
Malam telah berlalu saat pangeran Ocean memasuki perbatasan hutan halusinasi.
Anjing itu kembali berubah menjadi anak anjing lucu dan imut, mereka berjalan dengan santai melintasi hutan itu.
"Ikuti jalan setapak," pangeran Ocean menatap keempat anak anjing itu dan hanya dibalas oleh anggukan.
Semakin dalam hutan itu tampak lebih gelap karena kabut, kabut mulai memburamkan penglihatan.
"Ahahaha.." terdengar suara tawa yang terdengar begitu renyah dan lembut, Ocean mengenal suara itu.
"Apa kau merindukanku nak?" Ucap seorang wanita cantik yang terlihat dari arah berlawanan, entah dari mana wanita itu datang.
"I..bu?" Ucap pangeran Ocean terbata-bata mendengar suara lembut yang begitu ia rindukan.
Wanita yang Ocean panggil ibu itu membentangkan tangan memberi tandan pada Ocean agar memeluknya.
Tanpa ragu Ocean berlari kearah ibunya dan langsung memeluknya, tapi sayangnya sosok ibu itu menjadi bagian dari kabut sebelum pangeran Ocean benar-benar memeluknya.
"Ibu!" Pangeran Ocean berteriak.
"Kami disini," ujar suara lain yang terdengar lebih tegas tapi lembut. Ocean langsung mencari asal suara itu dan pangeran Ocean melihat ibunya berdiri disamping seorang laki-laki yang menatap pangeran Ocean lembut, laki-laki itu menggunakan baju layaknya seorang raja lengkap dengan mahkota berwarna emas.
"A..ayah?" Pangeran Ocean memastikan penglihatannya.
"Kau tidak merindukan Ayah?" Tanpa ragu pangeran Ocean berlari dan memeluk kedua sosok yang sangat-sangat ia rindukan itu, tapi sayangnya lagi-lagi kedua orang itu menjadi bagian dari kabut.
Pangeran Ocean menatap nanar kabut didepannya, matanya kembali menitikkan air mata, air mata yang sudah lama ia bendung.
"Ahaha.. ayo tangkap aku Ayah!" Pangeran Ocean melihat seorang anak laki-laki tengah berlari dihutan itu, anak laki-laki yang menggunakan baju layaknya seorang bangsawan, dan mahkota berwarna perak yang menandakan bahwa anak laki-laki itu adalah putra mahkota, penerus kerajaan selanjutnya. Anak laki-laki itu adalah Ocean kecil yang periang, lucu, dan baik.
Pangeran Ocean kecil yang kira-kira baru berumur lima tahun itu berlari dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya, matanya bersinar senang.
"Ayah akan menangkapmu!" Teriak ayah pangeran Ocean.
'Buk..' karena tidak hati-hati pangeran Ocean kecil terjatuh yang membuat lututnya cedera, sang Ibu yang melihat itu langsung berdiri menghampiri pangeran Ocean.
"Apa sakit?" Ibu pangeran Ocean bertanya dengan lembut.
"Tidak," pengeran Ocean kembali tersenyum merekah. Sang ayah yang melihat itu dari kejauhan tersenyum indah, senyum terakhir yang Ocean kihat sebelum orang tuanya meninggalkannya sendiri.
Tanpa sadar, air mata pangeran Ocean bertambah deras dan tidak bisa dibendung lagi, isakan kecil keluar dari bibirnya. Pangeran Ocean merindukan kehangatan keluarganya, merindukan pelukan sang Ibu, merindukan tatapan jahil sang Ayah, merindukan latihan pedang yang membuat pangeran Ocean kecil berteriak tak suka, merindukan kejaran sang ayah dan pengawal lainnya ketika pangeran Ocean lari kedalam hutan hanya untuk menghindari latihan, merindukan perlindungan sang Ibu, dan merindukan segala sesuatu yang berhubungan dengan orang tuanya. Kini pangeran Ocean tinggal sendiri tanpa kasih sayang, perlindungan, dan kejahilan dari kedua orang tuanya. Lalu kepada siapa pangeran Ocean akan bercerita tentang keluh kesah dihati? Siapa yang akan mendengarkan sebaik kedua orangtuanya? Dengan apa pengeran Ocean akan melepas rindu yang mencekam hati? Apa dengan kenangan? Tidak, aku sarankan jangan mengobati rindu dengan kenangan, karena layaknya tumbuhan, kenangan akan menjadi pupuk dan rindu menjadi tumbuhan, ketika tumbuhan dipupuk maka tumbuhan itu akan tumbuh dengan subur, begitupun rindu, semakin dikenang semakin rindu.. semakin diingat semakin sakit, maka dari itulah pangeran Ocean tidak pernah mengobati rindu dengan kenangan, tapi mengobati rindu dengan kesibukan, dan melampiaskan dengan membunuh atau lewat hawa nafsu.
