
Matahari kembali bersinar mengusik setiap orang yang masih bersembunyi dibawah selimutnya, berbeda dengan gadis yang tengah duduk dijendela menatap sang mentari yang baru muncul membuat semburat orange muncul disekitar langit.
Tempat Queen berada sekarang memang bagus, kasur king zize yang sama besarnya sengan kasurnya dirumah kedua orangtuanya, ruang kamar dua kali lebih besar dari kamarnya, dan kamarmandi khusus sebesar kamarnya di rumah kedua orang tuanya.
Tok.. tok.. tok..
Pintu diketuk dengan halus dari luar. Queen hanya diam enggan bergerak atau menyahut.
Ceklek.. pintu dibuka.
Queen tetap bergeming.
Sudah hampir seminggu Queen berada di Istana ini, tidak ada yang spesial atau menyenangkan. Rencananya untuk kabur sia-sia saja, Istana ini benar-benar dijaga dengan ketat, tidak ada cela untuk melarikan diri. Untungnya selama seminggu Pangeran tak punya hati itu tidak pernah datang ke kamar Queen. Mungkin dia sedang sibuk.
"Selamat pagi Nona, perkenalkan nama saya Novita saya kesini untuk memgantarkan sarapan Nona," Pelayan itu tunduk hormat.
"Pergilah, aku sedang tidak ingin makan," Queen masih setia memperhatikan mentari yang baru kembali dari peraduannya.
"Tapi ini adalah perintah dari Pangeran Ocean,"
"Aku tidak peduli,"
"Ta..tapi jika Nona tidak mau makan nyawa saya bi..bisa dalam bahaya,"
"Letakkan saja disitu,"
"Ta..tapi pangeran menyuruh saya untuk menemani Nona sampai selesai makan,"
"Aku tak biasa sarapan sepagi ini,"
"Ta..tapi.."
"Bawakan saja jus," Akhirnya Queen mengalihkan pandangannya dari mentari kepada pelayan yang masih berdiri di depan pintunya.
Gadis pelayan itu cukup cantik.
"Baiklah Nona," Novita a.k.a pelayan itu langsung meletakkan bubur yang ia bawa dan langsung menuju ke dapur mengambilkan Jus.
Setelah beberapa menit, Novita kembali membawa segelas jus.
"Terimakasih." Queen berucap datar.
"Sama-sama. Oh ya.. mulai sekarang saya akan menjadi pelayan pribadi Nona, jadi jika Nona memerlukan sesuatu Nona bisa memanggil saya," Queen hanya mengangguk datar.
"Saya permisi dulu," Queen kembali mengangguk.
👑👑👑
Queen meringkuk disudut kamarnya.
Tok..tok..tok..
Pintu kembali diketuk. Queen hanya menoleh kearah pintu lalu kembali membenamkan wajahnya dikedua lututnya.
"Selamat siang Nona, saya kesini untuk memgajak Nona jalan-jalan keliling istana, sepertinya Nona sudah bosan berada di kamar ini,"
"Apa boleh?" Queen bertanya senang tapi tetap memperlihatkan wajah datarnya. Novita mengangguk sambil tersenyum manis.
"Baiklah, tunggu sebentar," Queen langsung berdiri dan masuk kedalam kamar mandi. Badannya sudah terasa lengket.
Setelah berapa menit, Queen keluar dari kamar mandi menggunakan baju dress selutut berwarna hitam, dan rambut panjang sepunggungnya digerai.
"Sudah siap Nona?" Tanya Novita yang hanya dibalas anggukan oleh Queen. Setelah itu mereka berdua berjalan beriringan.
Istana ini sangat luas dan banyak lorong-lorong. Jika berjalan sendiri, Queen sudah pasti tersesat di istana ini.
"Ruangan apa ini?" Queen bertanya ketika melihat pintu besar setengah terbuka dengan ukiran-ukiran rumit.
"Ini adalah perpustakaan Istana Nona. Apa Nona ingin masuk?"
"Hmm,"
Queen berjalan mengelilingi perpustakaan diantara tingginya rak-rak buku.
Queen membulatkan matanya ketika melihat Pangeran Ocean tengah bergelut bibir dengan wanita cantik menggunakan pakaian kekurangan kain disudut perpustakaan.
'Sial ... kenapa aku harus menjadi Mate dari orang seperti dia ... " Rutuk Queen kesal melihat adegan tidak senonoh dipagi hari. Bukan kesal, tapi ada perasaan aneh dalam hati yang ingin disuarakan..
"Novita, apa disini ada taman?" Queen berbalik dan bertanya kepada Novita yang dari tadi sibuk membaca sebuah buku sehingga dia tidak melihat Pangeran Ocean yang tengah berciuman panas dengan seorang wanita kekurangan kain baju. Entah buku apa yang dia baca.
