
Maher dan Arkana bersiap pagi-pagi sekali. Mereka tidak ingin terlambat dihari pertama mereka kuliah. Hari ini mereka akan mengikuti Propti atau orientasi. Selayaknya mahasiswa baru, mereka harus mempersiapkan berbagai hal sebagai property. Untung saja mereka memiliki senior yang tidak terlalu kejam. Sehingga property yang digunakan masih sewajarnya.
Mereka tak langsung mengenakan property mereka. Apa kata para santri nanti, jika melihat penampilan mereka. Dengan langkah cepat mereka meninggalkan pesantren. Mereka harus sampai di kampus sebelum jam 07.30. Berhubung jarak dari pesantren ke kampus lumayan jauh dan mengharuskan mereka mengendarai kendaraan umum. Mereka memang sengaja berangkat sepagi mungkin.
Bukan Arkana dan Maher namanya kalau tidak menjadi pusat perhatian. Baru dihari pertama saja, sudah banyak cewek yang meliriknya. Bahkan tak sedikit yang terang-terangan meminta berkenalan langsung dengan mereka. Tetapi tak ada yang mampu meruntuhkan sikap cuek dan dingin mereka berdua. Tak ada yang mendapatkan respon dari Maher dan Arkana. Mereka berdua enjoy saja melenggang melewati mereka.
“Kalian berdua ikut saya.” Perintah seorang senior menunjuk Arkana dan Maher.
“Baik Kak.” Jawab mereka serempak.
“Untung dipanggil jadi bisa lolos dari mereka semua.” Bisik Arkana seraya melirik gerombolan cewek yang sejak tadi mengikuti mereka.
“Udah kayak artis aja kita dari tadi diintilin.” Sahut Maher kerkekeh.
Sang kakak senior membawa mereka memasuki sebuah gedung. Entah kemana mereka dibawa, jika dilihat dari beberapa ruangan yang berjejer. Sepertinya mereka sekarang sedang ada di gedung Dekanat. Mereka bisa menabak dari nama dan jabatan dosen yang tergantung di depan pintu ruangan mereka.
Arkana dan Maher saling tatap ketika langkah mereka terhenti di depan ruang Dekan. Kenapa senior itu mengajak mereka kemari? Apakah mereka melakukan kesalahan dihari pertama? Bisa habis mereka kena omel Abi dan Ayah jika memang membuat kesalahan. Tapi mereka merasa tak melakukan kesalahan atau pelanggaran apapun. Mereka sejak tadi hanya diam dan menuruti semua intruksi dari para senior.
Tok… Tok.… Tok…. Senior mengetuk pintu dan mendapati sahutan dari dalam. Dia membuka pintu dan mempersilahkan Arkana dan Maher masuk. Sedangkan dia berjalan dibelakang mereka. Arkana dan Maher berjalan perlahan sembari menundukkan kepalanya.
“Ini mereka Pak.” Kata senior dengan sopan.
“Terimakasih ya Topan sudah mengantarkan mereka kemari.” Sahut Pak Dekan.
“Sama-sama Pak, kalau begitu saya permisi hendak bergabung dengan panitia yang lain.” Lanjutnya yang ternyata bernama Topan. Tak ada sautan, sepertinya Pak Dekan hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Sesaat kemudian Topan meninggalkan mereka berdua dalam ruangan itu. Arkana dan Maher semakin gemetar ketakutan.
__ADS_1
“Santai saja tak perlu sungkan. Mari silahkan duduk Gus.” Kata Pak Dekan seketika membuat Maher dan Arkana mengangkat kepalanya. Bagaimana mungkin Pak Dekan bisa memanggilnya Gus?
“Sudah duduklah. Saya memanggil kalian hanya untuk mengobrol santai saja.” Lanjutnya saat tak juga mendapati gerakan Maher dan Arkana. Kemudian mereka lekas mengikuti intruksi Pak Dekan dan duduk di sofa tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Pak Dekan pun bergabung dan duduk disebrang mereka. “Bagaimana kabar Abi dan Ayah kalian?” tanyanya sekali lagi membuat mereka bingung. Ada hubungan apa antara Abi, Ayah dan Pak Dekan. Begitulah yang ada dibenak mereka berdua.
“Alhamdulillah Abi dan Ayah baik Pak Dekan.” Jawab Maher tersenyum ramah.
“Panggil saja Pak Dava. Mungkin kalian bingung kenapa saya mengenal orang tua kalian. Biar saya jelaskan dulu, saya adalah teman Abi dan Ayah kalian. Dulu saya juga sempat mondok di pesantren Abah Yai. Oh iya bagaimana kabar Abah Yai dan Ummi Nyai?” Pak Dava menjelaskan hubungannya dengan keluarga mereka. Arkana dan Maher mengangguk mengerti. Pantas saja beliau mengenal Abi dan Ayah mereka.
