Raja kegelapan

Raja kegelapan
Part 11


__ADS_3

Gadis bersurai hitam itu membuka matanya.


'Silau,' hanya kata itu yang pertama melintas dipikirannya.


Marahari bersinar menyilau mata dan panasnya terasa menusuk, tapi hujan datang dengan lebat.


Gadis itu memperhatikan sekelilingnya.


"****, apa ini?" Gadis itu mengumpat kesal ketika gadis itu baru sadar bahwa gadis itu berada di tengah-tengah peperangan, kubu yang satu dengan kubu yang lain saling menatap dengan sengit, para pengawal telah bersiap didepan dengan perisai, di tempat-tempat tinggi para pemanah telah siap dengan busurnya, dikubuh sebelah kanan semua pengawal memakai pakaian zirah berwarna hijau gelap kecuali tiga orang didepannya yang menggunakan baju zirah berwarna merah dengan jubah panjang warna hijau gelap dibelakangnya, ketiga orang itu menunggangi kuda dengan dua pedang panjang yang berada di sampingnya, kubuh sebelah kanan itu mengibarkan bendera berwarna biru dengan gambar pohon besar ditengahnya. Sedangkan kubuh sebelah kiri para pengawalnya menggunakan baju zirah berwarna hitam begitupun dengan tiga orang yang berdiri didepannya. Ketiga orang yang berdiri paling depan dikubuh sebelah kiri membawa palu besar berduri ditangannya, dan pedang dikedua sampingnya, dan tangan yang satunya memegang bendera berwarna hitam dengan gambar bulan purnama ditengahnya, sedangkan Gadis itu masih berbaring ditengah kedua kubuh yang akan saling membunuh itu.


Gadis itu adalah Queen.


"Kita bertemu lagi Xaverius," ucap salah seorang dari kubuh sebelah kiri.


"Tidak perlu banyak bicara, segera selesaikan masalah," jawab seorang yang berada dibarisan paling depan tepatnya ditengah dari kubuh sebelah kanan, sepertinya orang itu adalah seorang raja.


Tapi tunggu, kenapa wajah orang yang dipanggil Xaverius itu sangat mirip dengan Ayah Queen, bahkan nama mereka sama, dan remaja laki-laki yang kira-kira baru berumur sebelas tahun yang berada berada disebelah kanan Xaverius sangat mirip dengan..


'Alex..' batin Queen.


"Rupanya kau sudah tidak sabar untuk bertemu Moongodnes hum?" Tanya kubuh sebelah kiri.


'Tuuuuuuuu..' sangkakala berbunyi bersamaan dengan itu, kedua pimpinan kubuh berteriak bersama, "SERANG!" Kubuh kiri dan kubuh kanan saling menyerang.


'Zring..'


'Trang..'


'Buk..'


'Bom..'


'Argh..'


Anak panah beterbangan bagai hujan, pedang saling beradu, mayat para pengawal berjatuhan dengan luka dimana-mana, bunyi ledakan terdengar berapa kali, erangan kesakitan terdengar memilukan.


Queen membulatkan matanya ketika sebuah anak panah mengarah mengarah kearahnya, saking terkejutnya Queen tidak bisa bergerak, Queen hanya diam seperti burung merpati menunggu kematian.


Anak panah itu semakin dekat dan mengarah tepat ke letak jantungnya yang kini berdetak tak karuan.


Queen menutup matanya sambil menggigit bibir bawahnya ketika anak panah itu berada beberapa centi didepannya.


'Zap,' anak panah itu menancap.


Setelah beberapa detik menutup mata, Queen membuka mata bingung ketika tidak mendapatkan luka didadanya.


'Buk..' Queen langsung memutar tubuhnya kebelakang dan terkejut ketika melihat seorang pengawal kini memegang anak panah yang menancap didadanya sambil membungkuk kebawah tanah menahan sakit.


Queen kembali menutup matanya ketika ada seseorang dari arah belakang yang berniat menusuk pengawal yang terluka itu dari belakang.


'Trang..' pedang kembali beradu ketika orang yang sangat mirip dengan Alex datang menyelamatkan pengawal yang terluka itu dan menusuk perut lawan, lalu memotong kedua tangannya, sedetik kemudian setelah selesai membunuh, pria remaja yang mirip dengan Alex itu langsung berputar kearah Queen dan menghunuskan pedang ke perut Queen, Queen sangat terkejut dan syok, pergerakannya begitu cepat dan lihai.

