RISALAH RINDU

RISALAH RINDU
Benarkah Dia?


__ADS_3

Entah obrolan apa yang terjadi didalam, yang jelas mereka sedang mencoba menyelesaikan masalah. Meski Farhan hanya bisa meresponnya dengan gerakan tangan dan air mata. Namun sepertinya perbincangan mereka berakhir baik. Buktinya kini mereka bisa duduk bersama dengan suasana yang hangat. Berbeda dengan sebelumnya, kini tatapan mata Rayhan, Assyfa dan Rendy mulai melunak. Sepertinya emosi dan amarah mereka mulai mereda.


Kini mereka sedang berkumpul bersama dalam ruangan Farhan. Arkana yang sudah cukup lama tak bertemu sang Bunda mulai menunjukkan sikap manjanya. Beberapa kali dia menyandarkan kepalanya pada bahu sang bunda. Assyfa pun tak lantas diam, dia mengusap lembut kepala sang putra. Yang meski sudah dewasa tapi terkadang bersikap sangat kekanak-kanakan didepannya.


“Ternyata dia bisa bersikap manja juga. Duh imutnya kalau lagi manja gitu.” Batin Jihan sembari sesekali mencuri pandang pada Arkana. “Ish…apaan sih Jihan, sejak kapan orang macam Arkana itu imut.” Lanjutnya bergidik. Dia mencoba menepis fikirannya sendiri.


“Jadi kamu anak dari Pak Farhan? Siapa namamu?” tanya Rayhan mulai mencari tahu.


“Benar Om, nama saya Farah.” Jawab Farah mengangguk lembut.


“Maaf kalau tadi ada sedikit ketegangan. Maklumlah teman lama yang sudah sangat lama tidak bertemu. Kami tadi hanya mengungkapkan kemarahan kami, karena Pak Farhan pindah tanpa memberi tahu kami terlebih dahulu.” Rendy menjelaskan agar tidak terjadi salah faham dan tidak ada yang ketakutan dengan kejadian tadi.


“Tidak apa Om, kami bisa mengerti kok. Terkadang hubungan pertemanan itu memang sedikit unik. Seperti aku dan Farah, sering kali bertengkar tapi ujungnya tetap baikan juga. Bahkan kami tak bisa jauh satu sama lain.” Sahut Jihan tersenyum manis.


“Gak usah sok manis.” Celetuk Arkana sembari melirik Jihan. Jihan pun memanyunkan bibirnya dan membuang muka kasar.


“Gak boleh kasar gitu dong sama cewe Kak.” Rayhan menasehati.


“Dia mah cewe jadi-jadian Yah.” Sahut cepat Arkana semakin mengejek Jihan. Jihan menatap dan memelototi Arkana.


“Kakak gak boleh seperti itu ah.” Sambung Assyfa ikut menasehati.


“Mereka memang seperti itu Om, Tante. Kalau ketemu selalu berantem.” Maher mengadu.


“Biasanya kalau sering berantem, kalau jauh suka kangen loh.” Celetuk Rendy menggoda Arkana.


“Apaan sih Om, ya kali Arka kangen sama...... ih…. gak banget deh.” Jawab Arkana sembari bergidik.


“Siapa juga yang sudi dikangenin sama kamu. Aku si ogah.” Sambung Jihan menatap Arkana juga dengan bergidik.


“Sekarang bisa ngomong gitu, kedepannya siapa yang tahu. Kalo kata orang sih benci dan cinta itu beda tipis.” Sahut Rayhan terkekeh puas menggoda sang putra.


“Ayah…..” protes Arkana sembari menatap tajam Rayhan.


“Awas jadi bucin kayak dedengkotnya.” Lirih Rendy melirik Rayhan.


“Apaan Om?” tanya Arkana penasaran dengan ucapan Rendy.


“Bukan apa-apa kok nak. Sudah jangan dengarkan gumaman Om mu itu.” jawab cepat Rayhan menghalangi jawaban Rendy. Dia tahu jika yang dimaksud Rendy adalah dirinya.


