Raja kegelapan

Raja kegelapan
Part 10


__ADS_3

Eng.. pangeran Ocean mengerang.


"Pangeran sudah sadar!" Oliph berteriak senang yang membuat mata Philo, Val dan Vel langsung mengalihkan pandangannya kearah pangeran Ocean yang masih terbaring lemah dibawah tanah.


"Dimana aku?" Tanya pangeran Ocean seraya duduk.


"Kita masih berada dihutan halusinasi pangeran," jawab Vel cepat.


"Kita harus sampai sebelum bunga itu menghilang," pangeran Ocean langsung berdiri.


Sedangkan keempat anak anjing itu kembali bersatu menjadi seekor anjing.


"Naiklah," ucap Philo dan pangeran Ocean langsung naik, anjing itu kembali berlari dengan cepat membelah hutan halusinasi.


"Kita sudah sampai," ucap Vel setelah mereka berlari cukup lama.


Pangeran Ocean menatap pemandangan indah didepannya, hamparan rumput berwarna hijau yang tumbuh subur, air terjun berwarna emas dan dibawanya terdapat bunga teratai emas yang banyak, daunnya berwarna putih dan bunganya berwarna emas, banyak kupu-kupu beterbangan disana. Tapi.. apa ini? Kenapa bunga teratainya terlihat semakin menjauh?


"Apa yang pangeran pikirkan?!" Vel berteriak ketika bunga teeatai itu hilang satu-satu seperti ditelan bumi tanpa jejak.


"Bunganya menghilang!" Teriak Philo tak percaya.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Oliph bertanya bingung.


Di sisi lain.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Arthur bertanya dengan gusar kepada Albert.


"Menunggu, hanya itu yang bisa kita lakukan," jawab Albert lemah.


"Menunggu Queen meninggal, begitu maksudmu?" Arthur berteriak emosi menatap Albert yang terlihat begitu santai.


Kini tubuh Queen perlahan berwarna hitam, tinggal wajahnya yang tidak berubah warna.


"Kita tunggu sampai senja datang, jika pangeran Ocean tidak datang maka tidak ada yang bisa kita lakukan selain menyaksikan Queen pergi bersama senja," ucap Albert tertunduk takut.


"Arghh.." Arthur menendang pintu yang ada disampingnya.


๐Ÿ‘‘๐Ÿ‘‘๐Ÿ‘‘


'Gong.. gong.. Auuuuuuuuuu..' gonggongan anjing di hutan halusinasi itu terdengar sangat pilu dan memekakkan telinga, tidak ada yang tau sedalam dan sesakit apa hati mereka kecuali mereka sendiri


"Maafkan aku," pangeran Ocean berucap dengan nada rendah menatap satu bunga teratai emas yang mengambang dipinggir air emas itu.


"Seharusnya aku membiarkan wanita itu mati," lanjut pangeran Ocean yang tidak digubris oleh ketiga anak anjing disampingnya.


'Au.. au.. auuuuuuuuuu..' ketiga anak anjing itu melolong pilu menatap langit.


Setelah itu hening, tidak ada yang membuka suara, hanya riak air yang terdengar.


"Kita harus kembali," Val memecah keheningan setelah terdiam begitu lama dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti.


"Ta.."

__ADS_1


"Lakukan saja, Vel sudah berkorban dan rela menjadi bunga teratai demi menyelamatkan mate pangeran kenapa kita tidak?" Val memotong ucapan Philo sambil berdiri dengan tegak berusaha menyembunyikan semua luka dihati.


"Maaf.." pangeran Ocean berucap lirih.


"Untuk apa?" Val bertanya dengan air mata yang terus mengalir dari kedua matanya.


"Vel,"


"Tidak ada yang salah disini, ini adalah takdir," ucap Val cepat.


"Philo, Oliph, ambil tiga kelopak bunga terat.. ahh.. tidak maksudku ambil tiga kelopak bunga Vel itu," Val memerintan kedua saudaranya yang lain dan langsung dilakukan.


"Dasar ceroboh, bodoh," Val memaki Philo ketika Philo terpeleset dan hampir jatuh menimpa bunga itu.


"Kau tau.. kau hampir saja menyakiti saudara kita!" Val menaikkan suaranya satu oktav, sedangkan pangeran Ocean hanya diam menatap langit yang kini memperlihatkan semburat jingga.


"Maafkan aku," ucap Philo sedih


"Cukup Vel yang menjadi teratai, jangan lagi," Val menangis.


"Cukup dramanya, aku sudah mengambil kelopak bunga, kita harus segera pulang Vel sudah memutuskan untuk berkorban, jangan sampai pengorbanannya sia-sia karena kesedihan kita," ucap Oliph tegas.


"Kita tidak bisa terbang itu akan berbahaya, kita akan lebih mudah terpengaruh kabut halusinasi," Val, Philo dan Oliph bersatu kembali.


"Lalu apa yang akan kita lakukan? Matahari sebentar lagi tak terlihat, perasaanku tak enak soal itu," ucal Philo dingin.


"Teleportasi," ucap pangeran Ocean dingin.


