
"Kau tidak pantas mengetahui Namaku!". Ucap Rea dengan nada datar nya.
Awalnya pemuda bernama Fu itu ragu karena Rea memiliki aura semenyeramkan itu dan takut Rea merupakan anggota dari keluarga atau organisasi besar dan berpengaruh. Tapi saat dia menerawang tingkat kultivasi nya hanya tingkat pemula level 7, sangat tidak sebanding dengan sikapnya. Jadi dia pun merasa dia akan menang dalam perdebatan ini dan dia juga merasa bahwa wanita didepannya ini hanya melebih-lebihkan kemampuannya untuk membuatnya takut.
"Dasar kau jal*ng kecil tak tahu diri! Berani-beraninya kau berbicara seperti itu di depanku. Kau ingin menyinggung pihak akademi Huadan?. Apa kau juga tidak menyayangi nyawamu?." Dengan bangga pemuda bernama Fu membawa nama akademi nya dan seakan akan akademinya memiliki kuasa dan ditakuti oleh banyak orang.
Pelayan kecil yang terjatuh tadi langsung bersujud di depan pemuda itu karena merasa dia tidak sanggup untuk menyinggung pihak akademi Huadan. "Tuan, mohon ampun Tuan. pelayan ini benar-benar tidak sengaja. ampuni pelayan kecil ini tuan. ampunilah nyawaku."
Melihat reaksi dari pelayan restoran yang ketakutan membuat pemuda Fu itu semakin berangan-angan tinggi.
"Apa kau kira aku tidak sanggup menyinggung akademi Huadan?". Rea melangkah maju perlahan ke arah pemuda itu sambil melipat kedua tangannya.
"Dasar wanita murahan tak tau diri! Kau sampah tapi berani berlagak sok didepan mata ku?". Pemuda bernama Fu itu maju juga dan akan memberikan pelajaran pada Rea. Dia sudah mengancang ancang tangannya kebelakang sambil dan berniat memberikan tamparan keras pada Rea yang ada di depannya.
Rea menyunggingkan senyumannya. Senyuman itu akan terlihat mendominasi tapi sekaligus manis bila tidak tertutup cadar tipis.
"Terima ini!". Tangan yang akan menampar itu mulai di ayunkan.
Rea memanfaatkan ruang dimensinya untuk mengeluarkan senjata yang telah Ia buat dengan banyak penelitian dan susah payah.
Dari ketiadaan tiba-tiba tangan Rea terselimuti oleh tangan besi yang mirip seperti tangan robot.
Tangan yang akan menamparnya ditangkis langsung oleh tangan robotnya yang membuat jari-jari dari pemuda yang bermarga fu itu remuk saking kerasnya dan kokohnya tangan robot Rea beserta karena tenaga dalam yang di gunakan terlalu besar oleh pemuda fu. Sehingga meskipun Rea hanya diam tapi efek nya pada tangan pemuda fu itu sangat luar biasa.
"Lemah". bisik Rea kecil sambil menampilkan smirk smile nya.
"Aaaaaa.... " Fu menjerit sambil memegangi tangannya. ekspresi kesakitan sangat jelas di wajahnya. Jeritan dari pemuda fu itu langsung membuat teman-teman semeja nya berdiri sambil menghentakkan meja dan menghampirinya.
"Ada apa dengan tanganmu kakak seperguruan?." Gadis bernama Lu langsung menghampiri nya dan terlihat khawatir dengan kakak seperguruan nya.
"Aku terlalu meremehkanmu karena melihat kultivasi mu yang baru mencapai tingkat pemula level 7. Pantas saja kau tidak takut, Apakah karena kau punya harta itu ditanganmu?". Ujar kakak seperguruan dari pemuda bernama fu tadi yaitu Mo.
Mo maju dua langkah dan meneruskan berbicara "Kalau kau bersedia memberikan benda yang ada di tanganmu kepada kita maka kita akan membiarkanmu hidup lebih lama! Tapi tangan harus dibayar dengan tangan!!." Ucapnya dengan nada yang nge gas tak bersahabat.
