
Zhao Jun mendengus dingin. “Kalau kau mampu, maka cobalah!”
Balasannya benar-benar menyulut emosi Wang Li dan para cecunguk di belakangnya. Dia tampak berang, wajahnya merah padam dan tatapannya begitu nyalang.
“Kalau begitu, aku harap kau tidak menyesal karena menantangku seperti ini, Pecundang!”
Dengan kemarahan yang membumbung tinggi di hatinya, Wang Li kemudian berlari ke arah Zhao Jun sambil mengangkat tangan kanannya yang terkepal.
“HYAAA!!!”
Zhao Jun yang kini sudah berhasil berdiri tegak, mengangkat dagunya sedikit dan menyipitkan kedua matanya yang berkilat dengan sinar rumit.
“Setelah sekian lama melatih kembali ilmu bela diriku, ini adalah saat yang tepat untuk mencobanya,” ujarnya dalam hati.
Dan tepat ketika sosok Wang Li datang dengan tinjunya untuk melayangkan pukulan keras ke arahnya, Zhao Jun akhirnya mengambil tindakan.
Dengan sigap, dia mengelak ke samping dan menyapukan kaki kanannya sebagai serangan balik untuk menumbangkan Wang Li yang lengah.
Seketika, bunyi bedebam yang cukup keras, masuk ke telinga semua orang dengan jelasnya!
‘BUGH!’
“Argh!”
Wang Li berteriak kesakitan. Dia terjerembap ke tanah dengan posisi yang cukup menyedihkan. Rasa sakit bercampur malu menyelimuti dirinya.
Sedangkan Zhao Jun yang tadi menjadi target sasarannya, kini justru berdiri di samping dengan tenang. Ekspresinya tampak santai seolah tak terjadi apa-apa. Hanya saja, tatapannya bersinar dengan sinar ejekan samar.
“Hmph. Satu sapuan kakiku bahkan tak bisa kau atasi. Namun, tingkah lakumu benar-benar selangit! Dengan kemampuan bela diri seperti itu, kau bahkan berani memintaku bersujud padamu. Kau terlalu berlebihan,” ejeknya kemudian.
Telinga Wang Li memanas setelah mendengar ejekan Zhao Jun. “Kau!”
Dia tidak percaya bahwa pecundang yang selama ini begitu diam dan tampak tidak berguna itu berani mengejek serta mempermalukannya di depan banyak orang!
Apalagi, mereka yang melihatnya itu adalah para bawahannya, yang senantiasa memujanya sepanjang waktu!
Dia—seorang murid kebanggaan Akademi Istana Obat Ilahi, telah kehilangan harga diri oleh seorang murid pekerja paruh waktu yang miskin dan payah!
Batin Wang Li menangis darah!
Namun, Zhao Jun tetap tidak peduli. Dia memilih untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu, meninggalkan semua orang yang masih termangu karena kejadian mengejutkan barusan.
“Apakah yang kita lihat barusan itu benar?” celetuk salah seorang murid setelah beberapa saat kemudian.
__ADS_1
Mendengar itu, murid yang lain akhirnya mengalihkan pandangan mereka ke arah Wang Li yang saat ini tengah sibuk membersihkan jubahnya dari debu dan kotoran dari lantai.
Sosoknya tampak berantakan dan benar-benar menyedihkan!
Mau tak mau, banyak dari mereka yang mulai bergosip tipis-tipis dengan saling berbisik guna mengungkapkan pemikiran mereka masing-masing.
“Ini ... sulit dipercaya.”
“Ya. Aku tidak tahu kalau Pecundang itu bisa mengalahkan Bos kita hanya dengan satu gerakan sepele?”
“Benar-benar mengejutkan!”
“Jadi, apa dia tahu bela diri juga?”
“Mungkin saja? Tidakkah kau melihat sikapnya setelah mengalahkan Bos kita?”
Tepat ketika salah seorang dari mereka hendak menjawabnya, sosok Wang Li datang dengan wajah merah padam. Kedua tangannya mengepal erat. Dan ekspresinya tidak terlihat bagus.
“Oh? Kalian ingin memujinya dan mengejekku?” sindirnya penuh nada sarkas.
Semua orang mendadak bisu dalam sekejap. Mereka juga tidak berani menatap Wang Li. Dengan kepala tertunduk dalam-dalam, mereka lantas menggeleng pelan.
“Tidak, Bos. Kami tidak berani,” jawab semua orang serempak, seperti biasanya.
Tanpa pilihan, murid lain yang menjadi bawahannya itu pun turut menyusulnya.
Sementara itu di sisi lain, Zhao Jun yang sudah menyelesaikan semua pekerjaan kasarnya, kini tampak berjalan dengan santai menuju asrama.