Pangeran Ocean menatap kearah ketiga orang itu, kini Ibu, Ayah dan pengeran Ocean kecil berdiri sambil menatap pengeran Ocean dengan lembut sambil tersenyum.
"Kau mau ikut?" Pangeran Ocean kecil bertanya dan langsung diangguki oleh pangeran Ocean.
"Kemarilah, ikut kami," ucap sang Ayah dengan nada memerintah seperti biasa. Tanpa ragu pangeran Ocean langsung melangkah kearah ketiga orang itu.
Pangeran Ocean tersenyum manis ketika pangeran Ocean telah sampai dihadapan ketiga orang itu, orang itu terus melangkah didepan pengeran Ocean dengan dan pangeran Ocean mengekor dibelakang mereka. Tanpa sadar pangeran Ocean sudah berdiri ditepi jurang, jurang yang berisi lava panas dan hewan-hewan neraka yang menggeliat lapar dibawa sana.
Pangeran Ocean menatap ketiga orang didepannya ketika orang yang dirindukannta itu melangkah diatas jurang yang terbuka lebar tanpa jatuh maupun kepanasan.
Ketiga orang itu berbalik kearah Ocean seolah memerintah pangeran Ocean untuk maju mendekat kearah Ibu, Ayah dan pengeran Ocean kecil yang kini berdiri ditengah jurang tanpa terjatuh. Tanpa ragu, pangeran Ocean melangkahkan kaki dengan senyum indahnya.
__ADS_1
Syurrr.. pangeran Ocean terjatuh kebawa jurang dalam yang berbahaya itu. Sangat dalam. Tapi sayangnya pangeran Ocean masih tersenyum, senyum yang sudah sangat jarang yang diperlihatkan.
Pandangan pangeran Ocean mulai buram ketika panas sudah mulai terasa, semakin buram dan semakin panas. Beberapa menit terjun bebas kini mata pangeran Ocean tertutup dengan bibir yang tak berhenti tersenyum.
_________
"Bangun pangeran tidur," samar-samar pangeran Ocean mendengar suara yang begitu lembut.
Pangeran Ocean mengerjabkan matanya dan hal pertama yang ia lihat adalah senyum tulus dan indah.
Pangeran Ocean kembali mengerjabkan mata.
"Ibu?" Tanya pangeran Ocean melihat wanita yang menggunakan baju dress semata kaki berwarna putih bersih.
"Ah.. ternyata anak Ibu sudah dewasa sekarang," wanita itu menatap pangeran Ocean dengan penuh kerinduan.
Pangeran Ocean langsung berdiri dan memeluk sosok didepannya.
Kini pangeran Ocean berdiri dihamparan taman hijau tanpa akhir bersama Ibunya.
"Kau merindukanku?" Ibu pangeran Ocean melepas pelukannya lalu memegang kedua pipi pangeran Ocean dengan lembut.
"Sangat," ucap pangeran Ocean singkat.
"Ibu juga merindukanmu," Ibu pangeran Ocean kembali memeluk Ocean erat.
"Tidak," ucap pangeran Ocean.
"Ibu tidak merindukanku," ucap pangeran Ocean dengan suara bergetar.
"Apa yang kau katakan? Ibu merindukamu sayang, sangat-sangat merindukanmu,"
"Jika Ibu merindukaku kenapa Ibu tidak pulang?"
Tes.. air mata pangeran Ocean menetes yang langsung dihapus oleh ibunya.
"Ibu ingin tapi Ibu tidak bisa, untuk menemuimu di sini saja ibu perlu memohon didepan Moongodnes," Ibu pangeran Ocean ikut meneteskan air matanya. Pangeran Ocean hanya diam sadar akan takdir.
