
Sesampainya di rumah sakit, papa Farah langsung mendapatkan perawatan dan dia dibawa ke IGD. Sementara Farah, Arkana dan Maher menunggu di luar ruangan. Farah yang cemas terus meremas jemarinya. Meski air matanya sudah menyurut, namun dia tak henti menatap pintu IGD. Sesekali dia tertunduk, menangkup wajah takutnya dengan kedua telapak tangannya. Hati dan perasaannya benar-benar sedang kalut saat ini.
Maher dan Arkana pun merasa iba padanya. Baru kali ini mereka melihat Farah selemah itu. Selama mereka kenal, Farah adalah sosok yang kuat. Yang selalu tersenyum dalam keadaan apa pun. Ingin rasanya Maher mendekatinya dan menenangkan Farah. Namun dia takut, takut jika tak mampu menguasai hatinya. Bagaimanapun dia adalah manusia biasa. Yang bisa saja khilaf dan melupakan batasan-batasannya. Sehingga Maher hanya berani menatapnya dari kejauhan.
Berbeda dengan Maher, Arkana dengan beraninya dan tanpa berfikir panjang duduk disisi Farah. Dia kembali menguatkan Farah dengan kata-katanya. Sesekali tangannya terlihat bergerak mengusap kepala dan pundak Farah. Arkana seolah lupa tentang batasan antar lawan jenis. Yang ada difikirannya hanyalah bagaimana cara menenangkan hati Farah.
Maher yang melihatnya pun tak berani berbuat dan berkomentar banyak. Meski hati dan fikirannya tak menyukai apa yang dilakukan Arkana. Namun dia melihat betapa tenangnya Farah mendapati semua sikap Arkana. Hatinya kembali melunak saat melihat kelembutan wajah Farah. Dia tak pernah menyangka jika Farah dan Arkana sudah sedekat itu. Dia bahkan tak pernah menyadari sejak kapan kedekatan mereka terjalin. Sehingga Maher hanya bisa menundukkan kepalnya.
“Sejak kapan mereka sedekat itu? Mereka bahkan begitu akrab, kenapa? Aku bahkan tak berani mendekatinya. Ya Allah jangan biarkan hati ini terlalu mengharapkan sesuatu yang tak seharusnya hamba miliki.” Maher memejamkan matanya. Berdo’a untuk ketenangan hatinya pada Sang pemilik dan Maha pembolak-balik hati.
CEKLEK….. pintu IGD terbuka, terlihat seorang dokter dan beberapa perawat keluar. Farah dan Arkana langsung menghampiri mereka, begitu pun dengan Maher. Mereka ingin segera tahu keadaan papa Farah.
“Bagaimana papa saya Dok?” tanya Farah cepat masih penuh kecemasan.
“Keadaan pasien untuk saat ini sudah stabil. Hanya saja pasien belum sadarkan diri. Tapi kalian tak perlu cemas, saya sudah memberikan obat padanya.” Jawab dokter menjelaskan. Farah menghela nafas lega.
“Apa kami boleh melihatnya Dok?” lanjut Arkana.
“Kalian bisa melihatnya setelah dipindahkan keruang perawatan. Saya permisi dulu.” Ucap sang dokter kemudian pergi.
“Terimakasih Dok.” Sambung Maher mengangguk sopan. Dokter pun tersenyum dan menjawabnya dengan anggukan.
“Untuk keluarga pasien bisa langsung mengurus administrasinya agar bisa segera mendapatkan ruang perawatan.” Kali ini seorang suster yang memberikan intruksi.
“Baik Sus, dimana kami bisa mengurus administrasinya?” tanya Arkana menatap suster.
“Mari silahkan ikut saya.” Jawabnya singkat sembari melangkah pergi.
“Biar saya saja Mas yang mengurus.” Sela Farah sebelum Arkana mengikuti suster.
“Lebih baik kau disini saja Farah, biar aku yang menanganinya. Kak tolong jaga Farah ya.” jawab Arkana yang langsung berlalu pergi. Maher mengangguk tanda mengiyakan sembari memandangi kepergian Arkana.
Belum selesai Arkana mengurus administrasi. Terdengar suara nyaring memanggil nama Farah. Dia adalah Jihan, setelah mendengar kabar tentang papa Farah dari Pak Joko. Jihan lantas segera menuju rumah sakit terdekat. Dia sangat yakin jika papa Farah pasti ada disana. Benar saja, dia langsung menemukan Farah dan Maher didepan IGD.
__ADS_1
“Farah…..” seru Jihan menghampiri Farah dan langsung memeluknya.
“Gimana keadaan Om? Kenapa bisa sampai seperti ini? Dan kenapa kamu tidak mengabariku.” Jihan langsung memberondong Farah dengan pertanyaannya.
“Tenang sedikit Jihan, kita lagi di rumah sakit. Jadi pelankan suaramu, jangan sampai mengganggu pasien yang lain.” Farah mengurai pelukan mereka dan mengingatkan Jihan.
“Uupss… maaf aku terlalu khawatir.” Sahut Jihan memelankan suaranya.
“Papa baik-baik saja, kata dokter sekarang kondisinya stabil. Untuk tidak mengabarimu…… maaf saat itu aku sangat panik.” Farah menatap lembut Jihan sembari tersenyum.
“Ok tidak apa-apa. Alhamdulillah kalau keadaan Om baik-baik saja.” Kata Jihan ikut lega.
