
Malam ini Maher tak dapat memejamkan matanya. Kalimat Arkana terus berputar dikepalanya. Apalagi saat Arkana dengan terang-terangan menyatakan suka pada Farah. Hati dan fikirannya benar-benar gelisah. Baru kali ini dia merasakan kegelisahan semacam ini. Biasanya Maher selalu bisa menguasai hatinya. Namun kali ini sepetinya dia
kalah, kalah dengan perasaannya sendiri. Hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk bersujud dan mengadu pada sang pemilik hati dan pemberi jalan keluar.
Kali ini dia akan melaksanakan qiyamul lailnya lebih cepat dari biasanya. Rasanya Maher tak mampu lagi menahan kegelisahan hatinya. Dia ingin segera mendapatkan ketenangan. Sehingga dia bisa kembali fokus pada niat dan tujuan awalnya. Untuk menuntut ilmu dan mencari keberadaan Alifa. Maher membentangkan sajadahnya. Mulai bermunajat dan bersujud memohon ketenangan.
Namun tak semudah seperti yang dibayangkannya, betapa sulit menuntun hati yang gelisah ini. Maher tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Entah mengapa kali ini keegoisan yang mendominasinya. Dia tak tahu apakah hal ini benar atau salah. Tetapi yang dia tahu hatinya masih enggan untuk melepaskan Farah. Seolah Farah sudah menjadi hal yang sangat penting di dalam hatinya. Yang bisa dilakukannya saat ini adalah berdo’a dan pasrah.
“Ya Allah kenapa kau jadikan hati ini gelisah? Kenapa kau jadikan diri ini tak berdaya? Bahkan aku tak pernah tahu apa itu cinta. Tapi kenapa Kau memasukkan rasa itu dalam hatiku. Bahkan ketika aku tak sedang mencari dan membutuhkannya. Jika memang Kau-lah yang memberikan rasa ini, maka izinkanlah aku bersamanya. Berilah jalan padaku untuk bisa memilikinya. Namun jika rasa ini hanya muncul karena nafsuku, maka segera hilangkanlah dan jauhkanlah. Jangan biarkan dirinya terlalu lama menyimpannya, dan hindarkanlah aku dari zina hati dan segala jenis zina. Aamiin ya Robbal ‘alamiin.”
Maher benar-benar menyerahkan segalanya pada Allah. Dia tak pernah mengambil keputusan sendiri. Dia tahu segala yang datangnya dari Allah adalah yang terbaik untuknya. Sejatinya Allah tak selalu memberikan apa yang kita mau. Tetapi memberikan apa yang kita butuhkan. Begitulah yang selama ini selalu diajarkan Abi dan Ummi padanya.
Sejenak dia memalingkan wajahnya ke arah Arkana, menatap sang adik yang masih terlelap. Dia berasa sangat bersalah padanya. Dia juga tak pernah mengira kenapa hal ini harus terjadi diantara mereka. tapi Maher benar-beanr tak bisa menguasai dirinya kali ini. Jika selama ini dia selalu berusaha mengalah untuk saudaranya. Namun dia ingin menjadi egois untuk kali ini saja.
“Maafkan aku Arka…. maaf. Untuk kali ini saja, biarkan aku menjadi egois dengan tidak melepaskan Farah untukmu. Aku memang belum bisa menjadi saudara yang baik untukmu. Aku harap apa yang akan terjadi kedepannya adalah yang terbaik untuk kita berdua.” Ucap lirih Maher penuh rasa bersalah.
Tak jauh berbeda dengan Maher, Rendy pun dibuat tak bisa tidur oleh rasa penasarannya. Sejak dia merasa melihat sosok Farhan dirumah sakit tadi. Sepanjang waktu dia hanya memikirkan hal itu. Sebenarnya ada sedikit penyesalan dalam hatinya. Kenapa dia tak masuk dan memastikan kebenarannya sebelum pulang? Jika dia tahu siapa orang yang ada diruangan tersebut, dia tidak akan dihantui rasa penasaran seperti ini.
