
Hari ini Queen benar-benar senang karena satu minggu lagi Queen akan berulang tahun yang ke tuju belas tahun!
Queen berjalan-jalan diistana tanpa pengawasan Novita kali ini, karena gadis itu tengah sibuk mempersiapkan pesta pernikahannya yang akan digelar besok, itu artinya Novita akan mengundurkan diri sebagai pelayan pribadi Queen, itu adalah peraturan di istana ini, setelah menikah baik pelayan atau pengawal akan mengundurkan diri dan digantikan orang lain.
"Selamat pagi," sapa Arthur yang dibalas senyum kaku dari Queen.
"Apa yang nona lakukan di tempat latihan?" Tanya Arthur. Queen melihat sekitarnya, ternyata benar Queen berada dilapangan yang cukup luas dengan ratusan orang yang menggunakan baju zirah tengah berlatih, baik itu menggunakan pedang, busur, mantra, elemen, ataupun bela diri biasa. Queen terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga Queen tidak sadar kemana kakinya membawanya melangkah.
"Hmm.. Arthur, apa aku bisa ikut latihan?" Tanya Queen ragu.
"Kenapa tidak," ujar Arthur tersenyum manis.
"Nona.."
"Berhenti memanggilku 'Nona' kau lebih tua dariku, panggil saja aku Queen," ucap Queen dengan wajah datarnya.
"Baiklah Queen, kau mau latihan apa? Pedang, busur, arau bela diri?" Tanya Arthur lagi.
"Busur!" Jawab Queen cepat.
"Pilihan yang bagus, mari saya antar memilih busur lalu kau bisa ikut latihan bersama pemula yang lain," ujar Arthur sambil berjalan dan diikuti oleh Queen.
Queen takjub melihat ruangan yang besarnya dua puluh kali lebih besar dari kamarnya.
"Silahkan pilih busurnya, saya akan menunggu disini," Arthur mempersilahkan Queen masuk kedalam ruangan senjata itu.
Queen masuk dan mengelilingi ruang senjata itu cukup lama sampai pilihannya jatuh pada sebuah busur berwarna hitam dengan gambar bunga mawar berwarna emas yang terlihat berkilau.
"Ayo," Queen memimpin didepan.
Setelah sampai ditempat latihan, Queen langsung dituntun ketempat latihan pemula bagi pemain busur.
"Arthur, bisa kau membantuku sebentar?" Tanya seorang gadis cantik yang menggunakan pakaian zirah lengkap dengan pedang yang ia genggam.
"Ada apa?"
"Perbatasan disebelah barat diserang para Vampir darah kotor, mereka terlalu haus akan darah,"
"Queen, kau bisa latihan sendiri?" Queen hanya mengangguk.
"Sekitar satu jam lagi kami akan kembali, para vampir itu haus darah sehingga mereka menghampiri kematian mereka sendiri," Arthur tersenyum evil, senyum yang baru pertama kali dilihat oleh Queen. Setelah itu, wanita itu langsung menggenggam tangan tangan Arthur lalu merapalkan mantra, setelah itu mereka berubah menjadi kepulan asap hitam lalu menghilang. Wanita itu penyihir.
Setelah Arthur dan wanita itu menghilang, Queen melanjutkan langkahnya.
Kalian pikir kenapa Queen ingin berlatih memanah? Queen ingin berlatih memanah sebagai bagian dari rencana pelariannya, menghampiri Valerie dan Vactoria, lalu memohon kepada kedua fairy itu untuk mengantarkan Queen pulang ke rumahnya. Ahh.. keluarga dan teman-temannya pasti sudah putus asa mencarinya.
Sudah puluhan anak panah yang Queen gunakan untuk memanah titik tengah yang berada kurang lebih lima meter didepannya, tapi hasilnya sia-sia saja, jangankan mengenai lingkaran merah itu, bahkan anak panah Queen tidak bisa mencapai tempat lingkaran merah itu berada.. sungguh menyebalkan!
Pengeran Ocean yang dari tadi menyaksikan hal itu dari pinggir lapangan hanya menggeleng kepala tidak percaya.
