
“Sial!”
Zhao Jun mendesis kesal. Dia pun buru-buru berlari meninggalkan tumpukan kayu tersebut untuk menyelinap ke gang-gang kecil rumah warga yang sangat sempit dan gelap.
Dia tidak lagi peduli kalau harus ketahuan dua prajurit penjaga gerbang di belakang karena mereka sudah menyadari keberadaannya.
“BERHENTI KAU PENYUSUP!”
Prajurit yang mengejar di belakang sana berseru lantang. Kecepatan mereka berlari yang cukup tinggi berhasil menyusul Zhao Jun dengan waktu relatif singkat.
Zhao Jun kesal bukan main.
Ditambah dengan kecepatan larinya yang mulai berkurang karena terlalu lelah setelah menempuh perjalanan panjang barusan untuk tiba di sini barusan, dia semakin panik dan sedikit putus asa.
“Jangan sampai aku tertangkap oleh mereka! Jangan sampai!”
Sayangnya, harapan seringkali berbanding terbalik dengan kenyataan. Begitu pula ujian yang biasanya tergantung pada niat perseorangan.
Zhao Jun yang baru saja berhasil keluar dari gang sempit dan tiba di jalanan pemukiman penduduk yang jauh lebih lebar itu mencoba untuk mempercepat larinya sekali lagi dengan mengerahkan seluruh tenaganya.
Dalam pikirannya, apa pun yang terjadi, dia harus selamat dari dua prajurit penjaga gerbang tersebut dan tiba di Balai Obat Surgawi seperti niat awalnya.
Namun, Zhao Jun justru dibuat bingung karena dia tidak lagi mendengar suara derap langkah kaki prajurit penjaga gerbang itu dari belakang.
“Apa mereka menyerah mengejarku? Sepertinya itu tidak mungkin?” gumam Zhao Jun dalam hati.
Karena penasaran, Zhao Jun pada akhirnya memilih untuk menyempatkan diri menoleh singkat. Dia ingin tahu apa mereka benar-benar berhenti mengejar atau bagaimana.
Namun, ketika Zhao Jun menolehkan kepalanya, dua prajurit penjaga gerbang yang dia cari justru muncul dari belokan gang sempit di depan!
“Berhenti! Kau sudah tidak bisa kabur lagi, Dasar Penyusup!”
“Ya! Kau sudah tidak bisa lari lagi!”
Zhao Jun spontan kembali memalingkan wajahnya ke depan sambil menghentikan langkahnya dengan susah payah, supaya tidak kebablasan hingga menabrak mereka.
“Sial! Prajurit-prajurit ini benar-benar merepotkan!” geram Zhao Jun dalam hati.
Meski demikian, dia masih berusaha untuk mencari cara guna melarikan diri dari jeratan mereka. Dia tidak boleh sampai tertangkap atau urusannya akan semakin panjang.
“Kenapa? Kau sekarang takut untuk kami tangkap? Kau ingin berniat kabur lagi? Itu tidak akan bisa!” seru salah seorang dari kedua prajurit penjaga itu dengan nada mengejek.
Zhao Jun menyipit. Dia melangkahkan kakinya ke belakang, siap untuk berbalik dan berlari pergi memutar. Tidak berniat sama sekali menanggapi mereka.
__ADS_1
Hal ini disadari dengan jelas oleh kedua prajurit penjaga tersebut. Mereka pun langsung bertukar pandangan secara sekilas satu sama lain sebelum akhirnya berjalan mendekati Zhao Jun dengan langkah lebar.
“Yo! Kau tidak bisa pergi! Kau harus ikut kami kembali ke gerbang ibukota untuk diperiksa dan ditahan!”
“Tidak!” Zhao Jun spontan menjawabnya. “Tidak akan!”
Sayangnya tepat setelah Zhao jun berkata seperti itu, dia justru tersandung karena selip dan terjatuh terduduk di hadapan kedua prajurit penjaga yang langsung tertawa terbahak-bahak karenanya.
“HA-HA-HA!”
“Kau benar-benar berpikir untuk kabur? Maka rasakan itu!”
Zhao Jun mendengkus karenanya. Meski begitu, niatnya belum padam. Dia mencoba untuk bangkit, tapi rupanya pergelangan kakinya keseleo.
“Argh!”
Melihat ini, kedua prajurit penjaga gerbang tersebut saling bertukar pandangan sejenak sebelum akhirnya maju untuk menangkap Zhao Jun.
“Kau sudah tertangkap dan tidak bisa kabur lagi, Penyusup! Lihat hukuman apa yang akan kau terima besok pagi, ha-ha-ha!”