Tak berselang lama Arkana kembali. “Kita sudah bisa memindahkan Om ke ruang perawatan.” Kata Arkana mengalihkan perhatian semua orang.
“Sudah beres semuana Arka?” tanya Maher berdekati Arkana.
“Sudah Kak, aku bahkan sudah membayar lunas biaya rawat inap untuk 5 hari kedepan.” Jawab Arkana mengangguk mantap.
“Alhamdulillah kalau begitu.” Lanjut Maher menepuk lembut pundak sang adik.
Kini hanya ada mereka berlima dalam ruangan kelas I yang dipesan Arkana. Awalnya Farah dan Jihan syok dan terkejut melihat betapa luas dan mewahnya ruang perawatan papanya. Farah bahkan tak berani membayangkan berapa biaya yang harus mereka bayar nanti. Sedangkan untuk saat ini dia benar-benar sedang tak memegang uang.
“Maaf Mas apa ruangannya bisa ditukar ke kelas III saja?” tanya Farah pelan karena takut menyinggung Arkana.
“Kenapa? Bukannya disini nyaman?” sahut Arkana mengerutkan dahinya bingung.
“Nyaman sih Mas, sangat nyaman malah. Tapi…..” Farah tak melanjutkan kalimatnya. Dia melirih Jihan yang ada disampingnya.
“Masalah biaya kau tak perlu fikirkan. Semuanya sudah dibayar lunas. Jika pun ada kekurangan, insyaallah saya yang akan menanggungnya.” Kata Maher membuat Farah dan Jihan terkejut dan melebarkan matanya menatap Maher.
“Tapi Mas, pasti itu bukanlah jumlah uang yang sedikit. Aku hanya tidak ingin merepotkan dan berhutang terlalu banyak pada kalian.” Lanjut Farah tak mau menerima begitu saja.
“Niat baik seseorang itu tak baik jika ditolak. Anggap saja ini Rizqi yang diberikan Allah untuk kamu dan keluargamu.” Jawab Arkana tersenyum.
__ADS_1
“Sekali lagi terimakasih Mas. Saya sungguh sangat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik seperti kalian. Saya tidak bisa membalas apapun.” Sahut Farah penuh syukur.
“Tak tak pernah mengharap balasan apapun darimu. Lagi pula kami hanyalan pelantara Rizqimu saja. Sebenarnya semua itu adalah milik Allah.” Jawab Maher. Farah kembali menatap lembut Maher. Cukup lama tatapan mereka saling terkunci. Tak terasa sesungging senyum lembut terbit diwajah mereka.
“Farah lihatlan Om menggerakkan jemarinya. Matanya juga mulai berkedip-kedip.” Suara Jihan menyadarkan Farah dan Maher. Mereka lekas saling membuang muka. Farah lekas menghampiri papanya yang masih terbaring.
“Pa… papa….” panggil Farah pelan sembari mengusap tangan papa. Jihan, Arkana, dan Maher pun ikut mendekat.
Perlahan mata papa mulai terbuka. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya seolah berusaha mengangkap cahaya yang masuk kedalam matanya. Setelah terbuka sempurna, papa mengedarkan pandangannya. Menggapai setiap wajah yang ada disana. Pertama yang dilihatnya adalah Farah kemudian Jihan. Lalu beralih ke Maher dan Arkana.
Cukup lama papa menatap Arkana, seolah ada sepenggal ingatan tentang dirinya. Hingga beberapa detik kemudian mata papa terbelalak terkejut melihat keberadaan Arkana disana. Bahkan perlahan jemarinya mulai bergerak. Kini telunjuknya terulur kearah Arkana. Bibirnya gemetar seolah ingin mengungkapkan sesuatu. Semua orang bingung dengan sikap papa Farah.
“Ada apa Pa? Papa tenang ya, mereka adalah teman-teman Farah. Mereka orang baik Pa.” Farah mencoba menjelaskan tentang siapa Maher dan Arkana. Papa Farah tetap berusaha mengeluarkan suaranya. Namun tetap tak ada satu suara pun yang keluar dari mulutnya. Hanya tetesan air mata yang mampu mengungkapkan apa yang ada dihatinya saat ini.
“Om kenapa Om? Om jangan takut ya meski wajahnya gak enak dipandang tapi dia orang baik kok. Jihan berani jamin itu.” sahut Jihan dengan candaannya.
“Sembarangan kalo ngomong.” Sahut Arkana memukul lengan Jihan kesal. Jihan meringis kesakitan sembari mengusap lengannya.
“Maaf Om perkenalkan saya Maher dan ini adik saya Arkana. Maaf kalau keberadaan kami membuat Om tidak nyaman. Tapi sungguh kami tak punya niat jahat sedikit pun.” Maher memperkenalkan diri dan mencoba menenangkan papa Farah.
“Papa tenang ya.” sambung Farah mengusap tangan papanya dan kembali membawa turun tangan papanya yang terulur.
Tak ada yang tahu apa yang ingin diucapkan papa Farah. Apakah dia ketakutan, atau terkejut melihat Arkana. Tapi yang jelas ada sesuatu hal penting yang ingin dikatakannya. Bahkan mata papa Farah pun tak lepas menatap Arkana. Dari tatapannya seolah mengisyaratkan jika dia mengenal sosok Arkana. Maher pun yakin ada suatu rahasia diantara mereka.
.
.
Bersambung......
.
.
__ADS_1
.
Wah sudah hampir terungkap nih.... Kepoin terus episode-episode selanjutnya ya readers. See you next episode. Salam hangat selalu.