
‘HAP!’
Setelah menempuh perjalanan selama hampir 5 jam, rombongan kereta kuda desa pinggiran tempat Zhao Jun sekarang tinggal itu akhirnya tiba juga di depan Balai Obat Surgawi.
Satu per satu, mereka semua yang ada di dalam kereta pun keluar. Termasuk Zhao Jun dan Bibi Fang.
“Zhao Jun, ayo ikut kami masuk ke dalam dan berdoa untuk Tabib Jenius Zhao!” ajak Bibi Fang serius.
“Iya.”
Zhao Jun tidak menolak.
Dia berjalan di belakang Bibi Fang dengan patuh. Tapi hanya dia yang tahu betapa kuat kedua tangannya mengepal setiap kali kakinya melangkah di halaman gedung Balai Obat Surgawi.
Ekspresinya juga sangat tegas dan dingin sekarang ini. Bahkan, kalau ada seseorang yang peka terhadap kedua matanya, maka mereka akan terkejut dengan ketajaman sorot mata Zhao Jun saat ini.
Mata penuh rasa sakit, kebencian, dan dendam tanpa batas!
Setiap Zhao Jun melangkah, memorinya akan dibanjiri oleh seluruh gambar pengkhianatan dan penyiksaan yang dilakukan oleh Liu Chang kepadanya.
Kematiannya yang begitu tragis, juga terbayang jelas di pelupuk matanya!
“Aku ingin tahu apa yang Liu Chang itu lakukan sekarang ini!” batinnya bergejolak.
Bersama rombongan warga desa, Zhao Jun yang berjalan paling belakang itu pun tiba di ruang dalam gedung Balai Obat Surgawi. Mereka kemudian membentuk barisan khusus untuk berdoa.
Sedang Zhao Jun yang berdiri di barisan paling belakang dengan tubuhnya yang begitu kecil dan kurus kering, diam-diam mencuri pandang ke kanan dan ke kiri ruangan itu.
Dia hanya mencoba untuk mencari tahu bagaimana situasi Balai Obat Surgawi-nya setelah dia pergi.
“I—Ini?!”
Sepasang mata cokelat gelap Zhao Jun memicing lebih tajam saat dia melihat sosok-sosok dengan wajah sangat akrab tengah berkumpul di sudut ruangan.
Mereka adalah orang-orangnya, bisa dibilang murid sekaligus pengurus Balai Obat Surgawi yang dia kelola bersama berengsek itu—Liu Chang.
Dari sudut pandangnya, Zhao Jun bisa melihat kalau mereka tampak sangat bersedih. Wajah mereka begitu suram, pucat, dan dipenuhi bekas air mata. Mereka tampaknya sedang saling menguatkan.
“Mereka tampaknya begitu terpukul dengan kepergianku?” tanya Zhao Jun lagi di dalam hati.
Untuk beberapa alasan, Zhao Jun merasa lega.
“Aku yakin orang-orangku tidak seperti Liu Chang,” gumamnya sangat pelan hampir tak terdengar.
Namun, hal berikutnya menampar Zhao Jun dengan sangat telak. Mereka yang barusan terlihat amat sedih dan terpukul dengan kematiannya, tiba-tiba mengubah sikap saat sosok berengsek sialan itu datang!
“Liu Chang!”
Tangan Zhao Jun mengepal lagi.
__ADS_1
Beruntung posisinya masih diapit beberapa orang yang tengah berdoa. Jadi apa pun yang dia lakukan, tidak begitu kentara dilihat orang-orang.
Dan dari posisinya berdiri sekarang, Zhao Jun ingin melihat apa yang akan dilakukan mereka dan Liu Chang.
Tapi rupanya, Liu Chang langsung pergi setelah mendapat salam hormat dari para juniornya. Hal ini lantas menimbulkan tanya di benak Zhao Jun.
“Mau ke mana dia?”
Tanpa pikir panjang, Zhao Jun kemudian melipir untuk mengikuti Liu Chang, tepat setelah orang ini keluar dari ruang berdoa.
Sosok kecil dan kurus Zhao Jun menyelinap dengan mudah di antara banyaknya orang yang hilir mudik, keluar masuk ruangan untuk berdoa.
Di samping itu, figurnya yang sekarang adalah seorang remaja dengan penampilan lusuh, benar-benar tak digubris oleh pihak keamanan di gedung Balai Obat Surgawi.
Tak ada yang curiga kalau dia pergi sendirian untuk membuntuti Liu Chang!
“Rupanya, memiliki tubuh seperti ini sangat membantuku.”
Langkah Liu Chang yang semakin cepat membuat Zhao Jun agak kewalahan mengejarnya. Tapi secara tidak sengaja, hal ini ternyata menguntungkan dirinya!
Tepat saat Liu Chang dan Zhao Jun menginjak pelataran samping gedung Balai Obat Surgawi yang agak sepi, Zhao Jun secara tidak sengaja ditabrak laki-laki paruh baya hingga mental dan jatuh terjengkang.
