
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya yang dicari pun muncul. Farah datang bersama dengan ibu dan gadis yang menemui Arkana dan Maher tadi. Seperti biasanya Farah selalu menundukkan kepalanya. Namun kali ini dia seolah sedang menyembunyikan sesuatu. Apalagi tak nampak sedikit pun senyum menghiasi wajahnya.
Berbeda dengan Farah, ibu dan adiknya tersihat tersenyum lebar menyapa Arkana dan Maher. Tak lupa dengan tatapan genit Gina yang sebenarnya membuat keduanya tak nyaman. Namun demikian Arkana dan Maher tetap berusaha bersikap ramah. Sebagai seorang tamu mereka harus menghormati dan menghargai tuan rumah.
“Assalamualaikum Bu.” Sapa Maher sopan.
“Waalaikum salam. Waduh mimpi apa ibu semalam kedatangan tamu ganteng-ganteng begini.” Jawab mama Farah tersenyum manis.
“Kami teman Farah Bu, dan kami kemari ingin bertemu dengan Farah.” Sahut Arkana kemudian.
“Ada apa ya Mas Maher dan Mas Arka mencari Farah?” tanya Farah menatap mereka sejenak lalu menunduk kembali.
“Kami hanya ingin ngobrol saja, tidak mengganggu kan?” jawab Maher menatap Farah. Farah diam, ragu untuk menjawab.
“Tentu saja tidak Mas.” sahut cepat Gina. Maher dan Arkana hanya tersenyum tipis menanggapi Gina. Sejenak mereka saling terdiam.
“Benar, silahkan ngobrol kami tidak akan mengganggu kok. Anggap saja rumah sendiri.” Sambung mama sembari menarik Gina untuk lekas duduk. Kemudian Farah pun ikut duduk tak jauh dari mereka setelah mendapatkan tatapan tajam dari sang mama.
Maher sejak tadi terus saja memperhatikan rumah Farah. Menatap satu persatu sudut ruangan. Dia seolah sedang mencari seseorang. Ya Maher sedang mencari keberadaan papa Farah. Namun sejak kedatangannya papa Farah tak terlihat. Bukan hanya itu, Maher juga memperhatikan setiap hiasan dinding yang tergantung diruang tamu. Tak banyak hiasan disana, hanya beberapa foto dan lukisan.
“Maaf kalau boleh kami tahu, ibu dan keluarga sempat tinggal di Yogyakarta kan?” Arkana yang sudah tidak sabar langsung to the point.
“Iya benar, saat Farah kecil kami tinggal di Jogja. Tapi saat ibu hamil Gina kami memutuskan untuk pindah.” Jawab mama Farah tak menjelaskan secara detail.
__ADS_1
“Apa ibu masih punya keluarga atau saudara disana? Kebetulan kami dari Jogja, barang kali saat pulang ke Jogja nanti ibu dan keluarga sudi singgah dirumah kami.” Lanjut Maher.
“Kami tidak punya saudaha disana, hanya ada beberapa kenalan baik saja. Kalau ada waktu nanti saat kami main ke Jogja kami akan berkunjung kerumah kalian.” Mama Farah mengembangkan senyum bahagianya.
“Kita memang gak punya saudara disana Mas. Tapi kalau masnya mau, kita bisa kok jadi saudara. Jadi pasangan mungkin…..” sambung Gina memelankan suaranya pada kalimat terakhir. Dia pun tertawa sendiri dengan apa yang dikatakannya. Sesekali ekor matanya melirik kearah Arkana sembari tersenyum semanis mungkin. Sementara Arkana tak menghiraukannya sama sekali.
“Sebenarnya kami datang ke kota ini ingin mencari seseorang. Sudah sangat lama sekali kami terpisah dan tidak pernah bertemu. Kami fikir mungkin orang yang kami cari itu adalah……..” Arkana hendak menyampaikan maksud tujuan mereka.