__ADS_1


Queen terkejut ketika pedang itu menembus perutnya tanpa saja tanpa melukainya, justru pedang itu sudah melukai orang lain yang berdiri dibelakang Queen, setelah menusuk perutnya dengan pedang, remaja laki-laki itu kembali memenggal kepalanya.


Queen hanya diam membeku melihat mayat yang bertebaran dimana-mana.


'Arghh..' remaja yang mirip dengan Alex kakaknya itu mendapat luka yang cukup dalam dibagian perutnya.


Queen yang melihat itu berniat membantunya berdiri, tapi belum sempat menyentuhnya tubuh Queen tiba-tiba tidak bisa bergerak, puluhan anak panah menembus tubuhnya begitu saja tapi tubuh Queen tidak luka, bahkan Queen tidak bisa menyentuh sesuatu, tubuhnya seperti angin, tubuh Queen seolah-olah ditarik oleh sesuatu yang tidak terlihat tapi sangat kuat.


Beberapa detik kemudian Queen membuka matanya, kini Queen sudah tidak berada di medan perang lagi, tapi berada disebuah istana yang keadaannya sudah sangat kacau, bau anyir menyengat hidung, mayat wanita betebaran diseluruh istana.


Queen melihat sebuah pintu, pintu yang terlihat begitu tak asing.


Dengan sangat hati-hati, Queen melangkah mendekati pintu itu lalu membukanya dengan pelan, setelah pintu itu terbuka, entah dorongan siapa sampai Queen naik keatas tangga yang berada disebelah kiri ruangan, Queen naik dengan santai.


"Kembalikan anakku.. hiks," suara itu berasal dari salah satu ruangan ditempat itu, suara yang penuh emosi dan terdengar melengking, Queen mengenal suara itu. Queen terus menatap salah satu pintu di ujung ruangan yang terlihat begitu terang, para pengawal mati berjejeran disepanjang lorong menuju pintu itu.


Entah kenapa kaki Queen bererak sendiri menuntun Queen ke pintu itu.


Queen membuka pintu itu, tapi tangannya hanya menembus gagang pintu, dengan hati-hati Queen mencoba menembus pintu itu dan ternyata berhasil.


Didalam ruangan itu terdapat dua orang wanita, satu menggunakan baju dress berwarna biru tosca selutut, dan yang satu menggunakan baju zirah berwarna hitam.


Wanita yang menggunakan baju biru tosca itu menunduk dibawah lantai sambil menangis, sedangkan wanita yang menggunakan baju zirah berwarna hitam berdiri diatas jendela besar yang mengarah kearah hutan sambil menggendong dua orang bayi kecil yang baru saja lahir, kedua bayi itu sedang menangis.


Wanita yang menggunakan pakaian biru tosca berdiri dengan tegak menghapus air matanya. Wanita itu maju selangkah dan kemudian tubuhnya menjadi beberapa helai daun yang terbang kearah wanita yang menggunakan baju zirah itu.


"Jika kau mendekat maka aku akan menjatuhkan kedua bayi sialan ini kebawah jurang," ancam wanita baju zirah itu santai, karena terlanjur marah, wanita yang sudah menjadi daun itu semakin mendekat kearah wanita baju zirah.


Zing.. zing.. zing.. terdapat beberapa luka di wajah gadis berbaju zirah itu karena terkena daun.


"Tubuhmu masih lema karena baru melahirkan, saat lemah kau bukanlah tandinganku, saat kau sehat aku bukanlah tandinganmu," wanita berbaju zirah itu tersenyum evil sambil mengusap darah yang mengalir dari pipinya dengan santai.


"Baiklah, aku akan memberikanmu pilihan, Queenshi atau Queensha?" Tanya wanita berbaju zirah itu.


"Aku memilih dua-duanya," ucap wanita berbaju biru tosca itu sambil menangis


"Queenshi atau Queensha?" Tanya wanita itu tajam.


'Queensha? Bukankah itu namaku?' Batin Queen bertanya bingung.