__ADS_1
"Apakah Nona ingin kesana?" Tanya Novita meletakkan bukunya dan Queen hanya membalasnya dengan anggukan.
Queen menatap takjub pada taman yang ada didepannya. Tamannya begitu indah..
Ada air mancur disisi sebelah kanan taman dan air sungai mengalir dengan tenang dan jernih dibawahnya, begitu banyak bunga warna-warni yang mengelilingi taman itu, dan ditengahnya terdapat sebuah pohon besar, dan terdapat ayunan yang terbuat dari tumbuhan, ayunan itu bergelantungan dari dahan pohon besar itu. Dan yang menakjubkan adalah banyak kupu-kupu dengan berbagai warna beterbangan menyisakan kilau keemasan.
Setelah menatap takjub pada taman itu selama beberapa menit, Queen berjalan menuju ayunan yang ada ditengah taman itu lalu duduk disana.
"Kau bisa pergi," Queen berucap datar pada Novita yang dari tadi mengikutinya.
"Tapi..."
"Aku tidak suka diikuti," Queen masih datar.
Novita menghela napas pelan menghadapi Nonanya itu.
"Baiklah," Novita langsung berbalik dan kembali ke istana.
Queen menghela napas pelan. Beban dihatinya saling melengkapi menjadi semakin berat. Rindu, marah, gelisa, camburu, dan senang mencampur jadi satu.
Queen rindu pada keluarganya, rindu pada sahabatnya, dan merindukan aktivitasnya. Queen marah, marah pada dirinya sendiri yang begitu lemah sehingga melarikan diri dari istana saja tidak mampu. Queen gelisah hidup di Istana megah tanpa teman atau kasih sayang, Queen cemburu ketika melihat orang lain yang berlalu lalang didepannya bercanda ria bersama temannya, tapi Queen senang karena ternyata khayalannya untuk bertemu makhluk sihir benar-benar terjadi.
Hembusan angin mendorong ayunan yang ditempati Queen sehingga tubuh Queen ikut bergerak.
Queen menghirup udara segar yang ada disekitarnya sambil menutup mata merasakan belaian angin yang membelai rambutnya halus.
Hah.. lagi-lagi Queen bisa mendengar pohon-pohon tengah tertawa renyah bersama angin. Entalah itu hanya firasatnya saja atau memang kenyataan, toh Queen tengah berada di alan immortal, semua hal yang tidak mungkn bisa saja terjadi. Angin membawa terbang beberapa daun yang gugur dari pohonnya.
"Pohon-pohon disini memang suka tertawa, entah apa yang lucu," Queen membuka mata mencari asal suara bass itu.
"Heii.. aku disini," Queen mendongakkan kepala dan memdapati seekor kucing berwarna kelabu tengah duduk sambil menjilati kakinya.
Kucing itu benar-benar imut, tubuhnya yang gempal, ekor panjang yang bergoyang, dan bulunya benar-benar lebat dan terlihat halus.
"Apa kau yang bicara?" Queen bertanya pada kucing itu. Yahh katakanlah ini gila.
"Hmm.." kucing itu berguman dan melompat kepangkuan Queen.
"Hah.. ini benar-benar nyaman," Kucing kelabu itu menggeliat nyaman dipangkuan Queen. Dengan ragu Queen mengelus bulu kucing itu dengan lembut.
"Hei.. pastikan tangan mu tidak kotor!" Ucap kucing itu.
Queen membiarkan kucing gemuk itu tidur dipangkuannya sambil mengelusnya bahkan kucing itu mendengkur nyaman.
Setelah beberapa menit, kucibg itu bangun sambil meregangkan otot-ototnya.
"Kau sudah bangun?" Tanya Queen.
"Seperti yang kau lihat," Jawab kucing itu.
"Apa kau punya nama?" Tanya Queen lagi.
"Lui. Panggil aku Lui,"
"Nama yang indah Lui,"
"Tak seindah namamu tentunya," Lui kembali menjilat kakinya.
"Hei.. kau tau namaku?,"
"Queen. Itu nama mu bukan, aku sudah memperhatikanmu sejak pertama kali engkau masuk kedalam Istana ini,"
"Dasar penguntit," Maki Queen.
"Aku hanya menguntitmu, tidak mencium atau menyakitimu seperti yang dilakukan Pangeran Ocean kepadamu," Jawab Lui santai.
"Ka..kau melihatnya?" Queen membulatkan matanya tidak percaya.
"Dasar kucing sialan,"
"Tapi tidak sesialan Pangeran Ocean bukan?" Queen menghela napas malas.
