
Malam telah berlalu, matahari kembali kesinggasananya.
Queen merenggangkan otot-ototnya ketika matahari mengusiknya dari tidurnya, ditambah lagi dengan suara berisik yang benar-benar mengganggu.
'Tok.. tok.. tok..' suara pintu diketuk dari luar.
Queen hanya diam malas menjawab, Queen kembali menutup mata dan menarik selimutnya.
'Ceklek' pintu dibuka.
'Sial, seharusnya aku mengunci pintunya,' maki Queen dalam hati.
"Selamat pagi nona," sapa Novita sambil meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas.
Queen hanya diam pura-pura tidur.
Novita melangkah kearah jendela besar yang berada disamping kamar dan menyibakkan kain gorden yang menghalau matahari masuk kekamar Queen.
Dengan malas Queen menyibakkan selimutnya.
"Kenapa diluar sangat berisik?" Tanya Queen datar.
"Orang-orang sedang sibuk mempersiapkan pesta," jawab Novita menatap Queen sambil tersenyum.
"Pesta?"
"Ya, pesta penobatan pangeran Ocean menjadi raja sekaligus perkenalan calon ratu"
"Calon ratu? Kapan acaranya akan dimulai?" Tanya Queen penasaran.
"Nanti malam," jawab Novita.
'Calon ratu? Bukannya yang akan menjadi ratu adalah mate sang raja?' Tanya Queen dalam hati.
'Jangan berharap Queen,' lanjut Queen dalam hati seraya memutar bola matanya malas.
"O.." jawab Queen seraya bangun dan langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, Queen keluar dari kamar mandi dengan baju berwarna merah maroon sepuluh centi dibawah lutut, high heelas berwarna hitam berkilau rambut panjang sepunggnya diikat kebelakang.
"Apa tidak ada celana disini?" Tanya Queen pada dirinya sendiri sambil melihat penampilannya di sebuah kaca berukuran besar didepannya.
Queen berjalan kearah jendela.
"Arhg.." Queen meringis ketika kakinya terkilir.
"Sial, seharusnya aku tidak menggunakan sepatu sialan ini," maki Queen. Entah kenapa jiwa bar-barnya ketika bersama orang-orang terdekatnya keluar hari ini. Queen membuka sandalnya lalu melemparnya kesembarang arah.
Setelah siap dan nyaman dengan penampilannya, Queen berjalan keluar dari kamarnya berniat bermain bersama para peri dan pergi sekedar menemui Lui.
"Ribut," satu kata itu cocok untuk nenggambarkan suasana diluar kamar Queen, orang berlalu lalang kesana kemari, teriakan terdengar dimana-mana.
Queen melangkahkan kakinya dengan santai kearah taman istana sambil memperhatikan dekorasi yang berlatar hitam putih, dekorasinya terlihat sangat mewah dan elegant.
Setelah sampai, Queen duduk diatas kayu tumbang yang biasa ditempati Lui, ternyata bukan hanya pengawal dan pelayan saja yang sibuk, para peri juga sibuk mendekorasi taman ini dengan membuat bunga semakin mekar dan beberapa bunga terlihat bercahaya seperti lampu, sedangkan Lui? Entalah kucing itu tidak terlihat.
__ADS_1
"Aaaaaa! Queen aku sangat merindukanmu," seekor peri kecil yang biasa menemani Queen terbang dengan sangat cepat kearah Queen dan mengelilingi Queen bahagia, Queen hanya tersenyum melihat tingkah peri itu.
"Apa kau sudah sehat? Ku dengar dari kucing jelek itu bahwa kau sedang sakit,"
"Ya, aku sudah sehat," jawab Queen sambil tersenyum tipis.
"Sebenarnya aku ingin bersamamu disini, tapi aku tidak bisa membiarkan kawananku bekerja tanpa ku," peri itu menatap Queen sedih.
"Pergilah," ucap Queen.
"Apa kau marah?" Peri itu mendekat kearah Queen.
"Tidak," Queen kembali tersenyum tipis, tanpa menunggu lagi peri itu langsung terbang dengam semangat meninggalkan Queen sendiri yang masih duduk dengam santai di pohon tumbang itu.
"Peri itu sangat berisik," suara bass itu membuat Queen menoleh untuk mencari sumber suara itu.
"Kebiasaanmu sudah jadi karaktermu, datang tanpa tanda pergi tanpa jejak," ucap Queen pelan.
"Apa kau merindukanku?" Tanya Lui sambil melompat kepangkuan Queen.
Queen hanya diam sambil mengelus bulu Lui lembut. Kucing itu mendengkur.
'Besok adalah hari ulang tahunku yang ke tuju belas, apa Ibu, Ayah dan Alex mengingatnya?' Tanya Queen sedih dalam hati.
'Seandainya aku berada dirumah,' lanjut Queen dalam hati.
"Setiap hembusan napas membawa kita pada kehidupan baru dan akhir hidup lama," ucap Lui yang ternyata sudah bangun dan memperhatikan Queen sejak tadi.