‘BUGH!’
“Aduh!” keluhnya refleks.
Di sisi lain, pria paruh baya bertubuh cukup kekar itu langsung marah-marah!
Suaranya yang begitu tajam dan keras mengejutkan banyak orang termasuk Liu Chang!
Zhao Jun sengaja masih bergeming dengan posisinya. Dia ingin tahu apakah Liu Chang akan menolongnya atau tidak. Dan jika dia menolongnya, maka dia bisa sedikit mengulik informasi!
“Dengan keramaian seperti ini, Liu Chang seharusnya memikirkan reputasinya sebagai calon pemilik sekaligus kepala Balai Obat Surgawi.”
“Dia tidak mungkin mengabaikanku,” ucap Zhao Jun dalam hati, penuh percaya diri.
Dan benar saja!
Liu Chang akhirnya berbalik setelah mendengar keributan itu.
Ditambah dengan beberapa orang yang mulai berkerumun untuk melihat apa yang terjadi, Liu Chang tak punya pilihan lain selain bergegas menghampiri Zhao Jun.
Dia pun dengan sigap mengulurkan tangannya untuk membantu Zhao Jun memapahnya berdiri.
“Kau tidak apa-apa, Nak?”
Zhao Jun menggertakkan giginya kuat-kuat. Dia amat jijik disentuh oleh orang yang telah menjadi pengkhianat sekaligus pembunuhnya ini.
Namun, demi tujuannya itu Zhao Jun menahan diri.
__ADS_1
“A-Aku tidak apa-apa, Senior. T-Tapi, paman itu ....”
“Aku minta maaf, Paman! Aku tidak sengaja menabrakmu! Aku tidak fokus dan ceroboh!” timpal Zhao Jun langsung mengambil kesempatan.
Liu Chang mengernyit.
Dia kemudian menoleh pada pria paruh baya itu dengan tatapan sungguh-sungguh. “Paman, jangan membesarkan masalah ini.”
“Aku meminta maaf dengan tulus untuk anak ini. Bisakah kau memaafkannya? Tolong hargai hari berkabung kami atas meninggalnya Tabib Zhao. Aku takut dia akan sangat sedih kalau tahu ada keributan seperti ini.”
Zhao Jun ingin muntah mendengarnya.
Dia benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa ada seorang yang tidak tahu malu seperti Liu Chang di Balai Obat Surgawi. Parahnya, dia bahkan menjadi orang terdekatnya kala itu!
Pria paruh baya itu kemudian mendengus pelan, sebelum melambaikan tangannya acuh tak acuh dan pergi begitu saja. Kerumunan pun bubar.
Masalah ini berakhir demikian.
“Senior, terima kasih banyak bantuannya,” ujar Zhao Jun mengambil inisiatif.
“Tidak masalah.” Liu Chang tersenyum hangat. “Karena sudah tidak apa-apa, aku pergi dulu, Nak. Jangan berlarian lagi.”
Tapi Zhao Jun yang belum mendapat informasi apa-apa, buru-buru mencegatnya. Dia meraih pergelangan tangan Liu Chang dengan enggan dan berbicara.
“Tunggu dulu, Senior. Aku belum tahu nama Senior dan dari mana Senior berasal. Senior sangat baik!”
Liu Chang terkekeh. Dia lantas mengusap kepala Zhao Jun dan menjawab, “Namaku Liu Chang. Dan aku adalah Kepala Balai Obat Surgawi yang baru.”
Zhao Jun yang sudah jijik dengan usapan kepala itu makin geram setengah mati setelah mendengar jawaban Liu Chang.
Berita kematiannya saja baru disebarluaskan. Ibarat kata tanah kuburannya masih sangat basah. Semua orang masih berduka.
Dan dia dengan berani mengklaim bahwa dia adalah Kepala Balai Obat Surgawi yang baru?
Keberanian Liu Chang tidak ada tandingannya! Atau justru, dia memang muka tembok dengan urat malu yang sudah putus!
“Sudah, ya? Senior pergi dulu. Hati-hati, Nak!” ucap Liu Chang lagi, berpamitan dan pergi.
Kepergian Liu Chang yang lagi-lagi tampak tergesa-gesa, membuat Zhao Jun menyipit berbahaya.
“Kau begitu terburu-buru. Pasti ada sesuatu! Aku harus tetap mengikutimu, Liu Chang!”
Dan rupanya memang benar.
Begitu Liu Chang tiba di gerbang utama kedua bagian samping yang dijadikan pintu khusus bagi para bangsawan masuk, dia berhenti.
“Siapa yang dia sambut secara khusus begini?” tanya Zhao Jun dalam hati, sembunyi-sembunyi.
Akan tetapi, begitu seorang wanita dengan pakaian serba putih turun dari sebuah kereta kuda dengan plakat emas, sepasang mata Zhao Jun membelalak sempurna!
__ADS_1
“Liu Chang menyambut dia?!”