
Hampir setiap hari Maher dan Arkana mengunjungi papa Farah di rumah sakit. Hal itu pun membuat mereka semakin dekat dengan keluarga Farah. Bahkan kedekatan Arkana dan Farah semakin erat. Maher menjadi semakin tak tenang melihat kedekatan mereka. Entah karena alasan apa? Yang dia tahu hatinya merasa risau saat melihat mereka begitu dekat. Namun Maher tetaplah Maher, dia sangatlah pandai menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. Dia tetap bersikap biasa dan seolah baik-baik saja.
Momen ini pun dimanfaatkan oleh Gina adik Farah untuk mendekati Arkana. Sejak pertama mereka bertemu dia memang sudah tertarik pada Arkana. Sehingga dia berusaha keras menarik perhatian dan simpati Arkana dengan cara apa pun. Namun sikap Gina tersebut justru membuat Arkana merasa risih. Dia bahkan sangat tidak suka dengan kehadiran Gina disekitarnya. Sikap Gina yang selalu berusaha menempel padanya, membuatnya benar-benar kesal.
Berbeda dengan Gina yang hampir setiap hari datang, mamanya hampir tak pernah terlihat disana. Sesekali dia datang, itu pun hanya beberapa menit. Dia beralasan memiliki banyak pekerjaan. Selain itu dia juga harus mencari dan mengumpulkan uang untuk pengobatan suaminya. Tapi alasan-alasan itu terasa janggal untuk Maher dan Arkana. Gelagat mama Farah menunjukkan seolah dia sangat tidak memperdulikan suaminya yang sedang dirawat. Bahkan setiap kali dia mendapatkan kabar tentang perkembangan papa Farah. Wajahnya terlihat kesal dan penuh kecewa.
Di koridor rumah sakit, tanpa sengaja Arkana bertemu dengan Jihan yang sama-sama hendak menjenguk papa Farah. Seperti biasanya, pertemuan mereka selalu diawali dengan perdebatan kecil. Saling ejek dan menjahili satu sama lain. Namun seperitinya keduanya sudah sangat terbiasa dan akrab dengan suasana itu. Sebenarnya tadi Arkana datang bersama Maher, namun Maher meminta Arkana untuk jalan lebih dulu. Sementara Maher hendak membeli sesuatu di kantin rumah sakit.
“Gimana perkembangan hubunganmu dengan Gina?” tanya Jihan seraya melirik Arkana dengan senyum mengejeknya.
“Siapa juga yang mau punya hubungan sama dia. Setiap lihat dia aja rasanya aku udah enek.” Jawab Arkana bergidik.
“Tapi aku lihat Gina gencer ngejar-ngejar kamu. Udahlah terima aja, lagian dia juga cantik, bodynya juga aduhai.” Lanjut Jihan masih berusaha menggoda.
“Ulat bulu kayak dia kamu bilang cantik? Idih masih mending Farah kemana-mana kali.” Sahut cepat Arkana merasa geli dengan ungkapan Jihan.
“Ulat bulu?” tanya Jihan lirih terlihat bingung.
“Iya ulat bulu, kamu tahu kan ulat bulu? Mereka hanya terlihat cantik dari luar, tapi ketika disentuh akan menyebabkan gatal dan bentol-bentol. Sama halnya dengan Gina yang hanya cantik luarnya saja.” Cetus Arkana menjelaskan.
“Hahaha…. Ada-ada saja kamu ini. Eh… tapi memang cocok sih julukan itu.” sahut Jihan tertawa senang. Dia menyetujui julukan yang diberikan untuk Gina.
“Eh… tadi kau bilang apa? Lebih mending Farah kemana-mana? Kamu sebenernya suka ya sama Farah? Hayo ngaku…..” seketika Jihan menghentikan tawanya saat mengingat kalimat Arkana selanjutnya. Dia menatap tajam Arkana mencoba mencari kebenaran.
“Udah deh lupain aja apa yang aku katakan tadi.” Jawab Arkana mempercepat langkahnya.
__ADS_1
“Hey tunggu dulu kau harus jawab dulu, atau aku akan katakana pada Farah kalau kau suka padanya.” Jihan berusaha mengancam Arkana untuk mengatakan semuanya.
Arkana menghemtikan langkahnya, dia sangat tahu Jihan. Dia tidak akan pernah main-main dengan kata-katanya. Jihan berhasil menyusul Arkana, dia berdiri didepan Arkana. Menatap dan menunggu pilihan dari Arkana. Arkana yang merasa terpojok mau tidak mau harus mengakui semuanya pada Jihan.
“Jadi gimana?” tanya Jihan meminta kepastian.
“Ok Ok aku akan jujur. Tapi ingat jangan bilang apapun pada Farah.” Arkana meminta janji Jihan sebelum berkata jujur. Jihan mengangguk mmantap meyakinkan Arkana.
