
"saat tersenyum anda sangat tampan yang mulia
'deg
astaga dia memuji ku? apakah aku sedang bermimpi?
"ti-tidak jie kakak raja muda jauh lebih tampan" jawab pangeran keempat gagap
"jauh berbeda yang mulia, andai saya bertemu lebih dahulu dengan anda mungkin nasib saya tidak akan sesial ini" ucap Mey Ji dengan mata berkaca kaca
...----------------...
"apa maksud mu jie? jangan begitu, bagaimana pun kakak raja muda adalah suami mu"
"hahahha suami yang mulia? terdengar seperti gurauan semata"
tidak dapat di pungkiri mendengar hal tersebut hati pangeran keempat makin yakin untuk merebut Mey Ji dari Xiao yang dan akan menjadikan Mey Ji sebagai wanita yang sangat beruntung selama sejarah.
skip
sesampainya di taman, telah terhidang berbagai macam makanan di meja.
"silahkan yang mulia" ucap Mey Ji dengan sopan kepada pangeran keempat
mereka menyantap makanan yang telah dihidangkan, namun saat sela sela makan seseorang yang mimik wajahnya masam bak cuka hadir diantara mereka yang membuat suasana yang awalnya baik dan ceria menjadi menegangkan.
__ADS_1
"ohh kalian tak mengajak ku makan? kenapa hanya kalian berdua saja? aku sebagai seorang suami apakah tidak pantas?" cerca Xiao yang
"haa silahkan duduk yang mulia" Mey Ji mempersilahkan Xiao yang duduk ditepi
namun bukannya duduk Xiao yang malah menepuk pundak adik keempat nya dan menyuruh nya pindah menjauh dari istrinya.
pangeran keempat yang tidak terima hanya tersenyum melihat intens kakaknya yang menginginkan ia pindah. Xiao yang yang tidak ingin ada perdebatan memilih mengalah
"kenapa kalau aku yang mengajak makan kau tidak mau?" tanya Xiao yang menatap Mey Ji
"hamba hanya tidak enak saja pada anda yang mulia, bagaimana bisa anda meninggalkan permaisuri anda makan sendiri hanya untuk seorang selir? itu bukan lelucon yang mulia"
"jadi kau lebih memilih menjadi gosip di kerajaan makan bersama adik ipar begitu?"
"KAK!!! cukup, sudah cukup. apakah kakak pernah memikirkan perasaan kakak ipar jie? semua yang ia lakukan tidak pernah benar Dimata kakak dan orang orang penting istana. apakah kalian masih menganggapnya hidup?"
"ya benar, tapi aku yang tidak tahan melihat kalian, kalian terlihat seperti orang serba benar tapi memiliki dosa yang banyak. alangkah baiknya kalau aku yang menikah dengan kakak ipar dari pada dirimu kak"
'bagus, mari lanjutkan drama ini' batin Mey Ji
'miawww nona!! mode jahat tokoh utama meningkat namun rasa sukanya juga meningkat'
'biarkan kucing manis'
"a-aku mohon jangan membahas hal yang tidak perlu saat makan. ma-mari lanjutkan makan, pangeran ku mohon sudah cukup" Mey Ji mencoba menenangkan pangeran keempat dengan menepuk pundaknya
__ADS_1
"jie jie!!!" Xiao yang yang tidak terima perlakuan Mey Ji pada adiknya angkat bicara. ia juga menarik tangan Mey Ji ke dekapannya
"ya-yang mulia, lepas yang mulia. bagaimana kalau orang lain melihatnya dan memberitahu adikku?" Mey Ji kalang kabut
"untuk apa dia marah? aku hanya tak ingin istriku berdekatan yang tak lazim dengan adik iparnya"
"kak!! sampai permaisuri mu tau maka kakak ipar jie akan dihukum, bukankah itu juga karena kau? apakah kau ingin kakak ipar hampir lumpuh seperti dulu?"
deg
'kenapa dia membahas itu? Xiao yang bodoh ini mana tau aku hampir lumpuh karena hukuman dari wanita itu'
"lumpuh?" ucap Xiao yang tak percaya atas apa yang ia dengar
'kenapa aku tidak tau ini? apa yang terjadi sampai jieji hampir lumpuh? kenapa dia begitu kejam terhadap kakaknya?'
"hah? kakak tidak tau ternyata? apakah kakak benar benar suaminya?"
"biar ku beritahu. kakak ipar jie hampir lumpuh karena hukuman 150 pukulan hanya karena ia tidak menyapa permaisuri kakak saat berada di taman. ia menghukum kakak ipar jie di kediaman keluarga nya, dan juga kakak ipar jie setelah itu dikurung di gudang untuk introspeksi diri" tambah pangeran keempat
terkejut?
tentu saja. saat mendengar hal itu membuat Xiao yang digerogoti rasa teramat bersalah karena tidak becus menjadi suami, ia malu atas apa yang terjadi.
"ji-jie? apakah itu benar? kenapa kau tidak memberi tahu ku?"
__ADS_1
"hahaah, apakah anda akan mendengarkan apa yang saya katakan yang mulia? apakah anda pernah memandang saya? kalau anda merasa bersalah tak apa, saya telah memaafkan segalanya" ucap Mey Ji kecut lalu dengan deraian air mata ia meninggalkan kedua kakak beradik itu