RISALAH RINDU

RISALAH RINDU
Kabar Baik yang Mengejutkan


__ADS_3

Beberapa saat kemudian papa Farah terlihat sedikit tenang. Namun ekor matanya tetap tertuju pada Arkana. Sesekali papa Farah juga menatap Maher. Bibirnya pun terus bergetar, berusaha mengeluarkan suara. Demi ketenangan papa Farah, Maher mengajak Arkana sedikit menjauh. Setidaknya tidak lagi tertangkap oleh penglihatan papa Farah.


Jihan pun yang juga merasakan kejanggalan menatap tajam Arkana. Dia seolah menelisik dan mencari tahu apa yang membuat papa Farah bersikap demikian. Dia juga beberapa kali memberikan kode pada Arkana untuk keluar dengan tangan dan matanya. Namun bukanya menurut, Arkana justru duduk santai di sofa yang ada dalam ruangan tersebut. Jihan menjadi geram dengan sikap santai Arkana.


Jihan menghampiri Arkana dan langsung menarik tangannya. Arkana yang terkejut pun hanya mampu menurut dengan langkah gontai. Jihan membawanya keluar ruangan.


“Ada apa sih tarik-tarik?” tanya Arkana melepaskan tangannya setelah sampai di luar.


“Kamu tuh pura-pura gak ngerti, apa memang gak bisa mencerna dengan baik? Dari tadi aku udah kasih kode kamu untuk keluar. Kenapa malah duduk santai?” sahut Jihan bertolak pinggang didepan Arkana.


“Aduh kenapa sih kamu yang ribet? Farahnya aja kalem-kalem aja.” Jawab Arkana dengan santainya. Dia duduk sembari mengangkat meletakkan kaki kanannya diatas kaki kiri.


“Itu karena Farah gak enak aja mau ngusir kamu. Lihat kan tadi reaksi papa Farah saat lihat kamu? Aku rasa papanya Farah kena sawan kamu deh. Jadi mending jauh-jauh dari papa Farah.” Lanjut Jihan sembari mengejek.


“Sembarangan, sawan.” Sahut cepat Arkana tak terima.


“Ya memang, buktinya tadi Om…..” Jihan berusaha mendebat Arkana. Namun seseorang menyela perkataannya.


“Hai mas ganteng.” Sapa Gina yang sudah ada disana bersama mamanya. Spontan Arkana dan Jihan menatap kedatangan mereka.


“Gimana keadaan suami saya?” tanya mama saat beberapa detik tak dapat respon dari keduanya.


"Keadaannya sudah membaik tante. Jihan rasa sudah jauh lebih baik sekarang.” Jawab Jihan cepat dan lugas.


“Masuk aja tante kalau mau tahu keadaan Om secara langsung.” Sambung Arkana berdiri dan mempersilahkan mereka masuk.


“Ya udah yuk Mas kita masuk.” Kata Gina merangkul tangan Arkana begitu saja.


“Bukan mahrom gak boleh pegang-pegang.” Sahut Jihan sewot melepas paksa tangan Gina.


“Maaf ya lain kali mohon lebih sopan lagi.” lanjut Arkana memperingatkan Gina. Jihan menahan tawanya melihat ekspresi kecewa Gina akan reaksi Arkana.


“Ya sudah yuk sayang kita masuk.” Ajak mama menarik lengan Gina. Kemudian mereka pun masuk meninggalkan Jihan dan Arkana disana.


Jihan dan Arkana pun tertawa bersama setelah Gina pergi. Mereka sama-sama puas melihat ekspresi Gina tadi. Wajahnya memerah malu karena penolakan Arkana. Jihan pun tertawa lepas sembari mengingat wajah malu Gina tadi. Sementara ditengah tawa mereka, Arkana menghentikan tawanya. Dia menatap sejenak wajah gadis yang ada didepannya. Dia tersenyum, entah mengapa Jihan terlihat begitu menawan dengan senyum dan tawa lepas diwajahnya. Membuat Arkana menjadi terpana akan pesona yang baru disadari oleh Arkana.

__ADS_1


Didalam ruangan terlihat mama dan Gina mendekati papa. Farah sedikit memberi ruang pada mereka. Mereka berdua meneteskan air mata tanda kesedihan mereka. Meski tak ada yang tau apakah air mata itu keluar karena ketulusan atau air mata palsu sebagai pelengkap acting mereka. Yang Farah tahu selama ini, mama dan adiknya itu tak pernah sedikitpun perhatian pada papanya. Jangankan untuk merawat, sekedar menganmbilkan minum saja mereka enggan. Jadi tangisan mereka benar-benar membuat Farah merasa muak.


“Papa, kenapa papa bisa jadi seperti ini. Ini pasti karena Farah yang tidak bisa menjaga dan merawat papa dengan baik.” Ucap mama menjelekkan Farah.


“Papa cepat sembuh ya. Gina sedih kalau lihat papa seperti ini.” Sambung Gina memeluk papanya. Namun papa justru memutar bola matanya. Seolah papa malas melihat kedatangan mereka.


“Tante tidak perlu cemas, keadaan Om sudah sangat baik. Saya rasa sebentar lagi Om pasti akan sembuh dan bisa kembali seperti semula.” Maher mendekati mereka dan memberi tahu keadaan papa Farah saat ini.


“Oh syukurlah kalau begitu.” Jawab mama menatap Maher.


“Untung tadi ada Mas berdua yang langsung membawa papa kesini. Terimakasih banyak ya Mas.” Gina berusaha menggapai tangan Maher untuk berterima kasih.


“Maaf….” Ucap cepat Maher menghentikan dan menghalangi niat Gina. Gina hanya mampu mengangguk dan tersenyum. Lagi-lagi dia mendapatkan penolakan.


