
Saat kami berjalan kembali ke kamar kami, Gary menarikku kebelakang dan berbisik di telingaku.
"Hei Ray, tolong aku sebelum kita kembali, bisakah kamu menungguku di atap asrama kita?"
Gary jarang memintaku untuk membantunya, aku mengangguk setuju. Aku tidak tahu apa yang diinginkan Gary dariku, sepertinya itu membuatnya sangat khawatir, dia bergegas lari menemui ku dengan tergesa-gesa.
Sebelum pergi ke kamarku, aku pergi ke atap seperti yang diminta Gary. Anehnya ketika aku sampai di sana, aku tidak menemukan seorang pun disana. Sungguh aneh mengingat Gary berlari dengan tergesa-gesa, aku pikir dia akan mencapai atap asrama sebelum aku sampai.
Aku pergi ke tepi atap, pemandangannya terlihat bagus dari sini, aku bisa melihat hampir seluruh kota dari sini. Lampu-lampu kecil yang bersinar saat malam hari dari rumah-rumah tampak indah. Di masa lalu mereka menggunakan nyala api yang tidak begitu terang, tetapi sekarang mereka menggunakan cahaya terang yang ditenagai oleh kristal.
Aku melihat ke kananku di mana aku bisa melihat pusat akademi Avrion. Pusatnya adalah menara yang tingginya sekitar seratus meter lebih tinggi dari gedung asrama. Suatu hari aku harus pergi ke sana untuk melihat pemandangan dari atas menara.
Jika ada satu hal yang sangat aku inginkan, aku menginginkan kemampuan untuk terbang. Aku bisa terbang di langit dan melihat pemandangan kapanpun dan di manapun yang aku inginkan. Meski malam lainnya tak pernah seindah sekarang.
Saat aku sedang bersandar di tepi melihat kota, aku mendengar suara pintu tertutup di belakangku. Gary akhirnya tiba dan di tangannya, dia memegang dua pedang kayu pelatihan.
"Hei, untuk apa benda-benda itu?" Tanyaku sambil berjalan ke arahnya.
Wajah Gary serius, sudah lama aku tidak melihatnya seperti ini.
"Kau tahu, hari ini Slyvia bertanya padaku, dia bertanya siapa yang lebih kuat antara aku dan kamu. Apakah kamu tahu jawaban apa yang kuberikan padanya."
"Sudah lama kita tidak bertanding."
"Aku mengatakan kepadamu, mungkin itu semua hanyalah dugaan ku. Sejak aku datang ke akademi Avrion, semua orang di sekitarku menyebutku jenius. Jika aku jenius, lalu apa yang membuatmu seperti ini." Gary melemparkan salah satu pedang kayu di tangannya ke arahku.
__ADS_1
Aku berhasil menangkapnya, masih bingung dengan apa yang dia maksud.
Gary melanjutkan. "Aku bukan idiot. Aku tahu aku mungkin akan menerima selempang putih malam ini, tapi kamu Ray, kemungkinan besar akan mendapatkan yang selempang merah. Artinya aku mungkin tidak akan pernah mendapatkan kesempatan seperti ini lagi. Jadi aku meminta kepadamu, tolong bertanding denganku."
Gary memiliki tatapan yang tajam di matanya, sulit untuk mengatakan tidak. Bahkan jika aku ingin menolaknya, aku harus melawan Gary seperti yang dia inginkan. Aku perlu melihat seberapa banyak aku telah meningkat sejak pertandingan di atas bukit hari itu.
Aku menggenggam pedangku di tanganku. Gary tahu bahwa aku telah menerima tantangannya. Jika Gary ingin melawanku maka aku akan memberinya pertarungan seperti yang dia inginkan.
Aku memulai serangan pertama langsung melesat ke arahnya. Aku mengayunkan pedang kebawah tepat ke arah wajahnya. Gary berhasil memblokirnya membuatnya mundur beberapa langkah. Dia tersenyum.
"Sangat kuat, kamu akan lulus ujian The Gems of Strength dengan sangat mudah," kata Gary sambil tersenyum.