Zhao Jun menggertakkan giginya.
Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Dengan kondisinya, dia yakin dia akan sangat sulit berlari dan kabur dari kedua prajurit penjaga ini. Tapi dia juga tidak mungkin berdiam diri dan pasrah saja kalau ditangkap oleh mereka.
Tepat ketika Zhao Jun benar-benar bingung karena putus asa, dan kedua prajurit penjaga gerbang itu hendak menangkapnya, sebuah kipas tiba-tiba datang melesat dari kejauhan dan memukul mundur dua prajurit penjaga gerbang tersebut sampai mereka terhuyung-huyung.
‘SWOOSHH!!!’
‘Bugh! Bugh!’
“Argh!!!”
Dua prajurit penjaga gerbang itu berteriak kesakitan karena pukulan kipas yang datang mengenai perut mereka masing-masing.
Spontan, hal ini mengejutkan Zhao Jun.
Dia buru-buru menolehkan kepalanya celingukan ke kanan dan ke kiri untuk mencari tahu siapa yang melemparkan senjata berupa kipas ini demi membantunya.
“Huh!!! Apa yang kalian lakukan pada salah satu orangku?!”
Suara seorang gadis muda yang cenderung agak sedikit nyaring tapi tetap halus tiba-tiba datang ke telinga Zhao Jun dan dua prajurit penjaga gerbang.
Setelah itu, sosoknya pun muncul dengan cara melompat dari sebuah kereta kuda berplakat emas ke sisi Zhao Jun.
__ADS_1
‘Hap!’
Dengan tatapan mata tajam dan sombong, gadis itu lantas mengulurkan tangannya untuk menangkap kipasnya kembali.
“HYAP!”
Gaunnya yang berwarna merah menyala itu kini bergerak mengikuti gerakan tubuhnya.
Dan dari sedikit gerakan ini saja, Zhao Jun bisa menebak kalau gadis ini adalah seorang praktisi ilmu bela diri. Tapi, dia yakin kalau keterampilan bela dirinya masih sangat standar, belum terlalu ahli.
“Kau baik-baik saja?” tanya gadis itu tiba-tiba menoleh dan menundukkan kepalanya ke arah Zhao Jun.
Di sisi lain, kedua prajurit penjaga gerbang yang tadinya terkena serangan kipas Gadis Bergaun Merah ini sekarang berusaha keras untuk bisa berdiri lagi dengan stabil.
Mereka berdua mencoba untuk mendekati Gadis Bergaun Merah tersebut dengan wajah agak ramah.
Sebab, mereka bisa melihat kalau gadis ini pastilah seorang putri bangsawan. Hal ini bisa dilihat dengan mudah dari plakat kereta kuda yang dikendarainya.
“Putri,” panggil mereka mencoba berbasa-basi.
Namun, Gadis Bergaun Merah tersebut tidak menghiraukannya. Dia masih setia menatap Zhao Jun yang belum juga bangkit dari posisinya yang terduduk karena jatuh dan keseleo.
Wajah cantiknya kini diselimuti ekspresi keras, arogan, dan agak jengkel.
“Kau ini! Mau sampai kapan menatapku seperti itu? Kau ingin aku laporkan pada ayah atau bagaimana? Atau, jangan-jangan kau ingin aku pecat, ya?”
Zhao Jun benar-benar bingung mendengarnya. Dia menatap gadis itu lebih lekat, sebelum akhirnya menangkap kode berupa kedipan mata yang aneh darinya.
Baru saat itulah dia paham bahwa gadis ini tengah membantunya dengan memberikan identitas sebagai majikannya.
“M-Maaf Nona! Kaki saya keseleo, saya sulit bangun.”
Sudut mulut Gadis Bergaun Merah tersebut berkedut setelah mendengar ucapan jujur Zhao Jun. Tanpa banyak bicara, dia kemudian mengulurkan kipasnya.
“Nah! Pegang kipas ini! Aku akan membantumu bangun!”
Zhao Jun tidak menolaknya sama sekali. Walaupun dia tidak tahu apa tujuan Gadis Bergaun Merah ini membantunya, tapi dia memang butuh bantuannya untuk sekarang.
“Terima kasih, Nona!”
Begitu Zhao Jun bangun dan berdiri sendiri dengan benar, Gadis Bergaun Merah tersebut lantas menoleh ke arah dua penjaga gerbang ibukota yang tampak begitu diam dan tak bernyali.
“Kalian berdua. Apa yang kalian lakukan pada bawahanku?! Apa kau tahu bahwa aku adalah Putri Raja Obat Kekaisaran Bei?!”
__ADS_1