__ADS_1
"Atas hak apa kau mengemis meminta barangku? Apa kau sangat miskin sehingga meminta barang orang?". Rea masih berdiri di tempatnya sambil mengelus ngelus tangan robot yang terpasang di tangannya.
"Mengemis katamu??? Aku memberikan kau kesempatan hidup dan kau tidak menghargai nya! maka jangan salahkan aku jika kau mati hari ini ditanganku!." Mo mengepalkan tangannya erat karena hilang kesabaran.
"Aku sudah pernah mati, Apa kau mau merasakannya juga?". Kata kata rea seperti omong kosong ditelinga Mo karena kalo dia sudah mati tidak mungkin dia dengan sehat berdiri di depannya.
Tanpa basa-basi lagi Mo langsung maju kedepan dan bertarung dengan Rea.
Meski kultivasinya masih pemula dan tubuhnya belum cukup kuat Rea tetap lebih unggul dari Mo yang kultivasinya berada di tingkat Prajurit level 8 hanya sedikit lagi untuk mencapai tingkat Jenderal.
Rea mengandalkan kegesitan nya untuk menghindar dan memanfaatkan tangan robotnya untuk membalas.
Mo terus meninju dan mengeluarkan segenap tenaganya untuk mencapai Rea tapi Rea selalu bisa menghindar.
Saat nafas mo sudah terengah-engah karena mengincar target yang susah di dapati, dia mulai mengeluarkan pedang dari sakunya. Mengusap pedang dengan kedua jarinya dari pangkal sampai ujung pedang. Lalu cahaya merah menyelimuti pedang seperti kabut tipis dan angin berhembus masuk kedalam restoran.
Melihat situasi yang sudah tidak terkendali semua pengunjung restoran langsung bergegas keluar dan tidak ingin berpartisipasi di dalam. Dan yang masih tetap di dalam hanya Rea, Mo, Fu, nona Lu, dan Nona feng saja.
"Ouh,, kau mengeluarkan senjata?" Tanya Rea yang sudah pasti ia ketahui sendiri kenyataannya tanpa harus bertanya. "Okayy lets play with mommy ben". Ben yang di maksud Rea adalah tangan robotnya. Ia menghentakkan kedua tangannya lalu di setiap ujung jari nya keluar laser berwarna hijau yang bentuknya menyerupai cakar yang sangat tajam.
Keempat orang yang melihat perubahan dari tangan robot Rea langsung melotot tak percaya. Pasalnya benda seperti itu baru pertama mereka lihat dan selama mereka belajar sejarah tentang daratan dan dunia ini mereka belum pernah mendengar ada pusaka yang seperti itu.
Tapi Mo tetap yakin pada pendiriannya dan tidak goyah hanya karena melihat senjata aneh di tangan Rea.
Ia berlari mendekati Rea dan mengayunkan pedangnya dengan segenap kekuatan nya. Ia berniat menumbangkan Rea dengan sekali tebas.
Saat pedang itu sampai di depan mata Rea ...
Bang!!
Ada ledakan yang membuat area mereka berdua langsung tertutup kabut dari debu beserta suara tebasan senjata terdengar sangat keras secara bersamaan.
Nona Lu dan Nona Feng tersenyum. "Dasar sampah!!". Batin mereka.
__ADS_1
Setelah debu yang di akibatkan oleh ledakan akhirnya mereda, Mo dengan gemetar sambil memegang pedangnya yang patah melangkah mundur perlahan menjauhi Rea.
"Apaa!! Bagaimana ini bisa terjadi?? Kakak seperguruan dikalahkan begitu saja?" Batin nona Lu.
Sementara Nona feng hanya melebarkan matanya kaget. Tidak berani membuat statement apapun dikarenakan apa yang ia lihat cukup mengejutkan.