Gary maju dan membalas dengan beberapa serangan, meskipun lebih lambat dan tidak sekuat serangan ku. Dia terus menyerang di tempat-tempat yang sulit sehingga membuatku kesusahan memblokirnya.
Pertarungan diantara kami terus berlanjut, memblokir dan menyerang satu sama lain.
Gary adalah seorang jenius sejati saat menggunakan pedang. Serangan pedangku sekitar dua kali lebih cepat dan kuat, tetapi dia masih berhasil memblokir dan menghindarinya. Sementara aku hanya berdiam diri di sana.
Aku ingin mengalahkannya tanpa menggunakan gerakan binatang buas, tetapi aku dapat melihat bahwa Gary mulai kelelahan. Jika aku terus melanjutkannya seperti, aku mungkin dapat mengalahkannya.
Aku merasa seperti batu kristal telah memberikanku keuntungan sehingga memiliki lebih banyak stamina sehingga membuat pertarungan menjadi tidak adil. Jika Gary kalah, itu membuat Gary merasa terhormat kalah dengan semua apa yang aku miliki.
Aku meletakkan gagang pedang di mulutku. Menggigit gagang pedang dengan erat, aku merangkak seperti binatang buas. Kebanyakan orang yang melihatnya mungkin akan menertawakan Ray yang meniru gerakan binatang buas tetapi tidak dengan Gary. Dia berdiri di sana menunggu, mengawasi setiap gerakanku.
Aku berlari ke arah Gary, Gary langsung bergerak untuk menebasku di tanah, aku dengan cepat melompat ke samping dan meraih kakinya untuk digunakan mengayunkan tubuhku kebelakangnya. Aku kemudian menyerang belakang tubuhnya dengan pedang. Dia tidak dapat bereaksi terhadap gerakan aneh ini.
__ADS_1
Gary hebat dalam ilmu berpedang, dia dengan sigap langsung bergerak menghindari serangan Ray. Serangan Ray lebih cepat dari gerakan Gary, sehingga dia tidak dapat menghindari semuanya.
Gary jatuh dan berlutut ke tanah. Dia menoleh ke arahku dengan senyum lebar.
"Kurasa kau masih satu-satunya Rival ku, Ray."
Kami kembali ke kamar bersama, saat memasuki kamar kami disambut dengan kejutan. Orang-orang duduk mengelilingi meja mengobrol dengan gembira, tetapi ada juga pendatang baru di ruangan itu.
Orang baru itu langsung melihat kearah kami berdua, dia bangkit dari tempat duduknya dan datang memperkenalkan dirinya.
"Hai, aku teman sekamar barumu, Martha."
Dia adalah gadis yang melakukan tes Panahan dengan nilai terbaik. Sekarang ini menjelaskan ku di mana aku pernah melihat nama itu sebelumnya, nama itu berada di pintu kamar kami. Meski begitu, masih ada sesuatu yang membuatku bingung. Aku yakin aku juga pernah melihatnya sebelumnya.
"Martha, aku tidak pernah ingat kamu berasal dari sekolah di kota Ranny," kata Gary.
"Memang tidak, ibuku adalah salah satu pemimpin dari serikat petualangan, mereka memberikan ku izin khusus untuk mengikuti tes dan menempatkanku dengan kalian karena kalian masih memiliki slot ruangan."
Itu mengejutkanku. Aku akhirnya ingat mengapa dia tampak begitu akrab. Dia tampak hampir identik dengan wanita yang aku temui sepuluh tahun lalu dalam perjalanan ke kota Renny. Wanita juga merupakan seorang petualangan. Martha pasti mempunyai hubungan dengan wanita itu.
Ketika aku ingin bertanya kepada Martha tentang hal itu, sebuah pengumuman terdengar menyuruh kami keruangan makan.
"Silahkan kalian pergi keruang makan, disana kalian akan diberitahukan peringkat dan ikat pinggang kalian."
Suara itu terdengar hingga keseluruh kamar asrama.
__ADS_1
(Jangan lupa Like dan Dukungannya)