"Kembalikan kedua anakku! Hiks.. hiks.." wanita berbaju biru tosca itu berteriak sambik menatap wanita berbaju zirah itu dengan tatapan memohon.


'Brak..' pintu dibuka secara kasar dari luar, yang membuka pintu adalah orang yang mirip dengan Alex.


"Queenshi atau Queensha? Jika kau tidak menjawab maka alu akan membawa dua-duanya," ucap wanita berbaju zirah itu dengan cepat dan panik.


Wanita berbaju biru tosca itu memandang orang yang baru saja masuk dengan air mata yang terus saja mengalir, sedangkan yang ditatap hanya diam enggan bergerak.


DEG..


"I..bu?" Ucap Queen terbata-bata dan pelan melihat wajah yang akhir-akhir ini selalu ia rindukan.

__ADS_1


'Ada apa ini? Ayah, Ibu, dan Alex berada disini, bahkan namaku sering disebutkan,' Queen bertanya dalam hati.


'Queensha adrien xaverier,' ya, itulah nama lengkap Queen.


"Aku menghitung sampai dua," wanita berbaju sirah itu menatap was-was kearah remaja pria yang baru saja masuk.


"Satu ... dua ... ti,"


"Queensha," ucap keduanya dengan cepat. Sedetik kemudian wanita berbaju zirah itu langsung melemparkan bayi yang bernama Queensha kearah remaja laki-laki itu, membentangkan sayap hitam legamnya dan membawa pergi Queenshi.


Ibunya yang melihat itu langsung luruh kebawah lantai.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya seorang pria yang sangat mirip dengan Ayah Queen dengan terburu-buru dan memeluk sang istri yang menangis histeris dibawah lantai.


"Putriku," tangis sang istri semakin pecah sambil memeluk erat sang suami.


Belum sempat bereaksi, tubuh Queen seperti tersedot kembali.


Queen membuka matanya dan mengerjabkannya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retina matanya.


"Nyonya Queen sudah sadar!" Teriak Albert senang. Sedetik kemudian pangeran Ocean langsung datang dengan berteleportasi.


"Kau sudah bangun putri tidur?" Tanya pangeran Ocean dingin.


"Apa yang terjadi?" Queen bertanya dengan suara seraknya.


"Sudah hampir lima hari kau tidak sadarkan diri bahkan setelah kau diberi minum air dari teratai emas, kau tau? Semua orang berpikir kau sudah tidak ada dan hampir saja menguburkanmu," oceh pangeran Ocean panjang lebar.


Hening..


"Apa yang terjadi? Apa aku bermimpi? Kenapa pangeran tampan tak punya hati ini jadi banyak bicara?" Tanya Queen dengan wajah datarnya.


Pangeran Ocean hanya diam.


"Salah satu anjing peliharaan kesayanganku telah tiada karena berusaha menyelamatkanmu, jadi tetaplah hidup," ucap pangeran Ocean seraya keluar dari kamar Queen.


"Aku tidak meminta untuk diselamatkan, lebih baik aku mati daripada harus jadi tahanan di istana besar, indah tapi lebih buruk dari neraka ini," Queen masih setia dengan wajah datarnya.


Plak.. satu tamparan keras mendarat di pipi Queen.


"Sembulah dulu, baru setelah itu aku sendiri yang akan membunuhmu," ucap pangeran Ocean tajam dengan mata semerah darah, tapi hanya beberapa detik mata pangeran Ocean kembali kewarna semula.


"Hanya mimpi," guman Queen mengingat peperangan tadi setelah pangeran Ocean keluar dari kamarnya.


Queen kembali menutup matanya berniat untuk tidur karena kepalanya masih agak sakit,


'Mungkin aku masih butuh istirahat,' batin Queen ditambah lagi dengan perih yang menjalar dipipinya akibat tamparan pangeran Ocean.


Tanpa sadar, bahwa kepalanya sakit bukan karena membutuhkan istirahat, tapi bayangan masa lalu mulai menghantui, perlahan.. segel ingatan dan kejadian masa lalu yang diketahui atau tidak diketahui tapi penting akan mengusik tanpa izin, dan membawa luka baru dalam hati.


_______________

__ADS_1


Nah lo.. sebenarnya Queen itu siapa sih???


Awass.. tipo bertebaran. Mohon maklum😅


__ADS_2