“Mbah Kung dan Mbah Ti juga sangat baik Pak. Beliau berdua masih sehat dan segar bugar sekarang.” Kali ini Arkana yang menjawab.
“Saat Ayahmu menghubungiku dan memberi tahu jika kalian kuliah disini, saya sangat kaget dan senang. Sebenarnya sedikit tak percaya, bagaimana mungki seorang Gus memilih kuliah dikampus seperti ini.” Pak Dava merendah.
“Kampus ini juga sangat bagus kok Pak. Makanya kami memilih kuliah disini. Maaf sebelumnya Pak Dava, saya harap Pak Dava tak perlu memanggil saya Gus cukup Maher saja.” Maher memberanikan diri mengatakan apa yang diinginkannya.
“Setidaknya jangan panggil Gus saat didepan umum. Maaf bukannya tidak mau, kakak saya ini memang tidak suka disegani seperti ini.” Sahut Arkana mencoba membantu Maher.
“Hahaha….. ternyata sifat Abimu menurun padamu. Dulu Abimu juga sangat tidak suka saat ada santri yang menunduk menghormatinya. Dia ingin dianggap sebagai teman saja. Baiklah saya akan usahakan, tapi maaf jika sesekali mungkin mulut saya terpeleset.” Jawabnya berusaha menuruti permintaan Maher.
“Terimakasih Pak.” Sahut Maher tersenyum lega. Kemudian mereka mengobrol santai tentang pesantren dan keluarga pesantren.
Jadilah hari ini Maher dan Arkana hanya mengikuti acara Propti setengah hari. Selebihnya mereka habiskan bercengkrama bersama Dekan. Mereka juga tak pernah menyangka jika mereka akan bertemu dengan teman Abi dan Ayah mereka disini. Mereka sungguh merasa teman dan orang-orang Abi dan Ayah ada dimana-mana. Buktinya kemana pun mereka pergi, Abi atau Ayah pasti akan menghubungi salah satu teman mereka dan menitipkan mereka padanya. Padahal mereka bukan anak kecil lagi yang harus selalu dipantau. Memang dasar Abi dan Ayah saja yang terlampau cemas pada mereka.
Kini mereka sudah berada didalam angkutan umum hendak pulang ke pesantren. Tetapi mereka berencana singgah sebentar di mini market tak jauh dari pesantren. Mereka ingin membeli beberapa camilan. Sebenarnya di koperasi pesantren pun disediakan segala macam camilan dan kebutuhan santri. Namun Maher dan Arkana sengaja membeli diluar, sekalian lewat katanya.
__ADS_1
Berhubung mereka turun didepan mini market, jadi mereka harus berjalan kaki menuju pesantren. Mereka membeli cukup banyak makanan dan camilan. Tentu saja untuk dibagikan dengan teman-teman lainnya termasuk Adam dan Farid. Mereka tidak mungkin makan sendiri dan membiarkan teman-teman mereka hanya menonton mereka makan.
Kebetulan saat mereka melewati percetakan dan foto copyan. Mereka melihat gadis yang ditemuinya dipasar kala itu. Dia terlihat kesusahan dan buru-buru menutup tokonya. Mungkin karena waktu yang sudah sangat sore membuatnya begitu tergesa-gesa. Mereka yang merasa kasihan akhirnya memutuskan untuk membantu.
“Assalamualaikum, permisi boleh kami bantu?” sapa Arkana menawarkan.
“Waalaikum salam. Oh tidak perlu Mas, ini juga sudah hampir selesai kok.” Jawab Farah sembari mengangkat kotak berisi gulungan kertas karton.
“Tidak apa Mbak biar kita bantu, sepertinya Mbak kerepotan sekali.” Sahut Maher langsung membantu mengangkat kotak lainnya.
“Eh… sungguh tidak usah Mas. Kalian santri Kiyai Hamid kan? Sebaiknya kalian cepat kembali ke pesantren. Atau kalian akan kena hukuman jika terlambat pulang.” Jawab Farah.
“Jangan cemas, kami tak akan kena hukuman.” Sambung Arkana tersenyum. Farah hanya menghela nafas kasar.
“Biarkan saja lah, toh mereka juga yang memaksa.” Batinnya tak bisa berkata lagi.
Kemudian Farah hendak mengangkat kotak besar tak jauh dari jangkauannya. Dia terlihat begitu kepayahan mengangkat kotak tersebut. Arkana yang melihatpun berinisiatif mengambil alih kotak tersebut. Farah menatap bingung kearah Arkana dan dia pun tak memberikan kotak itu. Sehingga terjadilah aksi tari menarik diantara mereka.
.
.
Bersambung.....
.
__ADS_1
.
Maaf slow update ya ada beberapa urusan yang harus diselesaikan. Tetap beri dukungan kalian dengan like, vote, komen dan hadiah. Terimakasih readers, Luv U All. Salam hangat selalu 🤗😘