Reinkarnasi Sang Naga Merah

Reinkarnasi Sang Naga Merah
47. Peringkat Atas


__ADS_3

Wilfred telah mengetahui seluruh situasinya dan berkata bahwa Ray dapat beristirahat dari pelatihan selama beberapa hari. Meskipun teman sekamar Ray tidak tahu situasinya, sepertinya mereka tahu Ray sedang dalam suasana hati yang buruk.


Ray telah mencoba yang terbaik untuk bertindak seperti biasanya. Sekarang mereka sering menyapa Ray setiap kali mereka berpapasan dengannya dan menanyakan keadaan. Ray bahkan telah diberikan tempat tidur khusus yang diberikan oleh teman sekamarnya.


Dipagi berikutnya Slyvia memintaku turun bersama mereka ke ruang makan untuk sarapan. Biasanya, Ray selalu melewatkan sarapan dan berpuasa sampai waktu makan siang, tetapi Sylvia dan yang lainnya memaksa Ray untuk ikut bersamanya.


Saat menuju ke ruang makan, beberapa siswa menatap ke arahku, baru beberapa hari sejak insiden antara Gary dan biksu. Meskipun kelompok kami sudah kembali beraktivitas dengan normal dan tidak mempermasalahkan insiden itu, sepertinya siswa lainnya masih menyimpan dendam padaku.


Ray duduk di antara Slyvia dan Gary sambil memakan makanan kami. Kemudian mereka mencoba berbasa-basi denganku sekarang, aku melakukan yang terbaik untuk menjawab pertanyaan itu walaupun itu sulit bagiku. Bukannya aku tidak menikmati percakapannya, tetapi karena aku tidak tahu harus berkata apa kepada mereka.


Seorang siswa lewat di belakang kami dengan nampan makanan di tangan. Siswa itu terpeleset dan jatuh tepat di belakangku menumpahkan isi nampannya ke seluruh kepalaku. Kepalaku ditutupi dengan makanan dan kuah sup yang mereka sajikan untuk sarapan.


"Oh maaf, itu kecelakaan." Anak laki-laki itu berkata kepadaku dengan seringai muncul di wajahnya.


Sylvia berdiri dan mulai meneriaki siswa itu.


"Itu jelas bukan kecelakaan, ada apa denganmu ..."


Sebelum Slyvia bisa menyelesaikan kalimatnya, Ray berbalik dan meraih kepala siswa itu. Ray kemudian membanting kepala siswa ke nampan makanan milik Ray di atas meja. Kekuatannya begitu kuat sehingga papan kayu menjadi retak. Tapi Ray belum selesai dengannya, Ray kemudian meletakkan kakinya di punggungnya meraih lengannya dan menariknya keatas sampai suara tulang yang patah bisa terdengar.


Ruangan itu dipenuhi dengan jeritan kesakitan anak laki-laki itu sebelum dia pingsan. Semua orang di ruangan itu sekarang memusatkan perhatian mereka pada Ray, tetapi tidak ada satu orang pun yang mengatakan sepatah kata pun.

__ADS_1


Sesuatu dalam diriku tersentak ketika aku melihat anak laki-laki itu tersenyum. Manusia kotor ini perlu diberi pelajaran, ayahku benar, aku seharusnya tidak membiarkan diriku diganggu lagi dan ini adalah caraku yang untuk mewujudkannya. Aku telah memberi mereka kesempatan yang cukup sejak kemarin.


Ray berjalan menjauh dari ruang makan, sementara tidak ada yang mengatakan sepatah kata pun. Ketika Ray berada di kamarnya, Ray dipanggil oleh Lancy untuk pergi menemui Wilfred. Ray disuruh menemuinya di ruang pertemuan yang kami temui beberapa hari yang lalu.


Ketika Rat memasuki ruangan hanya ada Ray dan Wilfred disana.


"Duduklah Ray, aku mendengar apa yang terjadi hari ini di ruang makan."


