
Matahari pagi menerobos melalui cela-cela pohon yang sangat rimbun, mengusik seorang gadis yang masih larut dalam mimpi buruknya.
Eng..
Gadis itu mengerang ketika merasakan sakit disekujur tubuhnya.
Gadis itu mengerjabkan mata perlahan. Pohon-pohon yang tinggi menjadi hal pertama yang ditangkap mata biru jernihnya itu.
Ingatannya kembali pada kejadian yang menimpanya tadi malam. Queen, gadis itu adalah Queen.
Darah masih mengucur tanpa henti dari perutnya, entah kenapa perutnya terluka.
"Apa itu sakit?" Queen langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara, disana terlihat seorang gadis kecil tengah duduk ditangkai pohon yang lumayan tinggi dengan menggunakan jubah berwarna merah maroon dengan topi yang menutupi wajahnya sebagian.
"Siapa kau?" Tanya Queen kawathir mengingat laki-laki yang mengejarnya malam tadi.
"Valelie lahh~" ucap gadis itu dengan intonasi yang lucu dan langsung melompat dari tempatnya semula.
"Valelie?" Queen memastikan
"Bukan lahh~"
"Lalu?"
"Valelie lahh~"
"Apa maksudmu Velerie?" Gadis kecil itu langsung mengangguk dengan mata berbinar.
"Kakak lahh~ hebat bisa kelual dali dalam sungai jahat itu"
Queen mencoba untuk duduk ketika Valerie sudah duduk disampingnya.
"Apa lahh~ nama kakak?"
"Namaku Queen"
"Woahh.. nama kakak lahh~ indah sekali" Queen hanya tersenyum lucu mendengar cara Valerie berbicara.
"Valelie lahh~ halus pulang.." Gadis kecil itu langsung berdiri
"Kakak lahh~ halus ikut Valelie" lanjut Valerie.
"Apa tidak akan merepotkan?"
"Tidak lahh~" Valerie mengulurkan tangannya kearah Queen dan membantunya berdiri
"Dimana rumahmu Valerie?."
"Lumah Valerie lahh~ ada di tengah hutan" Queen hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Toh lebih baik dia mengikuti Valerie yang masih terlihat polos dibanding harus bertemu dengan makhluk aneh atau orang-orang yang sangat garang.
Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya mereka berhenti didepan sebuah pohon yang cukup besar, bahkan dua kali lebih besar dari pohon lainnya.
"Ini lahh~ lumah valelie" Valerie melepaskan genggmannya pada tangan Queen.
"Mana?" Queen bingung, karena Queen tidak melihat ada rumah disana, hanya ada pohon-pohon besar yang berjajar dengan rapi. Setelah sekian lama tinggal didekat hutan ini, Queen baru sadar bahwa dihutan ini masih ada orang.
Saat Valerie ingin melangkah, Queen langsung menggenggam jarinya erat.
"Lepaskan dia!" Suara itu berasal dari belakang, terdengar lembut tapi tegas tak ingin dibantah.
Queen langsung menoleh kebelakang dan mendapari seorang gadis muda cantik yang kira-kira seumuran dengannya tengah mengarahkan sebuah busur kearahnya.
__ADS_1
Gadis itu menggunakan baju sepanjang mata kaki berwarna cokelat.
Tanpa diminta lagi, Queen langsung melepaskan genggamannya.
"Ck.. Vactolia lahh~ kenapa celewet sekali~" Valeria berdecak sebal dan menggenggam tangan Queen erat.
"Menyingkir dari sana Valerie" Gadis bernama Vactoria itu semakin mengarahkan busurnya tepat pada dada kiri Queen.. letak jantung Queen berada, yang kini berdetak tak karuan
"Vactolia lah~ jangan buat Queen takut.. Dia lahh~ teman Valelie" Vactoria langsung menurunkan busurnya dan berjalan kearah Valerie dan Queen yang kini bergetar hebat, entah.. sepertinya bukan karena dia takut, tapi susuatu membuat badannya terasa bergetar semua.
Tiba-tiba Queen jatuh begitu saja ketanah tak sadarkan diri sebelum Victoria mencapai tempat mereka berdiri.
___
Eng.. gadis itu mengerang ketika cahaya matahari mengusik tidur nyenaknya.
"Victolia lahh~ Queen sudah bangun" Velerie teriak memanggil Victoria ketika Queen mengerang.
"Rupanya putri tidur sudah bangun" Victoria masuk kedalam ruangan itu dengan membawa mangkuk kecil ditangannya.
Queen hanya diam enggan menjawab, ingin rasanya dia tidak percaya akan semua ini, dia betharap bahwa ketika dia bangun, dia akan bangun di kamar berwarna biru cerah, dengan kasur empuknya. Tapi.. ini nyata! Dia bangun di kamar kecil dengan kasur tipis yang hanya bisa ditempati oleh satu orang,dengan jendela kecil disamping ranjang,dan sebuah meja kecil disamping pintu.
Arghh... Queen meringis kecil ketika Vactoria tiba-tiba mengoleskan sesuatu dilukanya.
"Apa itu?" Tanya Queen
"Tidak ada, hanya ramuan biasa" Queen yang sedang malas berbicara hanya mengangguk.
"Sebenarnya kau ini apa?" Tanya Vactoria menatap Queen lekat
"Apa maksudmu?"
"Maksudku apa kau Vampir, Black witch, White witch, fairy, Demon, atau Werewolf?"
"Cih.. aku tidak terlalu suka becanda" Queen langsung mengalihkan pandangannya pada seekor burung pipit yang mendarat di jendela.
"Kau pikir aku sedang becanda?"
