
Selain ingin memfoto copy bahan kulia, Maher juga ingin memastikan sesuatu. Dia ingin mencari informasi tentang Farah dan Jihan. Setelah mengetahui jika keduanya berkemungkinan besar adalah Alifa. Maher ingin segera mengetahui kebenarannya. Dia pun juga memiliki keyakinan jika diantara Jihan dan Farah, salah satunya adalah Alifa.
Arkana pun begitu bersemangat, entah apa alasan semangatnya itu. Apakah karena Alifa, atau Farah dan Jihan? Yang jelas Arkana selalu bersemangat jika berhubungan dengan keduanya. Meski setiap bertemu, Arkana dan Jihan tidak pernah bisa akur. Tapi baginya kebersamaan mereka begitu menyenangkan.
Entah sebuah kebetulan atau memang sudah ketentuan. Hari ini pun tanpa sengaja mobil Iqbal berpapasan dengan Farah dan Jihan yang sedang bersepeda menuju tempat kerja. Farah memang berangkat siang hari ini. Sekilas tidak ada yang memperhatikan keberadaan mereka berdua. Hingga Laila merasakan sesuatu yang aneh di hatinya. Seketika sosok kedua gadis itu menarik perhatiannya. Matanya terus menatap keduanya hingga berlalu. Laila merasa seolah akrab dengan sosok mereka.
“Ada apa sih Ummi?” tanya Humaira seraya mengikuti arah pandangan Laila.
“Oh tidak apa-apa nak. Ummi hanya memperhatikan kedua gadis yang lewat tadi.” Jawab Laila membenarkan poosisi duduknya.
“Siapa Ummi?” sahut Iqbal penasaran.
“Ummi juga tidak kenal Abi, tapi sepertinya tidak asing saja. Sudahlah mungkin hanya perasaan Ummi saja.” Jawab Laila menyudahi obrolan mereka. Iqbal kembali fokus pada jalanan, sedangkan Humaira asik bermain dengan ponselnya.
Maher dan Arkana terus berjalan menyususri jalanan. Semua orang yang berpapasan dengan mereka menunduk hormat. Setelah kunjungan Abi dan Umminya tadi, kabar tentang statusnya sebagai putra Kiyai Iqbal tersebar dengan sangat cepat. Entah siapa yang menyebarkan gossip itu pertama kali. Tapi yang pasti saat ini hampir seluruh isi pesantren mengetahuinya. Maher pun hanya mampu pasrah, mengelakpun sudah tidak bisa.
“Kenapa gosip bisa menyebar begitu cepat?” gumam Maher berkomentar.
“Tidak bisa dipungkiri Kak, siapapun pasti suka bergosip.” Arkana menanggapi dengan kekehannya. Sementara Maher hanya diam sembari menggeleng pelan.
Setelah beberapa saat berjalan, tujuan yang akan mereka sambangipun nampak oleh penglihatannya. Mereka mempercepat langkah ingin segera sampai disana. Bahkan tanpa sadar senyum Arkana pun mengembang sempurna. Namun seketika senyumnya surut ketika melihat gadis yang tak pernah bisa akur dengannya juga ada disana.
“Hais..... kenapa juga dia ada disini.” Gumam Arkana sangat lirih.
“Kamu bilang apa?” tanya Maher yang tidak bisa mendengar dengan jelas.
“Tidak apa apa Kak.” Sahutnya cepat tersenyum. Lagi-lagi Maher hanya menggeleng melihat tingkah Arkana. Aneh, terkadang adiknya itu memang sangatlah aneh.
“Assalamualaikum Mas Maher.” sapa Jihan yang langsung menyambut kedatangan mereka dengan senyum lebar.
“Waalaikum salam.” Jawab keduanya bersamaan.
“Disebelahnya juga ada orang loh, kenapa hanya satu saja yang disapa?” protes Arkana melirik Jihan yang berdiri didepannya. Jihan tak menjawab, dia justru melengos tak memperdulikan Arkana.
“Bisa tolong foto copykan ini?” Maher berjalan mendekati Farah yang berdiri dibelakang etalase. Dia menyododrkan sebendel kertas yang berisi bahan kuliah.
__ADS_1
“Tentu saja bisa, disini kan tempat foto copy.” Jawab Farah tersenyum Manis.
“Benar juga, kenapa aku harus bertanya.” Maher ikut tersenyum melihat kekonyolannya. Farah langsung menggapai kertas yang tergeletak didepannya. Membawanya kemesin foto copy dan melaksanakan tugasnya.
Sementara itu, JIhan dan Arkana masih berdiri mematung didepan. Padahal tak jauh dari mereka ada kursi kosong. Maher yang melihat mereka pun seolah memberi kode dengan matanya. Mengajak mereka untuk duduk. Arkana yang faham akan kode yang diberikan sang kakak. Lekas melangkah mendekati kursi dan duduk. Maher mengikuti dan duduk disisi Arkana. Sedangkan Jihan duduk di depan mereka. Dia terus saja membuang muka dari Arkana dan memperhatikan Maher.
“Ini Mas sudah selesai, ada yang lain lagi?” tanya Farah meletakkan tumpukan kertas.
“Tidak ada, terimakasih ya Farah.” Sahut Arkana tersenyum manis.
“Sama-sama Mas ini adalah pekerjaan saya.” Jawab Farah membalas senyum Arkana.