Ray tahu alasan dia dipanggil ke sini adalah tentang kejadian diruang makan.


"Aku tidak akan meminta maaf atas apa yang telah aku lakukan."


"Aku tidak mengharapkan itu, untungnya teman sekamarmu menjaminmu dan memberitahuku apa yang telah terjadi, tetapi ada juga banyak saksi yang berada di pihak siswa itu. Aku harus meyakinkan ksatria master lainnya agar berada di pihakku. Beruntung bagimu, kamu penting untuk akademi Avrion."


"Benar tapi aku tahu bagaimana kamu diperlakukan di sekolah, ksatria lain mungkin menutup mata terhadap perlakuan buruk terhadap siswa berambut merah tetapi aku tidak. Kami juga memiliki perbedaan pendapat dalam peringkat atas."


Ray tahu apa yang Wilfried maksud, Ray telah menerima perlakuan buruk dari salah satu master ksatria.


"Aku tidak mengatakan orang-orang ini tidak pantas dihukum Ray, mungkin lain kali kau harus melakukannya dengan cara resmi, jika siswa terluka selama pertandingan peringkat maka tidak perlu bagi kita ksatria master untuk ikut terlibat," kata Wilfred sambil mengedipkan mata padaku.


Ray membalas senyuman Wilfred dan kami pun keluar meninggalkan ruangan itu. Ray menanggapi kata-kata Wilfried dengan serius, bagaimanapun juga, Ray tidak ingin berakhir ditendang keluar dari akademi Avrion. Masih banyak yang harus Ray pelajari dan lakukan.

__ADS_1


Saat Ray sedang berjalan kembali ke asramanya dari ruang pertemuan, di salah satu lorong seorang anak laki-laki berambut ikal pirang mendekati Ray.


"Kau berhenti di situ, Namaku Eric Sunshield dari Sunshields, beraninya kau orang biasa yang kotor menyentuh salah satu orangku. Terutama orang berambut merah sepertimu."


Meskipun Ray ingin sekali memberikan pelajaran kepada siswa ini, Ray baru saja keluar dari ruang pertemuan dengan Wilfred. Ray tidak ingin membuat keributan secepat ini. Ray memutuskan untuk mengabaikan Eric dan terus berjalan.


Wajah Eric memerah karena marah.


"Beraninya kau mengabaikanku, apakah orang tuamu tidak mengajarimu sopan santun. Orang tuamu pasti benar-benar babi bisa membesarkan orang sepertimu."


Orang-orang diizinkan untuk menghinaku tetapi tidak jika menghina orang tuaku, orang ini harus diberikan pelajaran. Ray mengangkat tangan kanannya yang memegang komunikator peringkat siswa dan mengirim permintaan untuk pertandingan peringkat.


"Ha, peringkatmu adalah 280 dan kamu pikir kamu bisa mengalahkanku, baiklah aku menerima tantanganmu. Sudah waktunya aku mengajarimu seperti apa top ranker yang sebenarnya."


Segera setelah pertandingan dimulai, Ray berdiri diam membiarkan Eric maju menyerang terlebih dahulu. Eric terus menyerang Ray tanpa henti, Ray hanya akan melangkah ke samping menghindarinya. Ray akan membuat Eric merasa tidak berguna. Eric tanpa henti dalam melakukan serangan, dengan setiap gerakan yang semakin liar. Akhirnya, Eric harus berhenti untuk mengatur napas.


"Kurasa giliranku sekarang."


Detik berikutnya, aku berada di depan Eric bahkan sebelum dia bisa mengangkat pedangnya. Aku menjatuhkan tinjuku tepat di atas kepalanya, Eric pingsan setelah menerima pukulan ku.


Hari berikutnya semua orang berbicara tentang bagaimana peringkat mereka turun satu per satu. Aku melihat komunikator sekolah yang berada di pergelangan tanganku dan tertulis peringkat sembilan.

__ADS_1


(Jangan lupa Like, Vote, dan Dukungannya)


__ADS_2