Raja kegelapan

Raja kegelapan
Part 5


__ADS_3

"Cih.. kau adalah mateku, milikku, aku tidak akan membiarkan orang lain tertawa bersamamu, aku lebih suka melihat wajah datarmu dibanding wajah senangmu bersama orang lain," Ujar orang itu lalu menghilang bagai debu.


πŸ‘‘πŸ‘‘


Pagi ini Queen lebih bersemangat dari biasanya. Setidaknya Queen bisa bermain bersama para Peri dan mendengarkan cerita Lui. Soal kucing itu, kucing itu nengingkari janjinya, Lui tidak kelihatan lagi setelah pergi dari taman pagi itu. Menyebalkan!


Setelah bangun Queen langsung membersihkan diri. Kali ini Queen menggunakan baju dress semata kaki berwarna biru navi.


Tok.. tok.. tok.. pintu Queen diketuk.


"Ada apa?" Tanya Queen seraya membuka pintu


"Silahkan keruang makan nona, pangeran Ocean memanggil anda untuk sarapan bersama,"


"Sarapan bersama?" Queen menyeritkan dahi bingung, pasalnya sudah seminggu lebih Queen berada diistana ini baru kali ini Queen diajak sarapan bersama.


"Baiklah," Queen langsung keluar dari kamarnya dan menuju meja makan bersama Novita.


Setelah sampai diruang makan, tanpa satu katapun Queen langsung duduk dimeja paling ujung, depan pangeran Ocean tepatnya.


"Sopan sekali kau," singgung pangeran Ocean.


"Terimakasih," Queen terlihat cuek walau mengerti kesalahannya.


"Apa kau tidak bisa menghormatiku sebagai raja disini?" Pangeran Ocean bertanya dengan menatap tajam Queen tapi yang ditatap hanya diam sambil memakan sarapannya dengan tenang.


"Apa kau tuli MATE?" Pangeran Ocean bertanya dengan menekan kata 'mate'.


"Memghormatimu? Aku tidak pernah berpikir untuk menghormati orang yang telah memenjarakanku di istana ini,"


"Selamat pagi sayang," ucap seorang wanita yang baru saja memasuki ruang makan.


Wanita itu menggunakan baju dress sematakaki berwarna caramel dengan belahan yang memperlihatkan belahan dadanya dan rempel yang memperlihatkan paha mulusnya ketika berjalan.


"Hahh.. aku sangat lelah, permainan mu kemarin malam sungguh liar," ucap wanita itu sambil duduk dipangkuan pangeran Ocean dan membelai pipi pangeran Ocean lembut.


"Sekalian saja tidak usah pakai pakaian," guman Queen yang masih bisa didengar wanita yang duduk dipangkuan pangeran Ocean.


"Idemu tidak buruk juga tapi udara pagi membuatku kedinginan," ucap wanita itu memeluk pangeran Ocean.


"Kalau mau bermesraan jangan diruang makan, kalian bisa bermesraan dikamar kalian," Queen menegur mereke berdua tanpa mengalihkan pandangan dari makanan didepannya yang terlihat begitu menggiurkan.


"Siapa kau berani mengatur kami berdua?" Bee a.k.a wanita yang duduk dipangkuan pangeran Ocean bertanya dengan menatap tajam Queen.


"Ya.. bisa dibilang aku adalah tahanan disini," ujar Queen santai.


"Apa kau tau siapa kami?" Bee turun dari pangkuan pangeran Ocean lalu berjalan mendekati Queen.


"Ya.. laki-laki itu adalah orang yang telah menahanku disini dan kau adalah anjing pemuas nafsunya," Queen menunjuk mereka beegantian menggunakan garpu yang ada ditangannya.


Plak.. satu tamparan keras mendarat dipipi Queen.

__ADS_1


"Jaga ucapanmu," Bee menunjuk tepat dimuka Queen.


"Beberapa hari lagi, dia akan menjadi RAJA dan aku akan menjadi RATU," Bee menekan kata raja dan ratu.


"Apa peduliku," ucap Queen sambil makan tanpa memperdulikan perih yang menjalar dipipinya.


"Dasar manusia," Bee tersenyum evil lalu sedetik kemudian matanya berubah menjadi ungu.


"Kau hanya tahanan disini," lanjut Bee sambil mengarahkan tangannya kearah Queen.


Queen meronta-ronta kesakitan ketika lehernya dicekik sesuatu yang tidak kelitahan.


"Le..pas.." ucap Queen terbata-bata.


"Tidak sebelum kau MATI," Bee semakin menguatkan cekikannya pada Queen.


"Hentikan," ucap pangeran Ocean yang dari tadi hanya menonton dalam diam.


"Apa kau berusaha menghentikanku untuk membunuh manusia ini SAYANG?" Bee menekan kata sayang.


"Dia tahananku, kau tidak berhak menyakitinya atau menyentuhnya kecuali aku," ucap pangeran Ocean datar.


πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘


Siang ini Queen berencana pergi ketaman bermain bersama para peri sekaligus menemui Lui.


"Quenn!" Suara melengking itu menghentikan langkah Queen.


"Apa kah kau melihan seekor kucing berwarna abu-abu berkeliaran disini hari ini?" Tanya Queen kepada peri kecil yang kini tengah duduk manja dipundaknya.


"Apa maksudmu Lui sih kucing pemalas itu?" Queen hanya mengangguk.


"Tidak, mungkin kucing itu belum bangun," lanjut peri itu cuek.


"Kau tau dimana dia tidur?"


"Tidak ada yang tau dimana kucing itu tidur, kucing itu akan datang sendiri jika dia mau,"


"Berhenti memanggilku kucing peri kecil," ucap Lui yang tiba-tiba sudah berada diatas kayu tumbang sambil menjilati bulunya.


"Apa salahnya, kau memang kucing,"


"Berapa kali harus kukatakan, namaku Lui,"


"Namamu sangat jelek, aku lebih suka memanggilmu kucing," peri itu menjulurkan lidahnya kearah Lui.


"Lebih buruk kau yang tidak punya nama,"


"Aku punya nama, tapi namaku terlalu indah untuk kau ketahui,"


"Terserah saja," Lui menghela napas malas.

__ADS_1


"Queen, aku pulang dulu teman-temanku sudah menunggu," ucap peri itu sambil terbang cepat dan Queen hanya mengangguk.


Setelah peri itu pergi Queen duduk disamping Lui.


"Berapa umurmu sekarang?" Tanya Lui memecah keheningan.


"Enam belas," Jawab Queen singkat sambil menatap langit.


"Cepat atau lambat ramalan itu akan terjadi," guman Lui menatap langit sedangkan Queen menatap Lui.


"Ramalan apa?" Queen bertanya penasaran.


"Perang," jawab Lui singkat.


"Perang?"


"Hmm.. perang yang menentukan nasib dunia ini selanjutnya, perang yang akan membuat sang ratu dan sang raja saling membunuh," ucap Lui pelan.


"Sang raja dan sang ratu saling membunuh? Apa maksudnya?" Queen semakin penasaran.


"Perlahan waktu membawa pada takdir yang harus dihadapi," ucap Lui tidak menghiraukan pertanyaan Queen.


"Sebenarnya apa maksudmu?!"


"Tanyakan itu pada waktu,"


"Tidak bisakah kau menjawab pertanyaanku?"


"Tidak, karena aku tidak punya hak atas itu,"


"Lalu siapa yang berhak?"


"Moongodness," Ucap Lui.


"Ta.."


"Apa yang ingin kau tanyakan kemarin? Aku tidak punya banyak waktu disini aku mengantuk," Lui memotong ucapan Queen.


"Ahh.. hampir saja aku lupa," Queen menepuk dahinya


"Apa maksudmu mengatakan kehilangan membuatnya menjadi kejam?"


"Beratus tahun yang lalu, Argus sang putra tunggal kerajaan Iblis jatuh cinta kepada seorang putri tunggal dari kerajaan Malaikat yang bernama Aras, ternyata putri Aras juga merasakan hal yang sama tapi hubungan keduanya ditentang oleh kedua belapihak, baik itu dari kerajaan iblis dan kerajaan malaikat, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk lari secara diam-diam dari kerajaan masing-masing dan membuat kerajaan baru dengan orang-orang yang telah dibuang dari kelompoknya sebagai rakyatnya, dari hubungan mereka berdua, terlahir seorang putra yang sangat tampan, selain tampan, putranya itu juga memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh siapapun, putranya itu adalah pangeran Ocean sendiri. Tapi ternyata keputusan mereka berdua untuk lari secara diam-diam menimbulkan masalah baru. Kerajaan malaikat dan kerajaan iblis berperang karena kerajaan iblis berpikir keraan malaikat yang telah menyembunyikan putra mereka, ahli waris mereka. Ketika mengetahui hal itu, putri Aras dan Argus berencana menghentikan peperangan itu, tapi sayangnya putri Aras tewas dalam perang itu ketika berusaha menyelamatkan orangtuanya. Pangeran Argus benar-benar hancur ketika istrinya.. putri Aras meninggalkannya dan anaknya untuk selamanya. Setelah hari itu, tidak ada yang tau kemana pangeran Argus pergi, pangeran Argus seperti lenyap dari bumi, dan pada saat itu umur Ocean yang baru lima tahun dirawat dan dibesarkan seorang panglima kepercayaan pangeran Argus," Lui menghela napas seolah menahan sakit dihati mengingat kejadian itu.


Queen hanya diam mencerna cerita Lui.


___________


Yey... akhirnya Up jugaπŸŽ‰πŸ˜ͺ


Mohon krisannya😊

__ADS_1


__ADS_2