“Sok manis banget sih.” Gumam Jihan lirih sembari melirik malas kearah Arkana.
“Kami boleh kan disini sebentar?” tanya Maher kembali mengalihkan perhatian Jihan.
“Tentu saja Mas, disini kan tempat umum.” Farah mengizinkan.
“Ya takutnya mengganggu pekerjaanmu.” Lanjut Maher.
“Nyamber aja sih.” Kali ini Arkana yang mengomentari Jihan. Jihan kembali menatap tajam Arkana. Sejenak mereka saling bertatapan, sebelum keduanya saling memalingkan muka.
Tak berselang lama, tempat itu pun ramai dikunjungi pelanggan. Jihan pun ikut ambil bagian memabntu sang sahabat melayani. Meski ada satu pekerja laki-laki disana, namun setiap ada disana Jihan selalu membantu sebisanya. Farah dan rekannya pun tak melarangnya. Pasalnya Jihan akan langsung ngambek jika mendapatkan larangan.
Maher dan Arkana hanya diam memperhatikan keramaian itu. Padahal Maher ingin mengobrol lebih lama dengan keduanya. Namun apalah daya, suasananya sangat tidak mendukung. Sehingga dia pun mengurungkan niatnya. Maher memilih memainkan gawai yang ada ditangannya. Mengikuti apa yang dilakukan Arkana sejak tadi untuk mengusir kebosanannya.
“Maaf ya Mas diangguring aja. Ini minuman untuk mas-masnya.” Farah menghampiri dan menyodorkan dua kaleng minuman.
“Tidak apa-apa Farah.” Jawab Maher mendongak.
“Terimakasih ya minumannya.” Sambung Arkana menerima salah satunya dan diikuti oleh Maher. Farah hanya mengangguk, tak lupa memberikan senyum manisnya.
“Kapan-kapan kami boleh tidak main dan berkunjung kerumah kalian?” tanya Maher sedikit ragu. Untuk pertama kalinya dia meminta izin berkunjung kerumah seorang gadis. Farah menatap bingung kearah Maher, begitupun dengan Arkana. Arkana sangat tidak menyangka pertanyaan itu akan muncul segra gamblang dari bibir sang kakak.
“Tentu saja boleh.” Sahut Jihan sumringah.
__ADS_1
“Boleh saja Mas.” sambung Farah juga memberikan izin.
“Terimakasih karena sudah mengizinkan. Kalau ada waktu luang nanti kami akan berkunjung ke rumah kalian.” Lanjut Maher memperjelas. Sejenak kesenyepan tercipta diantara mereka. Ada sedikit rasa canggung setelah Maher menanyakan hal tersebut.
“Oh iya Jihan katanya kamu mau mengerjakan tugas kelompok?” Farah memecah keheningan tersebut.
“Oh iya aku hampir saja lupa. Untung kau mengingatkan Far. Ya sudah aku pergi dulu deh.” Sahut Jihan menepuk pelan jidatnya. Dia lantar bergegas menggapai ransel yang tergeletak diatas etalase tak jauh dari tempatnya.
“Saya permisi dulu ya Mas Maher. Aku pergi dulu Far, kalau sudah selesai, nanti aku akan kemari lagi.” ucap Jihan berpamitan. Lagi-lagi nama Arkana tak disebut olehnya.
“Iya hati-hati ya Jihan.” Jawab Maher. Jihan tersenyum senang mendapati perhatian dari Maher.
“Eh… tunggu dulu Jihan.” Farah menghentikan langkah Jihan. Dia berjalan menuju etalase tempatnya biasa menyimpan tas.
"Ini kemarin kau meninggalkannya diatas meja kamarku.” Lanjut Farah memberikan sesuatu.
“Uh… pantas saja semalam aku cari tidak ketemu. Terimakasih ya Far, aku bawa dulu. Ya sudah aku buru-buru nih. Assalamualaikum.” Jawab Jihan menyambar barang yang diulurkan Farah.
“Waalaikum salam.” Jawab mereka kompak.
“Hati-hati Jihan.” Seru Farah sebelum sahabatnya itu berlalu pergi. Jihan hanya menjawabnya dengan anggukan.
Maher sungguh terkejut melihat benda yang diberikan Farah pada Jiihan. Sebuah tasbih kecil yang sagat dikenalinya. Meski sudah sangat lama dia tak pernah lagi melihat benda tersebut. Namun dia sangat yakin jika tasbih itu adalah tasbih yang dulu sempat diambilnya dari kantong sang Abi secara diam-diam. Ya itu adalah tasbih yang dulu diselipkannya pada tas kecil milik nenek Alifa dipertemuan terakhir mereka. meski Maher tahu, jika tasbis seperti itu tidak hanya ada satu dipasaran. Tapi dia benar-benar yakin jika tasbih yang dilihatnya kali ini adalah milik sang Abi.
.
.
Bersambung......
.
.
.
__ADS_1
Aku kembali....... Alhamdulillah setelah sekian lama akhirnya bisa up lagi 😁 Belakangan lagi sibuk banget, apalagi menjelang lebaran. Banyak banget hal yang harus dikejakan, kalian pasti mengalaminya juga lah ya. Puasa tinggal beberapa hari lagi nih. Tetap semangat ya..... see you next episode. Salam hangat selalu.....