"Oh ya, Ibu tidak punya banyak waktu disini, yang kau lihat tadi itu hanya halusinasi,"
"Yang mana?"
"Ketika kau melihat pangeran kecil Ibu bersama Ibu dan Ayah,"
"Kau harus segera kembali kealam sebenarnya Matemu membutuhkanmu disana, setelah mengambil teratai emas itu, segera kembali keistana selamatkan Matemu dan jadi seperti Ocean yang kukenal,"
"Aku tidak suka Mateku, aku lebih suka Bee," ucap pangeran Ocean santai.
"Kenapa?"
"Aku tidak suka manusia lemah yang harus selalu kulindungi Bu,"
"Siapa bilang matemu lemah?" Ibu pangeran Ocean tersenyum lucu.
__ADS_1
"Dengarkan Ibu, matemu adalah orang yang kuat sepertimu, hanya saja belum waktunya untuk dia jadi kuat, jadi sayangi dia karena dia adalah takdir dari Moongodness," Ibu pangeran Ocean tersenyum miris.
"Apa maksudnya?" Pangeran Ocean bertanya.
"Waktu akan menjawab pertanyaanmu soal itu, untuk sekarang kembali saja dulu dan perlakukan dia sama seperti Ayahmu memperlakukan Ibu dulu,"
"Tidak, aku tidak mau sebelum Ibu menjawab pertanyaanku,"
"Kau masih keras kepala sama seperti Ayahmu," pangeran Ocean hanya diam tak mau menatap Ibunya karena pura-pura marah.
"Waktu Ibu disini hampir habis," mendengar kata itu pangeran Ocean langsung memeluk Ibunya erat.
"Kau hampir membunuh dirimu dengan mengikuti kabut yang menyamar menjadi kita bertiga,"
"Jadi apa sekarang aku sudah mati?"
"Belum, Oliph, Philo, Val dan Vel menyelamatkanmu sebelum kay menyentuh lava api neraka itu," tubuh ibu pangeran Ocean mulai memudar.
"Apa yang terjadi?" Pangeran Ocean terkejut melihat tubuh Ibunya yang mulai tak terlihat.
"Waktu Ibu sudah habis," Ibu pangeran Ocean menatap pangeran Ocean dengan sedih.
"Apa Ibu harus pergi?" Pangeran Ocean bertanya dengan air mata yang kembali menetes dan hanya dijawab anggukan oleh ibu pangeran Ocean.
"Sayangi matemu dan perlakukan dia sama seperti Ayahmu menjaga dan menyayangi Ibu, dan jadi dirimu sendiri," ucap ibu pangeran Ocean dengan tubuh yang makin transparan dan terlihat rapuh seolah-olah tubuhnya akan pecah seperti lapisan es tipis jika disentuh.
Pangeran Ocean hanya terisak sambil tersenyum berusaha mengikhlaskan Ibunya pergi.
"Lain kali Ibu akan berusaha mengunjungimu dialam mimpi,"
"Ibu berjanji?" Pangeran Ocean bertanya memastikan.
"Ya Ibu janji, oh ya jangan lupa cari Ayahmu,"
"Cari? Bukannya Ayah sudah bersama Ibu? Dan kenapa Ayah tidak datang bersama Ibu? Apa dia tidak merindukanku?"
"Dia belum bersama Ibu," perlahan kaki Ibu pangeran Ocean benar-benar menghilang.
"Hatinya terlalu sakit saat Ibu meninggalkannya bahkan dia tidak bisa berpikir layaknya seorang raja sehingga ia memutuskan untuk pergi, Dia berada disuatu tempat, bilang padanya bahwa Ratunya sangat merindukannya,"
Ibu pangeran Ocean benar-benar menghilang tanpa bekas.
Pangeran Ocean langsung bersimpuh ditanah menangisi segala kebodohannya yang berpikir Ayahnya sudah benar-benar tiada, sekaligus menangisi takdir yang menjauhkan Ibunya darinya.
__________________
Authornya baru Up😒
Nunggu ya?😁
Ya maap, Author lagi Badmood buat ngetik.
Typo bertebaran Gengss!
__ADS_1