Raja kegelapan

Raja kegelapan
Part 1


__ADS_3

Angin membelai rambutku halus. Entah perasaanku saja atau memang begitu, tapi kadang aku seperti merasakan angin-angin tertawa lembut bersama pepohonan.


Aku memperhatikan sekeliling rumahku. Entah kenapa Ayah dan Ibu memilih membuat rumah yang letaknya lumayan jauh dari kota. Udaranya masih segar, dan dibelakang rumah terdapat hutan yang cukup lebat. Aku sendiri belum pernah masuk kedalam hutan itu tapi Ibu bilang didalam hutan itu banyak hal-hal yang tidak dipikirkan bisa terjadi, entah apa maksud ibu, tapi aku benar-benar tidak diizinkan menginjakkan kaki dihutan yang penuh dengan burung-burung dengan bulu yang indah.


"Queen, Mama sama Papa gak bisa pulang malam ini, kamu jaga diri baik-baik."


Send: Mama


Setelah membaca pesan singkat dari mama, aku hanya menghela napas pelan


Jam baru memunjukkan pukul 04:45pm yang artinya masih ada beberapa jam sebelum matahari benar-benar tenggelam lalu digantikan oleh Bulan.


Aku melangkahkan kaki kehalaman belakang rumah, burung-burung bernyanyi dengan merdu dari hutan belakang rumah.


Tuk..tuk..tuk..


Suara burung pelatuk yang tengah membuat lubang pada sebuah pohon besar dibelakang rumah memecah keheningan.


Burung itu benar-benar indah, berbeda dengan burung pelatuk yang biasa kulihat, paruhnya dua kali lebih panjang dari burung pelatuk lain, ukurannya juga lebih besar, dan bulunya berwarna kuning emas yang berpadu dengan warna biru cerah. Entah mataku yang salah atau... burung itu benar-benar bersinar!


Aku mengerjabkan mata berkali-kali untuk memastikan keberadaan burung itu.


"Queen."


Suara itu membuatku langsung membalikkan tubuh dan melihat seorang laki-laki yang tengah berdiri didepan pintu belakang rumah sambil melipat kedua tangannya didepan dada.


"Apa?." Tanyaku.


"Kamu ngapain disini?." Tanya laki-laki itu sambil melangkahkan kakinya kearahku.


"Tidak ada, aku hanya melihat burung pelatuk yang bersinar itu." jawabku langsung mengalihkan pandangan darinya dan kembali fokus pada pohon tempat burung pelatuk tadi berada.


"Burung pelatuk bersinar?." Tanyanya


"Tidak, aku hanya bercanda." ucap ku cepat sebelum dia meledekku karena hayalan ku tadi. Ya aku tau, aku pasti berhayal. Tidak mungkin ada seekor burung pelatuk yang bersinar bukan?


"Masuk kedalam rumah, hari sudah mulai gelap." perintah Alex kakakku.


"Baiklah." aku langsung berbalik mengikuti Alex yang sudah lebih dulu melangkah masuk kedalam rumah. Tanpa sengaja, aku melihat sekilas seseorang tengah berdiri diatas pohon besar tempat burung pelatuk tadi. Orang itu menggunakan baju serba hitam dengan topi besar yang menutupi sebagian wajahnya.


Karena penasaran, aku memperhatikan orang itu baik-baik, tapi sekejap saja, orang itu sudah hilang menjadi debu.


"Mungkin hanya perasaan ku saja." batinku langsung mengikuti Alex dari belakang dan mengunci pintu


๐Ÿ‘‘๐Ÿ‘‘๐Ÿ‘‘


Matahari kembali bersinar, membuat bayanganku yang masih berkelana didalam dunia fantasi hayalanku sendiri harus kembali.


Aku masuk kedalam kamar mandi mencuci muka, lalu kembali membersihkan kamarku.


Tok..tok..tok


Aku memghentikan aktivitas ku ketika seseorang mengetuk pintu kamar ku.


"Ada apa?." Tanya ku ketika membuka pintu kamar dan mendapati Alex tengah berdiri di depan kamar ku.


"Aku akan pergi bersama teman-teman ku untuk mengisi Weekend ini, apa kau mau ikut?." Tanya Alex menatapku lembut.


"Ikut bersamamu? Tidak, kupikir itu adalah ide yang buruk." tolakku halus.

__ADS_1


"Jadi apa yang akan kau lakukan untuk seharian ini?."