Assyfa hanya bisa menahan tawanya. Dia masih ingat betul bagaimana awal pernikahannya dengan Rayhan. Tidak mudah dan banyak sekali cobaan. Bahkan dia juga pernah merasakan bagaimana rasanya tidak dicintai, diabaikan bahkan tak dianggap. Tapi lihatlah sekarang, Rayhan seolah tak mau jauh darinya. Kemanapun dia akan selalu menggandeng tangannya. Menunjukkan dengan bangga jika Assyfa adalah cintanya. Cinta yang akan selalu dia bawa sampai akhir hayat bahkan Jannah-Nya.

__ADS_1


Kini fokus mereka kembali pada Farah. Sejak pertama bertemu, Farah sudah menarik perhatian mereka bertiga. Assyfa berharap dialah gadis yang selama ini dicarinya. Putri kecil yang telah lama lepas dari dekapannya. Namun sejak tadi Assyfa mencoba menelisik dan mencari sesuatu yang mungkin melingkar dilehernya. Tetapi benda yang dicarinya tak bisa tergapai oleh penglihatannya. Dia juga sangat ingat jika dalam foto Arkana kemarin, dia melihat sosok gadis yang mengenakan kalung liontin itu. Assyfa juga bisa melihat dengan jelas jejang lehernya.  Jadi Assyfa menyimpulkan jika mungkin gadis itu tidak mengenakan jilbab. Hal itulah yang menimbulkan keraguan dalam hati Assyfa.


Tak berselang lama terlihat gadis lainnya memasuki ruangan. Kedatangannya membuat Assyfa dan Rayhan terkejut. Bagaimana tidak, liontin yang sedari tadi dicarinya terlihat jelas menggantung indah pada lehernya. Gadis cantik dengan perawakan tinggi itu mendekati mereka dengan senyum indahnya. Assyfa meremas lengan Rayhan yang duduk disisinya. Rayhan pun mengusap lembut punggung tangan sang istri. Mencoba menenangkan hatinya yang pasti tengah berkemelut.


“Hai, siang semuanya. Hai Mas Arka.” sapa Gina dengan centilnya. Tak ada yang menjawab sapaannya. Mereka hanya tersenyum sembari mengangguk. Kecuali Arkana yang memberikan senyum kecut dan malasnya.


“Duduklah Gina.” Perintah Farah.


“Mereka siapa Kak?” tanya Gina terang-terangan sembari duduk.


“Mereka teman-teman papa, sapa dengan sopan.” Jawab Farah lirih.


“Hai Om, Tante. Kenalin aku Gina putri tercantik papa Farhan dan adik dari kak Farah.” Gina langsung memperkenalkan dirinya.


“Hai.” Jawab Rayhan, Assyfa dan Rendy dengan canggung. Mereka sedikit tidak nyaman dengan sikap Gina.


“Kemarilah nak duduk di sini.” Assyfa meminta Gina duduk didekatnya.


“Apaan sih Bun, disini sudah penuh gak muat lagi Bun.” Sahut Arkana memprotes.


“Ya kakak geser dikit dong.” Jawab Assyfa. Arkana menatap malas sembari mengikuti perintah bundanya. Sedangkan Gina dengan bungahnya berjalan menghampiri Assyfa.


“Dengan senang hati Tante. Tahu aja kalau Gina ini calon menantunya.” Gina berujar sembari duduk menempel pada Assyfa. Semua menatap jengah dengan sikap sok manis Gina.


“Iya Om, Tante kami harus segera kembali ke pesantren.” Maher membantu sang adik. Dia tahu jika Arkana sangat tidak nyaman dengan keberadaan Gina disana.


“Ya sudah kalian tunggu sebentar didepan. Kami juga ingin sowan dengan Kiyai Hamid. Kami ingin ngobrol sebentar dengan Pak Farhan.” Jawab Rayhan membiarkan mereka keluar lebih dulu.


“Siap Yah.” Jawab Arkana yang lekas menarik tangan Maher keluar.


“Maaf Jihan juga hendak permisi sebentar.” Sambung Jihan ikut bangkit dan keluar.


Mereka bertiga kembali mendekati Farhan yang masih diam terbaring. Ada setitik senyum dibibir Assyfa dan Rayhan. Namun berbeda dengan Farhan yang justru menunjukkan tatapan ketakutan. Mereka berpamitan dan berjanji akan kembali lagi. Tentu saja untuk memastikan dan menjemput putri mereka.


