
Pasrah dengan semua masalah ini, Franklin mengiyakan kemauan anaknya itu.
"Bagus gadis kecil, pilihan mu sangat tepat"
menggoda Delbert.
"Antar anak mu ke ujung kota, jangan lupa beri salam perpisahan karna kau tidak akan bisa bertemu dengan anak mu lagi" ujar Delbert merencanakan sesuatu.
"Apa maksudmu ? kenapa aku tak bisa menemuinya ?" Franklin takut anaknya di buat aneh aneh oleh Delbert.
"Kenapa ? Hahaha.. lucu sekali, aku ini sudah membeli anak mu dengan melunasi semua hutang mu. Jadi sekarang anak mu menjadi anak ku, sebagai Ayah aku tak ingin kau menemuinya" kata Delbert tanpa rasa kasihan.
"Hey gadis kecil, apakah kau sudah siap tak bertemu dengan ayah lama mu lagi ?" tanya Delbert.
"I.i..iya pak aku sudah siap" mau tak mau dia menerimanya karna takut dengan siksaan Delbert.
"Bagus bagus, sekarang pergi ke ujung kota bersama Ayah lama mu, karna hari ini menjadi perpisahan kalian berdua" ucap Delbert yang penuh gembira karna berhasil membeli anak Franklin. sekaligus menutup telpon dan mengakhiri pembicaraan.
"Maafkan Ayah nak, Ayah sudah gagal menjadi orang tua yang baik" kata Franklin sambil menahan air mata.
"Setelah bisnis Ayah yang gagal, hanya jam inilah harta terakhir Ayah, tolong simpan baik baik" Franklin menyerahkan jam tangannya itu.
"Baik yah, sebaiknya sekarang kita segera berangkat"
Anak Franklin menangis sejadi jadinya di perjalanan, mata yang lebam karna terlalu banyak mengeluarkan air mata, dan suara yang parau karna terlalu lama menangis. Sampai mereka di ujung kota, anak Franklin segera turun dan memeluk Ayahnya begitu erat, Ayah dan anak itu berpisah, untuk selamanya.
"Hey cepat naik ke mobil, Boss sudah menunggu mu" kata salah satu suruhan Delbert.
"B..ba.baik om" anak Franklin ketakutan dengan gertakan suruhan Delbert itu.
Di dalam mobil dia di goda oleh anak buah Delbert, merangkul anak Franklin sembari menggodanya.
"Bagus juga badan mu Hahaha... pantas saja boss mau beli"
__ADS_1
"Apakah kau tak ingin mencoba sesuatu yang menarik bersama ku?"
"Ayolah nona, sayang sekali jika aku tak pernah mencoba mu"
"To..tolong hentikan, aku mohon" anak Franklin ketakutan berusaha memberontak.
"Tenanglah tenanglah, aku tak akan melakukan apapun" panik anak buah Delbert, takut anak Franklin akan kabur.
"Tidak.." Teriak anak Franklin "Aku tak mau ikut!"
"Hey ! Diam ! sudah ku bilang aku tak akan melakukan apapun" gertak anak buah Delbert
"Duduk saja kita akan berangkat sekarang" gertakan oleh anak buah Delbert serta perlakuannya kepada gadis itu membuat dia trauma akan kejadian ini.
Setelah mobil suruhan Delbert berangkat, Franklin di culik oleh suruhannya yang lain.
Franklin yang sedang berkendara di tabrak oleh mobil, Franklin yang terjatuh tak sadarkan diri. Mobil yang menabraknya membawa Franklin ke suatu tempat. Mengikat Franklin di kursi, dengan menancap kan paku besar di setiap tangan Franklin, begitupun juga dengan kakinya. Franklin tak bisa bergerak karna paku paku itu, sadar bahwa Franklin sudah bangun mereka mulai menyayat mulut Franklin menggunakan silet, darah segar yang keluar di mulutnya di minum sendiri oleh Franklin, dia tak bisa membersihkan darah itu, mengingat tangannya yang di tancapkan paku membuat dia tak bisa berbuat apa apa. mereka lanjut menyiksanya dengan cara merobek telinga Franklin menggunakan tangan kosong. Franklin yang kesakitan berteriak sekeras kerasnya, menimbulkan suara yang berisik. Tak ingin siksaan ini di ketahui orang lain mereka menjahit mulut Franklin menggunakan kawat besi yang berkarat. Sesuai perintah Delbert mereka menyayat tubuh Franklin setiap 1 menitnya selama 2 jam, sayatan tiap sayatan begitu membosankan bagi anak buah Delbert, tiba tiba salah satu dari mereka menyongkel mata Franklin menggunakan gunting kuku, darah yang begitu banyak keluar membuat Franklin tak sadarkan diri. anak buah Delbert sudah bersiap untuk menembaknya.
