
Assalamualaikum.....
Gak kerasa bulan ramadhan telah meninggalkan kita. Kini kita memasuki bulan Syawal yang penuh kebahagiaan. Selamat hari raya idul fitri 1442 H/ 2021 M. Minal aidzin wal faizin mohon maaf lahir dan batin. Maafkan segala salah dan khilaf, barang kali ada beberapa kata atau alur cerita yang meninggung atau tidak kalian sukai.
**SELAMAT IDUL FITRI 1442 H. TAQOBALALLAHU MINNA WA MINGKUM TAQOBAL YA KARIM. **
****
Setelah mendapatkan izin dari Kiyai Hamid, Maher dan Arkana pun keluar dari pesantren. Mereka ingin mengunjungi rumah Farah dan Jihan. Demi memenuhi rasa penasarannya, mereka berencana pergi ke rummah Jihan terlebih dahulu. Pasalnya sesuai petunjuk Jihanlah yang memiliki kemungkinan terbesar untuk saat ini. Namun kali ini mereka hanya pergi berdua tanpa mengajak Farid dan Adam.
Mereka melangkah dengan pasti menuju rumah Jihan. Berdo’a agar lekas menemukan titik terang. Arkana sudah sangat tidak sabar ingin segera membawa pulang sang adik. Mempertemukannya dengan ayah dan bunda serta seluruh keluarga. Agar bisa berkumpul kembali seperti dulu, bahagia bersama.
Langkah mereka terhenti didepan sebuah rumah sederhana. Sesuai alamat yang diberikan Adam dan Farid, rumah ini adalah rumah Jihan. Tanpa berfikir panjang Arkana segera mengetuk pintu rumah itu. Mengucapkan salam, berharap seseorang menyambut kedatangan mereka. Terlebih lagi yang menyambut mereka adalah sang adik yang sejak lama dicarinya.
Perlahan pintu yang terlihat sangat tua memberikan celah. Sosok seorang ibu separuh baya menatap mereka penuh tanya. Mungkin dia sedikit bingung karena merasa tidak mengenal kedua orang yang berkunjung ke rumahnya. Meski demikian ibu tersebut tetap bersikap sangat ramah pada mereka.
“Assalamualaikum.” Sapa Arkana dan Maher hampir bersamaan.
“Waalaikum salam. Maaf mas-masnya ini cari siapa ya?” tanya ibu itu dengan tatapan bingungnya.
“Apa benar ini rumahnya Jihan?” tanya Arkana memastikan.
“Iya ini rumah Jihan, Jihan anak saya. Ada apa ya dengan jihan?” Jawabnya menjadi sedikit ketakutan.
“Tidak ada apa-apa Buk. Kami berdua temannya Jihan, kami hanya ingin berkunjung saja.” Maher menjelaskan agar sang ibu tidak berfikiran negative.
“Oh mari silahkan masuk. Tapi Jihannya belum pulang dari sekolah.” Sang ibu mempersilahkan.
__ADS_1
“Tidak usah Bu, kami langsung pamit saja kalau begitu. Lain kali kami akan kemari lagi. tolong sampaikan saja pada Jihan jika Maher dan Arkana kemari.” Maher menolak.
“Baiklah kalau begitu. Beneran tidak mau masuk dulu?” sang ibu kembali menawarkan.
“Terimakasih banyak bu, kami masih harus ke rumah Farah.” Sahut Arkana menolak dengan lembut.
“O walah kenal dengan Farah juga toh.” Ucap sang ibu tersenyum. Maher dan Arkana hanya mengangguk sembari tersenyum.
"Ya sudah Bu kalau begitu kami permisi, Assalamualaikum.” Lanjut Maher berpamitan. Mereka berdua bersalaman dan mencium tangan sang ibu.
“Waalaikum salam.” Jawabnya sebelum mereka berdua berlalu pergi.
Mereka kembali melangkahkan kaki mereka menuju rumah Farah yang terletak tak jauh dari rumah Jihan. Hanya sekitar setengah kilometer saja. Mungkin hal ini jugalah yang menjadi salah satu alasan kedekatan mereka. Mereka sudah berteman dan bermain bersama sejak kecil.
Lagi-lagi langkah mereka membawanya menuju sebuah rumah sederhana. Namun rumah kali ini terlihat sedikit lebih bagus dari pada rumah Jihan tadi. Jika dilihat dari keadaan rumahnya, sepertinya mereka merupakan keluarga yang berkecukupan. Lalu kenapa Farah masih harus bekerja? Pertanyaan itulah yang seketika muncul dalam benak Maher dan Arkana.
“Dasar anak tidak berguna, pemalas. Lihat karena kamu tidak memberikan cukup uang untuk adikmu. Dia jadi tidak mau berangkat ke sekolah.” Seru seorang yang terdengar sangat marah.
“Maaf Ma, tapi semua uang yang aku punya sudah aku berikan semuanya.” Suara lembut dan lemah mencoba membela diri.
“Kakak kira aku anak SD apa? Mana cukup uang saku segini. Yang ada aku diketawain sama temen-temen dan diledekin orang miskin nanti.” Sahut suara lainnya.
“Gina tuh gak sama kayak kamu. Mungkin bagimu uang segitu cukup, tapi bagi Gina uang segitu tuh gak ada artinya apa-apa.” Lanjut sang ibu.
“Jangankan untuk beli skincare, buat beli bedak murahan aja gak cukup.” Gerutu sang adik.
“Percuma mama rawat dan besarin kamu sejak kecil kalau saat besar seperti ini tak bisa membantu apa pun.” Dengus sang ibu. Suasana hening sejenak.
__ADS_1
Maher dan Arkana menjadi ragu untuk mengetuk pintu. Mereka salingg menatap, tak menyangka jika mereka akan mendengar semua keributan itu. Bahkan baru kali ini mereka medengar kata-kata kasar seperti itu. Meski demikian mereka tak lantas pergi. Mereka menunggu sejenak didepan rumah tersebut. Setelah suasana terlihat tenang, tak ada lagi keributan. Mereka pun memberanikan diri mengetuk pintu.
Tak berselang lama terlihat seorang gadis remaja membukakan pintu. Dengan senyum manisnya, dia memeprsilahkan Maher dan Arkana untuk masuk dengan sangat ramah. Mereka pun mengikutinya masuk kedalam rumah. Keduanya celingak-celinguk saat masuk kedalam rumah. Seperti tengah mencari sesuatu.
“Wah ganteng-ganteng banget sih. Mimpi apa aku semalem bisa bertemu dengan dua orang tampan seperti mereka. Gak rugi deh kalau hari ini aku bolos sekolah.” Batin Gina seraya menatap kagum Maher dan Arkana.
“Maaf apa ini rumah Farah? Farahnya ada?” tanya Arkana ingin segera menyelesaikan masalahnya. Gadis itu pun langsung mengubah mimik wajahnya, dari senang menjadi masam.
“Kenapa kalian mencari Farah? Mendingan ngobrol sama aku aja.” Jawab Gina sedikit menggoda keduanya.
“Tapi kami ada perlunya sama Farah bukan sama mbaknya.” Jawab Maher mempertegas dan memperjelas.
“Oh… ya udah kalau begitu saya panggilkan Farahnya dulu.” Lanjutnya kemudian berlalu masuk kedalam rumah.
.
.
Bersambung....
.
.
.
Jangan lupa dukungannya ya teman-teman. Terimakasih, see yaou next episode. Salam hangat selalu
__ADS_1