"Tidak bisa, hutan halusinasi memiliki pelindung yang tidak bisa kita tembus dengan teleportasi,"


"Itu sangat berbahaya bahkan hanya bisa dilakukan makhluk tingkat atas, itu juga tak semua makhluk tingkat atas bisa, ada yang bisa tapi, setelah sampai orang itu akan meninggal karena akan terus berhalusinasi melihat orang-orang yang disayangi dibunuh, atau mereka dibunuh secara perlahan melalui mimpi," ucap Val


"Aku makhluk tingkat tinggi, menengah juga rendah," pangeran Ocean naik keatas pundak anjing itu lalu menutup matanya.


Zing ...


"Dimana ini?" Philo bertanya bingung karena mereka belum berada di istana saat ini, melainkan sebuah tempat yang hanya memperlihatkan air dimana-mana dan mereka berada di sebuah pulau.


'Uhuk.. uhuk..' pangeran Ocean terbatuk dan darah mengalir dari sudut bibirnya.


"Kita sudah melewati hutan halusinasi dan kita berada di kawasan netral, tidak ada yang menjadikan daerah ini kekuasaannya jadi ku kira ini lebih berbahaya karena musuh bebas berkeliaran disini," ucap Oliph santai.


"Ter..bang," ucap pangeran Ocean terbata-bata karena sakit yang luar biasa disekujur tubuhnya dan tubuhnya terasa sangat lemas.


"Kita bisa menggunakan elemen angin untuk membantu kita semakin cepat," ucap Philo.


"Ide yang bagus," puji Val sedangkan pangeran Ocean semakin melemas.


"Sepertinya kita kedatangan tamu," ucap Val.


"Vampir," ucap pangeran Ocean pelan


"Darah apa ini? Baunya begitu memabukkan dan.. kuat," ucap Vampir yang datang entah dari mana dengan senyum senangnya

__ADS_1


"Vampir tingkat bawah," pangeran Ocean tersenyum sinis walaupun badannya masih sakit.


"Apa itu darahmu? Ah.. tercium sampai keseberang pulau, kebetulan aku sedang lapar," sedetik kemudian Vampir itu sudah berada disamping pangeran Ocean bersiap meminum darah dari leher pangeran Ocean.


"Aku sedang sibuk jadi kau bisa pergi dari sini," pangeran Ocean menatap rendah Vampir tampan berkulit pucat itu, tentunya pangeran Ocean lebih tampan.


"Dan melepaskan buruanku?" Tanya Vampir itu melihat lapar kearah pangeran Ocean.


"Tatapanmu menjijikan, kau mau mencoba darahku Vampir?" Tanya pangeran Ocean kembali tersenyum evil, sedangkan Oliph, Philo, dan Val hanya bergidik ngeri memandang vampir bodoh yang berdiri didepan pangeran Ocean


'Kematian berada didepanmu bodoh," ucap Val dalam hati.


'Sret..' Pangeran Ocean melukai telapak tangannya sendiri menggunakan fosil hewan yang kebetulan berada dibawa kakinya.


"Minumlah, jika kau suka kau bisa memakanku nanti," ucap pangeran Ocean.


"Buruan yang baik," Vampir itu tersenyum senang sambil meminum darah pangeran Ocean.


'Arghh ... ' Vampir itu berteriak kesakitan setelah meminum darah pangeran Ocean.


"Apa enak?" Tanya pangeran Ocean santai.


"Si..si..apa ka..u?" Tanya Vampir itu terbata-bata karena tubuhnya terasa terbakar dan seluruh tubuhnya mulai meleleh seperti lilin yang dibakar.


"Apa kau tidak mengenalku humm?" Pangeran Ocean mendekatkan wajahnya kearah Vampir itu.


"Ocean Lucifer Gabriel, Gabriel kaum Ibuku, dan Lucifer kaum Ayahku," pangeran Ocean menatap Vampir itu dingin.


"Kau tidak akan hidup setelah meminum darahku, darahku beracun, siapapun yang meminumnya walau hanya setetes akan meninggal dalam hitungan menit," tepat setelah pangeran Ocean selesai mengatakan itu, tubuh Vampir itu sudah melele semuanya dan bersatu bersama air.


"Argh.." tiba-tiba pangeran Ocean mengerang kesakitan memegang dada sebelah kirinya.


"Qu..een," lirih pangeran Ocean sebelum jatuh ke pasir


"Segera pulang, sesuatu yang buruk akan terjadi," ucap Philo dingin dan pelan tapi tegas


Disisi lain.


Tubuh Queen sudah menjadi hitam semua, Arthur dan Albert hanya menatap cemas kearah Queen yang diam tak bergerak, bahkan napasnya terdengar sangat berat.


"Senja akan berlalu beberapa menit lagi, jika pangeran tidak datang maka nyonya Queen akan pergi bersama senja," ucap Albert.


'ARGH..' Albert dan Arthur yang dari tadi menatap kearah Queen terkejut ketika tubuh Queen kejang-kejang, keringat mengalir dari dahinya tapi suhu tubuhnya sangat dingin


'ARGH..' Queen kembali mengerang kesakitan.


Albert yang melihat itu langsung memeriksa keadaan Queen.


"Racun teratai hitam telah menyebar diseluruh tubuhnya, jika pangeran Ocean tidak segera datang membawa penawarnya maka tidak ada yang bisa kita lakukan," ucap Albert pelan.


__________________


Yeyyeye Up juga๐Ÿ˜Š

__ADS_1


Capek ngetik๐Ÿ˜ด๐Ÿ˜ช


__ADS_2