"Pe..pe.. pedangku!!" Hal ini sangat mengejutkan bagi Mo bahwa pedangnya hancur karena pedang milik Mo termasuk pedang kelas atas dengan bahan yang langka dan disebut sebut sebagai pedang dengan bahan terbaik di daratan zitao.
Banyak orang yang sudah mengujinya dan memang bahwa pedang dengan bahan terbaik ini merupakan pedang dengan ketahanan luar biasa. Tapi dihadapkan dengan Rea, Pedang ini hanya tinggal nama.
"Kau ingin bertarung denganku? Gunakanlah senjata yang layak. Dengan senjata sampah seperti itu tak layak untuk bertarung denganku!." Ucap Rea dingin sambil melangkah maju dan mencakar sisi tembok restoran dengan cakar laser nya sehingga meninggalkan jejak cakar yang dalam dan suara berderit yang sangat linu.
Keempat orang dihadapannya menutup telinga mereka dan mengerutkan kening mereka tidak nyaman dengan suara yang Rea timbulkan.
"Bagaimana dengan kekuatan senjata eksperimen ku? Bukankah cukup memuaskan? Cakar sinar laser ku yang bisa memotong segala hal. Bukankah Indah?".
Perilaku Rea yang seperti seorang pembunuh dengan aura menyeramkan ditambah senjata kuat di hadapannya membuat mereka bergidik ngeri.
Feng yang lebih jernih pikirannya langsung memikirkan bahwa dengan senjata sehebat itu pasti ada master pembuat senjata legendaris di belakangnya. Jika dia bisa mengundang master itu kedalam akademi dan membuat senjata seperti itu dalam skala besar, bukankah dia merupakan murid dengan jasa paling besar? Bisa jadi guru nya yang paling kuat akan merekrutnya sebagai murid nya!.
Ia lalu menampilkan senyum hangat nya dan langsung memberi salam pada Rea.
"Nona, Maafkan adik adik seperguruan ku yang tidak mengetahui luasnya dunia dan tidak memahami bahwa di atas langit masih ada langit. Saya akan menghukum mereka sesuai peraturan akademi dan memberikan kompensasi yang nona inginkan. Saya adalah salah satu murid inti dari Akademi Huadan, Zi Feng. Senang bertemu nona... "
"Rea, Edrea Leta Leteshia." Rea masih dengan wajah datar nya, Ia paling tau kalo orang yang kaya gini biasanya yang cuma pengen menjilat. Kalo memang berniat minta maaf pasti minta maaf disaat pertama kali Adit seperguruan nya menyinggungnya tapi ini malah memanfaatkan keadaan dengan meminta maaf saat adik seperguruan nya sudah kalah.
"Nona Rea, Senang bertemu dengan anda." Zi feng lalu mengeluarkan kantong kecil yang terlihat berat.
"Nona Rea ini adalah kompensasi kecil dariku. Mohon Nona Rea memaafkan kecerobohan adik adikku. Jika dirasa kompensasi ini kurang nona bisa datang ke akademi Huadan dan menemui saya." Ucap Feng masih dengan suara hangat dan senyum manisnya.
"Kompensasinya sangat kecil." Rea menghentakkan kedua tangannya dan tangan robot yang asalnya terpasang di lengannya langsung hilang tak terduga dihadapan keempatnya.
Mo langsung menelan ludahnya kasar membayangkan jika dia menyinggung orang didepan nya dan orang di depannya menusuk dadanya dengan sinar aneh berbentuk cakar itu mungkin dia sudah tak tertolong.
__ADS_1
Setelah menghilangkan tangan robotnya, Rea mengambil secara kasar kantong uang yang disodorkan oleh Zi feng. melemparnya keatas lalu di tangkap berulang ulang. Lalu pikiran jahat tiba-tiba menghampiri nya.
"Kalian bertiga selain kau,, mmmm siapa namanya,,? Ahh zi feng. Keluarkan semua uang dan barang berharga kalian!." Rea berkata sambil menyodorkan tangannya untuk menerima barang barang dari ketiganya.