Keesokan harinya, Rendy menjadi sangat tidak fokus saat bekerja. Beberapa kali dia melihat kea rah Rayhan. Dia ingin mengatakan apa yang dilihatnya kemarin pada Rayhan, namun dia masih ragu. Dia takut jika hal ini akan membawa Rayhan kembali ke masa lalu. Dia tak ingin kembali melihat sahabatnya itu bersedih.
Ketidak fokusan Rendy sangat mengganggu pekerjaan Rayhan. Bagaimana tidak, beberapa kali Rendy salah mengambilkan berkas untuknya. Bahkan Rendy meminta tanda tanganya pada berkas yang sudah ditanda tangani. Rayhan dibuat kesal dan geram olehnya. Jika begini terus yang ada pekerjaannya tak akan kunjung selesai.
“Apa yang sedang kau fikirkan sebenarnya? Jika lelah lebih baik beristirahat dulu.” tanya Rayhan menatap tajam Rendy.
“Maaf Ray, aku sedang tidak fokus hari ini.” Jawab Rendy tersenyum.
“Apa ada yang ingin kau bagi?” lanjut Rayhan meminta Rendy menceritakan masalahnya.
“Emmm….. ini sebenarnya bukan masalah besar.” Rendy masih enggan mengatakannya.
“Tapi jika begini terus kapan pekerjaan kita akan selesai? Kau terus saja memberikanku dokumen yang salah.” Gerutu Rayhan membuat Rendy merasa bersalah.
“Maaf Ray, aku janji akan lebih fokus lagi sekarang.” Rendy menjawab dengan senyum santainya. Rayhan menghela nafas, berusaha bersabar menghadapi sahabatnya itu.
“Ingat siang ini kita ada meeting penting. Jangan sampai kau melakukan kesalahan lagi.” Rayhan kembali mengingatkan.
__ADS_1
“Siap bosku, aku bisa pastikan kalau meeting nanti akan berjalan dengan baik.” Sahut Rendy memastikan dengan penuh percaya diri.
Dilain tempat, lagi dan lagi Maher dan Arkana mengunjungi papa Farah. Tentu saja tujuan keduanya adalah untuk melihat sosok Farah. Gadis yang menjadi pujaan hati mereka. Tak seperti biasanya, hari ini Arkana iseng mengajak Maher berselfi di lobi rumah sakit. Maher hanya menurut saja, tak menolak dan tak berkomentar. Bukan hanya berfoto, ternyata Arkana juga mengunggahnya pada media sosialnya.
“Mas Arka!!” terdengar suara cempreng yang mengganggu telinganya.
“Astagfirullah, bisa pecah gendang telinga ini kalau setiap saat mendengar suaranya.” Ucap Arkana penuh kekesalan.
“Huss… gak boleh ngomong gitu.” Maher menghardik. Arkana hanya tersenyum kuda.
“Mau jenguk papa ya? Barengan yuk masuknya.” Ajak Gina. Ya suara cempreng yang mengganggu itu adalah milik Gina.
“Silahkan jalan duluan.” Maher memberikan jalan pada Gina.
“Tadi kayaknya kalian lagi foto-foto deh. Yuk foto lagi Gina mau ikutan.” Ucap Gina berusaha menempel manja pada Arkana. Dengan cepat Arkana bergeser memberi jarak.
“Udah selesai foto-fotonya.” Jawab Arkana memasukkan kembali ponselnya.
“Ayo Kak.” Lanjut Arkana kembali melangkah. Maher mengangguk lalu mengikuti langkah Arkana dan meninggalkan Gina.
Kembali ke kantor Rayhan, kini mereka sudah selesai meeting. Sesuai janjinya, Rendy benar-benar fokus pada meeting ini. Bahkan semuanya berjalan lancar dan sesuai dengan apa yang mereka iginkan. Rayhan sekali lagi merasa bangga dan puas atas profesionalitas Rendy dalam bekerja.
“Alhamdulillah sudah selesai, sekarang waktunya pulang.” Ucap Rayhan sembari meregangkan otot-ototnya.