“Iya aku memang suka sama Farah. Lagi pula siapa sih yang gak akan suka sama cewe sebaik dan selembut Farah. Dia bukan hanya cantik diluar saja, tapi dia juga memilikikecantikan hati. Caranya bicara, tersenyum dan tatapan matanya selalu mampu membuat nyaman dan tenang.” Arkana mulai menggambarkan sosok Farah dari sudut pandangnya.
“Kalau begitu kau harus berusaha keras karena Farah sangat susah untuk ditaklukkan. Dia bukan tipe cewe yang mudah suka dan percaya pada pria.” Sahut Jihan memberikan nasehat. Kemudian dia berlalu setelah menepuk pundak Arkana tanda memberikan semangat.
“Aku pasti akan berusaha keras untuk itu.” jawab Arkana lirih.
Tanpa mereka sadari, ternyata sejak tadi Maher berjalan dibelakang mereka. Dia mendengar semua percakapan Arkana dan Jihan. Terutama tentang ungkapan perasaan Arkana. Maher sangat terkejut mendengan pengakuan Arkana. Bahkan tubuhnya seolah membeku tak bisa bergerak karena tak percaya dengan apa yang didengarnya. Lagi dan lagi hatinya terasa perih. Seketika itu dia baru menyadari bahwa Farah adalah orang yang special baginya. Bahkan hatinya tak rela saat ada laki-laki lain yang mengungkapkan perasaan suka padanya.
Ditengah padatnya kendaraan, mobil Rendy tengan berpacu menuju sebuah rumah sakit. Ya, hari ini dia dan Annisa akan mengunjungi kerabat mereka yang sedang sakit. Kebetulan dia dirawat dirumah sakit yang sama dengan papa Farah. Tadinya Assyfa hendak ikut karena ingin sekalian menjenguk putra dan keponakannya. Namun ternyata dia harus menemani Zafiya yang akan melakukan pementasan disekolah. Berhubung Rayhan sedang sibuk, jadi hanya Assyfa yang bisa hadir. Assyfa tak ingin membuat putrinya kecewa. Dia ingin selalu membersamai perkembangan putrinya itu. Dia juga tak ingin membuat putrinya menjadi sedih dan merasa sendiri.
Setelah menjenguk dan bercengkrama sejenak, Rendy dan Annisa pun undur diri. Mereka tidak ingin sampai rumah pada saat petang. Atau Malik akan terus mendiami mereka. Saat berangkat tadi Malik sempat merengek ingin ikut. Namun karena bukan hari libur, mereka tak memberikan izin. Namun demikian mereka menjanjikan akan memberikan apapun yang diinginkan oleh putranya itu. Sehingga mereka pun harus sampai rumah sebelum petang.
Saat mereka melewati salah satu lorong rumah sakit. Rendy merasakan seperti ada seseuatu yang familiar dengannya. Apalagi saat melewati salah satu ruangan mewah disana. Hati Rendy seolah tergerak untuk melihat kedalam ruangan yang sedikit terbuka itu. Dia sangat ingin tahu dan penasaran dengan orang yang dirawat disana. Annisa yang tak menyadari Rendy telah menhentikan langkahnya, terus berjalan meninggalkan Rendy.
Perlahan Rendy mulai mendekat, berusaha menggapai isi ruangan dengan matanya. Terlihat beberapa orang ada di sana. Dia kembali menelisik mencari siapa yang terbaring diatas ranjang. Dia memicingkan matanya saat mulai menangkap wajah sang pasien. Betapa terkejutnya Rendy, ternyata orang itu adalah orang yang dikenalnya. Bahkan orang itu dulu sempat menjadi penyelamatnya dan Rayhan.
Rendy membuka mulutnya lebar tak percaya. “Benarkah itu Farhan?? Farhan yang selama ini kami cari?” Rendy
__ADS_1
bergumam sembari menutup mulutnya.
“Apakah yang aku lihat ini benar? Atau hanya sekedar ilusiku saja?” Rendy masih enggan mempercayainya. Meski penampilan orang itu sedikit berbeda dengan Farhan yang ada dalam ingatannya. Namun Rendy sangat yakin jika orang itu adalah Farhan.
Rendy hendak masuk untuk memastikan, namun langkahnya terhenti saat Annisa memanggil dan menghampirinya. “Dad kok malah diam disini? Ayo kita pulang atau mau Malik lebih marah lagi?” Annisa mengingatkan Rendy.
“Maaf sayang tadi aku gak sengaja melihat teman lama yang juga dirawat disini. Dia ada di ruangan ini sayang. Aku hanya ingin menyapanya sebentar.” Jawab Rendy meminta izin.
“Lain kali saja deh Dad, kita harus segera pulang seakrang.” Annisa tetap memaksa untuk pulang. Rendy pun tak bisa menolak lagi.
“Baiklah kalau begitu. Ayo kita pulang sekarang.” Rendy menggandeng Annisa. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali tanpa memastikan semuanya.
.
.
Bersambung......
.
.
.
Sudah mulai nampak ya titik terangnya.....
__ADS_1
Yuk jangan lupa Like, Vote, komen dan hadiahnya 😊