
Hari ini Arkana dan Maher mengunjungi kediaman ketiga keluarga yang ada dalam catatannya. Tentu saja mereka ditemani oleh Adam dan Farid, karena keduanya yang hafal dan tahu tentang daerah sana. Mereka mencari informasi secara detail. Bahkan tentang masa lalu mereka dan asal usul keluarga mereka. Arkana masih ingat jika dulu papa Alifa adalah pemimpin perusahaan besar. Jadi bisa dipastikan jika mereka dulu adalah orang yang kaya raya. Namun secara perlahan perusahaan raksasa itu mengalami kebangkrutan. Tak ada yang tahu penyebabnya. Tapi sekarang perusahaan itu telah beralih tangan. Bukan papa Alifa lagi yang menjadi pemilik perusahaan itu.
“Jadi bapak dan ibu tidak tahu soal Alpa Group?” tanya Arkana memastikan. Ini adalah keluarga ketiga yang didatangi mereka. Setelah kedua keluarga sebelumnya dipastikan bukanlah yang mereka cari.
“Kami ini hanya keluarga petani Mas. sejak kecil kami hanya bergelut dengan ladang dan sawah. Jangankan perusahaan besar, la wong sekolah saja kami hanya tamatan SD.” Jawab sang bapak tersenyum.
“Tapi bapak dulu sempat tinggal di Yogya kan?” sahut Maher.
“Benar, dan itu sudah lama sekali. Dulu kami sempat merantau dan mencoba membuat usaha di kota Yogya. Namun gagal, jadi mau tidak mau ya kembali ke kampung lagi.” jawab sang ibu menjelaskan semuanya.
“Baiklah kalau begitu. Maaf sudah mengganggu waktu bapak dan ibu. Kami permisi undur diri.” Ucap Arkana penuh kekecewaan.
“Tidak apa-apa Mas, kami do’akan semoga kalian bisa segera menemukan orang yang kalian cari.” Jawab bapak itu.
“Aamiin….” Sahut semuanya.
“Sekali lagi terimakasih atas waktunya. Kami permisi, Assalamualaikum.” Lanjut Maher berpamitan. Kemudian mereka meninggalkan keluarga itu.
Rasa kecewa pasti ada, namun mereka yakin masih banyak jalan yang ada didepan mereka. Satu diantaranya pasti akan membawa mereka pada Alifa. Namun mereka harus bersabar untuk melewati setiap jalan itu. Tak akan ada yang sulit jika dilewati secara bersama-sama. Apalagi sekarang mereka memiliki teman-teman sebaik Adam dan Farid. Yang akan selalu siap membantu mereka.
“Lalu sekarang bagaimana Mas?” tanya Farid menatap Arkana dan Maher.
“Ya tentu saja mencari tahu tentang keluarga Farah dan Jihan. Begitu saja kok tanya kamu ini Rid, Farid.” Sahut Adam menggeleng.
“Untuk hari ini sepertinya cukup. Kita istirahat dulu dan kembali ke pesantren. Untuk masalah Farah dan Jihan kita selidiki secara perlahan saja.” Jawab Maher memberi saran.
“Aku setuju dengan Kak Maher. Lagi pula selama beberapa hari ini kalian sudah bekerja keras. Jadi sebaiknya kita istirahat dulu untuk beberapa hari kedepan.” Sambung Arkana tersenyum.
“Ya sudah kalau kalian maunya begitu. Kami hanya nurut saja.” Kata Adam yang diiringi anggukan dari Farid.
“Sebelum kembali ke pesantren sebaiknya kita singgah makan dulu. Aku yang traktir.” Kata Maher mencoba menghibur mereka yang terlihat begitu kelelahan.
__ADS_1
“Wah mantap ini. Ayo wes jalan, momen bagus kayak gini jangan sampai dilewatkan.” Celetuk Farid yang langsung mendapakan pukulan dari Adam.
“Kebiasaan kamu ini. Giliran masalah makanan aja, cepet.” Gerutu Adam.
“Sudah sudah gak udah berantem. Ayo kita cari tempat makan mumpung ada yang mau traktir nih.” Arkana menengahi mereka. Kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan.
“Aku tidak boleh gegabah. Aku takut akan membuat Arka kecewa lagi. Setidaknya dalam beberapa hari kedepan fikirannya tidak akan terbebani tentang masalah ini.” Batin Maher menatap punggung Arkana yang mulai berjalan meninggalkannya.
“Ayo Kak, kenapa malah diam saja.” Ajak Arkana menyadarkan Maher.
“Oh iya ayo.” Jawab Maher menyusul mereka sembari tersenyum.
“Aku tahu kau sedang memikirkan tentang perasaanku Kak. Sejak dulu kau selalu berusaha menghapus setiap kesedihanku. Terimakasih karena sudah menjadi kakak terbaik untukku dan adik-adik kita.” Kata Arkana dalam hati seraya merangkul Maher.