Bagaimana bisa seorang pangeran yang tampan dan hebat sepertinya memiliki mate yang cantik tapi lemah seperti Queen. Ohh.. ayolah, ini benar-benar tidak seimbang.
"Anak panah itu tidak akan sampai jika engkau hanya memaki dan memanah dengan kuda-kuda yang salah," ucap Ocean santai sambil melangkah mendekati Queen.
Ahh.. aroma itu lagi, aroma khas seorang mate, aroma Vanila yang membuat siapapun betah berlama-lama untuk tinggal disampingnya.
'Sial.. kenapa jantungku berdetak tak karuan? Ada apa ini? Apa akan terjadi sesuatu yang buruk?' Tanya pangeran Ocean dalam hatinya ketika jantungnya berdetak begitu cepat dengan suara seperti tapakan kaki kuda yang sedang berlari.
__ADS_1
"Seharusnya aku tidak memilih busur ini, seharusnya aku bermain pedang saja," dumel Queen tanpa menghiraukan ucapan pangeran Ocean sambil berusaha memanah lagi.
"Dasar keras kepala," pangeran Ocean menggeleng kepala lagi.
"Apa yang akan kau lakukan dengan posisi tegap seperti itu? Apa kau akan latihan baris-berbaris?" Lanjut pangeran Ocean menyinggung Queen. Sedangkan Queen hanya menatap tajam pangeran Ocean.
"Tatapanmu dan kata-katamu begitu tajam, tapi dalam praktek kau nol besar," pangeran Ocean merebut busur yang ada ditangan Queen lalu memgambil kuda-kuda memanah.
'Sret ... ' anak panah itu mengenai lingkaran merah itu tepat ditengahnya.
Tanpa sengaja Queen berdecak kagum.
"Ba.."
"Ambil ini," pangeran Ocean memotong ucapan Queen sambil melemparkan busur yang ada ditangannya kearah Queen.
'Hap..' Queen menangkap busur itu.
"Sekarang giliranmu,"
"Ta.."
"Buka kakimu selebar bahu," lagi-lagi pangeran Ocean memotong ucapan Queen. Queen hanya menurut.
'Buk..' pangeran Ocean menendang kaki Queen.
"Aku bilang buka kakimu selebar bahu, bukan sejengkal," sinis pangeran Ocean.
"Tidak usah menendangku, kau bisa menegurku," Queen menatap pangeran Ocean tajam.
"Kau punya banyak jawaban jika ditegur, tapi kalau ditendang begini kau bisa apa?" Ucap pangeran Ocean tepat sasaran.
Queen kembali memasang kuda-kuda untuk memanah.
"Posisis tanganmu salah," tegur pangeran Ocean.
"Kau terlalu banyak bicara, bisa praktekkan sendiri?" Geram Queen karena dari tadi kuda-kudanya selalu salah dimata Ocean.
"Aku tidak punya hati lalu kau tidak punya otak," pangeran Ocean gantian menatap tajam Queen.
"Sini," lanjut pangeran Ocean sambil memegang kedua tangan Queen dari belakang sehingga mereka berdua terlihat seperti orang yang tengah berpelukan.
'Ada apa dengan jantungku?' Tanya Queen dalam hati ketika jantungnya berdetak lebih cepat dan lebih keras.
'Sial, aroma ini benar-benar memabukkanku, tidak.. aku harus menjaga akal sehatku, ini belum waktunya,' batin pangeran Ocean.
Pangeran Ocean menuntun tangan Queen dengan telaten
'Sret..' anak panah itu mengenai lingkaran merah tepat disamping anak panah pangeran Ocean.
"Yey ... " pekik Queen kegirangan sambil melompat. Tanpa sengaja, tingkah itu membuat pangeran Ocean tersenyum kecil, sangat kecil sehingga tidak akan ada yang tau bahwa pangeran mereka sedang tersenyum dengan tulus.
'Sret..' tiba-tiba sebuah anak panah menancap tepat di perut Queen.
'Akh..' Queen meringis kesakitan.