"Akan ku beri tau, Pangeran Ocean tidak seburuk yang kau pikirkan, dia Pangeran yang baik, hanya saja kehilangan membuatnya menjadi kejam,"
"Baik kau bilang? Cihh.. bahkan dia memukul wanita,"
"Itu kesalahanmu juga, seharusnya kau tidak membalas atau menghinanya,"
"Hei.. jadi maksudmu aku harus diam ketika dia menyiksaku?" Queen menaikkan suaranya satu oktav.
__ADS_1
"Ya.. menurutku lebih baik begitu,"
"Maaf tuan kucing, idemu sangat buruk,"
"Itu terserah padamu,"
"Oh ya, apa maksudmu memgatakan bahwa 'Kehilangan membuatnya jadi kejam?"
"Mungkin aku bisa menjelaskannya nanti, sekarang aku harus pergi dulu," Lui langsun melompat dari pangkuan Queen dan menghilang bagai debu.
"Hai," Sapa seorang laki-laki dari belakang Queen. Queen hanya menyeritkan dahi seolah bertanya siapa dia.
"Oh perkenalkan, namaku Arthur, aku salah satu panglima disini,"
"Aku tidak menanyakan kedudukanmu,"
"Huh.. sepertinya yang dikatakan Novita benar," Arthur mendongak menatap langit.
"Apa yang dia katakan?"
"Dia bilang kau sangat dingin dan susah didekati, kau tidak pernah tertawa bahkan tersenyum, kau lebih dingin dari Pangeran Ocean, tapi pangeran Ocean lebih sadis," Queen hanya diam.
"Itu kata dia bukan kataku," Tambah Arthur tersenyun manis. Siapapun yang melihat senyumannya pasti meleleh.
Queen menyeritkan dahi tidak mengerti.
"Menurutku kau hanya butuh seorang teman yang tepat," Ucap Arthur sambil menjentikkan jarinya.
"Kemarilah.." Ucap Arthur entah pada siapa.
"Siapa?" Tanya Queen.
"Para peri,"
"Peri?"
"Ya, mereka memang agak pemalu, dan.. jahil,"
Setelah beberapa detik hening, Queen membulatkan mata ketika melihat seekor peri keluar dari persembunyiannya dibalik pohon.
Peri itu memiliki ukuran lebih kecil dari kupu-kupu dan berkilau layaknya berlian yang diterpa sinar mentari. Leri itu terbang secara perlahan kearah Arthur.
"Siapa dia?" Bisik peri itu kepada Arthur.
"Dia adalah Queen, mate sang Pangeran. Tenang saja dia tidak akan menyakiti kalian," Senyum peri itu langsung mengembang mendengar ucapan Arthur.
"Teman-teman ... dia sangat cantik," Teriak peri itu dengan suara melengking sembari terbang mengelilingi Queen. Beberapa detik kemudian, Queen bisa melihat ratusan bahkan ribuan peri yang terbang keluar dari balik air terjun ditaman itu. Awalnya para peri itu hanya diam menatap Queen tanpa berkedip.
"Teman baru!" Para peri itu langsung terbang mengelilingi Queen, ada yang sibuk mengepang rambut Queen, dan ada yang sedang sibuk membuatkan Queen mahkota dari tanaman.
"Kau begitu cantik Queen," Salah satu peri maju sambil mengecup pipi Queen.
Tanpa sadar Queen tertawa lepas melihat tingkah para peri ini.
"Kenapa?" Queen bertanya bingung, pasalnya ribuan peri itu dan juga Arthur hanya diam menatap Queen.
"Kau begitu cantik ketika tertawa," Puji Arthur tulus yang membuat pipi Queen merah padam.
'Kenapa bukan Arthur saja yang menjadi mateku, Arthur juga tampan, baik, dan tidak kejam tentunya,' Batin Queen.
"Berhenti menatapku begitu, aku memang tampan," Ujar Arthur sok cool.
"Kakak dan Ayah ku jauh lebih tampan darimu," Queen kembali duduk diantara para Peri yang tengah bercengkrama dan saling menjahili.
"Bagaimana kalau begini?" Arthur berdiri sambil tersenyum manis.
"Kakak dan Ayahku jauh diatasmu,"
"Hah.. baiklah, aku menyerah." Arthur memperlihatkan wajah lesuhnya yang membuat tawa Queen meledak. Arthur tersenyum manis melihat Queen yang tengah tertawa.
'Cantik' kata Arthur dalam hati.
Tanpa sadar sepasang mata tengah mengawasi mereka dari dekat. Orang itu menatap tajam kearah Queen dan Arthur.
"Cih.. kau adalah mateku, milikku, aku tidak akan membiarkan orang lain tertawa bersamamu, aku lebih suka melihat wajah datarmu dibanding wajah senangmu bersama orang lain," Ujar orang itu lalu menghilang bagai debu.
____________________
Mohon krisannya😇
__ADS_1
kita sama-sama belajar😊