"Tunggu dulu, jangan di tembak saat dia pingsan. Tunggu dia sadar baru kita tembak secara bersamaan" ucap salah satu dari mereka.
Anak Franklin yang telah sampai di tujuan bertemu dengan Delbert.
"Cepat sapa, dia itu Boss mu" ucap anak buah Delbert
"Hahaha.. sudahlah dia anak baru disini jangan terlalu keras" ucap Delbert, tak menyangka bahwa anak Franklin benar benar akan datang.
"Nona cantik siapa nama mu ?" tanya Delbert
"Na..nama ku Jessy pak" ucap anak Franklin.
"Oh Jessy cocok sekali dengan mu, marilah sini duduk di samping ku" Delbert menyuruh Jessy untuk menghibur nya.
"iya" kata Jessy dengan suara yang begitu pelan.
__ADS_1
Jessy duduk di pangkuan Delbert menggunakan jam tangan peninggalan Ayahnya, membuat Delbert salah fokus.
"Jessy bagus juga jam mu, dimana kau beli?" tanya Delbert penasaran.
"Oh ini pemberian Ayah ku sebelum kami berpisah" ~Jessy
"Woah Ayah mu memang pria yang romantis ya hahaha.." tawa Delbert.
"Kenapa dia bisa membeli jam seharga 80 Miliar ini?" tanya Delbert.
"Padahal jika tadi dia bayar 10 Miliar saja akan ku beri dia keringanan sedikit" ucap Delbert heran.
"Kalau dia mau menyicil sedikit demi sedikit tak mungkin aku akan membunuhnya" ucap Delbert.
"Apa maksud bapak dengan membunuh?" tanya Jessy bingung dengan maksud perkataan Delbert.
"Aku membunuh Ayahmu hahaha.." Delbert yang terlalu senang tak sengaja memberitahu Jessy tentang kematian Ayahnya.
"Ayah ku? ini tak mungkin ! " Jessy yang kaget dengan kabar ini berlari keluar ruangan Delbert.
"Woi tangkap dia jangan sampai lepas" teriak Delbert kepada anak buahnya. Jessy yang tak terlalu kuat dengan mudahnya di tangkap oleh anak buah Delbert.
"Ikat dia dan bawa ke gudang" ucap Delbert menyuruh anak buahnya.
Setelah di ikat Jessy di bawa ke gudang yang gelap.
"Buka baju mu, Cepat !" Gertak Delbert.
Jessy yang ketakuan tak bisa berbuat apa apa hanya diam membatu. Delbert yang kesal membuka baju Jessy dengan tangannya sendiri, Memperkosa Jessy dan melakukan hal yang tak senonoh lainnya. Jessy yang ketakutan dan shock dengan semua ini hanya diam tak berkutik, dengan nafsu yang sangat besar dengan badan seksi Jessy, Delbert terus memperkosanya sampai dia puas. Lalu meninggalkan Jessy sendirian di gudang. Memperkosa Jessy setiap hari membuat dia bosan dengan semua ini, lalu dia menyuruh anak buah nya untuk mencoba juga.
Mereka menggilir Jessy setiap hari, banyak sudah laki laki yang pernah berhubungan dengan Jessy, Delbert yang bosan menjadikan Jessy sebagai samsak tinjunya.
Tiap hari mendapatkan pukulan dari Delbert, cobaan dan siksaan selalu menghantuinya, di perkosa, di jadikan samsak tinju, dan di siksa persis seperti Ayahnya dulu. Siksaan setiap hari membuat Jessy menjadi gila.
__ADS_1
Menganggap Jessy sudah tak berguna Delbert langsung menembak kepala Jessy di gudang itu. Membuat semua keluarga Franklin tewas mengenaskan.