Pangeran Ocean yang melihat hal itu dengan cepat menopang tubuh Queen yang akan ambruk ketanah.
__ADS_1
"Sial.." pangeran Ocean menggendong tubuh Queen ala bridal style dan membawanya ke tabib istana. Pangeran Ocean terkejut ketika merasakan sakit di perutnya dan ternyata disana ada luka tusuk dan darah mengalir dari sana.
"Obati lukanya," perintah pangeran Ocean tegas pada Albert a.k.a tabib di istananya
"Baik," Albert menunduk hormat lalu membersihkan luka Queen.
"Bagaimana dengan luka pangeran?" Pangeran Ocean menghentikan lukanya ketika Albern bertanya dari belakang.
"Lukaku bisa sembuh sendiri," ucap Pangeran Ocean dingin lalu pergi dari sana. Sebelum memghilang dari pintu, pangeran Ocean menatap wajah teduh Queen yang tengah berbaring dengan lemas diatas kasur. Entah kenapa melihat Queen berbaring diatas kasur itu hatinya menjadi sakit.
'Arthur, dimana kau? Cepat kembali keistana lalu cari siapa yang telah menyerang Queen!' Pangeran Ocean memerintah Arthur lewat mindlink (berbicara lewat pikiran).
'Baik pangeran' Arthur kembali memindlink pangeran Ocean.
"Anabella.. diamana kau?" Pangeran Ocean berteriak mencari Anabella ketika pangeran Ocean memasuki sebuah ruangan dibelakang istana yang terlihat rapuh dan dipenuhi sarang laba-laba itu.
"Ada apa pangeran mencariku?" Tanya seorang wanita tua yang baru saja keluar dari salah satu pintu didalam ruangan tersebut.
"Ohh.. astaga, kenapa perut pangeran bisa luka?" Terlihat raut kawathir dari wajah Anabella.
"Aku juga tidak tau, tapi setelah Queen mendapatkan luka diperutnya, perutku juga terluka dan mengeluarkan darah," pangeran Ocean tampak bingung.
Anabella tersenyum penuh arti.
"Ahh.. rupanya anak asuh suamiku masih polos," ya, Anabella adalah istri panglima kepercayaan kedua orangtua Ocean.
"Tidak perlu basa-basi, bahkan luka ini tidak menutup dengan cepat,"
"Ya.. hal itu wajar,"
"Bisa kau jelaskan?"
"Itu adalah ikatan mate, ketika matemu terluka kau juga akan terluka, begitupun sebaliknya, jika kau terluka matemu juga akan terluka bahkan luka yang didapatkan pasangan akan lebih parah," ujar Anabella tersenyum miris mengingat suaminya yang berada jauh darinya, saking jauhnya Anabella sudah tidak bisa merasakan ikatan mate itu.
"Apa yang harus kulakukan untuk menyembuhkan luka ini?"
"Tubuhmu akan sembuh sendiri seperti biasa," Anabella kembali tersenyum.
"Tapi.. kenapa ini lebih lama dari biasanya? Sejak dulu lukaku hanya butuh lima detik untuk menutup,"
"Itu karena luka itu berasal dari matemu, jadi.. bersabarlah," pangeran Ocean memgangguk lalu berbalik dari sana.
"Ocean!" Panggil Anabella dari ambang pintunya ketika pangeran Ocean sudah agak jauh dari rumahnya.
Pangeran Ocean berbalik dan menyeritkan dahi seolah bertanya 'ada apa?'
"Seminggu lagi MATEmu akan genap tuju belas tahun, pada malam itu, jangan tinggalkan dia, tetap berada disampingnya, jika perlu ... berikan dia darahmu, itu akan mengurangi sakitnya," Anabella tersenyum manis lalu masuk kedalam rumahnya.
Pangeran Ocean hanya diam mencerna maksud ucapan Anabella.
______________
Yey🎉 Up again...
Mohon krisannya😇🙏
hati-hati, typo bertebaran kek kacang goreng😪
__ADS_1
Kalo ada pertanyaan chat aja ya..