Tanpa disangka-sangka, sosok familier Baili Yan muncul dari arah berlawanan.
Dia mengenakan setelan gaun merah menyala yang lebih sederhana dari biasanya. Penampilannya juga tidak terlalu mewah. Bahkan cenderung agak tomboy kali ini. Secara keseluruhan, yang mencolok benar-benar hanya warna gaunnya saja.
“Ini agak tidak biasa,” komentar Zhao Jun dalam hati, tepat ketika jaraknya dengan Baili Yan semakin tipis.
“Xiao Jun, kau akan kembali ke asrama? Bukankah sebentar lagi kelas akan dimulai?” celetuk Baili Yan terlebih dahulu.
“Ya.” Zhao Jun mengangguk. “Dan justru karena itulah aku harus kembali ke asrama.”
Alis Baili Yan naik. “Kenapa?”
“Aku perlu mengambil alat tulisku. Apalagi, materi hari ini adalah pembuatan dan penyulingan pil tingkat satu. Aku harus mencatat seluruh materinya.”
Tapi sebenarnya, tidak juga.
__ADS_1
Zhao Jun sudah paham betul bagaimana cara pembuatan pil dan obat sampai tingkat sepuluh.
Semua teknik dan trik dalam ilmu pengobatan pun sudah masuk ke dalam otaknya tanpa cela. Hanya saja, di sini dia harus berpura-pura sebagai seseorang yang tak tahu apa-apa.
Hanya dengan begitu, dia bisa menyingkirkan semua pertanyaan tidak penting hasil pemikiran kritis Raja Obat Baili Cheng dan putrinya—Baili Yan.
Pada intinya, Zhao Jun sedang bersikap cari aman sambil terus melancarkan rencananya. Dia harus bisa mendapatkan apa yang dia inginkan sesegera mungkin.
“Oh, kalau begitu silakan. Aku akan pergi ke kelas teelebih dahulu,” balas Baili Yan tanpa curiga.
Zhao Jun mengangguk.
Dia dan Baili Yan bertukar anggukan salam sekilas sebelum akhirnya melanjutkan langkah mereka masing-masing seperti sebelumnya.
Dan ketika Zhao Jun tiba di asramanya, dia buru-buru mengambil buku dan sebuah pena untuk dibawanya ke kelas. Namun, langkahnya kembali terhenti ketika dia melihat selembar kertas yang mencuat dari buku lain di atas lemari.
Diambilnya kertas tersebut dengan hati-hati, sebelum akhirnya dibacanya secara cermat perlahan.
Di sana, ada deretan nama-nama tanaman dan bahan obat lainnya yang menjadi komposisi pembuatan Pil Pembersih Tulang dan Darah.
“Benar. Aku baru ingat kalau hari ini adalah hari aku menerima upah bekerjaku di sini. Dengan begitu, hari ini juga jadwalku pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan Pil Pembersih Tulang dan Darah.”
Zhao Jun ingat bahwa harga bahan obat di pasar ibukota Kekaisaran Bei relatif murah, seperti saat dia membeli tanaman langka tempo hari ketika dia pertama kali datang ke sini.
Seharusnya, upahnya cukup untuk membeli beberapa bahan dari seluruh bahan yang dia butuhkan itu.
“Tapi, kios penjual bahan obat-obatan di pasar ibukota Kekaisaran Bei ini hanya buka sampai sore. Sedangkan kelas hari ini juga akan berlangsung sampai sore hari.”
Zhao Jun berpikir sejenak. Dia menimbang-nimbang, apakah dia perlu pergi ke pasar hari ini atau besok.
“Mungkin besok pagi masih sempat?” gumamnya ragu.
Namun, Zhao Jun buru-buru menyingkirkan keraguannya itu.
Sebab dia tahu bahwa dia tidak boleh membuat orang-orang curiga karena ini adalah pertama kalinya Raja Obat Baili Cheng mengajar materi secara langsung.
Apalagi dia juga sudah sempat bertemu Baili Yan. Jadi tidak mungkin baginya untuk tiba-tiba minta izin keluar akademi dan melewatkan kelas demi membeli bahan obat.
“Baiklah. Kalau begini, aku akan pergi membeli bahan-bahannya besok pagi saja.”
Tepat ketika Zhao Jun selesai berbicara demikian, pintu kamarnya dibuka secara tiba-tiba dari luar.
Seorang murid perempuan dengan rambut mencapai pinggang yang setengahnya diikat ke atas secara sederhana, muncul dari sana dengan wajah polos.
__ADS_1
“Kau besok ingin pergi ke mana, Xiao Jun?”