Ditempat Farah bekerja, terlihat Jihan tengan sibuk dengan buku-bukunya. Akhir-akhir ini para guru senang sekali memberikan begitu banyak tugas. Sehingga membuat kepala Jihan dipenuhi dengan pelajaran. Untung saja dia punya sahabat sepintar Farah. Meski Farah putus sekolah, namun dia tak lantas berhenti belajar. Kerap kali dia akan meminjam buku Jihan dan mempelajarinya. Bahkan terkadang Farah yang justru mengajari Jihan dalam mengerjakan soal-soal latihan.
“Aduh Farah aku bener-bener gak ngerti deh maksud soal ini gimana.” Gerutu Jihan yang sudah mulai merenyerah. Saat ini dia sedang mengerjakan soal kimia.
“Udah bolak balik aku baca Far, tapi tetep aja aku gak ngerti.” Jawab Jihan terlihat kesal.
“Coba sini aku lihat. Yang nomor berapa?” Farah akhirnya mendekat dan mengambil alih buku Jihan.
“Yang nomor 4.” Jawab Jihan dengan malas. Farah mulai membaca dan menganalisi soal tersebut. Dia mencoba memahaminya sesuai pengetahuan yang dimilikinya.
“Ini kamu harus cari rantai utamanya dulu, baru rantai cabangnya.” Farah mulai menjelaskan.
“Itu dia aku masih gak ngerti gimana bedaain rantai utama dan rantai cabangnya. Habisnya semuanya gandeng-gandeng gitu.” Jawab Jihan tersenyum penuh makna.
“Bilang aja kalau minta diajarin.” Sahut Farah yang langsung tahu maksud Jihan.
“Kamu kan sahabatku yang paling pintar. Please…. Bantuin aku ya?” bujuk Jihan memasang wajah termanisnya.
__ADS_1
“Gak bisa nolak deh kalau udah kayak gini.” Gumam Farah menggelengkan kepalanya. Kemudian dia merapatkan duduknya dengan Jihan dan mulai menjelaskan dan membantu Jihan memahami soal-soal yang sedang dikerjakannya.
“Akhirnya kelar juga. Terimakasih banyak ya Far, sekarang aku sudah mengerti.” kata Jihan menutup bukunya. Dia sudah menyelesaikan semua tugas kimianya.
“Sama-sama Jihan. Seharusnya aku yang berterimakasih karena kamu selalu meminjamkan buku-bukumu padaku. Kalau tidak bagaimana aku bisa belajar.” Jawab Farah.
“Kamu sadar gak sih Far, kalau sebenernya kamu itu orang yang sangat pandai dan cerdas. Aku yakin suatu saat nanti kamu akan bisa menggapai impianmu menjadi seorang dokter. Dokter yang hebat dan terkenal.” Lanjut Jihan memuji sahabatnya itu.
“Gimana aku bisa jadi dokter, sekolah saja cuma sampai SMP. Kamu ini ada-ada saja Jihan.” Jawab Farah tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Sebenarnya dia sedang menghibur dirinya sendiri yang harus rela mengubur dalam-dalam cita-citanya itu.
“Kan kamu sendiri yang sering ngingetin aku kalau kita punya Allah. Allah SWT yang akan selalu membantu kita. Aku yakin Allah pun akan membantumu untuk mewujudkan impianmu itu. Entah dengan cara apa dan bagaimana, hanya Allah-lah yang maha tahu.” Sahut Jihan mencoba menyemangati Farah.
“Aamiin…. Do’a baik itu harus diaamiinin. Ya sudah aku mau keluar cari makan siang dulu. Kau mau makan apa? Biar aku belikan sekalian.” Farah mencoba mengakhiri pembahasan mereka.
“Samain aja deh sama kamu. Jangan lupa es tehnya ya.” jawab Jihan memainkan kedua alisnya.
“Siap.” Sahut Farah. Dia lekas berdiri dan meninggalkan Jihan.
“Selain pintar kau juga orang yang sangat baik Far. Aku do’akan kau akan selalu mendapatkan kebahagiaan. Meski sekarang kau sering ditindas oleh ibu dan adik tirimu. Aku selalu yakin bahwa kau akan menjadi orang yang sukses nanti. Kau akan mendapatkan keluarga yang bahagia. keluarga yang kau ciptakan dank au bangun sendiri. Dengan orang-orang yang sangat menyayangimu. Pada saat itu aku akan menjadi orang pertama yang akan dengan bangga memelukmu.” Gumam Jihan menatap Farah yang semakin jauh dari jangkauan matanya.
.
.
Bersambung......
.
.
.
__ADS_1
Jangan bosan untuk terus dukung dengan beri like, vote, hadiah dan komen kalian ya reades. Rate bintang 5 juga ya. See you next episode, salam hangat selalu.