“Sok-sokan banget deh, sok alim lagi. Untung aja ganteng, kalo gak udah aku buang ke laut dari tadi.” Batin Gina mengumpat dibalik senyum palsunya.


“Boleh saya periksa dulu pasiennya?” tanya seorang dokter mengalihkan perhatian mereka. Dokter itu masuk bersama Arkana dan Jihan. Tak lupa seorang suster asistennya.


“Tentu saja dok, silahkan.” Farah mempersilahkan dengan sangat lembut.


“Permisi ya.” jawab sang dokter pun dengan sopan. Mereka semua sedikit memberi jarak. Membiarkan dokter melakukan pemeriksaan dengan leluasa.


“Benarkah? Coba bapak angkat perlahan tangan bapak. Saya ingin melihatnya.” Kata sang dokter memberikan intruksi.


Perlahan-lahan papa berusaha mengangkat tangan kanannya. Meski terasa sedikit berat, namun tangan papa sedikit demi sedikit mulai terangkat. Semua orang terkejut melihat itu, senang bercampur haru. Dokter pun terlihat mengembangkan senyum puasnya. Sepertinya sesutau yang baik terjadi pada papa.


“Alhamdulillah, sepertinya perlahan-lahan semuanya akan membaik. Asalkan bapak mau rutin terapi, insyaallah bapak akan segera pulih dari stroke.” Ucap dokter kembali menurunkan tangan papa.


“Papa saya akan segera sembuh dok?” tanya antusias Farah.


“Insyaallah ya Mbak.” Jawab dokter penuh keyakinan.


“Kenapa bisa begitu dok?” tanya mama seolah tak senang.


“Sepertinya ada suatu hal yang kembali menumbuhkan semangat pasien. Sehingga dia beringinan untuk menggerakkan anggota tubuhnya. Keinginan yang kuat itulah yang mampu mendorong dan mendobrak semua syaraf dan urat yang selama ini berisirahat.” Dokter memberikan penjelasan.

__ADS_1


“Alhamdulillah ya Allah kau berikan kesembuhan untuk papa hamba.” Ucap lirih Farah mengucapkan syukur. Jihan memeluk sahabatnya itu turut merasa senang dengan kabar baik itu. Begiru pun dengan Arkana dan Maher, mereka juga sangat bersyukur dan senang mendengar kabar itu.


Tak berselang lama, dokter pun meninggalkan ruangan. Begitupun dengan Maher dan Arkana yang juga ikut berpamitan. Mereka sudah terlalu lama meninggalkan pesantren. Takutnya Kiyai Hamid mencari mereka nanti. Apalagi mereka hanya pergi berdua, mereka tidak ingin membuat Kiyai Hamid cemas. Mama Farah pun ikut pamit sejanak. Dia beralasan ingin membeli minum dikantin rumah sakit.


“Dia akan sembuh, dia bahkan sudah bisa mengangkat salah satu tangannya. Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya seseorang dibalik telfon.


“Ini sungguh diluar dugaan. Tapi tidak masalah, sejak dulu kita selalu berhasil menangani dia. Kau jangan khawatir, aku akan kirimkan seseorang untuk memberikan ramuan baru yang lebih ampuh. Jangan lupa berikan padanya rutin setiap hari agar tubuhnya semakin lumpuh dan tak ada lagi kesempatan untuk pulih.”  Jawab seseorang dengan suara berat dan penuh kekuasaan itu.


“Lakukan apapun rencanamu itu. Aku tidak mau usaha kita selama ini menjadi sia-sia. Aku juga tidak mau harta yang selama ini dengan susah payah kita dapatkan akan lenyap begitu saja.” Lanjut sang penelfon memberi peringatan.


“Kau jangan cemas sayang, tidak akan ada yang bisa mengambil harta-harta itu dari kita. Hanya kita yang berhak menikmati semuua harta itu hahaha…..” jawabnya tertawa senang.


“Sudah jangan banyak omong, lebih baik segera jalankan saja rencanamu.” Sahut sang wanita.


“Ok baiklah, tapi aku ingin mala mini kita bertemu. Aku tunggu di tempat biasa dijam yang sama seperti biasanya. Aku sudah sangat merindukanmu sayangku. Merindukan aroma tubuhmu.” Lanjutnya penuh godaan.


“Apa pun yang kau inginkan sayang. Tunggu aku, malam ini kita pasti akan bersenang-senang.” Jawab sang wanita tanpa ragu.


Sementara itu didalam ruangan Jihan terlihat sedang mengobrol bersama Farah. Sedangkan Gina asik sendiri dengan ponselnya. Papa pun sedang beristirahat dengan tenang. Jihan terlihat merogoh tasnya. Mencari sesuatu yang selalu disimpan dalam tasnya itu.


“Ini ambillah, sekarang kau yang sedang membutuhkannya.” Kata Jihan memberikan tasbih kecil dalam genggaman Farah.


“Terimakasih ya Jihan.” jawab Farah tersenyum.


“Tak perlu berterimakasih, sekarang simpanlah tasbih ini.” Kata Jihan juga tersenyum. Farah langsung memeluk sahabatnya itu. Dia sanggat senang memiliki sahabat sebaik dan seperhatian Jihan. Yang selalu ada dan bisa menguatkannya bahkan disaat terlemah sekali pun.


.


.


Bersambung......


.


.

__ADS_1


.


Terimakasih atas semua dukungannya. Jangan lupa Like, Hadiah, Vote dan komennya ya. Yang belum Rate monggo silahkan Rate dulu. See you next episode. Salam hangat selalu....


__ADS_2