"Mungkin aku akan tidur sampai sore."


"Dasar tukang tidur." Alex mengacak rambutku gemas


"Baiklah kalau begitu, ingat pesan Mama dan Papa, 'jangan pernah masuk kedalam hutan dibelakang rumah."


"Iya.. aku akan selalu mengingat itu." aku tersenyum manis.. sangat manis. Senyum yang jarang aku perlihatkan kepada orang lain kecuali kepada kakak dan kedua orangtua ku tentunya.


"Aku pergi dulu." Alex kembali mengacak rambutku dan mencium dahiku cepat


"Bisa kah kau membantuku?." Tanyaku sebelum Alex benar-benar berbalik.


"Apa?." Alex kembali berbalik kearahku.


"Aku sedikit malas untuk menuruni tangga hari ini." ujarku pura-pura lemas.


"Dasar pemalas, lain kali aku akan membuatmu mengelilingi taman disamping danau."


"Jangan bercanda, kau sendiri tau betapa luasnya taman itu." ujarku seraya naik keatas belakang Alex yang kini tengah berdiri didepanku.


___


Aku menghela napas bosan. Seharusnya tadi aku setuju untuk pergi bersama Alex. Kini tinggal aku sendiri dirumah ini, semua aktivitas rumah sudah aku lakukan, bahkan aku sudah tidur sebanyak dua kali siang ini. Hari masih petang, yang membuat semburat ungu bercampur warna orange terpancar dilangit dengan indah


Karena merasa bosan terus-terusan berada didalam rumah, akhirnya aku memutuskan untuk menikmati angin dibelakang rumah.


Aku turun kebawah dapur dengan menenteng sebuah Novel dengan judul "The Blood Ring" berniat untuk membuat segelas cokelat dingin. Setelah selesai, aku langsung melangkah ke Gazebo dibelakang rumah yang langsung berhadapan dengan hutan.


Aku membaca dalam diam menikmati alur Novel yang kini tengah kubaca.


Tuk ....tuk...tuk...tuk...


'Burung pelatuk yang bersinar.'


Aku mengerjabkan mataku berkali-kali untuk memastikan apa yang tengah dilihat mataku sekarang. Setalah mengerjabkan mataku berkali-kali, burung pelatuk itu masih berada dipohon yang sama. Itu artinya..


'Aku tidak berhalusinasi!.'


Buru-buru aku langsung turun dari Gazebo dan berlari keluar dari gerbang rumah tanpa menggunakan alas kaki.


Kakiku terus menuntunku kehutan tempat burung yang sangat indah itu berada, tanpa mengingat pesan kedua orang tua ku.


Setelah berlari cukup jauh, aku sudah sampai di depan pohon yang ditempati burung pelatuk itu, tapi sebelum benar-benar sampai, burung pelatuk itu sudah membentangkan sayapnya dan terbang.


Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengejar burung itu, tanpa kusadari.. kini aku sudah berada jauh ditengah hutan. Burung pelatuk itu sudah menghilang, dan matahari sudah kembali keperaduannya, kini sang bulang bersinar dengan gagah diatas langit.


Baiklah.. aku sudah tidak ingin memikirkan burung yang bersinar itu lagi, kini aku hanya berpikir 'Bagaimana caraku kembali ke rumah?'


Langit semakin kelam, bahkan bulan yang tadinya bersinar dengan gagah diatas langit kini bersembunyi dibalik lebatnya awan, menyisakan bintang-bintang kecil yang bertaburan dilangit.


Aku terus melangkah menyusuri jalan setapak yang ada dihutan ini, berharap jalan kecil ini bisa menuntunku kembali kerumah. Setelah ini aku benar-benar akan berjanji bahwa ini akan menjadi hari pertama dan hari terakhirku memasuki hutan lebat yang menyeramkan ini.


"Sial.. aku lupa membawa Handphone ku, bagaimana aku harus minta tolong?." Aku memaki kebodohan diriku sendiri yang tidak membawa Handphone.


"Akhh.." Aku meringis kesakitan ketika kakiku yang telanjang menginjak sesuatu yang tajam.


"Sial.." aku mengumpat ketika melihat bahwa yang tertancap di kakiku adalah sebuah jarum kecil berwarna emas.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, aku langsung membuang jarum itu kearah sembarang.


Aku kembali melangkah menyusuri hutan yang semakin gelap itu tanpa memperdulikan kakiku yang terasa perih.