“Ray…. Kau masih ingat dengan Farhan?” Akhirnya Rendy mengatakannya juga. Dia sudah tidak bisa menahan dirinya lagi.
"Tentu saja, sampai kapan pun aku tak akan pernah melupakannya. Dia jugalah yang membawa pergi putri kami. Heemmm… sudahlah jangan ungkit masa lalu lagi. Aku sudah melupakan semuanya.” Rayhan tersenyum berusaha menekan kesedihan yang sejenak muncul.
"Kemarin aku melihat Farhan disebuah rumah sakit.” Rendy mulai memperjelas semuanya.
“Kau sungguh-sungguh Ren??” tanya Rayhan berderi memastikan.
“Aku juga belum sepenuhnya yakin, karena aku hanya melihatnya sekilas. Tapi dari bentuk wajahnya sepertinya dia adalah Farhan.” Rendy belum berani menyimpulkan.
“Dirumah sakit mana kau melihatnya? Aku akan kirim beberapa anak buahku untuk mencari tahu kebenarannya.” Penuh semangat Rayhan meminta informasi dari Rendy. Rendy menuliskan sesuatu pada kertas kosong didepannya. Lalu menyerahkannya pada Rayhan.
__ADS_1
Dirumah Zafiya yang sedang asik bermain media sosial, dikejutkan oleh unggahan sang kakak. Pasalnya sangat jarang kakaknya itu mengunggah sesuatu kemedia sosialnya. Apalagi mengunggah fotonya sendiri, bisa dihitung dengan jari. Hal ini berhasil membuat Fiya terkejut. Dia bahkan menunjukkan foto kakaknya itu pada sang bunda.
“Bun lihat deh, tumben-tumbenan Kak Arkana mejeng di medsos.” Zafiya menunjukkan ponselnya pada Assyfa.
“Biarkan saja si dek, namanya juga anak muda.” Jawab santai sang bunda.
“Eh…. Tapi lihat deh Bun latarnya kok rumah sakit?” lanjut Zafiya setelah memperhatikan detail foto tersebut.
“Benarkah?” sahut Assyfa mengamati sekali lagi foto tersebut. Bukan hanya latar belakang nama rumah sakit yang dilihatnya. Bahkan matanya juga menangkap sesuatu yang sudah sangat lama tak dilihatnya. Sebuah liontin berinisial FA bertengger indah dileher salah seorang gadis yang berdiri tak jauh dari putra dan keponakannya itu.
“Bukankah ini….. ini adalah liontin itu…” Assyfa terbelalak sampai menganga. Perasaan bahagia muncul dihatinya bersamaan dengan tetesan air mata.
“Bunda kenapa?” tanya bingung Zafiya yang melihat bundanya tiba-tiba menangis.
“Kita menemukannya nak, kita menemukannya.” Ucap lirih Assyfa memeluk Zafiya. Zafiya semakin bingung dibuatnya.
Sesaat kemudian Assyfa lekas menggapai ponselnya. Dia hendak menghubungi sang suami. Namun dia ingat jika semalam Rayhan mengatakan ada meeting penting hari ini. Sehingga dia memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat pada Rayhan. Dengan tanga gemetar, Assyfa berusaha menyampaikan sesuatu pada Rayhan.
“Mas kita menemukan Alifa. Dia ada dikota yang sama dengan Arkana. Kita harus segera menjemputnya.” Rayhan yang sedang dalam perjalanan pulang bersama Rendy, seketika dibuat terkejut.
“Percepat laju mobilnya Ren. Syfa mengirimkan pesan jika dia menemukan Alifa. Dikota yang sama dimana kau melihat Farhan. Aku yakin kali ini kita bisa menemukan mereka.” Rayhan memberikan intruksi. Rendy pun mengikutinya dengan patuh. Sejenak Rendy melihat senyum bahagia tersungging diwajah Rayhan. Setidaknya setitik harapan mulai menghampiri mereka. Mungkin sekaranglah waktunya untuk bertemu kembali
dengan Alifa.
.
.
Bersambung.......
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan Like, Vote, Hadiah dan komennya. Terimakasih, see you next episode. Salam hangat selalu....