“Kami tidak tahu siapa putri kami diantara kedua gadis itu. Namun liontin itu sudah lebih dari cukup sebagai bukti. Maka dari itu kami mohon padamu Farhan, izinkan kami membawa kembali putri kami. Kami tidak akan membawanya untuk selamanya, kami hanya ingin mengenalkan padanya jika dia juga punya keluarga lain yang selalu merindukannya.” Rayhan mulai mengungkapkan niatnya perlahan.


“Pak Farhan tak perlu khawatir, kami tidak akan memaksa. Jika dia tak ingin ikut dengan kami maka kami akan mengalah. Tapi setidaknya berikan kesempatan pada kami untuk bisa memeluk kembali putri kami.” Assyfa menambahkan dengan penuh harapan. Terlihat kepala Farhan menggeleng pelan bahkan hampir tak terlihat. Dia ingin mengatakan semua kebenarannya. Namun lagi-lagi keadaan yang menghalanginya. Sehingga dia hanya bisa pasrah pada takdir yang dituliskan untuk dia dan kedua putrinya.


“Kami tidak akan membawanya sekarang. Kami juga tidak akan memberitahu dia sekarang. Kami tahu semua butuh waktu. Pada saatnya nanti, kami akan menjelaskan padanya secara perlahan.” Lanjut Rayhan. Tangis Farhan semakin pecah, air mata semakin deras bercucuran.


“Baiklah kami permisi dulu Pak Farhan. Sampai bertemu dikemudian hari. Assalamualaikum.” Rendy berpamitan mewakili mereka.

__ADS_1


Sementara itu diluar tengah terjadi keributan kecil antara Jihan dan Arkana. “Kenapa kamu ikut keluar?” tanya Arkana pada Jihan setelah sampai diluar.


“Suka-suka aku dong. Lagian kenapa kamu keluar, bukanya ulat bulu kesayangan kamu ada didalam.” Jawab Jihan mengejek. Arkana kembali bergidik mendengar kata-kata Jihan.


“Sudah kalian ini berdebat terus. Ingat apa yang dikatakan Om Rayhan dan Om Rendy tadi.” Maher mengingatkan mereka.


“Ih…… amit-amit…..” sahut keduanya bersamaan. Sementara Maher tertawa puas melihat reaksi mereka berdua.


“Kalau ada waktu berkunjunglah kerumah kami nak.” Ucap Assyfa mengusap lembut kepala Gina penuh kasih sayang.


“Tentu saja Tante dengan senang hati. Asalkan ada Mas Arkana, Gina mau kok diajak kemanapun.” Jawab Gina tersenyum malu-malu menatap Arkana yang berdiri jauh darinya.


“Minta saja Arkana mengantarmu. Kami akan sangat menantikan kedatanganmu.” Lanjut Rayhan tersenyum hangat.


“Siap Om.” Sahut Gina tersenyum manis.


“Beruntung sekali Gina mendapatkan perhatian yang hangat dari mereka. Astagfirullah Farah kamu gak boleh iri.” Batin Farah dalam hati menatap iri pada Gina.


“Ayo Yah, Bun.” Seru Arkana yang sudah tidak sabar.


“Iya.... iya gak sabaran banget sih.” Jawab Rayhan menatap Arkana.


“Kami permisi ya, kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi kami. Ini nomor kontak saya, kamu bisa hubungi kapan pun.” Rendy memberikan kartu namanya pada Farah.


“Baik Om terimakasih.” Jawab Farah lembut.


“Jaga diri kalian baik-baik. Assalamualaikum.” Kata Assyfa.


Sebelum pergi dia menyempatkan memeluk Farah dan Gina. Ada dua perasaan yang berbeda. Saat memeluk Gina, Assyfa merasakan kebahagiaan namun terasa hambar. Berbeda saat memeluk Farah dia merasakan kehangatan yang selama ini dirindukannya. Hatinya kembali ragu, dia berusaha mengenali sekali lagi siapa putrinya yang sebenarnya. Semoga dia tidak salah mengenali dan memilih.


.


.


Bersambung........


.


.


.

__ADS_1


Sabar dulu ya readersku...... gak lama lagi Assyfa dan Rayhan akan berkumpul dengan Alifa. Tapi perjalannya gak akan mudah, akan banyak konflik yang terjadi. jadi pantau dan tungguin terus ya kelanjutannya. Jangan lupa dukungannya


See you next episode, salam hangat selalu.......


__ADS_2