'Aroma darahmu begitu menggoda.' Bulu kudukku meremang ketika mendengar suara yang lebih mirip bisikan.


Aku langsung berbalik menelusuri hutan dibelakangku tapi nihil, aku bahkan tidak bisa melihat apa-apa.


'Mungkin hanya halusinasi.' batinku berusaha menenagkan diri sendiri. Jujur aku sendiri sedikit takut. Ralat bukan sedikit, tapi sangat takut. Ingin rasanya aku menangis, tapi aku sadar menangis tidak akan membawaku pada jalan keluar, tapi akan menjeratku pada masalah yang baru.


'Jangan melangkah terlalu jauh.' lagi-lagi aku mendengar bisikan yang membuatku semakin ketakutan. Keringat dingin sudah membanjiri tubuhku.


'Siapa pun, tolong keluarkan aku dari hutan sialan ini.' Teriakku dalam hati.


Aku kembali melangkah, tapi langkahku terhenti ketika aku mendengar lolongan serigala yang terdengar begitu keras, sekaligus terasa begitu__ dekat.


Aku menoleh kebelakang ketika aku mendengar beberapa langkah kaki yang mendekat kearahku.


'Semoga Alex yang datang mencariku.' aku membatin penuh harap, tapi harapanku pupus setelah melihat segerombolan manusia dengan pakaian kuno datang dari arah yang berlawanan denganku.


Heii tapi mungkin mereka bisa membantuku keluar dari sini.


"Penyusup heh?." Aku tersentak kaget ketika laki-laki yang umurnya kira-kira berumur dua puluh tahun itu tersenyum sinis kearahku, tatapannya begitu tajam.


"Tangkap gadis itu." orang-orang yang ada dibelakangnya langsung bergerak, dan aku langsung lari. Ini bahaya!


Aku berlari tanpa arah,tanpa memperdulikan rasa sakit dikakiku yang semakin menjadi.


Aku melihat kebelakang, terlihat orang-orang itu masih mengejarku cepat dan makin dekat.


Jantungku berdetak makin cepat,keringat membanjiri tubuhku,napasku tersengal-sengal. Aku tidak tau masalah apa yang akan aku hadapi ketika tertangkap orang-orang itu.


Aku menoleh kekanan dan kekiri,mencari tempat yang tepat untuk bersembunyi.


Tidak ada tempat yang aman kecuali...


Tap..tap..tap.. langkah kaki orang-orang itu makin dekat, tidak ada pilihan lain kecuali menceburkan diri kedalam sungai besar yang terlihat tenang didepanku, yang menandakan bahwa sungai itu cukup dalam.


Tanpa berpikir lagi, aku langsung berlari dan melompat kebawah sungai itu tanpa tau bahaya lain yang tengah mengintai dari gelap.


Aku salah besar,ternya sungai ini sangat dalam dan gelap.


Aku kembali berenang keatas permukaan air dan sedikit mengintip. Orang-orang itu perlahan memjauh. Setelah orang-orang itu benar-benar menghilang dibalik gelap, aku berusaha berenang ketepian, tapi sialnya saat aku akan sampai dipinggir sungai, tiba-tiba sesuatu menarik kakiku dari dalam sungai.


"Sial! Hewan apa ini?.' Jeritku bertanya dalam hati ketika melihat sebuah ekor yang mirip dengan ular, tapi memiliki kepala seperti ikan Piranha, dengan ukuran yang sangat... sangat besar.


Aku langsung mencoba untuk kembali ketepi sungai tapi lagi-lagi ikan jelek itu menarikku dan melilit tubuhku sangat kuat.


Aku mulai kehabisan napas, kini ikan besar itu mendekatkan kepalanya kearahku dengan gigi tajamnya.


Aku ingin melawan, tapi tubuhku lemas seketika, perlahan semuanya menjadi buram. Aku hanya bisa melihat sebuah cahaya berwarna ungu yang sangat kecil menuju kearahku.


'Alex..' hanya nama itu yang muncul didalam pikiranku sebelum kegelapan menguasaiku.


______________________________________


Hallo gaesss..


This my frist story๐Ÿ˜

__ADS_1


Semoga kalian suka yaa (hasil halu๐Ÿ˜ด)..


Menurut kalian next or stop? Kalo ada kesalaahan tolong dikomen yaaa๐Ÿ˜Š


__ADS_2