PRANKK…… terdengar suara benda jatuh begitu keras. Sehingga membuat Arkana tak melanjutkkan kalimatnya. Mereka semua menengok ke sumber suara. Ternyata suara itu berasal dari salah satu kamar yang terletak dibelakang. Atau lebih tepatnya didekat dapur. Tanpa basa basi Farah lekas lari menuju kamar itu. Dia terlihat begitu cemas dan khawatir. Arkana dan Maher pun mengikuti langkah Farah disusul mama dan adik Farah.
“PAPA!!!” seru Farah sesaat setelah membuka pintu kamar. Dia bergegas menghampiri sang papa yang sudah tergeletak dilantai.
“Papa kenapa Pa? Pa bangun Pa…..” Farah memangku kepala papa. Dia berusaha membangunkan papanya yang terpejam. Maher dengan cepat menghampiri dan menggapai tangan papa Farah. Memastikan denyut nadi dan keadaannya.
“Baik Kak.” Jawab cepat Arkana. Dia lantas berlari keluar sembari memainkan ponselnya. Dia berusaha mencari kendaan yang laing cepat. Sementara mama dan Gina hanya menonton dari sisi lainnya. Mereka hanya diam berdiri, bahkan tak menunjukkan rasa cemas sedikit pun.
Tak berselang lama Arka kembali bersama seseorang. Dengan cepat Maher memberikan intruksi untuk mengangkat papa Farah. Mereka bertiga memindahkan tubuh lemah papa Farah kedalam mobil. Farah mengikuti mereka dari belakang. Masih dengan tangis yang terurai. Farah takut…. Sangat takut….. takut jika terjadi sesuatu pada papanya. Takut jika papa akan meninggalkan dirinya. Farah tidak ingin sendirian didunia ini. Selama ini hanya ada papa yang selalu bersama dan menguatkannya.
“Hei tunggu…..” seru mama Farah saat mobil melaju meninggalkan rumah mereka. Mereka seolah tak nampak dan terlupakan. Mungkin karena sedang panik, jadi tak ada yang memperhatikan keberadaan mereka.
“Dasar orang tua penyakitan, nyusahin aja sih. Pakek jatuh segala, padahal lagi asik ngobrol sama mas-mas ganteng.” Gerutu Gina yang terlihat begitu kesal.
“Begitu-begitu juga dia papa kamu Gina.” Sahut mama sedikit tidak suka dengan kata-kata putrinya.
__ADS_1
“Papa yang tidak berguna.” Sungut Gina kemudian. Dia berlalu masuk meninggalkan mamanya yang masih berdiri diberanda rumah.
“Kalau bukan karena uang aku dulu juga gak akan pernah mau sama laki-laki penyakitan itu.” gumam mama mengikuti langkah Gina.
Sementara itu diperjalanan menuju rumah sakit, Farah tak henti menangis. Meski Arkana dan Maher sudah berusaha menenangkannya. Dia tetap tak bisa menghentikan air matanya. Tangannya terus menggenggam tangan sang papa. bahkan tanpa canggung Arkana beberapa kali menggelus pundak Farah. Farah pun tak merasa risih atau keberatan dengan hal itu. Justru usapan Arkana mampu memberinya sedikit ketenangan.
Sedangkan Maher, sejak tadi tak lepas mengamati wajah papa Farah. Dia merasa seolah pernah mengenal atau bertemu dengannya. Tetapi dia tidak ingat siapa dan dimana mereka bertemu. Maher berusaha keras mengingat. Tapi tetap saja gagal, dia tak berhasil menyentuh ingatak tentang siapa papa Farah dan apa hubungannya dengan papa Farah dimasa lalu.
“Apa mungkin hanya perasaanku saja. Tapi kenapa aku sangat yakin pernah bertemu dengan papa Farah? Sudahlah fikirkan nanti saja itu, yang terpenting sekarang bawa ke rumah sakit dulu.” Batin Maher sembari sesekali menggelengkan kepalanya.
.
.
Bersambung......
.
.
.
Hai aku kembali....... setelah sekian lama tak bersua. Gimana kalian nungguin gak?
__ADS_1
Kemaren2 aku lagi sibuk banget, sibuk rewang 😁. Entah kenapa setelah lebaran banyak banget yang hajatan. Jadi harus rewang bergilir deh. Jadi harap dimaklumi ya teman2 😊