RISALAH RINDU

RISALAH RINDU
Menyambangi


__ADS_3

Hari ini Rayhan dan Assyfa menuju kota L ditemani oleh Rendy. Tentu saja tujuan utama mereka adalah memastikan siapa yang ada di foto Arkana dan yang dilihat oleh Rendy. Mereka akan langsung menuju rumah sakit yang dikunjungi rendy tempo hari. Bahkan mereka juga tak mengabari Arkana dan Maher jika hendak ke kota itu. Rayhan berfikir setelah sampai disana dia baru akan mengabari Arkana.


Sejak semalam, Assyfa terus merengek mengajak Rayhan untuk segera pergi ke kota L. Dia sudah sangat tidak sabar ingin segera bertemu dengan gadis sang pemilik liontin. Keinginannya itu sangat menggebu-gebu. Begitupun dengan Rayhan, dia juga hampir tidak bisa menahan dirinya. Namun Rayhan bisa bersikap lebih tenang. Dia dan Assyfa harus bersabar, setidaknya menunggu sampai pagi tiba.


Mereka juga tak langsung memberi tahu anggota keluarga lainnya. Mereka juga melarang Rendy untuk memberi tahu orang lain. Rayhan tak ingin terburu-buru. Setelah jelas nanti, baru mereka akan mengumumkannya. Bahkan Zafiya dan kedua orang tuanya pun turut tak diberi tahu. Sehingga mereka menjadikan keperluan bisnis sebagai alasan untuk pergi hari ini.


Setelah beberapa jam menelusuri jalanan, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Rendy langsung membawa mereka keruangan dimana dia melihat sosok Farhan. Rendy masih ingat betul letak ruangan itu. Sehingga dengan langkah yakinnya dia membimbing Rayhan dan Assyfa. Sepanjang jalan Assyfa terus berdo’a dan berdzikir. Berusaha menenangkan dan menahan diri. Dia terus meremas jemarinya, berharap hari ini akan membawa kabar


bahagia. Rayhan yang melihat kegelisahan istrinya pun langsung meraih tangan Assyfa. Menggenggamnya penuh kehangatan dan mengusap lembut punggung tangan sang istri. Assyfa menatap Rayhan dan tersenyum lembut, mengisyaratkan jika dia baik-baik saja.


Kini mereka sudah berdiri didepan pintu ruang VIP. Mereka tak langsung mengetuk pintu. Rayhan dan Assyfa butuh beberapa detik untuk mempersiapkan diri. Bersiap untuk menerima apapun yang ada didalam. Jika memang itu adalah Farhan, berarti usaha mereka mulai membuahkan hasil. Tapi jika bukan Farhan, itu artinya mereka harus berusaha lebih keras lagi. Yang terpenting mereka tahu Alifa ada di kota ini. Mereka harus segera menemukan gadis yang memakai liontin FA yang terlihat dalam foto Arkana kemarin.


Tok…tok…tok…. Rendy mulai mengetuk pintu setelah mendapat anggukan dari Rayhan. Terlihat handle pintu bergerak, sosok gadis berhijab menyambut mereka dengan senyum lembut. Wajahnya terlihat begitu tenang dan meneduhkan.


“Assalamualaikum.” Assyfa terlebih dulu mengucapkan salam.


“Waalaikum salam. Mari silahkan masuk.” Gadis itu mempersilahkan dengan sangat sopan. Meski dia tidak tahu dan tidak mengenal ketiga orang yang berkunjung. Namun dia tetap bersikap sopan, dia berfikir jika mereka pastilah teman-teman papanya.


“Ini benar ruang rawat Pak Farhan kan?” tanya Rendy memastikan sebelum masuk.


“Ayah…. Bunda??” terdengar suara yang sangat familiar menyapa mereka dari dalam. Mereka melongok ke dalam, mereka mendapati sosok Arkana dan Maher berada didalam sana.


“Kalian ngapain disini?” tanya spontan Rayhan heran.


“Kami menjenguk ayah teman kami Yah. Ayah dan Bunda juga mengenal Om Farhan?” sahut Arkana balik bertanya. Mereka bertiga masuk menghampiri Arkana dan Maher.

__ADS_1


“Pak Farhan teman lama kami.” Kali ini Rendy yang menjawab. Dia tak ingin Assyfa keceplosan dan mengatakan yang sebenarnya.


“Jadi mereka orang tua kamu?” Jihan yang menatap Arkana tak percaya.


“Iya ini Ayahku, Bundaku dan Om Rendy.” Jawab Arkana mengenalkan. Kemudian mereka bersalaman secara bergantian begitupun dengan Farah dan Jihan.


