RAJA DAN SENJANA

RAJA DAN SENJANA
EPISODE 3


__ADS_3

(jawab Kiara yang sama sekali tidak melihat wajah Ana).


Ana: “Tapi kenapa? Gue ada salah ya sama lo? Gue minta maaf, tapi...” (ucapan Ana terhenti karena Kiara memotongnya)


Kiara: “Iiiiihhh, uda deh An, gak usah lebay. Gue males bicara sama lo, bosen tau nggak!” (jawab Kiara ketus dan berlalu meninggalkan Ana)


Ana terdiam dan membiarkan Kiara pergi, ini bukan pertama kalinya Kiara membentak Ana setelah masuk sekolah. Ana berniat untuk menemui Kiara lagi besok pagi di sekolah. Ana pun berjalan menuju kelasnya yang bersebelahan dengan kelas Kiara, akan tetapi dia dicegat oleh beberapa murid dan membully Ana.


Kerin: “Eh ada si albino, buka dong jaketnya, upss” (ledek Kerin sambil membuka paksa topi jaket Ana tiba-tiba sehingga rambut putih Ana yang tergerai jadi terlihat).


Tasya: “Haaah, ya ampun lo putih banget ya. Umur lo berapa si? Kok udah ubanan aja, eh biasanya nenek-nenek yang putih rambutnya doang gak sih? Tapi lo bisa putih sampai alis sama bulu matanya, lo kenapa? Lo ketumpahan bedak? Hahahahh”

__ADS_1


Kerin: “Gimana kalau kita tambahin bedaknya gayss, biar makin putih, setuju gak?


Semua murid disana bersorak setuju. Ana hanya pasrah dan menunduk, air matanya mulai jatuh satu persatu, tetapi dia tak punya kekuatan untuk melawan anak-anak itu seorang diri.


Kerin: “May, ambilin dong bingkisan yang uda kita siapin untuk si mayat ini”


Maya: “Siaaap, nih tepung terigu untuk Ana yang cantik, buruan deh dandanin hahahah” (kata Maya sembari meberikan sebungkus tepung kepada Kerin)


Adrian: “Lah An, jaket, tas, sama seragam lo jadi ikutan albino juga? Hahah, albino lo nular ya?”


Semua murid yang menonton aksi bully itu semakin tertawa, tidak ada satupun di antara mereka yang menolong Ana. Ana menutup wajah dan mengusap air mata, Ia mengangkat kepalanya dan melihat murid-murid disana dengan mata memerah. Jauh di depannya terlihat Kiara yang ikut tertawa.

__ADS_1


Kerin: “Eh albino kok nangis? Nih, tepung sekilo lagi. Mana tau muka lo agak iteman jadi bisa di dempul pake ini” (ledek Kerin sambil menyampakkan sisa tepung ke kaki Ana).


Maya: “Oiya gays, kalian bisa request hadiah untuk Ana ke kita ya, bisa telur busuk, saos tomat, atau air cucian piring, ntar kita bawain deh. Eh Rin, yuk ke kelas, ntar telat lagi” (Maya yang tak ingin kalah, Ia juga mengumumkan aksi perundungan berikutnya kepada siswa-siswi lain. Setelahnya mereka semua bubar dan hanya Ana yang tinggal disana).


Ana menangis, Ia merasa semakin tertekan. Ia menjambaki rambutnya sendiri, lalu berlari ke toilet. Disana Ana membersihkan seragam dan semua yang Ia kenakan, Ia mebersihkan rambutnya juga mencuci wajah, setelah itu Ia melihat tampilan dirinya di cermin.


Menangis sesenggukan menatap wajah dan nasibnya yang buruk. Karena lama membersihkan diri, Ana jadi terlambat masuk ke kelas tetapi iya tetap mengikuti pelajaran. Beberapa jam kemudian, bel pulang sekolah berbunyi, akhirnya Ana dapat menghabiskan hari ini dengan kepedihan, melewati pelajaran di kelas dengan pikiran yang bercabang.


Seperti biasa Ana menunggu semua murid pulang terlebih dahulu, dan ketika sekolah sudah sunyi barulah Ia beranjak dari kursi kelasnya.


***

__ADS_1


__ADS_2