Restu Yang Tertunda

Restu Yang Tertunda
#23


__ADS_3

Sampai tengah malam kondisi ayah masih sama seperti tadi belum sadarkan diri. Kata dokter kalau sampai besok pagi belum sadar berarti ayah mengalami koma.


"Assalamu'alaikum win gimana kondisi ayah?"


"Wa'alaikumsalam An tuh masih belum sadar. Kata dokter kalau sampai besok pagi belum sadar berarti ayah mengalami koma. Aku takut An"


Aku hanya bisa menangis disamping Andika yang duduk disampingku.


"Sabar win kita hanya bisa berdo'a agar Allah memberikan kesembuhan buat ayah. Aku tadi membawakan teh hangat dan beberapa camilan agar kamu tetap hangat.jangan sampai masuk angin juga kamu."


Aku menerima segelas teh hangat karena sebetulnya aku juga merasa dingin banget.


"kamu tidur aja dulu biar aku yang berjaga."


"bangunkan aku kalau terjadi apa apa dengan ayah ya An"


Andika nampak mengangguk dan tersenyum ke arahku.


Dadaku terasa sedikit hangat karena perhatian Andika padaku. Aku juga melihat cinta yang tulus darinya.


Terimakasih telah mencintaiku tanpa syarat. Batinku sambil tersenyum padanya.


Tidak memakan waktu lama aku sudah mulai melayang dialam mimpi. Terasa capek jiwa ragaku.


Kegaduhan nampak diruangan itu. Terlihat Andika bercakap cakap dengan dokter. Dua perawat keluar masuk kamar ayah.terlihat sibuk menangani kondisi ayah.


Kudengar samar samar suara gaduh itu karena mataku serasa berat kubuka.

__ADS_1


"Ayah jangan tinggalkan kami. jangan tinggalkan win....dia pasti sedih banget ayah..."


Kudengar suara Andika memanggil manggil ayah. Dadaku merasa sesak meski mata berat untuk kubuka tapi kupaksa karena kegaduhan dan suara Andika semakin keras kudengar.


Aku terkejut saat kulihat para perawat dan dokter mengerubungi ayah dan Andika menangis disamping ayah.


Aku langsung menghampiri dan tak percaya dengan apa yang aku lihat kalau ayah sudah diam tak ada lagi napas yang naik turun. wajah ayah juga lebih pucat dari sebelum aku tidur.


"Ayah...bangun yah.sudah lama ayah tidur."


"Win sabar win....Allah lebih sayang ayah. Sekarang ayah sudah tidak merasakan sakit lagi.Beliau sudah tenang win"


"Tidak An ayah pasti sembuh. aku gak mau kehilangan ayah An. Aku gak bisa sendiri. Yah bangun.... dokter ayahku pasti sembuh kan?"


kataku sambil menggoyangkan tangan dokter itu.


"Sabar ya mbak diiklaskan ayahnya. sekarang ayahnya mbak sudah tenang. tinggal mbak mendo'akan beliau ya. yang sabar."


aku masih berusaha menggoyangkan tubuh ayah sambil menangis.semakin sesak dadaku kepalaku serasa berkunang kunang. tiba tiba semua gelap aku pingsan disamping bed ayah.


"win bangun win."


Andika langsung menggendong win ditidurkan di sofa tunggu pasien dibantu perawat untuk menyadarkannya.


Aku permisi ke perawat untuk menelepon semua tim winda.


"assalamu'alaikum mas tolong kabarin yang lain dong kalau ayah sudah meninggal. nanti chika suruh kerumah sakit ya ini winda pingsan.tolong persiapkan juga buat pemakaman ayah juga ya mas.aku gak bisa ninggalin winda sendiri."

__ADS_1


"innalillahi waina ilaihi roji'un. ya Andika serahkan sama kita kita dirumah sekarang biar chika sama supir meluncur kesitu. jagain winda ya an."


Setelah memberi kabar keteman teman dan tim winda.andika kembali masuk ke ruangan ayah. ayah sudah ditutupi kain putih. Winda juga sudah sadar tapi masih menangis disamping jenazah ayah.


Aku hanya bisa berdiri disampingnya sambil sesekali mengusap pundaknya.


"Assalamu'alaikum mak yang sabar ya. jangan nangis terus. kasihan ayah mak."


Aku mendongak dan melihat chika disitu.langsung aku memeluknya sambil masih terisak.


"Ayah ninggalin aku chika. Aku sendirian sekarang...."


"mak gak sendiri kok ada kita yang akan terus disamping mak."kita do'ain ayah ya. mak yang sabar dan tenang ya. kita tunggu Andika mengurus administrasi terus kita pulang ya."


Aku cuma bisa mengangguk dipelukan chika.


"Win semua sudah beres ayo kita bawa jenazah ayah pulang dan segera dimakamkan."


Lagi lagi aku hanya bisa mengangguk badanku sudah lemas rasanya. sambil dipapah chika aku berjalan mengikuti ayah yang didorong keluar menuju mobil jenazah.


Aku ikut dimobil jenazah ditemani chika dan Andika.


Sepanjang jalan menuju rumahku tempat peristirahatan terakhir ayah,aku hanya bisa berdzikir dan mendo'akan almarhum ayah. sudah lelah rasanya aku menangis tapi air mata tak kunjung berhenti menetes.


Perjalanan kerumah terasa lama karena kesedihanku padahal jarak antara rumah sakit dan rumahku tidaklah terlalu jauh. Chika masih setia memelukku dari samping dan kulihat Andika juga berdzikir disampingku.


______________________$$$$$________________

__ADS_1


Aduh episode ini mengandung bawang ya.


Tetap dukung karyaku ya.terimakasih


__ADS_2