"Apa maksudmu Lui?"
'Ahahaha..' lagi-lagi suara tawa renyah itu seperti berasal dari pohon.
"Dasar pohon aneh, memangnya apa yang lucu?" Ucap Lui malas.
"Pohon?"
"Ya, pohon disini suka tertawa tak tentu dan menangis tak tentu aku sendiri bingung apa yang lucu dan apa yang membuat mereka sedih," Lui meregangkan tubuhnya yang gemuk.
"Apa pohon disini hidup?" Tanya Queen.
"Ya, mereka hidup layaknya manusia, bisa berpikir, bisa merasa sedih, senang dan berbicara, yang membedakan adalah mereka tidak bisa bergerak leluasa seperti kita," ucap Lui santai.
"Apa kau sering berbicara pada mereka?"
"Hanya sekali-kali, itupun tidak semua pohon disini bisa diajak berbicara hanya satu atau dua pohon,"
"Kenapa?"
"Karena hanya orang tertentu yang bisa berbicara dan mengerti perasaan dan keadaan pohon, bukan hanya pohon tapi semua tumbuhan yang tumbuh didunia,"
"Orang tertentu? Apa Victoria dan Valerie?"
"Ahaha.. apa yang kau bicara tentang dua saudara yang tinggal ditengah hutan itu?"
"Ya,"
__ADS_1
"Tidak, mereka berdua berasal dari bangsa Fairy, mereka hanya bisa menumbuhkan dan mengendalikan bunga, tidak untuk pohon dan tumbuhan lainnya,"
"Lalu siapa yang bisa?"
"Keturunan keseratus bangsa Dyard,"
"Bisa kau jelaskan?"
"Bangsa dyard adalah bangsa penguasa semua hutan yang berada di dunia ini," ucap Lui.
"Semua bangsa Dyard bisa mengendalikan semua tumbuhan dan menguasai salah satu elemen. Selain bisa mengendalikan semua tumbuhan dyard bangsawan juga bisa mengerti keadaan, kebutuhan dan permasalahan tumbuhan tanpa berbicara pada tumbuhan, dyard bangsawan juga bisa mengendalikan dua atau tiga elemen, jika beruntung dyard bangsawan akan mempunyai partner sebuah pohon yang bisa diajak berbicara," jelas Lui.
"La.."
"Lalu.. setiap keturunan yang lahir pada tahun keseratus dengan jarak keseratus dari keturunan keseratus sebelumnya maka dialah yang bisa berbicara, mengendalikan, mengerti perasaan tumbuhan, bercengkrama dengan tumbuhan, bekerja sama dengan semua tumbukan, dan bisa menjadikan semua tumbuhan sebagai partnernya," ucap Lui panjang lebar memotong ucapan Queen.
"keturunan yang lahir pada tahun keseratus dengan jarak keseratus dari keturunan keseratus sebelumnya," guman Queen mengulangi ucapan Lui.
"Sebenarnya keturunan keseratus hanya ada satu, tapi setiap seorang Dyard keturunan keseratus meninggal, maka dyard itu akan menjadi sebuah pohon dan menghasilkan buah kristal berwarna biru, pohon itu hanya akan berbuah setelah seratus tahun dan hanya ada satu buah, buah pohon itu hanya bisa dilihat dan disentuh seorang wanita yang tengah mengandung, setelah buahnya dipetik maka pohon itu akan langsung mengering dan kembali ketanah," Queen hanya mengangguk mengerti.
"Pergilah, acara penobatan pangeran akan segera dimulai,"
"Aku tidak ingin mengikuti penobatan itu,"
"Tapi kau adalah mate sang pangeran,"
"Aku tak peduli," Queen berjalan kearah sebuah pohon dan menyentuh pohon itu dengan sangat halus seolah pohon itu akan segera runtuh jika disentuh secara kasar.
"Hai.. aku Queen," Queen menyapa pohon itu sambil tersenyum kecil.
"Queen!" Arthur memanggil Queen, Lui yang melihat itu langsung menghilang seperti biasa.
Queen memindahkan tangannya dari pohon besar itu dan menghampiri Artur.
"Ada apa?" Tanya Queen.
"Pangeran Ocean mencari nona," ucap Arthur sopan.
"Untuk apa dia mencariku?"
"Saya juga tidak tau nona,"
"Panggil saja Queen. Memangnya dimana dia?"
"Pangeran berada di ruang kerjanya,"
"Baiklah, aku kesana," Queen segera pergi dari sana dan Arthur mengekor dari belakangnya meninggalkan taman itu.
Setelah Queen dan Arthur pergi tiba-tiba para pohon ditaman itu bergerak, para pohon itu terlihat bersinar.
"Sang ratu telah kembali," berita itu menyebar dengan cepat dengan satu pohon kepohon yang lain dan tumbuhan terlihat lebih mekar.
"Sang ratu telah kembali," semua tumbuhan menceritakan hal itu pada hari itu, sambil bercengkrama ria.
________________
__ADS_1
Next or stop