“Kenapa Om tidak memberi tahu kami kalau hendak kemari?” Maher menatap Rayhan. Dia mulai tahu jika ada suatu tujuan khusus mereka datang tanpa mengabari. Maher memang orang yang sangat peka, bahkan hanya dari sorot mata saja dia bisa tahu jika ada niat terselubung dari seseorang.


"Tadinya kami ingin memberi kejutan pada kalian. Setelah menjenguk Pak Farhan barulah kami akan menyambangi kalian ke pesantren. Tapi nyatanya malah bertemu disini.” Rayhan mencoba meberi alasan yang masuk akal.


“Bolehkah kami berbicara dengan Pak Farhan?” Assyfa mulai tidak bisa menahan dirinya.


“Maaf tante, kondisi papa……” Farah enggan menjelaskan kondisi papanya yang stroke.


Mereka mendekat pada Farhan ketika mendapatkan anggukan dari Farah. Assyfa meremas kuas jemarinya yang gemetar. Antara siap dan tidak siap bertemu dengan Farhan. Dia senang bisa kembali bertemu dengan Farhan, karena jalannya menemukan Alifa semakin dekat. Namun dalam lubuk hatinya dia juga masih menyimpan rasa kecewa yang dalam. Mengingat bagaimana cara Farhan menjauhkan Alifa darinya. Assyfa sungguh marah jika mengingat hal itu.


“Apa kabar Farhan?” Rayhan yang pertama kali menyapa. Farhan tak mampu menjawab, dia hanya menatap Rayhan dan Assyfa bergantian. Bahkan air matanya pun tak mampu ia bending. Ada rasa bersalah dalam dirinya.


“Apa kau tahu seberapa besar usaha kami selama ini untuk mencarimu?” lanjut Rendy yang mulai tersulut emosi. Farhan mencoba mengangkat tangannya, berusaha meminta maaf.


“Kenapa anda tega melakukan itu pada kami?” sambung Assyfa dengan nada bergetar menahan amarahnya.


“Kami tahu anda pasti punya alasan tersendiri. Tapi setidaknya anda bisa memebri tahu kami kemana anda akan pergi. Sehingga kami tak perlu kebingungan mencari keberadaan anda.” Rayhan mencoba merendahkan suaranya. Dia tak ingin anak-anak yang ada disana mengetahui permasalahan mereka. Akan tidak  baik jika masalah orang tua terbawa pada anak-anak mereka.


Maher yang merasa mulai ada atmosfir aneh pun berinisiatif mengajak mereka semua keluar. Biarkan pada orang tua menyelesaikan masalah mereka, begitulah yang ada dalam fikirannya. Arkana, Farah dan Jihan pun tak menolak maupun memprotes. Mereka juga tahu jika para orang tua butuh waktu sendiri untuk saling berbicara. Mereka juga tak ingin ikut campur terlalu dalam.

__ADS_1


“Apa benar tidak apa-apa meninggalkan Om Farhan sendirian didalam?” tanya Jihan sedikit khawatir. Dia sedikit takut ketika melihat emosi yang tersembunyi dari balik tatapan Rayhan.


“Percayalah mereka akan menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin.” Jawab Maher.


“Aku juga percaya jika orang tua Mas Arkana tidak akan berlaku kasar pada papa. Aku sangat yakin jika mereka adalah orang-orang baik.” Farah mencoba meyakinkan Jihan dan dirinya sendiri.


“Aku sangat mengenal orang tuaku dan Om Rendy, mereka selalu bijak dalam mengatasi masalah. Tapi aku sungguh tak mengerti ada masalah apa diantara mereka. Bukankah tapi Ayah berkata jika mereka teman? Lalu kenapa suasananya begitu tegang di dalam.” Arkana mencoba menerka apa yang terjadi didalam.


“Biarkan mereka saling berbicara, dengan begitu mereka akan saling bisa memahami.” Mahar memberikan nasehat bijaknya. Meski dirinya sendiri juga tidak bisa menjamin, jika keadaan didalam akan baik-baik saja. Namun Maher selalu yakin pada Om dan Tantenya, mereka tak akan melakukan hal yang diluar batas.


.


.


Bersambung.......


.


.


.


Alhamdulillah akhirnya bisa UP 😁😁


Terimakasih yang sudah setia menanti dan mendukung. Ditunggu selalu like, vote, hadiah dan komennya. See you next story, salam hangat selalu 🥰

__ADS_1


__ADS_2