"Vactolia lahh~ Queen tidak akan mengelti, kalna Queen belasal dali bumi lah~" timpal Valerie yang dari tadi duduk dikursi dekat jendela
"Apa maksudmu Valerie? Apa ini bukan bumi?" Queen langsung mengalihkan pandangannya.
"Bukan lah~ ini Immoltal"
"Immortal?" Tanya Queen memastikan pendengarannya.
"Bagaimana bisa kau sampai disini?" Tanya Victoria tajam.
"Vactolia lah~ jangan lah~ tatap Queen sepelti itu."
"Halusinasi kalian sudah terlalu tinggi, apa kalian suka membaca Novel yang bergenre Fantasi? Aku juga suka tapi tingkat halusinasiku tidak separah kalian" Queen menggeleng-gelengkan kepalanya
"Dasar manusia bodoh. Baiklah biar aku jelaskan sedikit. Ini adalah Immortal, dimana sesuatu yang tidak biasa dibumi dianggap biasa disini. Seperti sihir."
"Hahaha... halu kalian benar-benar sudah berada ditingkat tertinggi, mungkin jika aku keluar dari sini aku akan membawa kalian untuk direhabilitas"
"Apa kau perlu bukti?." Vactoria tersenyum miring
"Buktikanlah" Queen tersenyum mengejek
Vactoria melangkah kearah meja lalu menjentikkan jarinya disana, beberapa detik kemudian sebuah bunga mawar hitam tumbuh dengan mekar disana tanpa tanah.
__ADS_1
Queen mengerjabkan matanya. 'Apa ini nyata?.'
"Bagaimana? Kau sudah percaya?" Victoria mendekat dan duduk dipinggir kasur Queen.
Sedangkan yang ditanya masih diam tak percaya
Setelah sepuluh detik, Queen menjawab pertanyaan Victoria "Belum." Jawaban yang singkat tapi mampu menyulut amarah Victoria.
"Victolia lahh~ padamkan apimu" ucap Valerie santai masih setia duduk mengamati seekor kupu-kupu berwarna putih yang barusan hinggap diatas bunga mawar hitam yang ditumbuhkan Victoria.
Setalah mengakatak itu, Victoria menutup mata lalu menghembuskan napasnya secara perlahan.
"Apa kau ingin bukti yang lain Nyonya?." Victoria tersenyum penuh arti.
"Tidak perlu, aku harus pulang dan aku tidak punya waktu untuk menonton pertunjukan sulapmu" Queen langsung turun dari kasur dan berjalan kearah pintu berniat mencari jalan keluar.
"Dasar tidak tau terimakasih" Ucap Victoria, sedangkan Valerie kini berdiri di depan jendela dan menerawang jauh kedalam hutan.
Victoria mengulurkan tangannya, lalu muncul sulur-sulur berwarna hijau tanpa duri mengikat kaki dan tangan Queen sebelum sempat membuka pintu.
"Apa kau belum percaya?" Victoria menggerakkan tangannya seperti sedang menaruk sesuatu lalu tiba-tiba tubuh Queen terseret dibawah lantai.
"Arghh.. apa yang kau lakukan?" Tanya Queen takut
"Tidak ada, aku hanya ingin membuktikan sesuatu" Victoria tersenyum penuh kemenangan melihat raut ketakutan dari Queen.
"Baiklahh aku percaya" Queen bergidik ngeri. Tapi kenapa bisa ia sampai ditempat terkutuk itu? Bukannya dia hanya berjalan melewati hutan?
"Victolia lahh~ kita akan dapat masalah. Queen lahh~ tetap lahh disini." Ucap Valerie tanpa mengalihkan pandangannya dari hutan
"Apa kita kedatangan tamu Valerie?." Tanya Victoria.
"Iya lahh~ Tamunya akan segela datang, tamunya sangat hebat." Valerie tersenyum kecil.
Victoria menutup matanya menerawang jauh.
"Sepertinya sang Raja tengah mencari sesuatu" ucap Victoria, sedangkan Queen hanya diam karena tidak tau apa yang terjadi
"Mari kita sambut tamu kita" Victoria langsung berjalan keluar diikuti Valerie dan Queen
Setelah sampai diluar, Queen begitu terkejut melihat seseorang yang sangat tampan menunggangi pegasus (Kuda Bersayap) berwarna hitam. Sorot matanya begitu tajam, rahangnya terlihat keras, tapi mata hazel itu sangat menggoda. Bibirnya pink alami, hidungnya mancung, dan kulitnya putih bersih. Tapi mungkin kulit Queen lebih putih dan bersih.
"Salam pangeran Ocean" Victoria membungkukkan badannya diikuti Valerie, sedangkan Queen hanya diam.
Queen mengunci pandangannya pada seseorang yang berdiri dibelakang pria tampan itu. Itu adalah orang yang mengejarnya karena berpikir Queen adalah penyusup.
Queen menatap laki-laki itu tajam, begitupun sebaliknya. Tanpa sadar, kini pandangan sang Pangeran Ocean mengarah pada Queen dengan tajam.
"Apa kau tidak ingin memberiku hormat?" Queen menoleh ketika mendengar suara tegas itu.
"Untuk apa?" Tanya Queen malas lalu segera berbalik dari sana berniat untuk masuk kedalam rumah atau kabur.
"Tidak sopan" Ocean mengarahkan tangannya kearah Queen sehingga Queen menggeliat kesakitan. Seolah-olah tangan semu kini tengah mencekiknya.
Arghh..
Victoria dan Valerie hanya diam.
Mereka tau dengan siapa mereka berhadapan sekarang.
'Sang Raja kegelapan.'
__ADS_1