-hari berlalu, Ana melewati semuanya dengan bahagia dan senyuman. Kebaikan Raja membuat Ana terus bergantung padanya. Bukan hanya di sekolah, diluar rumahpun Ana sering menghabiskan waktu berdua dengan Raja, menikmati keramaian kota di malam hari, mencari jajanan, bermain di danau, mengerjakan tugas bersama, nonton bioskop, belanja, dan masih banyak lagi.
Hal tersebut menimbulkan rasa saling suka yang sama-sama mereka pendam. Hingga pada suatu hari....
Putri: “Eh mayat, lo gak usah kecentilan gitu deh. Ngapain lo dekat-dekat Raja? Lo gak pantas dekat cowo ganteng kaya dia. Lo cocoknya dekat-dekat sama tembok”
Vika: “Ehehh, si babu nurut hahah”
Putri: “Lo jauh-jauh deh dari Raja, Raja mau dekat sama lo karna kasian, iya murni kasian, lo kan tau sendiri Raja orangnya baik. Sadar diri kek, kalo gue saranin mending lo bunuh diri aja”
__ADS_1
Ayya: “Hidup lu ngenes banget siii, pucat, jadi bahan bully. Gue akuin si muka lo cantik, tapi kalau gak albino hahah. Alis putih, rambut putih, bulu mata juga putih, bibir putih, sumpah ya ga ada menarik-menariknya gitu. Ibu lo dulu gimana sih? Pucat juga? Atau pas hamil lo, ibu lo kebanyakan makan tepung, iya? Atau jangan-jangan ga sengaja keminum tip-ex? Ketelen bedak? Hahah nggak-nggak aja deh lo sekeluarga”
Ana: “Diam lo! Lo boleh bully gue, hina gue sepuas yang lo mau. Tapi jangan keluarga gue!!! Jaga mulut lo!!!” (bentak Ana sambil mendorong Ayya)
Ayya: “Lo berani bentak gue? Dasar anak setan!!” (balas Ayya sambil menampar Ana)
Vika: “Lo kena sinar matahari dikit aja uda kaya kepiting rebus, lo itu lemah, jadi jangan sok-sokan ngebantah kita!” (ucapnya sambil menjambak Ana)
Mereka terus membully Ana, bahkan Eky mendorong Ana hingga jatuh dan sikunya berdarah. Pembullyan itu disakisikan oleh banyak murid tapi tidak ada satupun yang menolong.
Ana hanya menangis dan menerima perlakukan mereka, Ia teringat kejadian yang dialaminya di Surabaya. Reno yang melihat kejadian itu langsung lari ke kelas untuk memberitaukannya pada Raja.
__ADS_1